Kumpulan Artikel

Umum, SHARING, REFLEKSI, ISLAM, SELINGAN, PENDAPATJune 21, 2008 9:45 am



 
Mengawali tulisan ini saya akan mengutipkan pandangan seorang filosof Muslim-India, M. Iqbal (1877-1938) yang tidak populer kita ketahui, yaitu bahwa kisah Adam dalam Al-Qur’an bukanlah kisah nyata dalam sejarah umat Islam, dan kisah Adam itu bukanlah suatu peristiwa sejarah, melainkan ia hanya sebuah “legenda” semata. Pendapat Iqbal ini nampaknya seakan kontradiksi dengan pendapat yang umumnya diyakini umat Islam. Akan tetapi, sebenarnya Iqbal ingin menegaskan kalau pengirim Adam ke dunia itu bukanlah suatu “kejatuhan” melainkan suatu “kebangkitan” baru umat manusia yang sering terabaikan sebab watak semangat Al-Qur’an itu harus dipahami sebagai semangat kebangkitan, bukan “kejatuhan” tepatnya lagi kebangkitan umat manusia sebagai pemimpin di muka bumi ini.

Sesungguhnya, dapat dipahami apabila manusia pertama saja sudah mengalami “kejatuhan” tentu penerusnya akan mengalami kondisi yang lebih mengkuatirkan lagi. Oleh karena itu, interpretasi tentang Adam ini tidak lah harus seradikal Iqbal menolak ketokohan Adam, melainkan harus dilihat dalam perspektif baru bahwa itu semua merupakan suatu proses kebangkitan awal manusia menuju kehidupan yang lebih esensial sebab sesuatu yang awal akan sangat menentukan perkembangan selanjutnya. Selain itu, penempatan Adam sebagai gerak pertama kebangkitan sekaligus juga sebagai penolakan terhadap sebahagian anggapan bahwa Adam itu telah “mewariskan dosa” kepada generasi selanjutnya sehingga ia terusir dari surga.

Untuk ini lah sangat relevan mengemukakan tulisan ini sebagai upaya untuk mendudukkan kembali semangat-semangat kebangkitan yang dinafasi oleh Al-Qur’an yang memang kita butuhkan dalam mengatur tatanan kehidupan global. Sebab tanpa itu kita akan terus termarginalkan oleh “kekejaman” globalisasi yang tidak dapat dihindari sebagaimana yang pernah diramalkan futurolog Barat, John Naisbitt dan Patricia Aburdence, bahwa globalisasi akan menciptakan “ledakan” dahsyat dalam semua bidang kehidupan. Oleh sebab itu, di sini lah letak pentingnya memproyeksikan Al-Qur’an itu sebagai “kitab kebangkitan” untuk kembali menatap masa depan yang lebih cemerlang dari sebelumnya akibat dari “keterperangkapan” manusia dari kehidupan yang diciptakannya sendiri.

Spirit Al-Qur’an Tentang Kebangkitan
Tidak terlalu berlebihan kalau seandainya dikatakan kenapa umat Islam selalu saja terbelakang dalam segala hal di dunia ini, atau setidaknya ini pernah menjadi renungan dan pertanyaan besar bagi seorang pemikir asal Libanon, Syakib Arsalan (1869-1946) mengapa umat Islam itu terbelakang? Di antara salah satu penyebab utama keterbelakangan umat Islam yang disimpulkan Arsalan, yaitu bahwa umat Islam telah lama “menelantarkan” Al-Qur’an dengan mengabaikan semangat kebangkitan yang terkandung dalam inti ajarannya.

Padahal, sesungguhnya semangat kebangkitan itu merupakan suatu bagian dari entitas Al-Qur’an yang tidak hanya dapat membangkitkan masyarakat Arabia semata, melainkan seluruh pelosok penjuru bumi yang pernah bersentuhan dengan ide-ide kebangkitan yang terkandung di dalamnya. Di antara bentuk kebangkitan yang disuarakan Al-Qur’an itu ialah kebangkitan atas perbudakan mempertuhankan benda-benda yang tidak lebih baik dari manusia itu sendiri yang kita kenal dalam sejarah umat Islam dengan istilah paganisme (penyembah arca-arca) sebagaimana yang pernah ada dalam tradisi masyarakat Arab pra Islam (Lihat Q.S. 7:71, 22:71, 26:71, dan lainnya).

Selain itu, semangat kebangkitan lain yang dipolopori Al-Qur’an itu kebangkitan untuk membebaskan manusia dari segala bentuk perbudakan sesama manusia karena memang Al-Qur’an secara tegas menolak perbudakan atas manusia dengan mengedepankan semangat bahwa manusia itu tidak ada yang lebih baik dari yang lainnya kecuali hanya berdasarkan kepatuhan dan penyembahan yang total kepada Tuhan (Q.S. 2:21; 63; 177, dan lainnya).

Kemudian, semangat kebangkitan lain yang disuarakan Al-Qur’an itu dapat dilihat dari substansi ajarannya yang selalu menginginkan perbaikan dari dalam sistem kehidupan umat manusia yang merupakan inti dari kebangkitan yang sesungguhnya sebab suatu kebangkitan yang tidak didasari oleh hati nurani yang ingin bangkit hanya akan menghasilkan “kebangkitan semu” (Q.S. 13:11). Sesungguhnya, penyebab utama kenapa kebangkitan yang digerakkan oleh anak-anak bangsa ini tidak dapat bertahan lama sangat mungkin sekali didasari oleh bukan oleh dorongan hati nurani secara total, sebut saja umpamanya gerakan reformasi tanpa bermaksud mengecilkannya tidak mampu membawa perubahan signifikan dalam kehidupan berbangsa kita.

Untuk itu lah sangat tepat sekali mengaitkan semangat kebangkitan Al-Qur’an ini dengan konteks kekinian dan kedisinian bahwa sebenarnya disadari atau tidak bahwa inspirasi kebangkitan bermoral yang dulang Al-Qur’an tentang ilmu pengetahun telah mampu merubah jalan sejarah umat manusia yang seharusnya dapat ditangkap secara baik dalam mengisi kebangkitan bangsa. Oleh karena itu, tidak mengherankan kebangkitan yang diteriakkan para pembaharu selalu saja menempatkan pengembangan ilmu pengetahuan sebagai syarat utama dari proses kebangkitan yang tidak boleh diabaikan dalam mensiasati kebangkitan dan semangat cinta ilmu pengetahuan ini oleh Al-Qur’an sejak dini telah diingatkan peran dan pentingnya dalam menyusun kehidupan yang sesungguhnya.

Menurut saya menjadikan Al-Qur’an sebagai “kitab kebangkitan” sebenarnya tentunya harus dimulai dengan semangat kembali pada Al-Qur’an dalam artian yang sesungguhnya sebab menyuarakan kembali pada Al-Qur’an tanpa proyeksi praktis tetap saja menjadikannya tetap melangit dan belum membumi makanya tidak mengherankan tradisi yang kita lakukan dalam upaya mengapresiasi Al-Qur’an seperti melakukan kompetisi dalam segala aspeknya tidak mampu membawa perubahan berarti dalam tataran pengamalannya. Pada dasarnya, kembali pada Al-Qur’an tentulah mengembalikan semua persoalan hidup dalam suatu tuntunannya secara maksimal sebab harus diakui semangat yang terkandung dalam Al-Qur’an tidak akan pernah kering untuk terus ditimba sebab kandungan ayatnya itu semakin ditimba semakin banyak mengalir deras membajiri kehidupan.

