Kumpulan Artikel Teknologi Informasi, Sosial Keagamaan, Open Source, dan Berita

REFLEKSI, ISLAM, WACANANovember 7, 2009 3:57 am

Ada sebuah pertanyaan besar dari laporan online CIA: akankah Israel bisa bertahan dalam jangka dua dekade ke depan? Berlepas dari validitas laporan tersebut, dengan hubungan berat-sebelah Israel dan AS, pertanyaan itu semakin mengerucut: Israel jatuh dalam waktu lima tahun lagi?

Lebih dari enam dekade, dukungan AS terhadap Israel begitu mendominasi media, sehingga memudahkan Tel Aviv untuk meletakkan gambaran positif menutup kelakuan buruknya, termasuk juga pembantaian dalam tragedi Gaza, delapan bulan lalu. Dan sekarang, dengan terbukanya akses online yang mengglobal, Zionis yang sumir menunjukkan sisi-sisi sebenarnya.

Walaupun rakyat AS jarang sekali menunjukan minat pada urusan luar negeri, namun perubahan itu mulai terasa. Banyak dari mereka yang melihat secara langsung tanpa filter Yahudi, akan—misalnya—peristiwa Gaza silam. Rakyat AS mulai kembali menguak pertanyaan lama yang mengendap dalam kepala mereka: mengapa mereka harus mendukung pemerintah apartheid yang menjajah?

Dengan Partai Likud yang memimpin Israel, jelas sudah bawa Tel Aviv hanya berkehendak meluaskan daerah jajahannya, tak ada yang lain commonwealth dan sebagainya. Dengan fakta itu, Israel tidak hanya menyudutkan Barack Obama, tapi juga memaksa keamanan nasional AS untuk membuat sebuah keputusan strategis: Apakah Israel merupakan rekan yang kredibel dalam perdamaian? Jawabannya, “Tidak.”

Kesimpulan yang tak terelakkan itu memberikan rakyat AS sedikit pilihan. Bagaimanapun AS bertanggung jawab pada eskalasi Israel di bulan Mei 1948 ketika Harry Truman, seorang presiden Kristen-Zionis, menerima negara Israel. Truman mengabaikan keberatan Menteri Luar Negeri George Marshal, gabungan pejabat dan staf, CIA dan korporasi diplomatik AS.

Pada Desember 1948, sekelompok ilmuwan dan intelektual Yahudi berbicara di The New York Times akan bahaya Fasis dengan berdirinya negara Yahudi. Salah satu ilmuwan tersebut adalah Albert Einstein. Jauh hari sebelum semua kejadian yang terjadi di dekade ini, semua orang sudah memprediksikan kelakuan Israel yang selalu merupakan ancaman untuk perdamaian.

Sebenarnya, isu kunci semua itu tidak lagi perlu menjadi bahan perdebatan tanpa akhir. Harus ada satu solusi negara konsisten dengan prinsip-prinsip demokratis persamaan yang penuh. Rakyat AS yang melek media tidak lagi bersedia mendukung negara teokratis di mana kewarganegaraan penuh hanya terbatas pada mereka yang dianggap "Yahudi" (apa pun artinya itu).

Jika tingkat kelahiran lokal menunjukkan suatu akhir dari "negara Yahudi," maka jadilah. Mengapa menunggu dua dekade ketika mimpi buruk ini dapat ditarik dalam waktu kurang dari lima tahun?

Lupakan saja pra-1967. Orang Palestina harus mempunyai hak, (sa/alahram/eramuslim)termasuk juga hak memiliki barang kepunyaannya sendiri yang dirampas Yahudi. Jika penjajah Yahudi menginginkan kompensasi, seharusnya mereka mencarinya pada segenap umatnya yang saat ini tengah berdiaspora di seluruh belahan dunia.

Mereka yang masih menganggap dirinya Yahudi harus segera pergi. AS harus mulai mempertimbangkan 500.000 orang Yahudi yang memegang paspor AS, dengan jumlah 300.000 lebih mendiami California. AS sudah sedemikian terbuka, dan dunia internasional pun telah melihat AS yang rapuh dan hanya sekadar menjadi bemper Yahudi.

Sampai saat ini, bertahun-tahun Zionis telah diaktifkan oleh sekelompok presiden Amerika Serikat. Bagi AS, untuk memulihkan kredibilitasnya ada satu hal yang perlu dilakukan: tidak hanya berusaha menutup gambar besar Zionis, tetapi juga berbagi tanggung jawab atas semua kejadian yang menimpa dunia yang disebabkan oleh bangsa tersebut. (sa/alahram/eramuslim)



Sumber: http://swaramuslim.net/berita/more.php?id=5845_0_12_0_M

Umum, ISLAM, inspirasiOctober 28, 2009 12:33 pm

Al Jazeera Net

16 orang terluka dan lainya ditangkap dalam operasi Zionis pagi ini (28/9), menyusul bentrokan kelompok radikal Yahudi berusaha menyerbu Haram Al-Sharif bertepatann dengan hari “pengampunan”. Peristiwa ini mengingatkan kita pada serangkaian serangan terhadap al-Haram Al-Qudsi oleh Israel bersama kelompok radikal Yahudi sejak pendudukan tahun 1967 hingga hari ini. Yang paling anyar adalah serangan kelompok radikal Yahudi pada Ahad lalu (25/10) dibawa kawalan polisi Zionis Israel ke halaman masjid Al-Aqsha. Namun upaya itu dihadang oleh jama’ah masjid hingga menimbulkan 10 korban luka dan 15 lainnya ditangkap pihak Zionis Israel. Berikut rincian serangan dan penindasan tersebut:

Pada tahun 1967, setelah perang di bulan Juni, tentara Israel menduduki Tembok Barat dan menyita bagian dari Waqaf Masjid Al-Aqsa .

Mereka membongkar wilayah Magharibah dan menghancurkan 138 gedung, termasuk didalamnya sekolah favorit dan Al-Jami Buraq serta Masjid Magharibah. Kemudian berlanjut pada serangkaian serangan lainya.

Pada 9 Agustus 1969, seorang rabi di militer Zionis, Shlomo Goren masuk ke Al-Haram Al-Quds memimpin geng Yahudi yang berjumlah sekitar lima puluh orang untuk menunaikan "doa" di dalamnya.

Pada 21 Agustus 1969, orang Yahudi radikal berkewarganegaraan Australia bernama Michael Dennis Rohan membakar Masjid Al Aqsa, yang mengakibatkan kehancuran mimbar Salahuddin yang berusia lebih dari delapan ratus tahun serta langit-langit atapnya juga ikut terbakar.

Pada 2 November 1969 Yigal Alon, Wakil Perdana Menteri Israel dan para pembantunya memasuki Al-Haram Al-Quds.

Pada 11 Juli 1971 kelompok gerakan Betar yang terdiri dari 12 anak muda memasuki Masjid al-Aqsha dan melakukan ritual ibadah didalamnya.

Pada 22 Juli 1971 sekelompok gerakan Betar melakukan doa di Al-Haram Al-Quds.

Pada 14 Januari 1989, beberapa anggota Knesset melakukan tindakan provokatif dengan menggelar bacaan yang suka disebut "rahmat suci" di dalam Al-Aqsha dengan pengawalan ketat kepolisian Israel.

Pada 18 Oktober 1990, ekstremis Yahudi meletakkan batu pertama untuk pembangunan Haikal yang mereka klaim berada di areal Al-Haram Al-Quds. Sementara itu ribuan Palestina bangkit berupaya menghentikannya, hingga terjadinya bentrokan dan masuknya tentara Israel. Mereka menembaki warga yang menyebabkan 21 orang gugur syahid dan 150 lainya luka-luka.

Pada 28 September 2000, mantan perdana menteri Israel yang saat itu pemimpin Partai Likud Ariel Sharon, menyerbu Masjid Al-Aqsha Masjid dikawal puluhan orang bersenjata, hingga memicu meletusnya intifadah Al-Aqsa, yang menewaskan dan melukai ribuan warga Palestina.

Pada 23 Juli 2007, sekitar tiga ratus yahudi menyerbu Al-Aqsha dan melakukan ritual ibadah di dalamnya.

Pada 16 September 2008, kelompok Yahudi ekstremis menyerbu halaman Al-Aqsa Masjid dari Gerbang Magharibah.

Pada 9 Oktober 2008 sejumlah kelompok besar pemukim dan rabi serta politisi Israel dibawah penjagaan katat kepolisian Israel melakukan aksi yahudisasi di wilayah Al-Ahram Syarif.

