Kumpulan Artikel

REFLEKSIMarch 9, 2007 7:27 am

Judul ini mungkin menimbulkan berbagai macam tafsiran bagi orang-orang yang membacanya. Namun, kali ini yang ditekankan ialah jangan sampai kita befikir bahwa orang lain akan melakukan sesuatu yang ‘mungkin akan’ kita lakukan. Sebagai contoh adalah ketika kita berfikir , “Kalau yang membuang sampah di tempat ini cuman saya kan ga bakalan membuat kotor!”. Padahal, sadarkah kita bahwa pada saat yang lain, orang yang berada di tempat itu juga berfikiran sama dengan yang anda pikirkan tadi. akibatnya, semua orang yang ada di tempat itu akan membuang sampah sebagaimana anda. Juga ketika di suatu tempat ada gundukan sampah yang berrserakan di mana-mana, kemudian dalam hati kita bergumam, “Paling-paling akan ada orang yang akan membuangnya ke tempat sampah!”. Dan lagi-lagi tiap orang yang lewat di tempat itu berpikiran yang sama dengan anda sehingga sampai keesokan harinya, sampah-sampah itu masih berada di sana. Jadi, untuk sesuatu yang baik dan mendatangkan kemanfaatan, baik itu buat diri kita sendiri terlebih bagi orang banyak, jangan pernah menunggu orang lain untuk melakukannya kalau anda dapat melakukannya pada saat ini juga. Tak ada ruginya bagi anda, bukan? Lihat juga blog-ku yang lainnya atau klik chahya.blog.co.uk

Umum, REFLEKSIMarch 4, 2007 5:56 am

Negeri ini secara bertubi-tubi terus saja dihantam dengan berbagai macam bencana, baik itu bencana alam maupun bencana yang berupa kecelakaan. Dari ‘’kecelakaan’’ kapal dan pesawat terbang hinggga yang masih sangat hangat di telinga kita saat ini yaitu banjir yang lagi-lagi melanda ibukota negara, Jakarta.
Nampaknya pemerintah—termasuk masyarakat, turut andil dalam terjadinya semua ini. Kita ambil contoh adalah kejadian di Jakarta yang hampir tiap tahun menjadi langganan banjir. Padahal secara teoritis banjir merupakan bencana alam yang ‘’paling mungkin’’ utk dapat diantisipasi sehingga dapat dicegah atau paling tidak jumlah korban bisa diminimalisasi.
Untuk hal yang dapat diantisipasi seperti ini, kita bisa mempersiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin. Kita bisa memulainya dengan lingkungan. Paling tidak di tiap-tiap perkampungan minimal ada tiga ataupun lebih sumur peresapan. Hal ini berguna untuk menyimpan air yang mengalir di atasnya. Selain itu, pembuatan jalan juga harus memperhatiakn masalah resapan. Jangan mengaspal seluruh badan jalan. Paling tidak sisakan sedikit tempat bagi air untuk meresap ke dalam tanah. Penataan pemukiman penduduk perlu diperhatikan dalam hal pembangunan saluran air, selokan, dan MCK.
Selain masalah lingkungan, kita juga perlu mempersiapkan berbagai macam peralatan yang akan membantu kita jika tiba-tiba banjir datang. Pertama kita perlu mempersiapkan minimal ban karet agar kita tidak tenggelam kalau banjir datang dengan volume yang besar. Bisa juga membeli perahu (baik yang bermotor atau perahu dayung). Barang-barang penting seperti surat-surat berharga, ijazah, benda-benda elektronik ringan bisa diletakkan di dalam perahu ini sehingga ketika banjir datang, kita tak perlu pusing-pusing menyelamatkan barang-barang tersebut.
Usahakan menempatkan barang-barang elektronik agak sedikit di atas tanah. Bisa di atas meja, kursi, ataupun yang lain. Atau masukkan barang-barang yang dianggap penting ke dalam plastik atau tas kresek. Intinya kalau seandainya air perlahan-lahan memasuki rumah, barang-barang tersebut tidak terkena air dan dengan segera kita bisa memindahkannya ke perahu atau ke tempat lain dengan cepat.
Ketika terjadi banjir yang pertama dilakukan adalah tenangkan diri kita terlebih dahulu. Jangan panik sehingga kita bisa berpikir dengan logis mengenai apa yang akan kita lakukan selanjutnya.
Kalau Anda masih memiliki bayi atau anak kecil, segera gendong dan kalau perlu Anda bisa mengikatnya bersama Anda. Hal ini dilakukan supaya mereka tidak terbawa arus air. Kalaupun mereka terbawa arus air, Anda masih bersama mereka sehingga keadaannya bisa Anda pantau.
Cara yang lebih ekstrim lagi, kurangi saja orang yang bermukim di Jakarta. Banjir kan terjadi karena terlalu banyak orang yang mendiami suatu tempat dan mereka ini tak pernah perduli dengna lingkungannya seperti membuang sampah di sungai atau selokan. Kalau belum bisa ya ubah kebiasaan hidup yg tak sehat itu.

