Kumpulan Artikel

Umum, SHARING, REFLEKSI, keseharian, ISLAM, PENDAPAT, WACANA, inspirasiMay 28, 2008 8:45 am

Jakarta (ANTARA News) – Hizbut Tahir Indonesia (HTI) menilai telah berhasil memperkenalkan konsep khilafah melalui Konferensi Khilafah Internasional yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (12/8) dan dihadiri oleh sekitar 100.000 peserta. “Umat menjadi tahu istilah khilafah, istilah yang untuk sebagian orang terasa asing,” kata juru bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto, saat diskusi mengenai khilafah di Jakarta, Senin malam.
Diskusi yang dibuka oleh Menneg Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault tersebut juga menghadirkan pembicara dari Hizbut Tahir Sudan Utsman Ibrahim Abu Khalil, Guru Besar Sekolah Teologi Universitas Doshisha Jepang Prof Dr Hassan Ko Nakata dan dari Hizbut Tahir Inggris Mehmed Salim, serta dihadiri sekitar 50 organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan. Nakata mengatakan, salah satu konsep khilafah Hizbut Tahir yaitu pemerintahan berdasarkan pada hukum syariah Islam dan dijalankan melalui kepemimpinan yang dipilih seluruh umat Islam.
Nakata juga mengatakan, khilafah adalah sistem pemerintahan keduniaan membumi yang menjamin perlindungan seluruh masyarakat berdasar hukum publik Islam dan memberikan kebebasan kepada komunitas berbasis agama di bidang keagamaan. Ismail mengatakan, lewat konferensi tersebut banyak orang tahu istilah khilafah termasuk polisi-polisi yang menjaga acara tersebut. Ia mengatakan, pemahaman terhadap arti khilafah tersebut penting untuk mengembangkan gagasan tersebut.
 “Ini sebuah kemajuan karena banyak umat Islam tidak tahu,” katanya. Ia mengatakan konferensi tersebut juga diliput oleh banyak media di Indonesia. Langkah selanjutnya yang dilakukan HTI adalah melakukan pembinaan sehingga ada kesadaran politik Islam yakni segala sesuatu tidak boleh tidak diatur oleh syariat Islam. Sementara itu Adhyaksa dalam sambutannya mengatakan, yang perlu diambil pelajaran dari khilafah adalah upaya mewujudkan persatuan umat Islam dan ukhuwah Islamiyah.
Adhyaksa juga mengatakan semangat persatuan umat Islam itu dilakukan tanpa mengambil atau mengganggu hak agama lain. “Sehingga tidak perlu dikuatirkan,” katanya. Sebelumnya Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyerukan agar umat Islam mengambil esensi dari konsep kekhilafan yaitu persatuan dan kebersamaan serta menerapkannya dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia mengatakan, khilafah adalah ajaran Islam yang jelas tercantum dalam Al Quran tetapi terdapat berbagai perbedaan pendapat antar ulama mengenai bagaimana cara terbaik untuk mengimplementasikannya.(*) Sumber : http://www.antara.co.id

Umum, SHARING, REFLEKSI, keseharian, ISLAM, SELINGAN, PENDAPAT, inspirasi 8:44 am

Carter menyebut perlakuan Israel terhadap bangsa Palestina sebagai kejahatan kemanusiaan terbesar di dunia

Mantan Presiden Amerika, Jimmy Carter, mengatakan Israel memiliki paling tidak 150 bom atom.

Israel tidak pernah membenarkan bahwa negara itu memiliki senjata nuklir, namun negara itu diyakini memilikinya, sejak salah seorang ilmuwan membocorkan rincian di tahun 1980-an.

Carter mengeluarkan pernyataan mengenai senjata Israel ini di sebuah jumpa pers dalam festival sastra di Wales, Inggris, Hay Festival.

Dia juga menyebut perlakuan Israel terhadap bangsa Palestina sebagai “salah satu kejahatan terhadap hak asasi manusia terbesar di bumi.”

Carter menyebut perkiraan jumlah senjata nuklir yang dimiliki Israel itu ketika menjawab pertanyaan mengenai kebijakan Amerika terhadap Iran yang kemungkinan memiliki senjata nuklir.

“Amerika memiliki lebih dari 12.000 senjata nuklir, Uni Soviet memiliki jumlah yang kira-kira sama, Inggris dan Perancis memiliki ratusan, dan Israel memiliki 150 atau lebih,” berikut kutipan pernyataan Carter dari penyelenggara festival itu.

“Kami memiliki koleksi persenjataan yang besar… bukan hanya besar, namun kami juga memiliki roket-roket untuk membawa rudal-rudal itu ke sasaran dengan akurat.”

Sebagian besar ahli memperkirakan Israel memiliki antara 100-200 hulu ledak nuklir.

Perkiraan ini berdasarkan informasi yang dibocorkan kepada surat kabar Inggris the Sunday Times di tahun 1980-an oleh Mordechai Vanunu, seorang bekas pegawai reaktor nuklir Dimona di Israel.

‘Dipenjara’

Dalam jumpa pers itu, Carper menyatakan dukungannya kepada Israel sebagai sebuah negara, namun mengecam kebijakan dalam dan luar negeri negara itu.

“Salah satu kejahatan kemanusiaan terbesar di dunia adalah memblokir makanan dan memenjarakan 1,6 juta warga Palestina,” katanya.