Dimaksudkan kembali pada Al-Qur’an ialah upaya serius untuk terus belajar dan mengamalkan apa-apa saja yang dapat ditangkap dari pesan-pesannya terutama semangat kebangkitan yang kerap kita abaikan saat berinteraksi dengan Al-Qur’an yang sejati telah dibuktikan dalam oleh generasi awal bahwa ternyata Al-Qur’an mengajarkan kebangkitan yang spektakuler yang tidak dapat ditandingi oleh kebangkitan yang pernah dikenal dalam dunia ini. Karena itu, memang Al-Qur’an selain mengajarkan kebangkitan juga mengajarkan cara mengisi kebangkitan itu dengan langkah-langkah yang dapat menjadikan kebangkitan itu membawa perubahan yang berarti dalam menata kehidupan sebagaimana yang terlampir dalam pesan-pesan universalnya untuk menjaga dan mengatur alam semesta.

Dengan kata lain, sejatinyalah kebangkitan ini harus dimulai dari kebangkitan yang disemangati Al-Qur’an tanpa itu semua kebangkitan itu tidak akan pernah berdaya guna yang maksimal dalam mengisi kehidupan sebab selain posisi Al-Qur’an yang telah teruji oleh sejarah juga tuntunan ajaranya yang selalu sesuai dengan segala suasana termasuk dalam kehidupan yang kita dimonopoli oleh kekuasan sains dan teknologi karena tanpa adanya bimbingan Al-Qur’an dalam menghadapi kenyataan ini bukan lah mustahil itu semua dapat menjadi “mesin pemusnah” bagi kehidupan manusia itu seperti kata Alfin Toffler, di sinilah letak pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai “kitab kebangkitan” menuju kebangkitan yang sesungguhnya dalam menatap kehidupan kontemporer.
 
 
Sumber: http://www.waspada.co.id/Mimbar-Jumat/Artikel-Jumat/Menjadikan-Al-Qur-an-Sebagai-Kitab-Kebangkitan.html 
 

Umum, SHARING, REFLEKSI, keseharian, ISLAM, WACANA 9:43 am


imageMenarik beberapa peristiwa yang terjadi pada minggu2 ini, dimana rakyat Indonesia akan menyelenggarakan pemilihan presiden secara langsung, ditetapkannya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir sebagai tersangka bom bali dan bom2 lainnya yang terjadi di Indonesia oleh POLRI setelah keputusan pengadilan membebaskannya dari segala tuduhan2 terorisme.

Ditolaknya mentah2 kemauan Amerika Serikat untuk menjerat Ustadz Abu Bakar Ba’asyir ke penjara selama-lamanya melalui ketua umum Muhamadiyah Syamsul Ma’arif, tuduhan Amerika dan PBB mengenai kasus Haramain yang melibatkan Ust. Hidayat Nur Wahid yang salah alamat, dan ketidak tundukan Ketua Umum NU Hasyim Muzadi terhadap dikte2 Amerika Serikat.

Saya agak tersenyum gembira melihat fenomena tersebut karena ternyata tidak semua ulama2 yang ada di Indonesia dapat dipengaruhi oleh kekayaan, kekuasaan dan jabatan dan saya berharap pula semoga di masa depan bangsa ini akan memunculkan ulama2 seperti beliau2 diatas lebih banyak lagi sehingga dapat mengantarkan bangsa ini menuju masa keemasannya dibawah naungan Al- Quran dan hadist.

Tulisan dibawah ini hanya merupakan gagasan dari pemikiran penulis belaka, bukan bermaksud mengurui, karena kebenaran itu hanya datang dari Allah SWT, maka apabila ada kebenaran dalam tulisan ini maka itu mutlak milik Allah SWT, dan jika ada kesalahan dan kebodohan maka itu 100% dari kebodohan penulis.

Kita sekarang ini banyak membicarakan mengenai pemilihan umum dengan fokus penekanannya terdapat pada tahap pemilihan Presiden dan wakil presiden, seharusnya umat Islam yang terdapat di berbagai partai (baik partai Islam mapun nasionalis) tidak hanya mencurahkan semua tenaganya pada penekanan siapa yang akan menjadi pemimpin nasional. Tetapi tenaga itu seharusnya juga difokuskan kepada pembinaan umat supaya mereka lebih mengetahui lebih banyak lagi mengenai agamanya sehingga tercipta seorang muslim yang mempunyai hati dan akhlak yang luhur, serta kepintaran dan wawasan yang luas mengenai keilmuan dan keteknologian. Sebagian energi tersebut seharusnyalah difokuskan pula secara proporsional untuk memunculkan ulama-ulama yang bersih sebagaimana dicontohkan para ulama-ulama bersih sebelumnya (baik yang ada sekarang maupun yang ada di masa lalu, baik yang ada di Indonesia maupun luar Indonesia) yang berjuang dengan gagah berani menjalankan amar ma’ruf dan nahi munkar, tanpa takut akan celaan dan cacian tanpa takut kehilangan jabatan dan kekayaan, tanpa takut penyiksaan dan penjara bahkan kematian karena hidup mereka hanya untuk mengapai ridho Allah SWT.

Belajar dari kejayaan dan keruntuhan Khalifah Ustmaniyah di Turki, maka kita dapat memperhatikan pelajaran, bahwa kejayaan Islam dan kejatuhannya ternyata ditentukan oleh tiga komponen penggeraknya yaitu,

1 para ulama bersih
2. para pemimpin yang tidak berbuat maksiat kepada Rabbnya dan
3. rakyat/umatnya yang mayoritasnya mempunyai kualitas keimanan yang tinggi.

Ketika Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel yang merupakan wilayah kekuasaan dari Romawi. Kita melihat bahwa kondisi umat Islam dewasa itu ditopang oleh tiga pilar kekuatan utama yaitu ulama bersih yang menegakkan amar maruf dan nahi mungkar sesuai sebagaimana ditentukan oleh syariat Islam, pemimpin yang adil dan bersendikan keikhlasan dan tidak berbuat maksiat dalam kehidupan sehari-harinya ditopang dengan rakyat yang sebagian besarnya merupakan kalangan muslim dengan kualitas keimanan yang tinggi. Mereka secara bersinergi menjalankan syariat Islam dengan benar dan hasilnya adalah kekuatan yang besar dan menentukan yang disegani oleh semua orang kala itu.

Selanjutnya setelah beberapa ratus tahun berlalu, kita melihat bahwa pada akhirnya ketiga pilar tersebut pelan-pelan mengalami penurunan dalam kualitasnya, para ulama mereka banyak yang melacurkan diri kepada kekuasaan yang ada, menjual ayat-ayat quran dengan imbalan materi dan tidak menjalankan mekanisme amar maruf dan nahi mungkar sebagaimana yang digariskan oleh Quran dan Sunnah. Para pemimpin hanya memikirkan mempertahankan kekuasaan dan banyak berbuat kemaksiatan dan kedzoliman dalam kesehariannya, sementara rakyat sebagian besarnya mulai meninggalkan keIslamannya karena dianggap kuno dan ketinggalan sehingga kekhalifahan Turki Ustmani dewasa itu berada dalam masa kemunduran dan ujung-ujungnya adalah kekalahan dan keruntuhannya pada tahun 1924.

Di abad ke-21 ini kita berada di masa kejahiliyyah mencapai tahtanya menggurita ke seluruh sendi kehidupan dan sendi ketata hubungan seluruh masyarakat.