Pada 9 Februari 2009, ratusan wisatawan dan turis Israel yang mengenakan "pakaian seronok" memasuki Masjid Al-Aqsa.

Pada 11 Maret 2009, sekelompok orang yang terdiri dari tiga puluh ultra kanan Yahudi mengenakan pakaian yang tidak pantas menyerbu halaman Masjid Al-Aqsha untuk menggelar upacara keagamaan.

Pada 14 April 2009, puluhan pemukim Yahudi menyerbu halaman Al-Aqsha untuk melakukan ritual ibadah pada hari Paskah Yahudi.

Pada 24 September 2009, anggota unit "ahli bahan peledak" dalam kawalan kepolisian Israel menyerbu Masjid Al Aqsa dan jalan-jalan di dalamnya.

Pada 27 September 2009, terjadi bentrokan dengan polisi Israel dan kelompok Yahudi di dalam Haram al-Sharif dan di depan gerbangnya yang mengakibatkan 16 warga Palestina cidera dan lainya ditangkap.

Bentrokan itu terjadi setelah polisi Israel menyerbu halaman masjid dari gerbang Magharibah dan menembaki jama’ah shalat dengan peluru dan granat suara. Mereka berupaya membubarkan barisan kaum muslimin yang berjaga-jaga di gerbang Al-Aqsha untuk menghalau serangan kelompok radikal. (asy/infopalestina.com)

Umum, ISLAM, WACANAOctober 21, 2009 1:39 pm

Anak anak yahudi pun turut membakar bendera Israel. Yahudi sedang mengalami kepanikan luar biasa. Dunia menukik menuju sikap anti-Semit tanpa dikomando, dan orang percaya inilah periode terburuk sepanjang sejarah kehidupan entitas Yahudi, dan paling fenomenal dari kebangkitan anti-Semit sejak tahun 1930—pararel dengan yang pernah terjadi setelah Perang Dunia II.

Pekan lalu, Parlemen Israel, setelah selesai menggelar hajatan nasional yang besar dalam memilih pemimpin, segera berkumpul, duduk satu meja, mengurung diri membicarakan hal ini. Gerakan anti-Yahudi ini menghebat dan berlangsung terus dan terus, hingga baik Israel sendiri, dan AS selaku tukang pelindung negara Zionis itu, sampai harus mengeluarkan pernyataan gegabah yang lantas ditertawakan banyak orang, "Siapapun yang mempunyai sikap anti-Semit di dunia internasional, akan mendapatkan sanki berat dan legal!", demikian Senator AS, Daniel Moynihan.

Namun, pernyataan Moynihan itu segera disambut dengan adem-ayem secara dramatis. Kita sekarang telah mendengar di sana-sini begitu banyak tokoh agama, terutama dari kalangan Kristen, yang disebut murtad oleh gereja. Di Vatikan dan Argentina belum lama ini. Seperti Uskup Williamson, yang menolak holocaust, dan perisitwa itu hanyalah dilebih-lebihkan, sehingga uskup di usir dari Argentina.

Hasilnya? Parlemen Israel, sebuah mendorong lahirnya : "Deklarasi London" (bukti bahwa Inggris mempunyai andil dalam diaspora Yahudi, dan banyak disesali oleh rakyat Britania Raya sendiri) menyatakan bahwa "Kami merasa sangat terganggu dengan sikap anti-Semit ini."

Perbedaan anti-Semit lama dan baru sendiri tengah bergesekan demikian kuat. Per Ahlmark, mantan pemimpin Partai Liberal Swedia mengatakan:

"Dulu, anti-Semit hanya menyerang Yahudi per-indivu saja. Sekarang, anti-Semit berlaku secara kolektif, untuk semua orang Yahudi tanpa pandang bulu, dan lebih tegasnya lagi, ditujukan pada negara Israel. Dulu, kita mengenal istilah Judenrein, atau dunia tanpa orang Yahudi. Sekarang kita mengenal Judenstaatrein, dunia tanpa negara Yahudi."


Sedemikian mengerikannya gerakan anti-Semit di Barat, 125 anggota Parlemen dari berbagai negara yang menjadi sekutu Israel, sampai harus mengemis membuat proposal yang berisi tentang tuntutan mereka yang menolak anti Semit.

Namun toh, dunia terlanjur muak dan melihat Yahdui sebagai durjana sepanjang masa. Gerakan anti-Semit bahkan telah berubah menjadi lebih besar menjadi tiga manifestasi sikap.

Pertama, sanksi-negara. Beberapa negara sudah mulai menunjukan keberanian untuk menelikung Yahudi. Turki dan Iran adalah contoh yang begitu jelas. Kejadian beberapa waktu lalu, sepanjang jalan di Iran telah dipenuhi dengan coretan banner "Hapus Israel dari Peta!" dan mendengung-dengungkan Israel sebagai "Kanker ganas" serta melabeli orang Yahudi sebagai "Iblis Gentayangan."

Gerakan anti-Semit yang kedua tertuang dalam platform dan kebijakan yang berada dalam organisasi seperti Hamas, Jihad Islam, Hizbullah, dan Al-Qaida yang telah menetapkan kehancuran Israel.

Dan yang ketiga, merebaknya fatwa agama yang disampaikan di masjid dan media, bahwa Yahudi dan Yudaisme adalah musuh Islam, hingga patut dilawan dengan segala cara: ekonomi, media, dan juga senjata.

Dengan ketiga manifestasi itu, tak pelak dunia telah menyudutkan bangsa Yahudi pada posisi yang sesempit-sempitnya.



Para Yahudi di Amerika pun menolak Israel & Zionisme

Sekarang, semua bangsa Yahudi tengah tiarap, menghina-dinakan mereka sendiri untuk memalsukan diri mereka menjadi apa dan siapa saja, seperti yang juga dilakukan oleh nenek moyang dahulu ketika mereka sedang terjepit.

Yang membuat anti-Semit sekarang ini begitu deras bagai air bah adalah para pelakunya adalah generasi baru, atau orang-orang baru yang tadinya sama sekali tidak menyadari adanya Yahudi yang licik dan berekor banyak.

Anti-Semit sekarang justru banyak dimulai di kampus-kampus seperti Amerika Utara dan Eropa, terutama di Inggris. Dunia mulai mengendus bahwa Israel adalah sebuah negara yang sangat "apartheid" . Setelah gelombang Israel adalah negara apartheid, dunia bahkan sudah menyebut Israel sebagai negara Nazi yang baru.

Tak ada perdebatan. Tak ada yang menyangkal. Alasan Yahudi untuk melindungi diri semakin membuat blunder langkah mereka, di antaranya menghancurkan Hamas dan membunuh semua orang Palestina dan merampas tanahnya. Dan percaya atau tidak, perlawanan terhadap Yahudi baru saja dimulai.


Dikutip dari http://swaramuslim.net/berita/more.php?id=5754_0_12_0_M

Umum, keseharian, ISLAM 1:38 pm

Harian Qatar, Benjamin Netanyahu digambarkan bermoncong babi
Wabah flu babi yang kian hari kian meluas rupanya memiliki kaitan kuat dengan negara Yahudi Israel, hal tersebut ditunjukkan dengan beredarnya sejumlah gambar kartun yang mengaitkan keterlibatan Israel dalam meluasnya wabah flu babi di dunia, kontan saja orang-orang Yahudi merasa kebingungan dan ramai-ramai mengeluarkan bantahan terhadap kemungkinan tersebut.

Liga Anti Penodaan (ADL) misalnya, badan bentukan Israel tersebut merasa gerah dengan beredarnya kartun yang dilansir sejumlah media Arab karena gambar-gambar kartun tersebut seakan membongkar kejahatan Israel yang menjadi dalang meluasnya wabah flu babi di dunia, yang selama ini justru diyakini berawal dari Meksiko.

ADL, Lembaga Israel yang memantau perlakuan anti-Semit di media-media Arab, dengan emosi menyala menuduh sejumlah surat kabar seperti Al-Watan di Qatar dan Al-Quds al-Arabi di Inggris atas eksploitasi penyakit flu babi dan menyebarkan pesan-pesan anti-Israel dan menunjukkan perilaku anti-Semit.

Gambar-gambar kartun bertemakan flu babi yang berkaitan dengan Israel bermunculan bak jamur di sejumlah media utama Arab dan juga harian Muslim di sejumlah negara diantaranya Qatar, Uni Emirat Arab dan Britania Raya.

Dalam sebuah kartun yang diterbitkan oleh sebuah media Arab, terdapat kata-kata: “Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan tentang penyebaran penyakit ke seluruh dunia, penyakit flu babi,” dengan memajang gambar kartun Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang bermoncong babi.