Mantan presiden Amerika itu menyebut angka statistik yang menunjukkan konsumsi gizi anak-anak Palestina berada di bawah anak-anak di Afrika Sub Sahara.

Carter, yang mendapat Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2002, menjadi penengah kesepakatan Mesir-Israel tahun 1979, kesepakatan damai pertama antara Israel dan sebuah negara Arab.

Bulan April lalu dia secara kontroversial mengadakan pembicaraan di ibukota Suriah, Damaskus, dengan Khaled Meshaal, pemimpin gerakan militan Palestina Hamas. (BBC ; 26 mei 2008)

 

 

Sumber: http://www.hizbut-tahrir.or.id/2008/05/27/israel-miliki-150-senjata-nuklir/ 

Umum, SHARING, REFLEKSI, ISLAM, WACANA, inspirasi 8:42 am

Krisis kelangkaan pangan yang mengakibatkan gejolak kerusuhan di berbagai negara berkembang beberapa bulan terakhir ini adalah bukti rentannya globalisasi. Lebih jauh lagi, Bank Dunia dan IMF beserta agenda liberal pasar bebasnya pantas dituding sebagai sumber kekacauan. Beberapa faktor yang memicu melambungnya harga pangan adalah tingginya kebutuhan pangan di negeri industrialis baru seperti Cina dan India, kekeringan di Australia dan Eropa Tengah dan juga mungkin adanya permainan spekulasi di tingkat pedagang besar yang mulai beralih dari sektor keuangan (yang mengalami kerugian akibat masalah kredit macet di Barat) ke sektor komoditas pangan. Konversi lahan produksi pangan menjadi lahan pemasok bensin hayati (biofuel), sebagai sumber energi bagi mobil-mobil di Barat yang ramah lingkungan, juga berkontribusi terhadap kurangnya stok pangan. Pejabat Bank Dunia dan IMF cepat sekali menyalahkan faktor di atas sebagai penyebab utama adanya krisis pangan. Kenaikan harga dua kali lipat mengakibatkan miliaran penduduk di dunia berkembang yang hidup dibawah garis kemiskinan kehilangan haknya untuk mendapatkan akses makanan pokok. Lebih jauh lagi, miliaran penduduk lainnya semakin tenggelam di bawah garis kemiskinan, yaitu kurang dari 1 dolar sehari, sebagaimana didefinisikan oleh pakar ekonomi internasional. Dominique Strauss-Kahn, direktur manajemen IMF dan Robert Zoellick, Presdir World Bank, secara enteng tidak mau bertanggungjawab atas kebijakan yang gagal dan praktek korup yang dilakukan oleh institusi mereka masing-masing. Padahal dua institusi inilah yang mengawasi agenda pembangunan di negara berkembang se lama puluhan tahun, dimana tingkat kemiskinan justru semakin memburuk. Ini juga terbukti dari naiknya angka kemiskinan di Afrika, Asia Selatan, Timur Tengah dan Amerika Latin sebagaimana dicatat dari publikasi World Development Report (Laporan Pembangunan Dunia), tahun 2008. Dengan adanya krisis pangan, maka tidak heran apabila laporan tersebut menjadikan bidang pertanian sebagai fokus pengembangan ekonomi. Akan tetapi, laporan tersebut menyanyikan lagu lama yang sudah terdengar selama puluhan tahun dengan merekomendasikan sebagai berikut: Ekonomi negeri miskin harus mengurangi tariff bea cukai dari produk pertanian ekspor dan impor, dan meliberalisasi pasar domestik. Bank Dunia dan IMF tidak ambil pusing walaupun rekomendasi seperti itu sebenarnya toh sudah dijalankan berpuluh tahun oleh negara-negara berkembang. Dua institusi ini juga tidak begitu peduli bahwa krisis yang terjadi sebelumnya di negara berkembang sebenarnya terjadi karena imbas dari jatuhnya harga pasar komoditas dunia. Bahkan kebijakan negeri kaya dari benua Amerika Utara dan Eropa Barat yang menerapkan proteksi terhadap produk pertanian mereka sendiri, tidak dianggap bermasalah. Malahan subsidi pemerintahan Amerika dan juga Eropa (Common Agricultural Policy )dengan terhadap para petani mereka sendiri justru meningkat. Lebih jauh lagi, tidaklah penting bagi dua lembaga keuangan dunia tersebut, bahwa pihak yang paling diuntungkan dari program liberalisasi ekonomi, adalah produser gabah di Amerika (yang menguasai sekitar 30% dari nilai ekspor gabah dunia) dan juga perusahaan agrokimia multinasional seperti Monsanto dan Dupont.Mesir dimana rakyatnya telah terbunuh dalam beberapa peristiwa kekacuaan telah mengikuti secara detil rekomendasi dari Bank Dunia dan IMF, dan menggantungkan dirinya pada impor gandum sebesar 44% dari konsumsi total (di tahun 1960an) dan sebesar 50% atau lebih, menurut prediksi terakhir. Ketahanan pangan sering diejek karena tidak lagi menjadi tren, meskipun sebenarnya Mesir menghabiskan tingkat konsumsi per kapitanya sekitar 70-80% dari pendapatannya untuk membeli makanan. Ekonom mesir, yang mematuhi aturan diet dari IMF dan Bank Dunia, berdalih bahwa swasembada pangan tidak lah penting karena selalu bisa mengakses pangan impor. Namun akses saja tidak berarti banyak apabila harga pangan impor pun tidak bisa dijangkau rakyat biasa. Alangkah bertanggungjawabnya suatu negara yang mengalihkan usaha memberikan pangan kepada rakyat kepada usaha produksi bensin hayati, pemberian pakan ternak, atau kepada spekulan perdagangan yang menarik keuntungan dari membumbung tingginya harga komoditi pangan. Padahal, komoditas bahan pangan sangatlah penting untuk kelangsungan hidup, sebab kelangkaan komoditas seperti barang elektronik, perekam video, maupun mobil tidak akan dituding sebagai sebab darurat nasional.Akar dari kelangkaan pangan adalah gagalnya kebijakan dari Bank Dunia dan IMF. Padahal kebijakan yang dibuat di Washington dan London, tidak diterapkan di Amerika maupun Eropa sendiri, dan keduanya justru ingin berswasembada pangan dan menjual produksi pertaniannya ke luarnegeri dengan cara paksa (dengan dalih liberalisasi). Kebijakan jahat semacam ini hanya menghasilkan penderitaan di negeri-negeri yang lain. Namun, tanggungjawab terbesar jatuh di pundak para penguasa pengkhianat di dunia muslim, seperti Mubarak, yang menerapkan kebijakan jahat tersebut secara mentah-mentah dan tidak memperdulikan efek kesengsaraan yang menimpa kalangan masyarakat terlemah, yang justru seharusnya lebih diperhatikan oleh negara. Para penguasa tersebut adalah kaki tangan pemerintahan Barat untuk memastikan kelanggengan pengaruh mereka dengan meliberalisasi pasar dan meredam keinginan sebagian rakyatnya yang menghendaki berakhirnya dominasi Barat dan menginginkan kembalinya penerapan Islam. Gambaran bagaimana Sistem Ekonomi Islam yang diterapkan oleh Khalifah dalam menangani krisis seperti sekarang, dengan mengambil Mesir sebagai wilayah yang potensial, akan terlihat dengan penerapan beberapa instrumen Syariah sebagai berikut. Reformasi pengaturan penggunaan tanah akan dilakukan dengan mendistribusikan ulang tanah yang menganggur untuk menciptakan kompetisi di sektor pertanian yang didukung oleh dana investasi dari negara dalam pengembangan infrastruktur pertanian seperti penelitian dan perbaikan mutu benih-benih unggulan. Hal ini penting dilakukan karena konsumsi gandum di Mesir membutuhkan produksi dua kali lipat. Menarik untuk diingat bahwa di tahun 1950an, Korea dan Taiwan, sebagai macan ekonomi Asia, membangun roda perekonomiannya dengan diawali reformasi pengaturan penggunaan tanah dan investasi pertanian sehingga mampu memperbaiki tingkat pendapatan dari pertumbuhan sektor pertanian. 

