Menjadikan Al-Qur’an Sebagai “Kitab Kebangkitan”
Sesungguhnya, dapat dipahami apabila manusia pertama saja sudah mengalami “kejatuhan” tentu penerusnya akan mengalami kondisi yang lebih mengkuatirkan lagi. Oleh karena itu, interpretasi tentang Adam ini tidak lah harus seradikal Iqbal menolak ketokohan Adam, melainkan harus dilihat dalam perspektif baru bahwa itu semua merupakan suatu proses kebangkitan awal manusia menuju kehidupan yang lebih esensial sebab sesuatu yang awal akan sangat menentukan perkembangan selanjutnya. Selain itu, penempatan Adam sebagai gerak pertama kebangkitan sekaligus juga sebagai penolakan terhadap sebahagian anggapan bahwa Adam itu telah “mewariskan dosa” kepada generasi selanjutnya sehingga ia terusir dari surga.
Untuk ini lah sangat relevan mengemukakan tulisan ini sebagai upaya untuk mendudukkan kembali semangat-semangat kebangkitan yang dinafasi oleh Al-Qur’an yang memang kita butuhkan dalam mengatur tatanan kehidupan global. Sebab tanpa itu kita akan terus termarginalkan oleh “kekejaman” globalisasi yang tidak dapat dihindari sebagaimana yang pernah diramalkan futurolog Barat, John Naisbitt dan Patricia Aburdence, bahwa globalisasi akan menciptakan “ledakan” dahsyat dalam semua bidang kehidupan. Oleh sebab itu, di sini lah letak pentingnya memproyeksikan Al-Qur’an itu sebagai “kitab kebangkitan” untuk kembali menatap masa depan yang lebih cemerlang dari sebelumnya akibat dari “keterperangkapan” manusia dari kehidupan yang diciptakannya sendiri.
Spirit Al-Qur’an Tentang Kebangkitan
Tidak terlalu berlebihan kalau seandainya dikatakan kenapa umat Islam selalu saja terbelakang dalam segala hal di dunia ini, atau setidaknya ini pernah menjadi renungan dan pertanyaan besar bagi seorang pemikir asal Libanon, Syakib Arsalan (1869-1946) mengapa umat Islam itu terbelakang? Di antara salah satu penyebab utama keterbelakangan umat Islam yang disimpulkan Arsalan, yaitu bahwa umat Islam telah lama “menelantarkan” Al-Qur’an dengan mengabaikan semangat kebangkitan yang terkandung dalam inti ajarannya.
Padahal, sesungguhnya semangat kebangkitan itu merupakan suatu bagian dari entitas Al-Qur’an yang tidak hanya dapat membangkitkan masyarakat Arabia semata, melainkan seluruh pelosok penjuru bumi yang pernah bersentuhan dengan ide-ide kebangkitan yang terkandung di dalamnya. Di antara bentuk kebangkitan yang disuarakan Al-Qur’an itu ialah kebangkitan atas perbudakan mempertuhankan benda-benda yang tidak lebih baik dari manusia itu sendiri yang kita kenal dalam sejarah umat Islam dengan istilah paganisme (penyembah arca-arca) sebagaimana yang pernah ada dalam tradisi masyarakat Arab pra Islam (Lihat Q.S. 7:71, 22:71, 26:71, dan lainnya).
Selain itu, semangat kebangkitan lain yang dipolopori Al-Qur’an itu kebangkitan untuk membebaskan manusia dari segala bentuk perbudakan sesama manusia karena memang Al-Qur’an secara tegas menolak perbudakan atas manusia dengan mengedepankan semangat bahwa manusia itu tidak ada yang lebih baik dari yang lainnya kecuali hanya berdasarkan kepatuhan dan penyembahan yang total kepada Tuhan (Q.S. 2:21; 63; 177, dan lainnya).