“Dalam sebuah kartun anti-Israel yang mengangkat tema flu babi, para pemimpin Israel dibuat versi kartunnya. Bedanya, dalam gambar kartun tersebut, hidung mereka digantikan dengan moncong babi,” kata pihak ADL dalam sebuah pernyataan pers yang dikeluarkan pada hari Senin lalu.

“Sekali lagi, pers Arab tidak menanggapi isu wabah penyakit global yang mematikan tersebut dengan serius,” kata Direktur nasional ADL, Abraham Foxman. “Mereka ‘mengeksploitasi’ wabah flu babi sebagai upaya mengangkat sentimen anti-Israel dan anti-Yahudi dan menggunakan media kartun untuk menimbulkan kebencian terhadap negara dan penduduk Yahudi.”

Pada bulan Maret lalu, kaum Yahudi juga berang dengan gambar kartun yang menggambarkan mengenai keadaan nyata di Gaza, dimana Israel menganiaya dan membantai para penduduk Palestina di sana. Harian yang memuat gambar tersebut dituding melakukan tindakan anti-Semit.

Dalam gambar yang dibuat oleh kartunis politik, Pat Oliphant tersebut, tampak sesosok tentara tanpa kepala yang berbaris dan menggelindingkan bintang david yang bermata tajam untuk menggilas seorang wanita berbadan kecil bertuliskan kata Gaza.

Gambar tersebut mewakili pembantaian warga Palestina, termasuk wanita dan anak-anak selama berpuluh-puluh tahun, dan dunia internasional hanya bisa duduk termangu dan melihat tanpa melakukan upaya apapun untuk menghentikan kekejian tersebut.

Simon Wiesenthal Center, sebuah lembaga hak asasi manusia Yahudi yang berpusat di Los Angeles, langsung menghubungi New York Times dan media lainnya, mereka mendesak agar gambar kartun tersebut segera dihapuskan. Mereka beranggapan bahwa gambar tersebut dibuat dengan maksud untuk “mencemarkan” dan “menyetankan” Israel.

“Gambar kartun ini menunjukkan semangat anti-Semit yang sama dengan propaganda yang pernah dibuat pada era kekuasaan Nazi dan Soviet,” kata perwakilan Wiesenthal dalam sebuah pernyataan pada tanggal 26 Maret lalu.

Dikutip dari http://swaramuslim.net/berita/more.php?id=5803_0_12_0_M67

Umum, KOMPUTER DAN INTERNET, inspirasiSeptember 30, 2009 7:43 am

Pemerintah Indonesia sedang mengampanyekan industri kreatif sebagai salah satu dari empat pilar pembangunan nasional ke depan, selain sektor pertanian, industri, dan jasa. Ini tidak terlepas dari kecenderungan dunia bahwa kemajuan saat ini lebih banyak ditopang oleh kemampuan untuk mendayagunakan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), konteks yang sangat relevan dengan industri kreatif.

Tentu bukan tanpa alasan, jika pelaksanaan Pekan Produk Budaya Indonesia (PPBI) –terakhir menjadi Pekan Produk Kreatif Industri (PPKI) – yang secara berkala, setidaknya dalam tiga tahun terakhir, sampai harus melibatkan dua belas instansi pemerintah, ditambah Kamar Dagang dan Industri (Kadin) dan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) dalam penyelenggaraannya. Potensi industri kreatif sebagai sumber pendapatan devisa bagi negara, perlu mendapat perhatian serius, karena terbukti sampai 2008 telah memberikan kontribusi sebesar 6,3 persen bagi Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Pemerintah Indonesia sedang mengampanyekan industri kreatif sebagai salah satu dari empat pilar pembangunan nasional ke depan, selain sektor pertanian, industri, dan jasa. Ini tidak terlepas dari kecenderungan dunia bahwa kemajuan saat ini lebih banyak ditopang oleh kemampuan untuk mendayagunakan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), konteks yang sangat relevan dengan industri kreatif. Industri kreatif merupakan bagian tak terpisahkan dari ekonomi kreatif yang difokuskan pada penciptaan barang dan jasa dengan mengandalkan keahlian, bakat dan kreativitas sebagai kekayaan intelektual.

Berdasarkan studi Pemetaan Industri Kreatif (Depdag, 2007) terdapat 14 kelompok industri kreatif nasional, antara lain periklanan; arsitektur; pasar barang seni; kerajinan; desain; fesyen; video, film dan fotografi; permainan interaktif; musik; seni pertunjukan; penerbitan dan percetakan; layanan komputer dan perangkat lunak; televisi dan radio; serta riset dan pengembangan. Upaya untuk menggalakkan kreativitas segenap anak bangsa, sebenarnya lebih pada upaya menggali kembali nilai-nilai kreativitas yang pada prinsipnya dimiliki oleh mayoritas manusia. Oleh karena itu, pengenalan bakat, optimalisasi keahlian dan kreativitas menjadi lebih penting dari sekadar bergantung pada sumber daya alam yang lambat laun pasti habis.

Persoalan HKI

Banyak hal yang mesti diperhatikan untuk mengoptimalkan industri kreatif sebagai sumber pendapatan negara. Dari sekian banyak hal, masalah Hak Kekayaan Intelektual (HKI) adalah salah satu yang mendesak. Apa saja masalah HKI yang perlu dibenahi demi optimalisasi industri kreatif di Indonesia? Pertama, produk hukumnya. Pemerintah melalui Tim Nasional Penanggulangan Pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual sebenarnya telah mengagendakan perubahan terhadap empat paket undang-undang di bidang HKI, antara lain UU Hak Cipta, UU Paten, UU Merek dan UU Desain Industri, tetapi prosesnya belum menunjukkan tanda-tanda akan dibahas oleh DPR. Meskipun keempat UU di atas sangat relevan, menurut hemat penulis yang paling banyak mengandung masalah adalah hak cipta (copyright). Di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), khususnya perangkat lunak (software) komputer, pengaturan UU Hak Cipta sudah harus dilihat kembali, karena pengaturan saat ini belum cukup memadai untuk mengatasi pembajakan di satu sisi, dan meningkatkan kreativitas di sisi lain.

Bukti sementara dapat dilihat dari peringkat pembajakan software di Indonesia yang dilansir oleh Business Software Alliance (BSA). Walaupun ada kemajuan, tetapi belum dapat disebut signifikan, karena belum ada kecenderungan menurun, masih naik turun. Bila pada akhir 2005, Indonesia berada di peringkat ketiga dengan tingkat pembajakan 87 persen, maka 2006 turun ke posisi 8 dengan tingkat pembajakan 85 persen. Pada 2007, Indonesia sebenarnya sudah di peringkat 12, tetapi tingkat pembajakan masih tetap tinggi, yaitu 84 persen. Pada 2008 dengan peringkat yang sama, malah naik menjadi 85 persen.

Di pihak lain, pengaturan hak cipta yang lebih ”melindungi” perangkat lunak berbasis proprietary, turut mempengaruhi tumbuhnya kreativitas. Imbauan untuk menggunakan perangkat lunak berbasis open source, belum berhasil menggerakkan derap langkah bersama untuk mengatasi tingginya pembajakan, meskipun Kementerian Negara Riset dan Teknologi serta beberapa instansi pemerintah lainnya telah mendeklarasikan dan secara aktif mendorong Program Indonesia Go Open Source (IGOS). Dalam beberapa tulisan terakhir, penulis memberikan masukan agar klausul ”fair use” dalam Pasal 15 Huruf e UU Hak Cipta yang menetapkan ”dengan syarat bahwa sumbernya harus disebutkan atau dicantumkan, tidak dianggap sebagai pelanggaran suatu hak cipta: perbanyakan suatu ciptaan selain program komputer secara terbatas dengan cara atau alat apa pun atau proses yang serupa oleh perpustakaan umum, lembaga ilmu pengetahuan atau pendidikan, dan pusat dokumentasi yang nonkomersial semata-mata untuk keperluan aktivitasnya”.

Pengecualian terhadap pengecualian ini, sebenarnya telah membatasi ruang bagi peningkatan kreativitas dalam pengembangan perangkat lunak, karena dengan adanya pengecualian lagi (terhadap program komputer), maka privilege masyarakat untuk memperbanyak suatu ciptaan secara terbatas, menjadi hilang sama sekali, kendatipun itu dilakukan terbatas untuk kepentingan pengembangan iptek (lihat tulisan penulis “Menyoal ‘Fair Use’ Program Komputer”, Sinar Harapan 12/12/07).