 

Sumber:http://www.hizbut-tahrir.or.id/2008/04/18/kerusuhan-pangan-kegagalan-ekonomi-kapitalis-dan-institusi-global/

UmumMay 12, 2008 9:35 am

Kemarin sore, tak sengaja terlintas di mataku sebuah kalimat „Alles Liebe zum Muttertag „ dalam sebuah jurnal iklan sebuah swalayan di Berlin. Ternyata kulihat tanggalan di kalender tanggal 11 Mei ditulis sebagai Muttertag. Banyak sekali bentuk hadiah yang terpampang dalam iklan tersebut yang ditujukan untuk merayakan hari tersebut.

Hmm…tiba-tiba saja pikiranku melayang pada sosok perempuan yang tegar namun lembut dan penuh kasih. Perempuan yang mengiringi nafas hidupku sejak kanak-kanak hingga dewasa. Perempuan anggun yang hingga detik ini kusebut ibu.

Sebuah penggalan dialog yang sampai kini masih kuingat dan seperti masih terngiang-ngiang dengan jelas di telingaku adalah ketika kami kehilangan cinta ayah untuk selamanya. Saat itu aku masih duduk di bangku kelas 3 SD. Begitu tenang beliau menyampaikan rasa duka itu pada kami.
„Anakku, kemari sayang, ibu mau ngasih tahu sesuatu…“sambil meraihku ke dalam pelukannya.

„Apa yang kamu inginkan dari ayah?“ tiba-tiba beliau bertanya.
Spontan kujawab, „aku ingin ayah bahagia“…
“Kamu tahu rahasianya agar ayahmu bahagia?“ beliau kembali bertanya.
Aku menggelengkan kepala…“apa rahasianya Bu?“...
„Ayahmu pasti akan bahagia sekali jika kamu dan saudara-saudaramu selalu berdoa saat ayahmu menjumpai Allah“. Ibu berhenti dan sejenak menunggu reaksiku…

Kenapa ayah menjumpai Allah?“tanyaku.
„Bukan hanya ayah yang akan menjumpai Allah, kita semua pasti akan menjumpainya. Tetapi, waktunya tidak bersamaan.. Pagi ini saatnya giliran ayah berangkat ke tempat Allah. Nah, agar ayah selamat sampai di tempat Allah, ayah memerlukan doa kalian“…urai ibu panjang lebar.
Indah sekali tutur kata ibu mengungkapkan duka lara ditinggal belahan jiwa tanpa membuat kami merasa berat melepas ayah.