Dunia diliputi oleh kegelapan dengan dicampakkanya sumber penerangan utama Islam Quran dan hadist. Umat kebanyakan terlena oleh kegemerlapannya kehidupan duniawi yang semu, yang dibawa oleh peradaban imperialisme materialis dan mengira mereka bahwa mereka dapat meneguk kebahagiaan dengan mengikuti peradaban batil tersebut.

Keruntuhan kekhalifahan Turki Ustmani merupakan bencana besar bagi umat Islam, karena umat pada waktu itu dan juga pada dewasa ini tidak mempunyai payung untuk melindunginya dari intaian dan serangan musuh-musuhnya. Umat Islam terpecah dan terkotak-kotak dalam beberapa negara di tengah-tengah pemimpin mereka yang hanya memikirkan kekuasaan dan bergelimpangan dengan kemaksiatan. Umat Islam dewasa ini laksana buih di pantai yang di bawa angin tak menentu arah dan tidak mempunyai peranan untuk memperbaiki dunia sebagaimana diisyaratkan oleh Nabi Muhamad Saw dalam hadistnya :

“ Suatu waktu kelak umat Islam akan diperebutkan oleh umat-umat lainnya sebagaimana orang-orang yang rakus sedang memperebutkan suatu hidangan. Apakah kita waktu itu sedikit jumlahnya wahai Rasulullah? (ujar seorang sahabat). Tidak, jawab beliau, Bahkan kamu waktu itu banyak sekali, tapi hanya ibarat buih di pantai saja”

Apa yang di prediksikan oleh Rasulullah tersebut sepertinya identik dengan kondisi umat Islam dewasa ini, dimana jumlah mereka banyak tetapi peranannya dalam politik internasional hanya menjadi buih yang selalu mengikuti kemana arah USA dan PBB menginginkannya. Mereka laksana santapan yang diperebutkan oleh negara-negara kapitalis untuk mengisi kantong ekonominya, sebagaimana kita lihat negara-negara Arab khususnya dan negara-negara berpenduduk Islam umumnya dewasa ini.

Memang menyedihkan bahwa umat Islam ini berjumlah 1 milyar lebih bertebaran di berbagai negara di dunia ini, tetapi keterwakilannya di dalam Dewan Keamanan PBB paling penting adalah hanya sebagai anggota tidak tetap yang tidak mempunyai hak veto. Sedangkan posisi Anggota Tetap PBB diharamkan negara Islam mendudukinya.

Belajar dari kemunduran-kemunduran tersebut diatas, seyogyanya umat Islam mengambil hikmah dari kemunduran-kemunduran tersebut diatas, dan mulai lagi menata kehidupan mereka hanya untuk satu ideologi yang jelas dan memulai lagi pembinaan sebagaimana nabi Muhammad SAW mempraktekkannya pada awal da’wah beliau di kota Mekkah :

1.dari pribadi jahiliyyah menjadi pribadi Islami dengan memahami Islam sebagai ajaran yang syamil (menyeluruh) yang meliputi semua lingkup kehidupan.

2.dari keluargan yang jahilliyyah menuju keluarga yang Islami dengan mendakwahkan suam/istri, anak, orang tua, adik, kakak, dan keluarga dekat tentang ketiinggian dan kemuliaan dinul Islam.

3.dari masyarakat jahiliyyah menuju masyarakat Islami

4.dari tatanan kenegaraan jahiliyyah menuju tatanan kenegaraan Islami

Selain itu umat Islam harus dapat memunculkan ulama-ulama yang bersih yang tidak mudah tergoda oleh godaan jabatan dan kekayaan yang bertujuan satu meluruskan hukum Islam sesuai rel syariah yang ada yang menjalankan amar maruf dan nahi munkar kepada siapa pun tanpa memandang apakah ia penguasa atau rakyat jelata tanpa harus takut akan intimidasi, hukuman penjara bahkan ancaman pembunuhan sekalipun sebagaimana dicontohkan Imam Ahmad di masa Kekhalifahan Sultan Mahmud dan Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol menentang penjajahan Belanda serta banyak ulama bersih lainnya di masa dahulu maupun masa sekarang.

Setelah umat sebagian besarnya sudah memahami dan tercerahkan oleh Islam serta melepaskan idelogi-idelogi lain selain Islam ditambah lagi dengan bermunculannya ulama-ulama yang bersih, maka tiba saatnya bagi umat Islam untuk memunculkan pemimpin yang bersih yang tidak berbuat maksiat kepada Allah sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah dan khalifah-khalifah generasi awal dan generasi selanjutnya yang memegang amanah kepemimpinan sesuai dengan apa yang digariskan oleh syariah Islam. Sehingga pada akhirnya ketiga pilar ideal tersebut akan bersinergi dan membentuk kekuatan yang besar yang mampu menerjang semua kebatilan yang ada didepannya dan menyebarkan sinar kebenaran dan kesejahteraan keseluruh penjuru bumi.

Itulah sekelumit gambaran dari penulis mengenai tiga pilar kebangkitan Islam. Akhirnya kesemuanya dikembalikan kepada Kekuasaan dan Iradah Allah SWT, Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdo’a dengan dibarengi dengan niat karena mengharapkan ridho Allah dalam bingkai keikhlasan kepada-NYA.
 
Sumber: http://swaramuslim.net/more.php?id=A1758_0_1_0_M 
 

Umum, MUSIK, REFLEKSI, ISLAM, SELINGAN, PENDAPAT 9:42 am

Manusia seolah-olah sudah lali dengan perkara-perkara yang sering mereka temui setiap hari. Apabila manusia pertama kali mendengar sesuatu berita tentang kekejaman yang berlaku, mereka menjadi begitu prihatin. Namun demikian, keprihatinan mereka itu hanya menjadi suatu perkara rutin tidak berapa lama kemudian.

Peperangan dan konflik yang berlaku di dalam dunia yang sedang kita diami ini adalah kes yang paling jelas dan nyata. Apabila sesebuah negara dijajah dan kemudian proses penyembelihan dan genocide (Pent: Tiada terjemahan tepat untuk perkataan genocide, maka istilah ini dikekalkan. Genocide ber­maksud pembunuhan seluruh bangsa atau kaum yang tertentu) bermula, kita akan dapat melihat banyak protes-protes anti-kekejaman yang diadakan di seluruh pelusuk dunia. Sebagai contoh, mari kita merenung semula detik-detik pertama tercetusnya konflik di Bosnia, ataupun Chechnya, ataupun Palestin… Imej seorang kanak-kanak Palestin yang berada di riba ayahnya yang tidak lama selepas itu menjadi sasaran peluru askar-askar Israel, bayi-bayi Chechen yang dibunuh ketika mereka sedang lena diulit mimpi, wanita, golongan tua dan kanak-kanak yang menjadi mangsa genocide yang sangat mengerikan di Bosnia…

Apabila manusia pertama kali melihat imej-imej kekejaman tersebut, mereka sering meluahkan perasaan marah dan berkata mahu melakukan sesuatu. Walau bagaimanapun, laporan-laporan kekejaman yang bertali-arus, yang tidak pernah putus-putus itu, akhirnya tidak berupaya untuk menarik perhatian mereka lagi. Semakin ramai manusia yang mati setiap hari, wanita-wanita dicabul kehormatannya, kanak-kanak sewenang-wenangnya ditembak atau kehilangan kaki setelah terpijak periuk api… Walau bagaimanapun, reaksi masyarakat ketika awal-awal konflik dan peperangan, akhirnya telah digantikan dengan sikap acuh tak acuh dan tidak ambil kisah. Apabila mereka membeli suratkhabar, mereka lebih suka membaca gosip-gosip artis berbanding berita-berita peperangan. Oleh sebab itulah, kematian manusia yang berlaku di Palestin, Chechnya, Kashmir ataupun Timur Turkistan hanya sekadar menjadi suatu "berita rutin."