Kemudian, semangat kebangkitan lain yang disuarakan Al-Qur’an itu dapat dilihat dari substansi ajarannya yang selalu menginginkan perbaikan dari dalam sistem kehidupan umat manusia yang merupakan inti dari kebangkitan yang sesungguhnya sebab suatu kebangkitan yang tidak didasari oleh hati nurani yang ingin bangkit hanya akan menghasilkan “kebangkitan semu” (Q.S. 13:11). Sesungguhnya, penyebab utama kenapa kebangkitan yang digerakkan oleh anak-anak bangsa ini tidak dapat bertahan lama sangat mungkin sekali didasari oleh bukan oleh dorongan hati nurani secara total, sebut saja umpamanya gerakan reformasi tanpa bermaksud mengecilkannya tidak mampu membawa perubahan signifikan dalam kehidupan berbangsa kita.
Untuk itu lah sangat tepat sekali mengaitkan semangat kebangkitan Al-Qur’an ini dengan konteks kekinian dan kedisinian bahwa sebenarnya disadari atau tidak bahwa inspirasi kebangkitan bermoral yang dulang Al-Qur’an tentang ilmu pengetahun telah mampu merubah jalan sejarah umat manusia yang seharusnya dapat ditangkap secara baik dalam mengisi kebangkitan bangsa. Oleh karena itu, tidak mengherankan kebangkitan yang diteriakkan para pembaharu selalu saja menempatkan pengembangan ilmu pengetahuan sebagai syarat utama dari proses kebangkitan yang tidak boleh diabaikan dalam mensiasati kebangkitan dan semangat cinta ilmu pengetahuan ini oleh Al-Qur’an sejak dini telah diingatkan peran dan pentingnya dalam menyusun kehidupan yang sesungguhnya.
Menurut saya menjadikan Al-Qur’an sebagai “kitab kebangkitan” sebenarnya tentunya harus dimulai dengan semangat kembali pada Al-Qur’an dalam artian yang sesungguhnya sebab menyuarakan kembali pada Al-Qur’an tanpa proyeksi praktis tetap saja menjadikannya tetap melangit dan belum membumi makanya tidak mengherankan tradisi yang kita lakukan dalam upaya mengapresiasi Al-Qur’an seperti melakukan kompetisi dalam segala aspeknya tidak mampu membawa perubahan berarti dalam tataran pengamalannya. Pada dasarnya, kembali pada Al-Qur’an tentulah mengembalikan semua persoalan hidup dalam suatu tuntunannya secara maksimal sebab harus diakui semangat yang terkandung dalam Al-Qur’an tidak akan pernah kering untuk terus ditimba sebab kandungan ayatnya itu semakin ditimba semakin banyak mengalir deras membajiri kehidupan.
Dimaksudkan kembali pada Al-Qur’an ialah upaya serius untuk terus belajar dan mengamalkan apa-apa saja yang dapat ditangkap dari pesan-pesannya terutama semangat kebangkitan yang kerap kita abaikan saat berinteraksi dengan Al-Qur’an yang sejati telah dibuktikan dalam oleh generasi awal bahwa ternyata Al-Qur’an mengajarkan kebangkitan yang spektakuler yang tidak dapat ditandingi oleh kebangkitan yang pernah dikenal dalam dunia ini. Karena itu, memang Al-Qur’an selain mengajarkan kebangkitan juga mengajarkan cara mengisi kebangkitan itu dengan langkah-langkah yang dapat menjadikan kebangkitan itu membawa perubahan yang berarti dalam menata kehidupan sebagaimana yang terlampir dalam pesan-pesan universalnya untuk menjaga dan mengatur alam semesta.
Dengan kata lain, sejatinyalah kebangkitan ini harus dimulai dari kebangkitan yang disemangati Al-Qur’an tanpa itu semua kebangkitan itu tidak akan pernah berdaya guna yang maksimal dalam mengisi kehidupan sebab selain posisi Al-Qur’an yang telah teruji oleh sejarah juga tuntunan ajaranya yang selalu sesuai dengan segala suasana termasuk dalam kehidupan yang kita dimonopoli oleh kekuasan sains dan teknologi karena tanpa adanya bimbingan Al-Qur’an dalam menghadapi kenyataan ini bukan lah mustahil itu semua dapat menjadi “mesin pemusnah” bagi kehidupan manusia itu seperti kata Alfin Toffler, di sinilah letak pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai “kitab kebangkitan” menuju kebangkitan yang sesungguhnya dalam menatap kehidupan kontemporer.