Sejak itu, aku selalu melihat ibu rajin sekali shalat, di samping shalat wajib beliau pun selalu memunaikan shalat-shalat sunah. Sering aku terbangun setiap jam 3 malam karena gemericik air saat beliau mengambil wudhu. Suatu waktu kutanyakan pada beliau tentang kebiasaannya itu, lalu dengan tenang beliau menjelaskan padaku bahwa semua yang ibu lakukan itu agar kami dikasihi Allah termasuk ayah. Sejak itu aku pun membiasakan diri bangun dan mengikuti apa yang ibu kerjakan.

Di saat aku menginjak usia baligh dan kebingungan dengan apa yang terjadi padaku saat itu, ibu malah dengan sumringah mengucapkan selamat bahwa aku telah menjadi remaja putri. Seminggu kemudian Ibu memberiku hadiah al-qur’an dan sebuah mukena hasil karya tangannya sendiri, di ujung mukena tersebut tersulam namaku. Aku terharu apalagi saat beliau memberiku wejangan tentang kewajiban shalat dan menjaga ahlak. Syukurku tak terkira menerima bahasa cintamu, ibu.

Tidak hanya kami yang merasakan hangatnya cinta ibu, tetangga dan masyarakat umum pun merasakannya. Sejak ayah tiada, seluruh hasil kebun warisan ayah yang ditanami berbagai pohon buah-buahan seperti kedondong, mangga, jeruk, nanas, alpuket dan lain-lain, ibu bagi-bagikan pada tetangga. Padahal kalau ibu mau, bisa saja dijual untuk membantu mencukupi kebutuhan hidup kami. Tetapi ternyata ibu lebih senang membagikannya, aku dan saudara-saudaraku sering mendapat tugas mengantarkan hasil kebun itu hingga tetangga yang rumahnya paling jauh dari rumah kami pun dapat merasakannya.

Pernah suatu hari saat berlibur ke rumah ibu di Garut, ibu meminta maaf padaku karena uang yang kuberikan pada beliau sebulan sebelumnya tidak dibelikan seperti harapanku. Ya, sejak mulai belajar mengenyam dunia kerja aku punya kebiasaan baru mengumpulkan sebagian honor gajiku yang tidak seberapa untuk kubelikan sesuatu untuk ponakan-ponakanku juga tentunya buat ibu, sekalipun beliau tak pernah meminta bahkan sering menolak tapi aku selalu memaksa. Hingga waktu itu aku memberi ibu sejumlah uang dengan harapan ibu membeli sesuatu untuk keperluan pribadi ibu.

Tapi ternyata sungguh aku terkejut sekaligus terharu karena uang tersebut ibu gunakan untuk membuat trotoar agar anak-anak yang sekolah di SMA dekat rumah maupun orang-orang yang sering berlalu lalang di depan rumah kami bisa nyaman berjalan, demikian alasan ibu. Subhanallah, begitu mulia hatimu, ibu. Hidupmu tetap dalam kesahajaan namun jiwamu sangat kaya.

Kebiasaan lain yang hingga kini ibu geluti sejak ayah tiada adalah aktif dalam kegiatan menolong kaum duafa. Ibu bekerja tanpa pamrih mendata masyarakat miskin, tiap malam mengevaluasi data yang diperoleh kemudian pada hari-hari tertentu mengunjunginya hingga ke pelosok-pelosok desa dengan berjalan kaki. Pernah suatu hari aku mengikuti kegiatan ibu, dan berikutnya aku tak pernah mau ikut lagi karena kelelahan. Segala aktivitas sukarelanya membuahkan penghargaan. Ibu diundang ke Bogor untuk menghadiri acara penyematan lambang penghormatan atas usaha beliau tersebut. Aku tahu ibu tak menginginkan semua itu, karena pernah ibu menjelaskan padaku saat aku protes atas sedikitnya waktu ibu untuk kami, bahwa semua yang ibu lakukan adalah untuk memenuhi wasiat ayah yang meminta ibu mengabdikan diri pada masyarakat tanpa pamrih.

Saat itu ayah menyitir sebuah hadist rasul tentang sebaik-baik orang adalah yang paling memberikan manfaat untuk sekitarnya. Ibu berjanji memenuhi permintaan ayah tersebut karena ibu ingin mendapat ridha Allah menjadi isteri yang shalihah. Lagi-lagi aku dibuat kagum sekaligus malu pada dirisendiri yang belum bisa berbuat banyak untuk umat.

Kembali terlintas kenangan saat aku baru saja melahirkan anak pertama sementara suami sedang di negeri orang. Entah kenapa saat itu aku ingin mendapat perhatian lebih dari ibu, namun ternyata ibu lebih mendahulukan seorang janda sangat miskin di kampungku yang sedang hamil 9 bulan dan saat itu memerlukan pertolongan karena terjatuh. Ibu segera menolong melarikan janda tersebut ke rumah sakit dan mengurus seluruh keperluannya sekalipun akhirnya bayi janda tersebut tak bisa di selamatkan. Aku yang saat itu sempat kecewa menjadi malu dan menyesal atas kelakukanku setelah mendengar penjelasan ibu mengapa beliau mendahulukan janda tersebut.