Pendaftaran yang Masih Birokratis

Kedua, membenahi struktur HKI yang berkaitan dengan industri kreatif. Dalam konteks ini yang paling penting untuk dikedepankan adalah pembenahan proses pendaftaran HKI yang masih birokratis. Sayangnya, sentra HKI di lembaga Litbang dan Perguruan Tinggi (PT) yang seyogianya dapat membantu, belum berfungsi sebagaimana diharapkan. Beberapa investor yang berada di daerah banyak mengeluhkan masalah ini. Di Jawa Tengah misalnya, pengembangan teknologi tepat guna, hasil dari riset dan pengembangan, salah satu kelompok industri kreatif, masih terkendala pemrosesan HKI. Padahal, menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Tengah, Anung Sugihanto, banyak investor tertarik pada hasil karya atau temuan masyarakat, namun terkendala, karena karya itu belum memiliki HKI (Kompas.com, 24/6/09).

Ketiga, peningkatan kesadaran HKI pengelola industri kreatif. Terlepas dari prosedur pendaftaran HKI yang dirasakan masih panjang, kesadaran hukum masyarakat industri kreatif harus terus-menerus digugah tentang betapa pentingnya HKI dalam pengembangan industri kreatif di masa-masa mendatang. Klaim yang dilakukan negara lain atas produk industri kreatif yang mirip dengan milik perajin Indonesia, harus menjadi pelajaran berharga, agar tidak merugikan bisnis industri kreatif Indonesia.

Penyelenggaraan PPKI setiap tahun merupakan momentum penting untuk sosialisasi HKI. Hanya saja mengingat pelaksanaannya yang masih terpusat di Jakarta, sulit mengharapkan sosialisasi lebih luas, terutama kalangan industri kreatif di daerah. Meskipun dalam penyelenggaraannya, peserta dari daerah juga dilibatkan, tetapi masalah biaya dan lain-lainnya, membatasi peserta daerah untuk berkiprah dalam kegiatan ini. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan di tahun-tahun berikutnya, PPKI kiranya dapat digilir di daerah yang punya potensi tinggi dalam pengembangan industri kreatif. Lebih ideal lagi, apabila diinisiasi oleh pemerintah provinsi, tentu dengan dukungan dari pemerintah pusat.

Dikutip dari http://www.ristek.go.id/index.php?mod=News&conf=v&id=3920

Umum, SHARING, REFLEKSI 7:42 am

Ortodoks Yahudi AS Menyuarakan "Wipe Israel"

Yang mengkhawatirkan Organisasi Zionist Internasional dari Negara Israel adalah karena posisi Israel dan zionis sudah mengalami penurunan di seluruh dunia dalam skala besar bahkan di negara-negara dimana pemerintahannya dan opini publicnya mendukung Israel baik dari sisi politik, materi dan ideology. Yang mereka khawatirkan bukan karena menurunnya solidaritas dunia kepada Israel dan kejahatannya namun karena meluasnya kecaman dunia terhadap kejahatan Israel setelah terungkap kedoknya. Negara yang mengaku demokratis itu terhadap terhanya sangat jahat dan sadis terhadap bangsa Arab yang mereka ingin lenyapkan dari eksistensinya.

Sudah terungkap kedok “penyesatan opini Israel” terutama setelah terungkap data-data menunjukkan bahwa mereka berdiri di atas darah dalam perang imperialisme terhadap gerakan pembebasan Arab. terutama kejahatan dan pembantuan yang mereka lakukan baik oleh pasukan atau warga pemukim Israel di wilayah-wilayah Palestina.

Darah rakyat sipil Palestina di Jalur Gaza dan ribuan korban meninggal dan luka-luka lainnya dari anak-anak, wanita, lansia tidak akan membeku kecuali jika Israel lenyap. Tindakan diskriminatif mereka selama 60 tahun terhadap rakyat Palestina, warga asli semakin meyakinkan dunia bahwa bahwa ideology dan tindakan penguasa di Israel adalah “gerakan rasisme yang menebar kejahatan”.

Untuk mengconter meluasnya kutukan dan kecaman dunia terhadap mereka, Pemerintah Zionist Israel mendapatkan jawabannya dengan cara melakukan opini balik membela diri. Mereka menuding balik siapa saja yang mengecam politik Israel bahwa dia anti Semit, anti Yahudi dan anti "Israel". Namun tetap saja tindakan anti kemanusiaan zionis di Palestina menurunkan kedudukan Israel.

Ini yang membuat khawatir biro-biro yahudi di dunia. Inilah yang ditegaskan oleh Ketua Badan Yahudi Dunia Zeev Beleski masa jabatannya berakhir Februari 2009 ini dimana ia menulis di koran Yediot Aharonot awal Maret lalu dengan judul "Bangsa yang Akan Hilang di Tengah Jalan”. Menurutnya hilangnya yahudi itu bukan karena menurunnya jumlah karena dikejar-kejar karena hukum atau gerakan anti semit atau rasis. Namun hilangnya Israel itu karena “pembauran Yahudi dengan bangsa lain” melalui perkawinan campuran sehingga memperkecil jumlah yahudi berdarah asli. Ia mengungkapkan data pembauran itu di Amerika Utara hingga 50%, di Inggris dan Perancis 40%, 45% di Brazil dan di Argentina, dan 80% di Rusia!



Ortodoks Yahudi AS Menyuarakan "Wipe Israel", mereka sudah "muak" dengan Zionisme Israel

Hubungan orang-orang Yahudi yang diaspora dengan organisasi Zionis mengalami penurunan drastic. Di Amerika kurang dari 50% orang-orang tidak terkait dengan dengan organisasi Yahudi, 60 % dari yahudi Amerika utara tidak pernah berkunjung ke Israel meski hanya sekali. Bahkan mayoritas Yahudi di sini tidak meyakini bahwa Israel sebagai kendaraan untuk menentukan identitas mereka. Ketika 60 tahun lalu Israel terbentuk warga Yahudi dunia meyakini ini sebagai capaian mereka, namun kini keyakinan ini semakin luntur. Kebanyakan Yahudi dunia terutama di Amerika utara kini lebih loyal kepada Negara tempat tinggal mereka dan bukan kepada Israel. Mereka adalah generasi kedua dan ketiga yang dilahirkan di Amerika dan tidak memperoleh pendidikan Yahudi yang hakiki dan tidak bisa berbahasa Ibrani. Mantan Ketua Organisasi Yahudi ini Zeev Beleski menilai bahwa untuk menghadapi ini Israel bertanggungjawab menjamin tetapnya bangsa Yahudi yang diapora. Yang menjadi krisis sekarang adalah hubungan Israel dan yahudi diaspora sekarang.

Namun Zeev tidak menyentuh akar krisis itu sekarang. Sebab antara artikel-artikel Israel dan data yang ada di lapangan menunjukkan kontradiksi. Politik jahat pemerintah penjajah Israel semakin meyakinkan bahwa Negara Israel adalah tempat paling tidak aman bagi Yahudi dan semakin tidak benarnya pernyataan Israel soal penghimpunan Yahudi di Israel untuk menyelamatkan mereka dari tekanan dan rasisme serta gerakan anti Semit.

Tindakan rasialisme Israel yang memusuhi kemanusiaan, keadilan sosial, kemerdekaan bangsa adalah identitas asli pemikiran gerakan zionisme yang tidak mungkin menjadi daya tarik atau dukungan bagi mereka. Baik dari Negara merdeka dunia atau bahkan dari biro-biro Yahudi di dunia. Inilah penyebab sesungguhnya menurunnya pamor Israel, bukan seperti yang diungkap oleh Zeev Beleski.

Dikutip dari http://swaramuslim.net/berita/more.php?id=5795_0_12_0_M67

Umum, SHARING, REFLEKSI 7:40 am

Professor Lester Carl Thurow, seorang guru besar dari Sloan Management School, Massachusets Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat, pada tahun 1991, atau sekitar 16 tahun yang lampau pernah merilis sebuah kalimat pada suatu pertemuan dengan NSF (National Science Foundation) semacam LIPI-nya Amerika Serikat sebagai berikut:

In the 21st century, comparative advantages will become much less a function of natural resources endowments and capital labour ratios and much more a function of technology and skills. Mother nature and history will play a much smaller role, while human ingenuity will play a much bigger role.

Penggalan kalimat yang pernah dirilis oleh Prof. Thurow tersebut dilatarbelakangi dari data pertumbuhan ekonomi AS, yang semakin lama semakin ditopang oleh peran penting dari penemuan-penemuan baru di bidang teknologi informasi serta fenomena semakin maraknya internet sebagai media komunikasi global.