Tambahan pula, propaganda-propaganda yang dicipta telah menggambarkan kebuasan-kebuasan manusia itu sebagai suatu perkembangan politik sahaja. Akibatnya, pembunuhan berterusan di Chechnya hanya dianggap sebagai urusan sulit pihak Rusia, apa yang berlaku di Palestin hanyalah suatu perjuangan untuk mendapatkan tanah di antara orang-orang Israel dan Palestin, dan penekanan puak Hindu ke atas penduduk Kashmir sebagai masalah yang berpunca daripada posisi strategik wilayah itu. Memang benar bahawa faktor sejarah dan ekonomi memainkan peranan penting yang mencetuskan konflik-konflik tersebut. Chechnya mempunyai kepentingan ekonomi dan strategi yang penting kepada Rusia. Orang-orang Yahudi yang fanatik terus berniat untuk menawan Jerusalem dan kawasan-kawasan pendudukan Palestin yang lain sejak berabad-abad lamanya. Namun demikian, faktor-faktor dalaman dan ekonomi bukanlah satu-satunya penyebab kepada tekanan yang dikenakan kepada orang-orang Chechen oleh pihak komunis Rusia, ataupun kekejaman yang dilakukan kepada umat Islam di Afrika, ataupun keganasan dan proses pembersihan etnik yang dideritai oleh umat Islam di rantau Balkan yang dilakukan di hadapan mata penduduk dunia. Di dalam bab-bab yang seterusnya, kita akan dapat melihat bahawa konflik-konflik yang tercetus itu adalah disebabkan identiti umat Islam itu sendiri.

Mereka dihimpit dengan berbagai-bagai bentuk penindasan kerana mereka adalah golongan yang beriman kepada Allah dan mahu hidup dengan berlandaskan Islam, dan mahu melihat anak-anak mereka menjadi orang-orang yang beriman juga. Kewujudan negara-negara kuat yang mementingkan nilai-nilai spirituil atau sebuah liga Islam yang kuat yang akan melindungi hak-hak umat Islam seadil-adilnya, telah menimbulkan ketakutan kepada golongan-golongan tertentu di Barat dan juga telah menimbulkan ancaman terhadap kepentingan pihak-pihak tertentu.

Aspek lain tentang hal ini ialah terdapat sesetengah manusia yang tidak mengetahui apa-apa pun tentang masyarakat yang hidup di negara-negara tersebut, dan malah tidak pernah mendengar sama sekali nama negara-negara itu. Situasi bagi seseorang yang tidak memiliki sebarang idea tentang kepayahan, penindasan, kekejaman, kebuluran, dan kemiskinan yang dideritai oleh umat Islam Sudan, Algeria, Indonesia, Myanmar, Djibouti dan Tunisia sebenarnya memerlukan suatu "makanan" untuk mengisi minda mereka. Ada juga segelintir manusia yang menyedari kekejaman dan ketidakadilan tersebut. Namun dia tidak mencuba untuk menghulurkan sebarang bantuan ataupun berusaha untuk menghentikan penindasan tersebut. Tambahan lagi, mereka sungguh yakin bahawa mereka tidak dapat melakukan apa-apa, malah laporan-laporan yang dibaca dan imej-imej kekejaman yang dilihat menerusi televisyen tidak dapat menyedarkan mereka walaupun sedikit.

Seseorang yang benar-benar beriman, walau bagai­mana­pun,bertanggungjawab sepenuhnya terhadap apa yang mereka lihat dan dengar. Allah menyeru umat Islam di dalam Al-Quran:

Mengapa kamu enggan berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik lelaki, wanita, mahupun kanak-kanak yang semuanya berdoa: "Ya Tuhan kami. Keluarkanlah kami dari negeri ini yang mempunyai penduduk yang zalim, dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu. Dan berilah kami penolong dari sisi-Mu." (An-Nisaa’, 75)

Sudah tiada sebab lagi bagi orang-orang yang memiliki kesedaran, yang patuh kepada arahan yang terkandung di dalam ayat di atas untuk terus menutup mata dan tidak mengendahkan apa yang sedang berlaku. Adalah sesuatu yang mustahil untuk umat Islam tidur dengan nyenyak di atas katil tanpa wujud sebarang perasaan tanggungjawab di hati mereka, membazirkan masa mereka, dan hanya memikirkan tentang kepentingan dan keseronokkan dirinya sahaja sewaktu kekejaman yang melampau-lampau sedang berlaku di seluruh dunia. Ini kerana orang-orang yang beriman mengetahui bahawa kunci asas untuk menyelesaikan masalah peperangan yang berat sebelah, pembunuhan beramai-ramai, kekejaman, kebuluran, dan kebejatan masalah sosial, atau dengan ringkas segala masalah yang ada di dunia ini, adalah dengan menyebarkan ajaran moral yang terkandung di dalam al-Quran. Pengetahuan tentang perkara tersebut telah meletakkan suatu tanggungjawab besar di atas bahu mereka: iaitu menerangkan tentang ajaran Islam dan keindahan-keindahan yang dibawa olehnya, menyebarkan ajaran moral yang terkandung di dalam al-Quran, dan melancarkan peperangan ideologi kepada golongan ateis… (Pent: iaitu golongan yang tidak percaya kepada kewujudan Tuhan)

Sesiapa yang mengambil tugas mulia tersebut akan dapat membebaskan semua insan yang hidup di bawah penindasan dengan bantuan petunjuk al-Quran:

...Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan sebuah kitab yang jelas. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan yang selamat. Dan Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan kepada cahaya yang terang-benderang dengan izin-Nya, dan menunjuk mereka ke jalan yang lurus. (Al-Maaidah, 15-16)

Tujuan utama penulisan buku ini adalah untuk mendedahkan penderitaan umat Islam yang tidak berdosa di serata dunia, dan juga untuk menyeru mereka yang berkesedaran untuk memikirkan tentang situasi tersebut dan seterusnya mencari jalan penyelesaiannya. Ini bukan masanya untuk kekal membisu, bersifat tidak kisah, mengejar kesenangan kecil dunia ini, dan membuang masa dengan perdebatan dan pertengkaran yang sia-sia. Ketika berjuta-juta umat Islam menderita disebabkan oleh kekejaman dahsyat tersebut, kita adalah manusia yang tersangat-sangat mementingkan diri sendiri jika enggan memikul sebarang tanggungjawab untuk menegakkan agama Islam. Tidak menjadi satu keraguan bahawa perbuatan tersebut hanya menyebabkan kita menerima akibat yang pedih di akhirat nanti.

 

Sumber: http://www.harunyahya.com/malaysian/buku/kebangkitanislam/kebangkitanislam01.php

 

 

 

Umum, SHARING, REFLEKSI, keseharian, ISLAM, PENDAPAT, inspirasi 9:39 am

Baru semalam aku terdengar cerita dr imam di masjid..minggu ni sahaja dia telah membantu 3 org melafazkan kalimah syahadah. MasyaAllah. Gembira mendengar berita baik tu. Semoga 3 org saudara-saudara baru kita itu thabat di jalan yg telah mereka pilih dan semoga Allah membantu mereka menempuh hidup yg penuh dgn onak dan duri especially di US ni.