Oh ibu…bahasa cintamu tak kan pernah sanggup kubalas. Teringat pada sebuah kisah saat Rasulullah SAW lagi thawaf dan bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu, "Kenapa pundakmu itu?" Jawab anak muda itu, "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya."

Lalu anak muda itu bertanya, " Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk ke dalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua?" Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan, "Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu."

Sumber: http://www.eramuslim.com/atk/oim/8511094258-mengenang-bahasa-cintamu-ibu.htm

Umum, REFLEKSI, keseharian, ISLAM, inspirasi 9:30 am

Sehari setelah politisi ekstrim Belanda Geert Wilders, mempublikasikan film “Fitna” yang melecehkan Islam, di Amsterdam, dimulailah aksi Muslim Belanda bekerjasama dengan Saudi Arabia untuk menghadapi kedustaan yang dilakukan oleh film "Fitna."

Para pelaku aksi ini memilih buku-buku da’i terkenal dari Selatan Afrika yakni Syaikh Ahmad Deedat. Tokoh yang kini sudah wafat itu memiliki buku-buku yang terkenal kuat argumentasinya menghadapi tuduhan dan fitnah yang dilancarkan musuh-musuh Islam terhadap Al-Quranul Karim.

Seorang tokoh perbandingan agama asal Saudi, Asham Ahmad yang juga menggagas aksi ini mengatakan, “Target kampanye yang kami lakukan terfokus pada bentuk reaksi besar terhadap serangan terhadap Al-Quranul Karim. Karena itu, kami melakukan aksi ‘tenang’ ini, untuk memfungsikan semua programnya secara damai, guna memperbaiki pengertian publik terhadap risalah Islam.”

Ia menambahkan bahwa agenda aksinya juga ditujukan untuk menutup kesempatan bagi para musuh Islam untuk mewujudkan apa yang mereka inginkan, yakni menekan minoritas Muslim dengan aksi-aksi teror dan kekerasan.

“Mereka ingin menjadikan film itu sebagai sarana untuk lebih menekan umat Islam, mempersempit ruang kaum muslimin sebagaimana yang telah terjadi atas minoritas Muslim di Eropa, ” ujar Ahmad.

Geert Wilders telah mengabaikan berbagai pendapat dan permintaan agar ia membatalkan penyiaran film "Fitna" yang diprediksi akan memunculkan reaksi besar umat Islam. Dan sebagai jawabannya, umat Islam akan memanfaatkan momentum ini untuk lebih memperluas penjelasan dan dakwah Islam yang sesungguhnya ke masyarakat Belanda.

Program aksi ini dilakukan dengan membagikan lebih dari 50 ribu eksemplar buku gratis milik Ahmad Deedat yang berjudul, “Al-Masih dalam Islam dan Al-Quran”. Buku itu kini sudah diterjemahkan dalam bahasa Belanda dan siap dibagikan secara luas di masyarakat Belanda melalui berbagai tempat, seperti masjid, perkantoran, dan berbagai organisasi masyarakat Belanda.

Dengan dukungan walikota Amsterdam yang juga mendukung kegiatan ini, kaum minoritas Muslim Belanda akan semakin terdorong untuk menyebarkan misi Islam yang memang damai dan bisa berdampingan hidup dengan berbagai agama di Belanda.

Pilihan buku Ahmad Deedat untuk melawan kejahatan atas Islam dalam film "Fitna", adalah karena Ahmad Deedat merupakan tokoh terkenal dan mempunyai pengalaman panjang dalam membela dakwah Islam sekaligus mampu menawarkan argumentasi yang mematikan di hadapan orang-orang yang memusuhi Islam.

“Dia juga memiliki kumpulan karya yang sangat berharga dari tulisannya yang sudah terbukti manfaatnya bagi dunia Islam. Buku-buku Ahmad Deedat telah juga membuka pintu bagi ribuan orang yang telah masuk Islam setelah membaca buku-bukunya, ” ujar Ahmad.

Sumber: http://www.eramuslim.com/berita/int/8329103252-menangkal-film-quotfitnaquot-muslim-belanda-sebarkan-50-ribu-buku-ahmad-deedat-gratis.htm

Umum, ISLAM, SELINGAN, PENDAPAT, inspirasiMay 3, 2008 8:26 am

oleh: Hidayatullah Muttaqin *
Siapa pun pasti tidak mau dirinya dizalimi oleh orang lain dan ingin hidup merdeka bebas dari ketertindasan. Sikap tersebut manusiawi dan senantiasa muncul dari manusia mana pun sebagai konsekwensi adanya naluri mempertahankan diri pada dirinya. Hatta, Islam. Sebab diantara ajaran utama Islam adalah melarang berlaku dzalim. Termasuk sikap umat Islam yang menolak keberadaan Ahmadiyah sebagai bagian dari Islam adalah sikap yang benar untuk menjaga keutuhan dan kemurnian akidah Islam.

Keluarnya fatwa MUI No. 11/MUNAS VII/15/2005 yang menyatakan Ahmadiyah bukan bagian dari Islam, sesat dan menyesatkan, merupakan fatwa yang bertujuan melindungi akidah umat dari fitnah dan “rongrongan” akidah Ahmadiyah. Fatwa ini sekaligus menjadi edukasi bagi pengkuatan akidah umat. Fatwa hanya melindungi umat Islam dari akidah yang benar. Namun tetap melarang mendzolimi secara pribadi penganutnya. Dua hal ini, adalah beda sisi yang tak banyak dipahami orang.