Paling tidak ada tiga kata kunci dari penggalan kalimat yang disampaikan oleh Prof. Thurow dan ketiganya memberikan gambaran langsung dari tantangan yang akan membentuk masa depan. Ketiga kata kunci tersebut adalah: pertama, akan semakin berkurangnya peran sumber daya alam dan buruh sebagai elemen dasar untuk keunggulan suatu bangsa; kedua, akan semakin berkurangnya peran dari kejayaan masa lalu suatu bangsa dalam pertumbuhan bangsa; dan ketiga akan semakin meningkatnya peran dari kreatifitas dan daya inovasi manusia (human ingenuity) sebagai unsur pokok dalam menentukan keunggulan dan keberhasilan pertumbuhan ekonomi suatu bangsa.

Sehubungan bahwa pembangunan sebuah bangsa tidak bisa dilepaskan dari aktifitas ekonomi, maka pada makalah ini akan diulas secara singkat tentang tiga hal penting, yakni: format tantangan pembangunan ekonomi di masa depan, bentuk-bentuk pekerjaan yang ada di masa depan, dan peran sumber daya manusia kreatif dalam mendinamisasi tantangan-tantangan masa depan tersebut.

Format Tantangan Pembangunan Masa Depan
Abad ke-18 sampai dengan paruh pertama abad ke-19 dikenal sebagai era agraris dan format ekonomi yang ada dikenal dengan istilah agricultural economy yang sumber daya utama umumnya berupa tanah (pertanian, atau tanah garapan). Karena dari tanah (pertanian, atau tanah garapan) inilah kemudian dapat dimulai dan selanjutnya dikembangkan berbagai aktifitas ekonomi (yakni kreasi, produksi dan distribusi produk, jasa maupun proses).

Selanjutnya paruh kedua abad ke-19 sampai dengan paruh pertama abad ke-20 sering disebut dengan era industri dan format ekonomi yang ada lazim disebut dengan istilah industrial economy atau ekonomi industri (lihat tabel 1). Pada era ekonomi industri sumber daya alam (misalnya batubara, mineral dan bijih besi) dan buruh (yakni sumber daya manusia, namun umumnya sebatas dinilai dari aspek pekerjaan tangan atau manual labour) merupakan sumber daya utama dalam menggerakkan aktifitas ekonomi.

Adapun paruh kedua abad ke-20 dan awal abad ke-21 sering disebut dengan istilah era informasi atau information age atau digital age, dan format ekonomi yang ada di dalamnya lazim disebut dengan ekonomi berbasis teknologi informasi atau information economy dan sering disebut dengan ekonomi berbasis pengetahuan atau knowledge based economy dengan pengetahuan atau knowledge menjadi sumber daya utamanya.

Tahapan selanjutnya, yaitu masih di era abad ke-21 adalah tumbuh dan berkembangnya ekonomi kreatif atau creative economy, yaitu sebuah tatanan ekonomi yang ditopang oleh tiga unsur yakni keunggulan budaya, seni dan inovasi teknologi. Ekonomi kreatif pada hakekatnya masih merupakan bagian dari knowledge based economy atau ekonomi berbasis pengetahuan akan tetapi lebih mengedepankan pada perpaduan dari ketiga unsur tersebut.

Pada hakekatnya di dua format ekonomi yang sebelumnya, pengetahuan atau knowledge juga sudah merupakan hal yang penting. Misalnya di format ekonomi industri, pengetahuan untuk menambang (knowledge to mine), pengetahuan untuk membangun (knowledge to build), dan seterusnya adalah hal-hal yang juga penting.

Namun di kedua era tersebut, pengetahuan dalam konteks yang masih intrinsik umumnya memiliki nilai ekonomi yang rendah. Transaksi ekonomi umumnya didominasi oleh ’pengetahuan’ yang telah dikonversi menjadi unsur yang ’tangible’, misalnya berupa jasa dan produk. Akan halnya, di era ekonomi kreatif, terutama dengan didorong oleh kemajuan teknologi informasi, maka proses rantai nilai olah-pengetahuan menjadi produk dapat lebih dipercepat, sehingga ’pengetahuan’ dalam konteks yang masih berupa ide dan gagasan pun telah memiliki nilai keekonomian yang potensial. Gambaran ringkas dari kinerja ekonomi kreatif menurut World Bank pada tahun 2006 adalah sebagai berikut:
1. Tingkat pertumbuhan ekonomi kreatif mencapai 9% per tahun.
2. Tahun 2006, global turn over dari ekonomi kreatif mencapai US $2,24 trilyun.
3. Sampai dengan akhir tahun 2006; 7,3% PDB dunia adalah kontribusi dari industri kreatif.
4. Kontribusi industri kreatif meningkat 13% per tahun.
5. Pekerja kreatif saat ini baru mencapai 5% dari total angkatan kerja global, akan tetapi terus tumbuh rata-rata di atas 5% setiap tahun.

Data dan fakta yang dipaparkan di atas, menunjukkan bahwasanya potensi dari ekonomi kreatif adalah sangat besar dan sanggup memberikan implikasi yang luar biasa dalam pola pelaksanaan kegiatan ekonomi. Oleh karena itu, maka membangun ekonomi kreatif adalah peluang yang harus dimanfaatkan dalam mengakselerasi pembangunan bangsa, khususnya dalam konteks untuk mempertahankan daya saing dan menjalankan pembangunan nasional yang berorientasi pada pertumbuhan.

Ekonomi Kreatif dan Bentuk Pekerjaan Di Masa Depan
Ekonomi kreatif2 didefinisikan sebagai sebuah kumpulan aktifitas ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economic activities) yang secara intensif menggunakan kreatifitas dan inovasi sebagai primary input-nya untuk menghasilkan berbagai produk dan jasa yang bernilai tambah. Adapun ruang lingkup dari ekonomi kreatif mencakup aspek yang sangat luas dan tidak terbatas pada seni dan budaya saja. Secara umum konomi kreatif memiliki 3 dimensi yaitu dimensi inovasi dan kreatifitas, dimensi kapabilitas teknologi, dan dimensi seni dan budaya.

Prinsip yang paling fundamental dari ekonomi kreatif adalah jika di era sebelumnya kinerja dari masyarakatnya umumnya diukur sebatas dari tingkat produktifitas dalam memproduksi produk, jasa maupun proses; maka dalam era ekonomi kreatif kinerja masyarakat diukur tidak sebatas pada peningkatan produktifitas belaka, akan tetapi lebih diukur berdasarkan dari peningkatan akumulasi pengetahuan dan peningkatan kapasitasnya dalam melakukan inovasi-inovasi ketika melakukan sejumlah aktifitas produksi tersebut.

Setidaknya ada tiga jenis tren dari bentuk pekerjaan di masa depan yang akan semakin menuntut adanya peran dari pekerja (atau worker) untuk sanggup menjadi pekerja kreatif. Ketiga tren jenis pekerjaan tersebut meliputi:

Pertama adalah aset non-fisik atau ide dan gagasan menjadi lebih penting dibandingkan dengan aset fisik, seperti modal dan sumber daya fisik lainnya. Di masa depan nanti akan semakin banyak terbentuk berbagai kerjasama antara penemu dan pencetus ide yang inovatif dengan sejumlah pemilik modal untuk terlibat dalam aktifitas kreasi pengetahuan (atau knowledge creation) yang bentuk nyatanya adalah aktifitas terkait dengan penelitian, pengembangan dan riset yang diarahkan untuk menghasilkan inovasi-inovasi baru. Tren seperti ini sudah nampak di negara maju, misalnya di negara-negara Skandinavia yang semenjak 5-6 tahun terakhir ini, perusahaan-perusahaan besar di sana sudah biasa memberikan modal ventura kepada para lulusan universitas yang memiliki ide dan temuan yang potensial untuk dikembangkan lebih lanjut pada skala komersial.

Kedua adalah maraknya bentuk tata organisasi yang lebih bersifat horisontal dan non-hirarkis, guna mempercepat proses produksi inovasi dan merangsang kreatifitas. Pekerja sekarang umumnya dituntut untuk sanggup melakukan pengayaan atau (enrichment) dari bentuk pekerjaan yang telah ada. Setiap individu dituntut untuk semakin aktif dalam mempelajari berbagai bentuk pengetahuan baru dengan cepat. Kinerja bagi para pekerja sekarang diukur dari tingkat kecepatannya dalam memperkaya pengetahuan yang telah dimilikinya dari waktu ke waktu.