Umum, REFLEKSIMarch 1, 2007 1:55 am

Siang itu adalah hari Jum’at sekitar pukul 11.00 WIB, aku mulai memakirkan motorku di tempat yang teduh karena aku bakalan berada di masjid dalam waktu yang cukup lama sambil menunggu sholat Jum’at. Kemudian aku beristirahat sejenak dan kulanjutkan mengambil air wudhu, maklum klo ga segera mengambil air wudhu nanti keburu banyak orang yang datang dan akhirnya aku harus mengantri deh…..... Dari tempatku berwudhu, aku bisa melihat orang-orang yang berlalu lalang memakirkan kendaraannya. Selain itu, ada pula petugas yang sibuk menata ulang kendaraan agar semakin banyak kendaraan yang baru saja datang dapat ditampung. Melihat hal itu aku bergumam dalam hati agar motorku jangan sampai dipindah dari tempatnya semula krn bisa2 nanti terjemur di bawah terik matahari. Namun apa mau dikata, baru beberapa detik aku bergumam seperti itu, tiba2 motorku dipindah oleh petugas ke tempat yang lumayan panas. Ya, sekarang motorku udah siap utk dijemur. Hampir saja kulangkahkan kaki ini utk memindahkan motorku ke tempat yang “lebih aman”, akan tetapi ada sesuatu yg menghalangiku dan aku pikir biarkan aja deh, moga-moga panasnya ga begitu terik. Setelah itu segera aku berwudhu dan mengambil tempat utk menunggu sholat Jum’at dimulai. Anehnya,Laughing selama khotbah dimulai dan berakhirnya shalat Jum’at ada awan yang melingkupi sekitar masjid shg cuaca ga begitu panas. Alhamdulillah deh klo begitu. Sampai akhirnya aku mau pulang dan menuju tempat parkir. Subhanallah, kulihat motorku berada di tempat yg paling luar shg dgn mudahnya aku mengeluarkan motorku itu dari kerumunan kendaraan yg begitu banyak. Lagian cuaca ga begitu panas shg motorku ga kepanasan. Sekali lagi kuucapkan alhamdulillah…......................Ternyata motor temanku yg tadi ga dipindahin malah berada di tengah kendaraan lainnya shg susah utk dikeluarkan. Mungkin cerita ini hanyalah sepele tetapi dari cerita ini bisa kita ambil hikah klo ternyata sesuatu yg tdk kita sukai terkadang ada kebaikan di baliknya. Jadi, alangkah baiknya klo kita selalu berprasangka baik dan positive thinking terhadap kejadian yang menimpa kita.

Umum, DATABASE, keseharian, ISLAM, PENDAPAT 1:24 am

"Maka setan membisikkan (pikiran jahat) kepada keduanya untuk menampakkan aurat keduanya yang tertutup kepada keduanya, dan setan berkata: ‘Tuhanmu tidak melarangmu dari mendekati pohon itu melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)’. Dia bersumpah kepada keduanya, ‘Sesungguhnya saya termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua.’ Dia membujuk keduanya dengan tipu daya…." (Al-A’raf: 20—22).