Fatwa MUI: Monopoli Kebenaran?
Seiring dikeluarkannya rekomendasi Bakorpakem (16 April 2008) berbagai cacian dan pemaksaan opini dilontarkan oleh banyak pihak khususnya terhadap MUI. Salah satunya adalah sebutan "memonopoli kebenaran" yang diberikan oleh Prof. Dr. Syafii Maarif kepada MUI (www.okezone.com, 27/04/2008).

Menurut Prof. Dr. Syafii Maarif keberadaan Ahmadiyah di Indonesia dilindungi oleh undang-undang yang menjamin kebebasan beragama. Bahkan menurut sang profesor, atheis pun diperbolehkan hidup di Indonesia selama tidak mengganggu kepercayaan orang lain (ibid).

Sebaliknya, Prof. Dr. Syafii Maarif menganggap fatwa MUI bertentangan dengan undang-undang, sehingga jika rekomendasi Bakorpakem ditindaklanjuti dalam bentuk SKB, maka SKB tersebut dianggap profesor sebagai wujud "monopoli kebenaran" MUI. Tak hanya MUI, para intelektual –bahkan tak memiliki otoritas hukum Islam pun—ikut mengecam MUI. Termasuk Adnan Buyung Nasution.

Argumentasi yang dipaksakan oleh profesor lemah dan bertentangan dengan fakta. Pertama, rekomendasi Bakorpakem lahir dari pengamatan rinci dan pemantauan selama tiga bulan pada 55 komunitas Ahmadiyah di 33 kabupaten. Menurut Kepala Litbang Depag, Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) telah menyimpang dari ajaran pokok Islam karena di seluruh cabang Ahmadiyah, Mirza Gulam Ahmad tetap diakui sebagai Nabi dan Tadzkirah sebagai kitab suci mereka. Koordinator Bakorpakem juga menyatakan, dengan jelasnya penyimpangan JAI maka tidak ada lagi evaluasi, negosiasi, dan diskusi tentang akidah Ahmadiyah. Jadi rekomendasi Bakorpakem lahir bukan karena paksaan dari MUI melainkan hasil pengamatan berdasarkan fakta.

Kedua, tuduhan terhadap MUI oleh profesor hanya berdasarkan "logika jungkir balik". Maksudnya, dengan mengacu pada logika "kebebasan beragama" semua permasalahan kehidupan beragama dinilai dengan menggunakan logika ini tetapi di sisi lain logika ini justru menjungkirbalikkan pokok-pokok ajaran agama Islam.

Semua orang pasti mengetahui kitab suci umat Islam hanyalah Al-Quran dan tidak ada nabi dan rasul setelah Muhammad SAW. Sedangkan Ahmadiyah mengaku dirinya Islam tetapi kitab sucinya adalah Tadzkirah dan Nabinya adalah Mirza Gulam Ahmad, bahkan Ahmadiyah mengkafirkan Islam selain Islam versi Ahmadiyah. Fakta ini menunjukkan Ahmadiyah bukan hanya mengganggu keyakinan beragama umat, tetapi melakukan penistaan dan penghancuran akidah Islam. Penghancuran bangunan akidah Islam oleh Ahmadiyah merupakan fitnah yang lebih jahat dari tindakan kriminal terhadap manusia.

Jika saja ada seseorang yang tidak dikenal dan bukan darah daging profesor tiba-tiba datang mengaku sebagai anak kandung beliau dan menuduh anak kandung profesor sebagai orang lain, apakah profesor dapat menerimanya? Apalagi tujuan orang tersebut mengaku anak kandung hanya untuk merampok harta warisan profesor. Secara naluri dan perasaan mungkin saja profesor menolak kedatangan orang yang tak dikenal tersebut dan marah bila ia tetap bersikeras mengaku sebagai anak. Jika profesor konsisten dengan "logika jungkir balik" kebebasan beragama, maka profesor harus menerima orang tersebut sebagai anak kandungnya. Bila sikap ini yang diambil profesor, maka profesor mengakomodir kebohongan orang yang tak dikenal tersebut yang akan merusak keutuhan kehidupan keluarga.

Inilah fakta, siapa pun tidak dapat mengelak dari kebenaran bila kebenaran tersebut berpijak pada fakta yang benar, di luar itu adalah "kebohongan" belaka. Dan ini pula yang menjadi pijakan fatwa MUI bahwa Ahmadiyah sesat dan menyesatkan ditinjau dari akidah Islam. Sehingga fatwa MUI tersebut bukanlah "memonopoli kebenaran" melainkan "mengungkap kebenaran".

Munculnya “Diktator” Intelektual


Berlindungan dibalik jargon "Kebebasan Beragama", kalangan Non Muslim termasuk Pendeta juga melakukan demo anti Fatwa MUI, Kok bisa?? Baca »
Sikap menuduh penolakan umat terhadap Ahmadiyah yang diwakili oleh MUI melalui fatwanya sebagai "memonopoli kebenaran", tidak menghargai kebebasan beragama, dan melanggar HAM, merupakan sikap arogan dan zalim. Memaksakan pemikiran "logika jungkir balik" kebebasan beragama meski umat telah menolaknya merupakan suatu bentuk "arogansi pemikiran". Memberikan "cap negatif" sebagai punishment terhadap penolakan pemikiran yang dipaksakan adalah "kezaliman pemikiran".