Ketiga adalah semakin pentingnya kelembagaan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual. Di era dimana gagasan dan ide telah semakin memiliki nilai keekonomian yang tinggi, maka diperlukan suatu interaksi fungsional dalam bentuk yang baru antara pencetus ide dengan produsen komersialnya. Interaksi fungsional yang dimaksud itu adalah penumbuhkembangan dari Lembaga Hak Atas Kekayaan Intelektual. Tanpa keberadaan kelembagaan tersebut, maka pencetus ide sebagai ’pemilik’ dari gagasan dan inovasi justru akan berada dalam posisi yang tidak diuntungkan secara ekonomis, hal mana dapat berdampak pada berkurangnya motivasi untuk mencetuskan berbagai ide dan inovasi baru. Di pihak lain, kelembagaan perlindungan hak kekayaan intelektual dan hak cipta tersebut juga berfungsi sebagai rambu-rambu yang efektif dalam menjamin adanya persaingan di era ekonomi kreatif yang semakin mengglobal.
Ketiga tren di atas saat ini telah mulai menggejala di negara-negara maju. Negara-negara maju tersebut, khususnya yang tergabung dalam OECD telah mengantisipasi dengan sejumlah pranata kebijakan yang mengatur tatanan angkatan kerja di negeri masing-masing untuk mengantisipasi tren tersebut. Pada paragraf berikut akan dibahas tentang peran sumber daya manusia kreatif dalam menghadapi masa depan seiring dengan adanya tren bentuk pekerjaan baru di masa depan berikut tantangan-tantangan pembangunan ekonomi masa depan.


Pembinaan Sumber Daya Manusia Kreatif Sebagai Unsur Utama Pembangunan Bangsa Masa Depan
Komitmen Pemerintah Republik Indonesia untuk mengembangkan ekonomi kreatif tercermin dari program nasional yang dikenal dengan Indonesia Design Power atau IDP. Program yang dikoordinir oleh Departemen Perdagangan RI ini telah dimulai pada tahun 2006 dan dijadwalkan akan selesai pada tahun 2010 mendatang. Program itu ditujukan untuk memberikan brand/merek baru pada sebanyak 200 komoditi domestik sehingga menjadi Good Design Product Made in Indonesia. Melalui program Indonesia Design Power, Pemerintah berupaya untuk mengembangkan produk nasional yang berdaya saing dengan berbasiskan pada pemberdayaan tiga pilar ekonomi kreatif, yaitu keunggulan budaya lokal, kemajuan teknologi dan seni yang dikemas melalui tiga kekuatan yang disebut dengan "branding", "packaging" dan "product design". Selain dari itu, pemerintah sekarang juga terus mensosialisasikan serta terus mendorong para inovator untuk mendaftarkan penemuannya ke Ditjen Hak Atas Kekayaan Intelektual.

Unsur utama dari pengembangan ekonomi kreatif tentunya adalah sumber daya manusia kreatif. Oleh karena itu, pembinaan sumber daya manusia menjadi para penemu dan pencetus ide kreatif adalah solusi untuk menghadapi berbagai peluang di era masa depan.

Pada dua paragraf sebelumnya telah diulas tentang sejumlah tantangan strategis pada pembangunan ekonomi di masa depan serta bentuk-bentuk pekerjaan yang dituntut oleh pembangunan ekonomi masa depan tersebut. Maka pada paragraf ini akan diulas secara ringkas tentang pembinaan sumber daya manusia kreatif dalam menghadapi sekaligus mengantisipasi hal-hal tersebut.

Dalam kaitan dengan pembinaan tersebut, sedikitnya ada tiga langkah penting yang harus dikedepankan untuk dapat mengakselerasi pengembangan sumber daya manusia kreatif di tanah air, sebagai berikut:

Yang pertama adalah pada aspek individu, yaitu adanya upaya untuk semakin meningkatkan kapasitas pengetahuan masyarakat melalui berbagai program pendidikan dan pelatihan serta perluasan aksesibilitas pada berbagai program pendidikan dan pelatihan tersebut. Dengan cara ini maka diharapkan kapasitas pengetahuan masyarakat akan meningkat dan memperbesar potensinya untuk pengembangan daya kreatifitas dan inovasinya.

Yang kedua adalah aspek koordinasi. Yang dimaksud dengan aspek koordinasi di sini adalah terus memperbaiki koordinasi dan hubungan kerja antara kelembagaan produksi pengetahuan (dalam hal ini perguruan tinggi) dan kelembagaan pengguna pengetahuan (khususnya industri). Dengan mendorong koordinasi antara keduanya, maka akan terbina kerjasama yang intensif dan akan mengakselerasi pengembangan daya kreatifitas dan inovasi di kedua kelembagaan tersebut.

Yang ketiga adalah aspek kelembagaan. Ada dua hal penting di sini, yang pertama adalah keberadaan Kelembagaan Perlindungan Hak Cipta dan Hak Intelektual bagi para pencipta dan penemu, serta kemudahan akses bagi para pencipta dan penemu tersebut untuk memperoleh hak-haknya dan yang kedua adalah pranata keuangan yang memberikan akses modal awal (start up capital) kepada para pencipta dan penemu yang berminat untuk mengkomersialisasikan penemuannya. Kedua hal di atas, sangat diperlukan, selain untuk memberikan motivasi yang lebih tinggi di kalangan para pencipta (innovator), juga akan membangkitkan budaya baru di kalangan masyarakat yaitu, budaya wirausaha (entrepreneurship) sebuah budaya yang sangat relevan dengan keberadaan ekonomi kreatif. Mentalitas kewirausahaan itulah yang nantinya akan semakin mendorong pengembangan kreatifitas dan inovasi.

Ketiga langkah penting yang dipaparkan di atas, saat ini telah dan sedang dilaksanakan secara intensif oleh Pemerintah. Meskipun demikian masih terdapat sejumlah tantangan dalam proses implementasinya. Tantangan yang terberat adalah merancang pranata keuangan yang khas (lex specialist) bagi para penemu agar memberikan kesempatan bagi mereka untuk membuka dan mengawali usahanya (start up company).

Penutup
Saat ini kita hidup di era gelombang ke-4 peradaban yang dicirikan dengan semakin tumbuh dan berkembangnya ekonomi kreatif. Dalam peradaban gelombang ke-4 itu, unsur penentu daya saing adalah kreatifitas dan inovasi. Sehingga tantangan pembangunan yang terpenting yang harus kita hadapi dewasa ini, adalah tantangan untuk terus berinovasi atau the need to continuosly innovating. Ekonomi kreatif ditopang oleh 3 pilar yaitu: budaya kreatifitas, daya inovasi, dan kemajuan teknologi.

Karena maraknya peran daya kreatifitas dan inovasi tersebut, maka beberapa literatur juga sering menyebutkan era sekarang ini sebagai abad inovasi atau the Century of Innovation. Saat ini inovasi, di berbagai bidang nyaris berlangsung tanpa henti, dan sebagai konsekuensinya, para inovator semakin menempati peran penting dalam peradaban sekarang ini.

Dalam kondisi tersebut, maka karakteristik pekerjaan masa depan (the future of works and employment) ditandai dengan tuntutan untuk terus menerus melakukan inovasi atau innovative intensive employment dan berintikan pada pengarusutamaan pembelajaran terus menerus.

Di era ekonomi kreatif, maka infrastruktur dan segenap aktifitas ekonomi dengan sendirinya harus disesuaikan dengan karakteristik ekonomi kreatif, yaitu adanya basis pengetahuan yang menunjang inovasi, adanya mekanisme koordinasi yang menjamin sinergi industri dan universitas, serta pembentukan kelembagaan yang memberikan akses pemodalan dan pranata perlindungan hukum untuk kekayaan intelektual.

Pemerintah sedang dan terus mengembangkan sumber daya manusia sebagai aset utama dalam meraih peluang di era ekonomi kreatif. Program nasional Indonesia Design Power yang saat ini dilaksanakan dan diproyeksikan selesai pada tahun 2010 mendatang adalah platform dalam mencapai tujuan tersebut. Pada makalah ini telah diulas sejumlah hal penting yang menyangkut aspek individu, aspek kelembagaan dan aspek koordinasi untuk mengakselerasi pencapaian tujuan dari program tersebut, khususnya dalam pembinaan sumber daya manusia kreatif.