Adam dan Hawa tinggal di surga. Iblis iri dibuatnya. Ia menyimpan dendam kesumat terhadap keduanya. Iblis pun berjanji akan mendongkel mereka dari surga. Tidak hanya itu, Iblis juga berjanji menggelincirkan anak cucu Adam sampai kiamat. Demi ambisinya, Iblis bahkan meminta dispensasi kepada Allah untuk bisa hidup sampai akhir zaman. Ia pun mencari celah untuk menggoda Adam dan Hawa. Celah itu akhirnya ia temukan. Iblis membujuk keduanya agar mendekati pohon larangan. Pohon yang Allah melarang keduanya untuk mendekati dan memakan buahnya. Keduanya tertipu, mereka mendekati dan memakan buahnya. Iblis tertawa terbahak. Akhirnya, mereka semua dikeluarkan dari surga.

Maka, setan membisikkan (pikiran jahat) kepada keduanya untuk menampakkan aurat keduanya yang tertutup kepada keduanya…. Setan tahu jika keduanya mendekati pohon larangan, aurat mereka akan tampak, karena mendekatinya adalah larangan dan melanggar larangan adalah maksiyat kepada Allah. Fawaswasa lahuma… (Iblis kemudian membisiki keduanya). Waswasah adalah bisikan hati dan suara yang pelan. Artinya, iblis melakukannya secara halus, melalui bisikan hati, dan kadang tidak terdeteksi.

Setan berkata, "Tuhanmu tidak melarangmu dari mendekati pohon itu, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal di surga."

Pintu tipu daya terbesar adalah ketika Iblis berhasil mengidentifikasi keinginan Adam dan Hawa untuk kekal di surga. Demikian dikatakan oleh Ibnu Qoyyim. Keinginan…, itulah yang banyak menjadi pintu tipu daya setan. Seperti maklum, setan menggoda Anak Adam melalui aliran darah. Ia mencapai nafsu manusia dengan merasuk dan menanyainya, termasuk menanyai apa yang disukai dan apa yang tak disukai; apa yang diingini dan apa yang tak diingini. Anak Adam banyak terperdaya melalui pintu ini.

Setelah iblis berhasil mengendus keinginan moyang kita, ia menerapkan politik berikutnya. Apa itu? ia berkedok menjadi penasihat bagi keduanya. Tidak tanggung-tanggung, untuk meyakinkan Adam dan Hawa, ia harus bersumpah dengan nama Allah. Untaian kalimatnya pun dibuat simpatik, Waqaasamahumaa innii lakumaa la-minan-naasihiin (Dia bersumpah kepada keduanya, ‘Sesungguhnya saya termasuk orang yang memberi nasehat kepada kalian berdua….’).

Sebuah ungkapan yang membuai, Ada penegasan dengan sumpah (waqaasamahumaa) , ada penegasan dengan kata sesungguhnya (inni), unsur objek dikedepankan dari subjek (lakumaa sebelum naasihin) yang mengandung makna pengkhususan, sehingga ayat tersebut bisa bermakna, "Nasihatku kuberikan khusus untuk kalian berdua, dan manfaatnya kembali kepada kalian berdua, bukan kepadaku."

Pekerjaan menasihati juga diungkapkan dengan isim fa’il yang menunjukkan sifat, dan bukan fi’il yang menunjukkan kejadian yang baru terjadi, sehingga ia dapat dimaknai: memberikan nasihat adalah sifat, watak, dan profesiku, bukan hal yang bersifat insiden.

Iblis juga menggambarkan dirinya sebagai salah satu dari banyak penasihat (laminan-naasihin), dengan begitu seolah dia berkata, "Banyak orang menasihatimu dalam hal ini, sedangkan aku hanya salah seorang dari mereka." Ini serupa dengan ungkapan, "Semua orang sependapat denganku dalam masalah ini, dan aku hanyalah salah seorang yang menyuruhmu berbuat begitu."