Bagaimanapun, MUI adalah representadi umat Islam seluruh Indonesia. Sebagai representasi umat, MUI punya hak melindungi dan menjaga kemurnian aqidah umatnya melalui Fatwa. Itu adalah hak dan kewajibannya. Justru akan lain, jika fatwa itu datang dari kaum minoritas yang dipaksakan untuk mayoritas. Jika yang terjadi seperti yang terakhir, maka, itu adalah kediktatoran.

Arogansi dan zalim merupakan sifat yang melekat pada seorang diktator. Karena arogansi dan kezaliman ini berada dalam ranah pemikiran, maka orang-orang dan kaum intelektual yang mengusung pemikiran dengan cara seperti ini lebih tepat disebut "diktator intelektual".

Seperti halnya yang disampaikan Prof. Dr. Syafii Maarif, Dr. Hamim Ilyas yang bekerja sebagai dosen pada UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengungkapkan fatwa MUI bertentangan dengan konstitusi dan HAM yang menjamin kebebasan beragama. Ia juga mengatakan karena fatwa sesatnya, MUI harus disadarkan (Okezone.com 24/04/2008). Dari pernyataan tersebut, seolah-olah Dr. Hamim Ilyas mengatakan yang sesat adalah MUI bukan Ahmadiyah, sehingga yang harus diluruskan adalah MUI. Sebagai bagian umat Islam, "cap sesat" terhadap MUI bagi penulis sangat zalim dan menyakitkan, karena cap tersebut semata-mata fitnah belaka.

Dr. Hamim Ilyas juga menyatakan MUI perlu didemo karena menolak pluralisme agama. Apalagi MUI menggunakan dana APBN/APBD, yang salah satunya berasal dari pajak warga Ahmadiyah. Katanya, "kalau mau menyesatkan jangan pakai APBN dan APBD dong". Hamim menambahkan, berdasarkan hasil penelitian UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, fatwa-fatwa MUI menyebabkan deintelektualitas kaum Muslim (ibid).

Benar-benar "logika ngawur" apa yang disampaikan dan dituduhkan Dr. Hamim Ilyas tersebut. Ia dengan yakinnya menjadikan pluralisme agama sebagai "kebenaran mutlak", yang berbeda menurut pemikirannya ini salah dan harus didemo.

Sebagai institusi ulama, maka wajar bagi MUI untuk memberikan edukasi akidah dan edukasi syariah Islam kepada umatnya salah satunya dalam fatwa. Karenanya kesimpulan penelitian UIN Sunan Kalijaga seperti yang disampaikan Dr. Hamim Ilyas patut dipertanyakan khususnya menyangkut metodologi, independensi, dan sponsorshipnya.

Sebaliknya langkah-langkah Dr. Hamim Ilyas dan orang-orang yang katanya mengusung "kebebasan berpikir" hanya akan memalingkan umat dari akidah dan syariah agamanya. Sifat-sifat "diktator pemikiran" yang suka memfitnah inilah yang justru menyebabkan "deintelektualitas umat Islam".

Dari sisi tinjauan fakta, jika seseorang ingin menjadi Muslim ia harus memahami dan mengadopsi akidah Islam sebagai fondasi agamanya, dan mengambil syariah Islam sebagai tata perilaku dan perbuatan dalam kehidupannya. Begitu pula jika seseorang ingin menjadi mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga, ia harus mengikuti prosedur pendaftaran dan seleksi yang telah ditetapkan pihak rektorat. Dan ketika sudah diterima, ia harus mematuhi tata tertib kampus dan aturan akademik.

Jika ada seorang pemuda ditangkap polisi karena melakukan tindakan kriminal dan mengaku sebagai mahasiswa UIN Sunan Kalijaga padahal ia tidak pernah terdaftar sebagai mahasiswa, maka "sangat logis" bila rektorat UIN Sunan Kalijaga menyatakan pemuda tersebut bukan mahasiswanya. Jika logika berpikir Dr. Hamim Ilyas diterapkan dalam kasus ini, maka rektorat harus mengakui pemuda tersebut adalah mahasiswanya. Tentu pengakuan seperti ini merupakan kebohongan.

Penutup
Sikap penolakan terhadap klaim Ahmadiyah merupakan hak umat Islam. Sikap para "diktator intelektual" yang menuduh MUI dan penolakan umat atas Ahmadiyah dengan tuduhan keji seperti "memonopoli kebenaran" dan "cap sesat" merupakan "pemerkosaan" atas hak umat untuk beragama sesuai agamanya.

Sebagai "diktator intelektual", kepentingan yang di bawa oleh pengusung "kebebasan berpikir" bukanlah kepentingan umat melainkan kepentingan ashobiyah (golongan). Di sini, bisa golongan nafsu dan golongan yang punya kepentingan lain. Karenanya, jika umat dihadapkan pada dua pilihan, kepada MUI (lembaga agama yang memiliki otoritas dalam hukum Islam) dan golongan nafsu (yang tidak merepresantasikan wakil umat, apalagi bukan pakar hukum Islam), kira-kira pilihannya jatuh ke mana? Pertanyaan ini sama dengan jika kita ditanya, “Kalau masalah penyakit, kira-kira kita akan bertanya kepada dokter atau pada tukang las?” Dan insyaAllah, umat lebih tahu jawabanya. []