Sumber http://www.setneg.go.id/index.php?Itemid=192&id=1667&option=com_content&task=view

Umum, ISLAM, SELINGAN, WACANA 7:39 am

Warga Israel menunjukkan reaksi beragam berkaitan dengan pidato Obama

TEPI BARAT – Penjajahan yang dilakukan Israel teradap wilayah Palestina yang terus berlanjut hingga 42 tahun menyusul perang 6 hari pada tahun 1967 merupakan hal yang memalukan. Juru runding Palestina, kata Saeb Erakat pada hari Jumat kemarin.

“Sangat disayangkan, masyarakat internasional masih terus mendiamkan penjajahan kolonial yang paling mengerikan selama 42 tahun. Penjajahan tersebut terus berlanjut dengan pembangunan tembok pembatas dan pemukiman (Yahudi),” kata Erakat kepada wartawan.

Dia berbicara pada peringatan perang Arab-Israel, yang pecah pada tanggal 5 Juni 1967. Selama peperangan 6 hari tersebut, Israel merampas Tepi Barat, termasuk Yerusalem timur, Jalur Gaza, semenanjung Sinai dari Mesir dan dataran tinggi Golan dari Syiria.

Hingga saat ini, empat puluh persen wilayah Tepi Barat ada dibawah kendali penjajah kolonial kekaisaran Israel, kata Erakat.  

Dia mengatakan bahwa sejak Israel menjajah tanah milik Palestina, sebanyak 23.000 unit rumah Palestina diratakan dengan tanah, dan lebih dari 8.000 orang Palestina diusir dari Yerusalem timur.

Sebagai tambahan, dia mengatakan bahwa Israel telah menangkap lebih dari 650.000 warga Palestina dan 4.000 orang lainnya dibantai sejak dimulainya intifada kedua pada tahun 2000.

Erakat menyanjung pidato Barack Obama yang ditujukan kepada dunia Muslim dari Kairo, dimana presiden AS tersebut mengekspresikan dukungannya terhadap berdirinya negara Palestina merdeka, dan dia dengan tajam mengkritik reaksi berlebihan pihak Israel atas pidato tersebut.

“Israel… tidak mengatakan sepatah katapun mengenai solusi dua negara atau pembekuan pembangunan pemukiman Yahudi ilegal,” kata Erakat, merujuk pada kebijakan AS yang diusung oleh Obama.

Para komentator di surat kabar Israel menginterpretasikan pidato presiden AS Barack Obama kepada dunia Muslim sebagai penanda yang jelas bahwa ada pergeseran hubungan antara AS-Israel, dan kemungkinan mengarah kepada akhir dari hubungan mesra antara kedua negara tersebut.

Seorang penulis menyerukan kepada pemerintah Israel untuk segera beradaptasi dengan angin baru yang dihembuskan dari Washington jika tidak ingin tersapu oleh badai, sementara sejumlah penulis lainnya mengatakan bahwa presiden AS tersebut telah memberikan sinyal bahwa Israel harus menghormati komitmen yang telah dibuat untuk mencapai perdamaian dengan bangsa Palestina.

Setidaknya satu orang penulis menginterpretasikan hal tersebut sebagai tanda dari AS bahwa perdana menteri Benjamin Netanyahu harus melakukan reshuffle kabinet. Mendepak sejumlah menteri yang menghalangi perdamaian seperti misalnya Lieberman, dan menunjuk menteri baru.

Sejumlah penulis memandang hal tersebut sebagai kata-kata yang positif dari pemimpin AS tersebut, sementara sebagian lainnya memilih untuk mengabaikan saja hal tersebut, dan satu orang menganggap Obama sebagai seorang penjilat.

Sementara itu, seorang warga Palestina ditembak mati oleh polisi Israel dalam sebuah aksi unjuk rasa di desa Niin, Tepi Barat, unjuk rasa tersebut digelar untuk memprotes tembok pemisah yang dibangun oleh Israel.

Aqel Srur, 35, menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah ditembak serdadu Israel. Butiran timah panas tersebut melesak masuk dan menembus jantungnya, demikian menurut pihak medis.

Namun juru bicara militer Israel menyangkal dan berkilah bahwa pasukan Israel hanya bermaksud membubarkan “kerusuhan massa” – walaupun semestinya jika hanya ingin membubarkan kerumunan massa, yang boleh dipergunakan hanyalah peluru karet, bukan peluru tajam.

Seorang pengunjuk rasa lainnya yang beru berusia 15 tahun mengalami luka-luka karena dianiaya oleh serdadu Israel, demikian menurut pihak medis.

Sekitar 200 oarng, termasuk warga Palestina, Israel dan aktivis perdamaian, mengambil bagian dalam unjuk rasa tersebut. Para aktivis memprotes pembangunan pembatas Israel di Tepi Barat. Nyaris setiap Jumat mereka harus berbentrokan dengan serdadu Israel, dan hal tersebut telah berlangsung selama lebih dari dua tahun.

Israel mengatakan bahwa tembok pemisah sepanjang 723 kilometer (454 mil) yang terbuat dari besi baja dan beton serta dilengkapi dengan pagar dan kawat berduri tersebut diperlukan untuk “keamanan”. Sementara rakyat Palestina memandang pendirian tembok tersebut sebagai upaya pencaplokan tanah oleh Israel untuk mengklaim tanah Palestina.


Dikutip dari http://swaramuslim.net/berita/more.php?id=5819_0_12_0_M

Umum, ISLAM, WACANA, inspirasiSeptember 23, 2009 2:26 am

Rabi Manis Friedman mengakui, membunuh orang tak berdosa dan tempat ibadah adalah cara perangnya orang Yahudi.

Sebagian orang mungkin bertanya-tanya, mengapa Yahudi Israel begitu membabi buta menyerang siapa saja dan apa saja yang menjadi lawannya. Pertanyaan itu terjawab oleh pernyataan seorang rabi di Amerika.

Rabi tersebut seorang Yahudi Ortodoks Amerika, yang mengatakan bahwa cara bertempur orang Yahudi dalam perang agama adalah dengan membunuh masyarakat sipil dan menghancurkan tempat-tempat ibadah. Pernyataan ini telah menyulut perselisihan besar.

Rabi bernama Manis Friedman dari Bais Chana Institute of Jewish Studies, Minnesota, tersebut berkata menjawab pertanyaan sebuah majalah Yahudi Amerika, yang dimuat dalam rubrik Ask the Rabbis.

Ia mengatakan, “Satu-satunya cara melawan (musuh) dalam perang agama adalah caranya orang Yahudi: Menghancurkan tempat-tempat suci mereka. Membunuh laki-laki, perempuan, dan anak-anak mereka (dan juga hewan ternak mereka).”

Ia juga menolak konsep moral “orang Barat”, dengan mengatakan, “ Saya tidak percaya dengan nilai moral Barat, seperti jangan bunuh masyarakat sipil, jangan menghancurkan tempat-tempat suci mereka, jangan bertempur selama waktu hari raya, jangan membom pemakaman, dan jangan menembak sampai mereka menembak lebih dulu karena hal itu tidak bermoral.”

Editor majalah Moment, Nadine Epstein, mengatakan, mereka menerima banyak surat dan e-mail menanggapi penyataan rabi Friedman, dan hampir tak ada satu pun tanggapan yang positif.

Belakangan Friedman mengakui bahwa kata-katanya “tidak bertanggung jawab” dan meminta maaf jika hal itu menimbulkan salah pengertian. Namun demikian sepertinya ia mencoba membela diri dengan mengatakan, dirinya hanya mencoba untuk “sedikit menyinggung masalah yang terkait moral dalam hal keadaan yang memaksa militer harus menahan tembakannya terhadap orang-orang dan tempat-tempat tertentu, di saat terjadi pertempuran berdarah yang meluas.”

Lucunya, Friedman yang berasal dari Chabad-Lubavitch, sebuah gerakan Hasidik – bagian dari Yahudi Ortodoks, juga berargumen dengan menyebut dirinya berbeda dengan orang Arab – yang ia sebut teroris – ketika bicara tentang membunuh orang sipil Yahudi.

“Mereka mengatakan itu (membunuh orang sipil) adalah genosida, bukan membela diri,” kata Friedman. “Bagi mereka, ada sebuah keyakinan dalam agamanya bahwa mereka harus menghancurkan wilayah kita. Sedangkan kita (Yahudi) tidak seperti itu.”

Ibrahim Hooper, juru bicara nasional dari Council on American-Islamic Relations (CAIR), mengatakan kepada Muslim News, “Genosida adalah genosida, baik itu dilakukan pada waktu perang atau saat damai. Saya hanya bisa membayangkan (apa yang akan terjadi) jika saja pernyataan itu dikeluarkan oleh seorang pemimpin Muslim Amerika, mendukung pemikiran ekstrim seperti itu.”