Lebih mengharukan lagi bile aku dgr sorg pompuan antara yg tiga org tu tutup kemas dgn hijab dan pakaian yg sesuai dgn pakaian seorg muslimah bila sampai ke masjid dimalam harinya. MasyaAllah. Begitu mudah Allah membuka hati manusia untuk terus mengamalkan ajaran Islam sebaik selepas melafaz syahadah.
Aku gembira tapi pada masa sedih.

Sedih kerana byk muslimah dikalangan kita yg bergelar Islam sejak lahir tetapi masih ada doubt dalam hati untuk mengamalkan apa yg telah digariskan Islam. Sayang seribu kali sayang. Bila ditanya mengapa tidak mahu memakai hijab atau menutup aurat dgn elok, jawapan yg diterima, itu adalah pilihan masing-masing. Iya hidup ini sentiasa penuh dgn pilihan. Dan dalam kes ini pilihannya samada untuk taat dgn perintah atau tidak? Dosa atau pahala?

Pilihan itu ditangan anda! Dan ketahuilah akibat dr pilihan yg anda pilih jua akan anda tanggung sendiri! Marilah kita mendalami lagi ilmu Islam dan bersama-sama cuba sedaya upaya mengamalkan semua yg telah digariskan dlm syariat, insyaAllah.

[256] Tidak ada paksaan dalam agama (Islam) kerana sesungguhnya telah nyata kebenaran (Islam) dari kesesatan (kufur). Oleh itu, sesiapa yang tidak percayakan Taghut dan dia pula beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada simpulan (tali agama) yang teguh yang tidak akan putus dan (ingatlah), Allah Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui. [257] Allah Pelindung (Yang mengawal dan menolong) orang-orang yang beriman. Ia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kufur) kepada cahaya (iman) dan orang-orang yang kafir, penolong-penolong mereka ialah Taghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya (iman) kepada kegelapan (kufur). Mereka itulah ahli Neraka, mereka kekal di dalamnya. (Al-Baqarah)

wallahu’alam.

 

Sumber: http://usrah.kakiblog.com/2008/05/22/hidayah-itu-milik-allah/ 

Umum, TIPS DAN TRIK, REFLEKSI, ISLAM, SELINGAN, PENDAPAT, inspirasi 9:35 am

Kota Vatikan (ANTARA News) – Jumlah umat Islam telah menyusul jumlah umat Katolik Roma di dunia, kata seorang pejabat tahta suci umat Katolik di Vatikan layaknya dilaporkan Reuters, Minggu (30/3).

Monsignor Vittorio Formenti, yang menyusun buku tahunan 2008 Vatikan yang baru dikeluarkan, mengatakan bahwa umat Islam merupakan 19,2 persen dari penduduk dunia dan umat Katolik 17,4 persen.

"Untuk pertama kali dalam sejarah kami tidak lagi di puncak, umat Islam telah menyusul kami," ujar Formenti kepada surat kabar L’Osservatore Romano Vatikan dalam satu wawancara, dan ia pun mengatakan data itu menunjuk pada tahun 2006.

Ia mengatakan, jika semua kelompok Kristen dipertimbangkan, termasuk gereja Orthodox, Anglikan dan Protestan, maka umat Kristiani merupakan 33 persen dari penduduk dunia atau sekitar dua miliar orang.

Vatikan belum lama ini menyebutkan jumlah umat Katolik di dunia 1,13 miliar orang. Mereka tidak memberikan jumlah umat Islam, biasanya kira-kira sekitar 1,3 miliar.

Data mengenai kelompok agama itu biasanya diketahui dari sumber statistik lainnya, tapi penting bahwa Vatikan memilih untuk menarik perhatian pada jumlahnya dan apa yang mereka lihat sebagai sebab di baliknya.

Formenti mengatakan bahwa sementara jumlah umat Katolik sebagai bagian dari penduduk dunia hampir stabil, persentase umat Islam bertambah karena angka kelahiran yang lebih tinggi.

Ia juga mengatakan, data mengenai penduduk Muslim dikumpulkan oleh negara sendiri dan kemudian dikeluarkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia pun menambahkan, Vatican hanya dapat menjamin untuk statistiknya sendiri.

 

Sumber: http://www.antara.co.id/arc/2008/4/1/vatikan-umat-islam-jumlahnya-lebih-banyak-dari-umat-katolik/ 

Umum, ISLAM, SELINGAN, PENDAPAT, WACANA, inspirasi 9:34 am

Berbicara tentang kebangkitan, berarti berbicara tentang usaha masyarakat untuk keluar dari keterpurukan yang selama ini telah melanda. Berbagai upaya telah dilakukan, namun hasil yang diperoleh tidak mampu membangkitkan umat secara keseluruhan. Lantas apa yang mesti dilakukan untuk meraih kebangkitan? Kebangkita apa pula yang diinginkan untuk mengubah keadaan yang ada saat ini?

Kebangkitan yang paling mendasar adalah kebangkitan dari segi pemikiran. Ini berarti, harus ada upaya mengubah pemikiran/cara berpikir masyarakat yang ada saat ini tentang segala hal yang terkait dengan seluruh aspek yang menjadi pokok permasalahan. Dengan berubahnya pemikiran masyarakat, berubah pula pemahaman yang nantinya akan mengubah perilaku.

Saat ini pemikiran masyarakat dicekoki dengan ide-ide pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme). Masyarakat bahkan mendudukkan fungsi Tuhan (agama) pada wilayah pribadi saja (ibadah mahdhah), sedangkan untuk persoalan kemasyarakatan Tuhan (agama) dianggap tidak memiliki andil. Inilah kesalahan berpikir masyarakat kita saat ini yang pada akhirnya menjadikan mereka senantiasa terkungkung dengan permasalahan yang tiada berkesudahan.

Hal lain yang menjadi faktor kebangkitan adalah bersatunya umat Islam untuk meraih kebangkitan. Ketika umat Islam bersatu maka dijamin akan menghimpun kekuatan yang sangat besar untuk mengalahkan negara adikuasa (AS). Saat ini selayaknya umat Islam menyatukan barisan langkah untuk menghimpun kekuatan dengan menjadikan Islam sebagai kepemimpinan berpikir dan menjadikan institusi Islam (Khilafah) sebagai payung kekuasaan. Hanya negara adikuasa Islamlah, yakni Khilafah, yang akan mampu melawan negara adikuasa AS dan sekutu-sekutunya yang selama ini terbukti menjadi otak dari keterpurukan umat yang terjadi.

Lagipula Allah telah menerangkan dalam QS ar-Ra’d ayat 11: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka. Jadi, ketika masyarakat ingin mengubah kondisinya maka sepantasnyalah mereka berusaha untuk bangkit dengan Islam sebagai kepemimpinan berpikir dan Negara Islam sebagai kekuatan. Wallahu a’lam bi ash-shshawab.

 

Sumber: http://hizbut-tahrir.or.id/2008/05/06/bangkitkan-umat-dengan-islam/ 

Umum, SHARING, MUSIK, REFLEKSIJune 4, 2008 9:47 am

Hidayatullah.com—Majma’ Al Buhut Al Islamiyah, institusi keilmuan tertinggi di Al Azhar mengeluarkan keputusan larangan buku liberalis Mesir, Jamal Al Banna yang berjudul, “Al Mar’ah Al Muslimah baina Tahrir Al Qur’an wa Taqyid Al Fuqaha” (Wanita Muslimah, antara Pembebasan Al-Quran dan Pengekangan Fuqaha). Dalam buku itu, Al Banna menyebutkan bahwa menutup dada sudah termasuk wilayah hijab yang diperintahkan Islam, dan tidak perlu begi wanita untuk mengenakan hijab.