Penulis adalah dosen tetap Fakultas Ekonomi Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin dan pengelola website Jurnal Ekonomi Ideologis : jurnal-ekonomi.org

Sumber: http://www.swaramuslim.com/

Umum, REFLEKSI, SELINGAN, PENDAPAT, inspirasi 8:23 am

JOGJA Corpsegrinder. Dari namanya saja sudah ketahuan kalau itu berhubungan dengan dunia bawah tanah atau lebih kerennya lagi, underground. Terus Jogja Corpsegrinder itu apa? Weits, jangan berpikiran yang bukan-bukan. Jangan dikira itu itu semacam batalyon pasukan inferinya Mr Voldemort untuk membunuh Mr Potter. Jangan dikira juga itu semacam Inferi Fans Club. Trus apa dong? Jogja Corpsegrinder terdiri dari kata Jogja, corpse, dan grinder. Jogja adalah tempat berdirinya komunitas ini. Sedangkan corpse, yang berarti mayat, sebutan para sceneters (orang-orang underground) untuk diri mereka sendiri. Sedangkan grinder berarti pelumat. "Jadi arti secara keseluruhan, para corpse ingin meng-grind segala sesuatu yang dilewatinya," ujar Iwan dan Camel, dedengkot underground di Yogya. Sayangnya komunitas ini hanya eksis sekitar 5 tahun. Walaupun umurnya pendek komunitas ini merupakan cikal bakal event underground terbesar di Yogya, Jogja Brebeg (JB) yang masih tetap hidup sampai sekarang. Komunitas anak-anak underground ini berdiri tahun 1993-an. Berawal dari nongkrong bareng, semakin banyak sceneters yang datang dari seluruh penjuru Yogya. Saat itu, belum terlintas untuk mendirikan komunitas karena nongkrong bareng telah dianggap sebagai kebiasaan. Selalu, saat band salah satu dari mereka naik panggung, mereka semua ramai-ramai men-supportnya. Sering pula mereka men-support band sampai luar kota. Karena animo yang semakin besar dan masih sangat sedikit (bahkan tak ada sama sekali) komunitas underground di Yogya, maka dibentuklah Jogja Corpsegrinder oleh beberapa sceneters senior. Anggota Jogja Corpsegrinder selalu nongkrong setiap Sabtu malam di depan Hotel Inna Garuda. Tahun 1996 merupakan tahun paling bersejarah bagi dunia underground Yogya. Karena pada tahun itulah JB pertama kali diadakan. Event ini pertama kali diselenggarakan oleh seluruh sceneters Yogya dengan biaya patungan. Namun tahun-tahun berikutnya (sampai JB 14) Jogja Brebeg diadakan dengan biaya pribadi dari seorang sceneters senior yang juga merupakan penggagas Jogja Corpsegrinder sedangkan JB 15-19 telah menggunakan sponsor. Jogja Corpsegrinder hanya berlangsung sampai tahun 1998an karena kesibukan masing-masing dan pergantian muka lama dengan muka baru. Kini, para sceneters di Yogya memiliki kelompok sendiri-sendiri yang lebih kecil daripada Jogja Corpsegrinder. Biasanya kelompok ini bersifat kedaerahan. Maksudnya, anggotanya sceneters yang tinggal di sekitar wilayah itu. Jadi, saat ini yang dimaksud komunitas underground di Yogya bukan suatu membership community, namun keseluruhan sceneters di Yogya yang (bisa disebut) selalu ber-reuni ria setahun sekali pada saat JB.

Sumber: http://www.kr.co.id/

Umum, keseharian, ISLAM, SELINGAN, PENDAPAT, inspirasi 8:22 am

Nablus – Infopalestina: Pasukan penjajah Zionis Israel terus melanjutkan operasi militer di kota-kota, desa-desa dan kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat di tengah-tengah aksi penembakan dan terror terhadap warga sipil Palestina. Dalam sepekan Israel melakukan 40 kali operasi militer, sebanyak 37 warga Palestina diculik di antaranya dua orang bocah.

Dalam penelusuran lapangan yang dilakukan Pusat HAM Palestina atau PCHR (The Palestinian Centre for Human Rights) tercatat bahwa penjajah Israel melakukan 36 operasi militer di sebagian besar kota-kota dan kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat. Selama itu pula pasukan penjajah Israel menyerbu bangunan-bangunan dan rumah-rumah warga, melakukan penembakan beberapa kali secara sporadis dan sengaja kea rah warga dan rumah-rumah mereka.

Jumlah warga Palestina yang menjadi korban penculikan Israel hingga akhir April mencapai 1051 warga. Belum lagi mereka yang ditangkap di perlintasan-perlintasan militer, gerbang-gerbang perbatasan, saat melakukan aksi protes damai menentang terus berlanjutnya aktifitas pembangunan tembok pemisah rasial di Tepi Barat, dan penentangan terhadap kebijakan sanksi massal yang dilakukan Israel dengan mendirikan perlintasan-perlintasan militer dan penutupan jalan-jalan.

Sementara itu di Jalur Gaza, dalam rentang waktu yang sama penjajah Israel melakukan 4 kali operasi militer. Dua di antaranya di Beit Hanun, wilayah utara Jalur Gaza. Sekali di Abasan, timur kota Khan Yunis dan sekali di kota Deor Balah, tengah Jalur Gaza. (seto)