Hooper mengatakan, ia tidak hanya terkejut dengan pernyataan Friedman saja, “Pernyataan itu dimuat di majalah terkenal, Moment. Hal seperti itu, baru pertama kali saya dengar di negeri ini. Kalau di sana (Israel) banyak rabi yang mengeluarkan pemikiran yang sama dengan serdadu-serdadu Israel.”

Direktur komunikasi CAIR wilayah Minnesota, Jessica Zikri, berkata kepada Muslim News, “Sikap diam terhadap pernyataan ekstrim seperti itu, hanya akan disangka oleh orang tersebut bahwa ia mendapatkan persetujuan dan legitimasi.”

Wanita itu mengatakan, ia menghargai jawaban yang lebih moderat dari rabi lainnya yang dimintai pendapat oleh majalah Moment.

Sementara itu orang Yahudi yang tidak setuju dengan pandangan Friedman memberikan pernyataannya. Dalam sebuah pernyataan kepada Muslim News, Cecilie Surasky dari Jewish Voice for Peace mengatakan, “Pernyataan keterlaluan yang dikeluarkan oleh Friedman bahwa membunuh laki-laki Arab, para wanita dan anak-anak, dan menghancurkan tempat-tempat ibadah mereka adalah ‘sebuah cara orang Yahudi’, adalah pernyataan yang sangat menghina semua orang, khususnya orang Yahudi yang memegang nilai bahwa semuanya punya hak hidup yang sama. Pernyataannya tidak mewakili mayoritas umat Yahudi.”

“Kami tahu ada banyak peningkatan jumlah pemukim Yahudi ekstrimis di Israel dan para pendukung mereka dari Amerika, yang menolak untuk mengakui hak hidup bagi orang Palestina dan Arab. Jauh dari tujuan membawa kedamaian dan keamanan bagi Yahudi. Sikap mejijikkan yang tidak mengakui hak hidup orang-orang non-Yahudi, hanya akan membawa kepada pertumpahan darah yang lebih banyak.”

Direktur Eksekutif National Educational Foundation, HaMifgash, Rabbi Haim Beliak mengatakan, “Pernyataan pertama dan permintaan maaf yang dikeluarkan Manis Friedman menandakan tidak adanya moral dan tidak adanya etika dalam sikapnya. Friedman tidak bicara untuk Yahudi, tidak ada nilai-nilai Yahudi di sana, jika dalam lingkungan itu orang Yahudi dan non-Yahudi tidak diperlakukan sebagaimana seharusnya sebagai manusia. Etika Yahdi mengajarkan bahwa kita berhutang kewajiban terhadap ‘orang lain’ agar perhatian dan peduli. Bukan hanya dalam teori, tapi juga praktek. Dalam masa perang atau pun damai, status masyarakat sipil dan orang tak berdosa harus dihormati.

Dikutip dari http://swaramuslim.net/

Umum, ISLAM, inspirasi 2:20 am

“Atas nama penderitaan saudara-saudara kita di Palestina dan Lebanon, mari boikot produk Amerika,” demikian bunyi pesan pendek (SMS) yang saya terima pekan lalu. Pesan itu datang hanya beberapa jam setelah Israel dengan bengis membunuhi warga sipil dan kanak-kanak di Kota Qana, Lebanon.

Sehari sebelumnya, di situs IslamOnline.net, saya membaca beredarnya SMS dengan ajakan sama. “Bom boikot kita, adalah jawaban bom-bom pintar yang mereka curahkan.” Tulisan itu pun mengabarkan, pesan itu beredar secara masif dari satu ke lain seluler di negara-negara Timur Tengah. Ternyata, akal sehat (common sense) memamg berlaku di mana-mana.

Muak atas kebiadaban yang dipertontonkan Israel, membuat banyak masyarakat dunia tergerak untuk bicara boikot produk negara tersebut. Juga mentornya, AS. Lihat saja di ranah maya yang kini dipenuhi ajakan serupa. “Jika kita tak mampu berdampingan dengan saudara kita di Lebanon dan Palestina untuk memerangi Israel, mari dukung mereka dengan dana, dan goyang perekonomian musuh-musuh mereka,” tulis seorang blogger dengan antusias. Dia mencontohkan, betapa solidaritas Muslim sedunia sanggup membuat perekonomian Denmark goyah, saat negeri itu tersandung urusan kartun yang menghina Nabi Muhammad.

Bahkan, tak kurang dari intelektual dunia Arab, Profesor Fuad Thaha Abdul Halim, menyatakan cara itu terbukti efektif. “Suksesnya terbuktikan, ketika kita sama-sama memboikot restoran Amerika dan Denmark, saat terjadinya penghinaan itu,” kata Fuad dalam sebuah seminar di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, Sabtu lalu.

Bila di dunia Arab hal demikian bisa sukses, bagaimana di Indonesia? “Mengapa tidak? Kuncinya hanya satu, kemauan,” kata pekerja pers, Farid Gaban. Menurut Farid, tentu saja banyak cara untuk menunjukkan ketidaksetujuan kepada cara-cara AS dan Israel. Tetapi, menurutnya, dari sekian banyak cara itu, boikot menjadi satu-satunya cara paling sederhana yang bisa dilakukan semua orang, pada saat itu juga.

Bahkan, berbeda dengan sejumlah ulama tradisional yang mempertanyakan efektivitas boikot, Farid justru berharap banyak akan dampaknya. “Bagi Indonesia sendiri, cara ini bisa memperkecil tingkat konsumsi dan ketergantungan akan barang asing,” kata dia. “Termasuk barang-barang yang bahkan sebenarnya tidak benar-benar diperlukan.”

Dalam jangka pendek, Farid setuju jika boikot itu akan berdampak. Misalnya, memungkinkan terjadinya PHK pada perusahaan-perusahaan milik atau yang memiliki hubungan dengan pusatnya di AS. Tetapi, kata Farid, mudharat itu akan berubah manfaat, jika warga kita bisa mengalihkan konsumsi ke barang-barang sederhana produksi dalam negeri.

“Bukankah justru nantinya akan menggerakkan sektor riil kita?” kata Farid. Pertanyaannya, manakah yang lebih efektif, memboikot satu dua produk, atau semua poduk AS dan sekutunya secara menyeluruh? “Sebaiknya menyeluruh,” kata Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP), Luthfi Hasan Ishaq. Menurut Luthfi, hanya dengan boikot yang menyeluruhlah, negara tersebut bisa merasakan dampaknya.

Namun, dalam soal ini, Luthfi berbeda dengan Farid. Menurut Farid, boikot dengan tujuan politik memang tidak perlu menyeluruh. Meski tujuannya adalah tekanan ekonomi-politik, sisi simbol perlawanan pun tak kalah penting. “Dengan boikot satu dua merek, terutama yang menjadi ikon, sudah cukup,” kata Farid.

Cara itu, menurutnya, sekaligus akan membuat aksi boikot lebih efektif, fokus, dan massif. Ia mencontohkan, daripada membuat daftar panjang produk AS yang akan diboikot, lebih baik fokus untuk menghancurkan satu dua merek, misalnya, McDonald’s, Marlboro, Coca Cola, atau Shell.

“Seperti halnya perang, jangan membuka terlalu banyak front sekaligus. Cukup satu atau dua front saja, yang strategis,” kata alumnus dan pendiri beberapa media cetak nasional itu. Farid mencontohkan sejumlah aktivis properdamaian internasional lintas agama, yang bertahun-tahun konsisten mengampanyekan pemboikotan Carterpillar, merek buldozer, yang dipakai Israel menggusur orang-orang Palestina dari tanahnya. “Perusahaan itu masih bertahan, memang. Tapi, makin banyak orang yang kini mengenalnya sebagai simbol kebrutalan Israel,” kata dia.

Sukses karena boikot diraih perusahaan Iran, yang sejak awal menyatakan diri sebagai pengganti Coca Cola. Zam Zam Cola, produsen dan merek minuman ringan itu, pada kuartal pertama 2003 saja mampu menyuplai setidaknya 10 juta botol minuman ke Arab Saudi.

Dengan tingkat penjualan sebesar itu, menurut pimpinan perusahaan tersebut, Ahmad-Haddad Moghaddam, pendapatan tiap tahun mereka kini mencatat 162 juta dolar AS lebih. Awalnya, kata Ahmad, tentu saja kisah muram sebuah produk substitusi boikot.

Sumber: http://infopalestina.com/