Keputusan ini menyebabkan batalnya pengiriman buku ini ke Kuwait, setelah salah satu perusahaan ekspedisi memohon izin untuk pengirimannya.

Seperti inilah budaya hukum yang berlaku di Mesir, lebih-lebih menyangkut buku-buku yang berhubungan dengan agama, yang hendak di publikasikan di luar negeri.

Dr. Muhammad Abdul Mu’thi Bayumi, anggota Al Majma’ menyatakan,”Al Banna menyikapi bahwa masalah itu (hijab) sebagai pembahasan ilmiah dan ia menilai bahwa pembahasannya itu bukanlah pendapat pribadi. Ini adalah kesalahan yang tidak bisa kita diamkan. Tugas kami dari awal hingga akhir adalah menjaga pengetahuan Islam dan menjauhkan pembelokan makna, baik terhadap Al-Quran maupun As Sunnah”.

Salah satu ulama Al Azhar ini juga menyatakan bahwa pihaknya pernah melakukan perdebatan dengan Al Banna, tetapi yang bersangkutan tak pernah berubah.

”Kami telah duduk bersama Al Banna, dan kami telah melakukan kritik terhadap pendapat-pendapat yang telah ia tulis dan publikasikan. Akan tetapi ia tidak bisa menjawab kritikan kami, lalu ia mulai menggunakan takwil-takwil yang salah.”

Kitab Al Banna yang berjudul “Mas’uliyah Fashl Ad Daulah Al Islamiyah” (Tanggung Jawab Atas Gagalnya Daulah Islamiyah), juga termasuk buku yang dilarang oleh Ma’jma Al Buhuts Al Islamiyah.

Disamping menentang jilbab, liberalis Mesir yang lahir pada 15 Desember 1920 ini juga pernah memberikan statemen bahwa Yahudi dan Nashrani bukanlah termasuk kafir. Dan hingga kini buku-bukunya banyak diterjemahkan, dirujuk dan seperti dijadilan ‘buku wajib’ kaum liberalis Indonesia. Tidak hanya dirujuk, ia juga diberi gelar sebagai “pembaharu Islam”.

Selain buku-buku Al Banna, beberapa buku lain juga dilarang oleh Ma’jma adalah “Thariqah Al Faridah fi Tatsbit Al Aqidah” (Metode Unik untuk Menguatkan Aqidah) yang berbicara tentang kemukjizatan Al-Quran, dari angka-angka, salah satunya adalah angka 19. Begitu pulan buku yang ditulis oleh Abdul Fatah Al Tukhi “Sihr Barnukh” yang menyatakan bahwa praktik sihir dibolehkan dalam Islam.

Buku Bahasa Inggris yang juga dilarang adalah buku yang ditulis oleh penulis Israel David Bokey, yang dalam edisi Arab buku ini berjudul “Min Muhammad Ali ila Bin Laden” (Dari Muhammad Ali hingga Bin Laden).

Buku lain yang dilarang adalah buku “Al Masihiyyah wa Al Islam wa As Siyasat Al Brithaniyah” (Masehi, Islam, dan Politik Inggris), yang ditulis oleh Alan Cliford, salah satu penulis Inggris, yang isinya terang-terangan menghina Islam.

Al Bayumi menyatakan bahwa semua buku itu menisbatkan hal-hal di luar Islam kepada ajaran Islam, serta terang-terangan menghina Rasulullah, dan sengaja memalsukan makna Al-Quran.

Menanggapi kecaman dari mereka yang tidak suka dengan keputusan Al Maj’ma yang menyangkut pelarang buku-buku, Al Bayumi menyatakan,”Kami menghargai kebebasan berfikir dan ekspresi, selama tidak bertentangan dengan hukum-hukum syar’i”.

Jamal al Banna adalah adik kandung pendiri al-Ikhwan al-Muslimun, Syeikh Hasan Al Banna. Dari segi pemikiran, Jamal hamir memiliki kemiripan dengan Mohamad Al-Thalabi, Abd Majid Al-Syarafi, Hasan Hanafi, Mohamad Arkoun, Mohamad Abid Al-Jabiri, Abd Karim Shoroush, yang kesemuanya adalah pemikir liberal yang tidak banyak diterima para ulama Islam. Namun pemerikiran mereka mendapat dukungan Barat (terutama Amerika) yang kelak melahirkan generasi berikutnya yang kemudian dikenal penganut paham liberal.

Buku jalam berjudul, “Nahwa Fiqh al-Jadid” (1999), sebuah rumusan fikih bergaya liberal amat berbeda 180 derajat dengan pandangan kakaknya, Syeikh Hasan Al Banna yang dikenal taat pada prinsip syariah. [Al Arabiya/thoriq/www.hidayatullah.com]

Umum, TIPS DAN TRIK, SHARING, MUSIK, REFLEKSI 9:45 am

Nama Soekarno mempunyai magnet yang besar, pidato – pidatonya begitu menggelegar dan menggelorakan semangat nasionalisme dan kini para soekarnois masih mempercayai bahwa bung karno yang kharismatik adalah pemimpin besar yang tak akan pernah tergantikan, benarkah ???

Bung Karno sebagai Icon Nasionalis tidak perlu diragukan lagi, dari barat hingga ke timur negeri ini seolah meng-amini namun sisi lain bung karno sebagai sosok guru bangsa yang juga memiliki sisi – sisi islamis tentu tak banyak orang yang mengetahuinya terlebih di masa kepemimpinannya diwarnai dengan benturan – benturan politik dengan kalangan islamis dan polemik yang menajam seputar dasar negara dengan tokoh paling terkemuka kalangan Islam saat itu, Mr. Mohammad Natsir. Perlu untuk digarisbawahi bahwa kecintaan kalangan Islam kepada bung karno diekspresikan dengan sikap kritis dan upaya – upaya koreksi atas sikap dan langkah politik bung karno bukan dengan sikap selalu manis apalagi meng-kultuskan-nya, sebuah sikap yang dianggap oleh sebagian kalangan soekarnois sebagai sikap kontra revolusioner, padahal sepanjang sejarah kekuatan politik Islam yang dipresentasikan oleh Masyumi justru senantiasa bersikap sebagai kekuatan penyeimbang (oposisi) yang senantiasa “loyal”, pengkhianatan itu akhirnya justru datang dari Partai Komunis Indonesia (PKI) koalisi strategis pemerintah bung karno yang tergabung dalam Nasakom yang selalu berusaha mentahbiskan dirinya sebagai kekuatan yang proggresive revolusioner.

Nama Bung Karno yang dikenal sebagai Putra Sang Fajar tidak bisa dilepaskan dari tokoh – tokoh Pergerakan Islam yang Istiqomah berjuang demi cita – cita besar Kemerdekaan Indonesia, pemuda Soekarno pernah mondok di rumah tokoh Haji Oemar Said Cokroaminoto, tokoh terkemuka Sjarikat Islam, selain belajar filsafat dan pemikiran Islam pemuda soekarno juga belajar tentang pergerakan kepada orang yang tepat, bung karno sangat menikmati ceramah dan orasi cokroaminoto yang penuh energi perjuangan meski berada dalam pengawasan pihak belanda, gaya orasi sang guru turut membentuk gaya kepemimpinan bung karno dengan ciri khas pidato – pidatonya yang lantang dan berapi – api, Islamisme Cokroaminoto yang dijuluki oleh belanda sebagai “raja jawa tanpa mahkota” sedikit banyak terserap oleh pemuda soekarno, meski bung karno akhirnya memilih jalannya sendiri dengan hijrah ke Bandung dan kemudian mendirikan Partai Nasionalis Indonesia.