Singkatnya, iblis menggunakan politik meyakinkan, membesarkan hati, dan memberikan solusi untuk sebuah tindakan membohongi, menipu, dan memperdaya. Untuk meyakinkan, ia tampil sebagai pemberi nasihat atau konsultan profesional, yang pendapatnya diklaim mewakili pendapat kebanyakan. Bahkan, untuk menipu Adam dan Hawa, Iblis perlu menjuluki pohon larangan dengan pohon kekekalan, seperti dalam firman Allah, "Setan berkata: ‘Wahai Adam, maukah kutunjukkan kepadamu pohon kekekalan (syajaratul khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa’?" (Thaha: 120).

Politik Iblis banyak ditiru pengikut-pengikutnya. Termasuk pengikutnya dari golongan manusia. Ada politik "penghalusan" semacam di atas. Kemungkaran banyak dijuluki dengan nama cantik. Judi dinamakan adu ketangkasan. Dahulu, judi bahkan dinamakan sumbangan dana sosial; pelacur dijuluki wanita idaman; riba disebut bunga; pengingkaran terhadap ayat dinamakan kontekstualisasi; penyelewengan Alquran diklaim membumikan Alquran; pembantaian penduduk sipil disebut penegakan demokrasi. Memerangi Islam disebut memerangi teroris, dan seterusnya.

Mendompleng keinginan orang juga lazim digunakan para pengikut setan. Jika mereka bermaksud mempengaruhi orang, agar maksud jahatnya terwujud, mereka memulai menyinggung keinginan, kemauan, dan kebutuhan orang yang dipengaruhi, seperti keinginan Adam dan Hawa untuk kekal di surga. Kadang "singgungan" itu berupa rangsangan untuk menuju keinginan, kadang keinginan itu sendiri yang dipenuhi sebagai semacam "suapan". Betapa banyak misionaris yang membujuk umat Islam dengan kedok bantuan-bantuan kemanusiaan, terutama saat mereka tertimpa musibah atau terdesak kebutuhan. Juga betapa sering bangsa Barat memperalat pemerintahan negeri-negeri Islam untuk memerangi orang Islam dengan iming-iming yang menggiurkan atau yang lazim disebut dengan politik stick and carrot.

Sebagaimana Iblis berkedok menjadi penasihat profesional, para pengikutnya di era modern juga demikian. Penasihat yang memberikan arahan dan solusi. Jika iblis melegalisasi profesionalismenya dengan sumpah atas nama Allah, dan dengan penguatan-penguatan lain, para penasihat modern tampil dengan performa yang meyakinkah, kredibel, bonafid, dan sejenisnya karena sebelumnya memang telah diopinikan demikian. Maka, ketika sebuah negara sakit, mereka tampil menjadi dokter. Orang sakit tentu susah dan kurang etis jika membantah sang dokter, tak peduli diagnosanya keliru, juga tak peduli obat yang diberikan racun sekalipun. Betapa banyak negeri yang sami’na waata’na didikte oleh lembaga semacam IMF dengan dalih penyelamatan, meskipun sesungguhnya penjerumusan.

Jika setan suka mengatasnamakan orang banyak (sesungguhnya aku salah satu pemberi nasihat), setan modern demikian juga. Untuk menjustifikasi kemauannya, ia perlu menyatakan bahwa ia didukung oleh banyak pihak. Meski kadang dukungan tersebut lebih bersifat klaim, misalanya penganugerahan nobel perdamaian dan sejenisnya. Bukankah pada era modern opini media massa yang membentuk fakta dan bukan fakta yang membentuk opini? Contoh menarik dewasa ini adalah daftar kelompok teroris versi PBB yang diklaim atas masukan banyak negara, seolah daftar tersebut mewakili aspirasi mayoritas penduduk dunia.

Akhirnya, marilah kita berlindung kepada Allah dari tipu daya setan, seperti diajarkan Allah dalam Alquran, "Katakanlah: ‘Aku berlindung dari Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahaan bisikan setan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari golongan jin dan manusia’." (An-Naas: 1 – 6). (Abu Zahrah).

Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

 

Sumber: http://swaramuslim.net/