Tatkala berada dalam pengasingan belanda bung karno senantiasa berkorespondesi dengan Kyai Haji Mas Mansur, tokoh pergerakan dan ulama berpengaruh asal Surabaya yang dekat dengan kalangan NU, kelak KH Mas Mansur dipercaya menjadi Pengurus Besar Pesyarikatan Muhammadiyah dan pada masa pendudukan jepang mendirikan Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) dan terlibat dalam perjuangan bersama Bung Karno dalam Empat Serangkai.

Dengan Mas Mansur Bung Karno sering bertukar pikiran tentang Dinamika Islam dan langkah – langkah untuk me-mudakan pengertian Islam, beliau mengutarakan ketidaksetujuannya dengan sikap taklid bahkan secara tegas mengkritisi tentang “hijab” atau pembatas antara jamaah pria dan jamaah wanita, dan banyak kegelisahan – kegelisahan bung karno tentang permasalahan keislaman yang kesemuanya itu menunjukkan semangat dan harapan seorang soekarno agar Syiar Islam tidak jalan ditempat.

Selain dengan KH Mas Mansur, Bung Karno juga seringkali berkirim surat kepada Tuanku A. Hassan, Tokoh Islam Pendiri Persis di Bandung, Dalam Buku “Di Bawah Bendera Revolusi” surat – surat itu turut didokumentasikan, Bung Karno tidak segan – segan meminta “dikirimi” Literatur Islam tatkala berada dalam pengasingan.

Disisi lain Fatmawati, Isteri Bung Karno dikenal sangat agamis, dalam sebuah catatan terungkap bahwa pada saat rapat raksasa di Lapangan Ikada yang kini dikenal sebagai Gelora Bung Karno, fatmawati mengumandangkan ayat – ayat suci Al Qur’an. Latar belakang Fatmawati yang Agamis dinilai juga membawa pengaruh yang besar terhadap karir politik dan perjalanan hidup bung karno hingga akhir hayatnya.

Tentu masih banyak sisi menarik dan sisi islamis bung Karno yang belum terungkapkan…anda ingin menambahkan ???…(Ditunggu masukan dan komentar – komentarnya …)

 

 Sumber: http://dunia.pelajar-islam.or.id/?cat=134

 

Umum, TIPS DAN TRIK, SHARING, REFLEKSI, keseharian 4:58 am

Komisi Nasional (Komnas) HAM mengecam insiden pemukulan yang dilakukan oleh puluhan orang dari massa yang mengenakan atribut Front Pembela Islam (FPI) di Monumen Nasional (Monas) Jakarta terhadap Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB).

“Komnas HAM mengecam kekerasan tersebut,” kata subkomisi pengkajian dan penelitian Komnas HAM, Ahmad Baso, seperti dilansir okezone.com, Senin (2/6).

Dia menambahkan, Komnas juga menyesalkan terlambatnya tindakan aparat kepolisian.

“Kami juga menyayangkan tindakan aparat karena membiarkan kekerasan terjadi. Mereka (para polisi) baru datang saat mereka (massa AKKBB) sudah luka-luka, sehingga terkesan adanya pembiaran,” tandasnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, Komnas mendesak agar aparat kepolisian bertindak tegas. “Aparat harus bersikap tegas untuk menangkap pelaku peganiayaan, dan meminta polisi untuk koreksi dalam hal mendukung adanya upaya hukum,” imbuhnya.

PLBHM Kutuk Tindakan Anarkis FPI

Perkumpulan Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat (PLBHM) mengutuk keras tindakan penyerangan yang dilakukan Front Pembela Islam (FPI) terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), saat melakukan apel besar Satu Indonesia untuk Semua, bersama tokoh lintas agama dan tokoh nasional, pada Minggu siang (1/6) di Monas, Jakarta.

“Insiden ini merupakan tragedi bangsa, dimana FPI dan para pendukungnya menjawab perbedaan dengan tindakan kekerasan, dan hal itu tidak dapat ditolerir,” kata Ketua Dewan Pengurus PLBHM, Taufik Basari, Senin (2/6/2008).

Oleh karenanya, PLBHM mengajak seluruh komponen untuk bersikap tegas dalam menyikapi insiden tersebut. Pihaknya meminta, kepolisian, politikus, anggota dewan, dan presiden mengeluarkan pernyataan resmi mengecam serta mengutuk keras peristiwa penyerangan yang dilakukan oleh sejumlah massa dari FPI.

“Karena tindakan tersebut sama saja menciptakan kematian demokrasi,” tandasnya.

Selain itu, PLBHM juga mendesak pihak kepolisian untuk segera menangkap, memproses, dan mengadili secara hukum pihak-pihak yang terlibat akan tindakan anarkis tersebut.

Sumber: http://mahasiswa.com/?ar_id=7535

Umum, TIPS DAN TRIK, SHARING, REFLEKSI, PENDAPAT, inspirasi 4:55 am

Tahun 2001

* 27 Agustus Ratusan massa yang tergabung dalam Front Pembela Islam (FPI) berunjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR. Mereka menuntut MPR/DPR untuk mengembalikan Pancasila sesuai dengan Piagam Jakarta – 09 Oktober FPI membuat keributan dalam aksi demonstrasi di depan Kedutaan Amerika Serikat dengan merobohkan barikade kawat berduri dan aparat keamanan menembakkan gas air mata serta meriam air. * 15 Oktober Polda Metro Jaya menurunkan sekitar seribu petugas dari empat batalyon di kepolisian mengepung kantor Front Pembela Islam (FPI) di Jalan Petamburan III Jakarta Barat dan terjadi bentrokan. * 07 November Bentrokan terjadi antara laskar Jihad Ahlusunnah dan Laskar FPI dengan mahasiswa pendukung terdakwa Mixilmina Munir di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan. Dua orang mahasiswa terluka akibat dikeroyok puluhan laskar.

Tahun 2002

* 15 Maret Panglima Laskar Front Pembela Islam (FPI), Tubagus Muhammad Sidik menegaskan, aksi sweeping terhadap tempat-tempat hiburan yang terbukti melakukan kemaksiatan, merupakan hak dari masyarakat. * 15 Maret Satu truk massa FPI (Front Pembela Islam) mendatangi diskotik di Plaza Hayam Wuruk. * 15 Maret sekitar 300 masa FPI merusak sebuah tempat hiburan, Mekar Jaya Billiard, di Jl. Prof Dr. Satrio No.241, Karet, Jakarta. * 24 Maret Sekitar 50 anggota Front Pembela Islam (FPI) mendatangi diskotek New Star di Jl. Raya Ciputat. FPI menuntut agar diskotek menutup aktivitasnya. * 24 Mei Puluhan massa dari Front Pembela Islam (FPI) di bawah pimpinan Tubagus Sidiq menggrebek sebuah gudang minuman di Jalan Petamburan VI, Tanah Abang, Jakarta Pusat. * 26 Juni Usai berunjuk rasa menolak Sutiyoso di Gedung DPRD DKI, massa Front Pembela Islam (FPI) merusak sejumlah kafe di Jalan Jaksa yang tak jauh letaknya dari tempat berunjuk rasa. Dengan tongkat bambu, sebagian dari mereka merusak diantaranya Pappa Kafe, Allis Kafe, Kafe Betawi dan Margot Kafe. * 4 Oktober 2002 Sweeping ke tempat-tempat hiburan â??Riziq dipenjara selama tujuh bulan. * 14 Oktober 2002 Sekitar 300 orang pekerja beberapa tempat hiburan di Jakarta melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD DKI. Mereka menuntut pembubaran Front Pembela Islam (FPI) yang mereka anggap telah melakukan aksi main hakim sendiri terhadap tempat hiburan. * 16 Oktober Habib Rizieq diperiksa pihak kepolisian di Mapolda Metro Jaya. * 06 November Lewat rapat singkat yang dihadiri oleh sesepuh Front Pembela Islam (FPI), maka Dewan Pimpinan Pusat FPI, mengeluarkan maklumat pembekuan kelaskaran FPI di seluruh Indonesia untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. * Desember FPI diaktifkan kembali.

Tahun 2003

* 20 April Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab ditahan di Markas Polda Metro Jaya Jakarta setelah dijemput paksa dari bandara. * 08 Mei Habib Muhammad Rizieq mulai diadili di PN Jakarta. * 22 Mei 2003 Koordinator lapangan laskar Front Pembela Islam (FPI) Tubagus Sidik bersama sepuluh anggota laskar FPI menganiaya seorang pria di jalan tol, dan mereka ditangkap 23 Mei. * 1 Juli 2003 Rizieq menyesal dan berjanji akan menindak anggota FPI yang melanggar hukum negara di PN Jakarta Pusat. * 11 Agustus Majelis hakim memvonis Habib Rizieq dengan hukuman tujuh bulan penjara. * 19 November Ketua FPI Habib Rizieq bebas. * 18 Desember menurut Ahmad Sobri Lubis, Sekretaris Jenderal FPI, usai bertemu Wakil Presiden Hamzah Haz di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Front Pembela Islam (FPI) akan mengubah paradigma perjuangannya, tidak lagi menekankan pada metode perjuangan melalui gerakan massa dan kelaskaran. Perjuangan lebih ditekankan lewat pembangunan ekonomi, pengembangan pendidikan dan pemberantasan maksiat melalui jalur hukum.

Tahun 2004

* 03 Oktober FPI menyerbu pekarangan Sekolah Sang Timur sambil mengacung-acungkan senjata dan memerintahkan para suster agar menutup gereja dan sekolah Sang Timur. Front Pembela Islam( FPI) menuduh orang-orang Katolik menyebarkan agama Katolik karena mereka mempergunakan ruang olahraga sekolah sebagai gereja sementara sudah selama sepuluh tahun. * 11 Oktober FPI Depok Ancam Razia Tempat Hiburan. * 22 Oktober FPI melakukan pengrusakan kafe dan keributan dengan warga di Kemang. * 24 Oktober 2004 Front Pembela Islam melalui Ketua Badan Investigasi Front FPI Alwi meminta maaf kepada Kapolda Metro Jaya bila aksi sweeping yang dilakukannya beberapa waktu lalu dianggap melecehkan aparat hukum. * 25 Oktober 2004 Ketua MPR yang juga mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hidayat Nurwahid dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengecam cara-cara kekerasan yang dilakukan Front Pembela Islam (FPI) dalam menindak tempat hiburan yang buka selama Bulan Ramadhan. * 28 Oktober Meski menuai protes dari berbagai kalangan, Front Pembela Islam (FPI) tetap meneruskan aksi sweeping di bulan Ramadhan menurut Sekretaris Jenderal FPI Farid Syafi’i. * 28 Oktober 2004 Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafi’I Ma’arif meminta aksi-aksi sepihak yang dilakukan Front Pembela Islam (FPI) terhadap kafe-kafe di Jakarta dihentikan. Dia menilai, apa yang dilakukan FPI merupakan wewenang pemerintah daerah dan kepolisian. * 23 Desember Sekitar 150 orang anggota Front Pembela Islam terlibat bentrok dengan petugas satuan pengaman JCT (Jakarta International Container Terminal)

Tahun 2005

* 27 Juni FPI menyerang Kontes Miss Waria di Gedung Sarinah Jakarta. * 05 Agustus FPI dan FUI mengancam akan menyerang Jaringan Islam Liberal (JIL) di Utan Kayu. * 02 Agustus Dewan Pimpinan Wilayah Front Pembela Isalam (FPI) Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, meminta pengelola Taman Kanak-kanak Tunas Pertiwi, di Jalan Raya Bungursari, menghentikan kebaktian sekaligus membongkar bangunannya. Jika tidak, FPI mengancam akan menghentikan dan membongkar paksa bangunan. * 23 Agustus Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Abdurrahman Wahid meminta pimpinan tertinggi Front Pembela Islam (FPI) menghentikan aksi penutupan paksa rumah-rumah peribadatan (gereja) milik jemaat beberapa gereja di Bandung. Pernyataan itu disampaikan Wahid untuk menyikapi penutupan paksa 23 gereja di Bandung, Cimahi, dan Garut yang berlangsung sejak akhir 2002 sampai kasus terakhir penutupan Gereja Kristen Pasundan Dayeuhkolot, Bandung pada 22 Agustus 2005 lalu. * 05 September, Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi mengecam tindakan kekerasan yang dilakukan oleh FPI. * 22 September FPI memaksa agar pemeran foto bertajuk Urban/Culture di Museum Bank Indonesia, Jakarta agar ditutup. * 16 Oktober FPI mengusir Jamaat yang akan melakukan kebaktian di Jatimulya Bekasi Timur. * 23 Oktober FPI kembali menghalangi jamaat yang akan melaksanakan kebaktian dan terjadi dorong mendorong, aparat keamanan hanya menyaksikan saja. * 18 Oktober Anggota Front Pembela Islam (FPI) membawa senjata tajam saat berdemo di Polres Metro Jakarta Barat. * 19 September FPI diduga di balik ribuan orang yang menyerbu Pemukiman Jamaah Ahmadiyah di Kampung Neglasari, Desa Sukadana, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur.

Tahun 2006

* 19 Pebruari Ratusan massa Front Pembela Islam berunjuk rasa ke kantor Kedutaan Besar Amerika Serika dan melakukan kekerasan. * 14 Maret FPI membuat ricuh di Pendopo Kabupaten Sukoharjo. * 12 April FPI menyerang dan merusak Kantor Majalah Playboy. * 20 Mei, anggota FPI menggerebek 11 lokasi yang dinilai sebagai tempat maksiat di Kampung Kresek, Jalan Masjid At-Taqwa Rt 2/6, Jati Sampurna, Pondok Gede. * 21 FPI, MMI dan HTI menyegel kantor Fahmina Institute di Cirebon. * 23 FPI, MMI, HTI, dan FUI mengusir KH Abdurrahman Wahid dari forum Dialog Lintas Etnis dan Agama di Purwakarta Jawa Barat, dan sempat memaki “kiai anjing”. * 25 Mei Front Pembela Islam (FPI) cabang Bekasi, mengepung kantor Polres Metro Bekasi.

Sumber:Milis Nasionalis. Pengirim: Mira Wijaya Kusuma

Sumber: http://rumahkiri.net/index.php?option=com_content&task=view&id=979&Itemid=283