Badai Obama Porak Porandakan Kemesraan AS-Israel
Warga Israel menunjukkan reaksi beragam berkaitan dengan pidato Obama
TEPI BARAT – Penjajahan yang dilakukan Israel teradap wilayah Palestina yang terus berlanjut hingga 42 tahun menyusul perang 6 hari pada tahun 1967 merupakan hal yang memalukan. Juru runding Palestina, kata Saeb Erakat pada hari Jumat kemarin.
“Sangat disayangkan, masyarakat internasional masih terus mendiamkan penjajahan kolonial yang paling mengerikan selama 42 tahun. Penjajahan tersebut terus berlanjut dengan pembangunan tembok pembatas dan pemukiman (Yahudi),” kata Erakat kepada wartawan.
Dia berbicara pada peringatan perang Arab-Israel, yang pecah pada tanggal 5 Juni 1967. Selama peperangan 6 hari tersebut, Israel merampas Tepi Barat, termasuk Yerusalem timur, Jalur Gaza, semenanjung Sinai dari Mesir dan dataran tinggi Golan dari Syiria.
Hingga saat ini, empat puluh persen wilayah Tepi Barat ada dibawah kendali penjajah kolonial kekaisaran Israel, kata Erakat.
Dia mengatakan bahwa sejak Israel menjajah tanah milik Palestina, sebanyak 23.000 unit rumah Palestina diratakan dengan tanah, dan lebih dari 8.000 orang Palestina diusir dari Yerusalem timur.
Sebagai tambahan, dia mengatakan bahwa Israel telah menangkap lebih dari 650.000 warga Palestina dan 4.000 orang lainnya dibantai sejak dimulainya intifada kedua pada tahun 2000.
Erakat menyanjung pidato Barack Obama yang ditujukan kepada dunia Muslim dari Kairo, dimana presiden AS tersebut mengekspresikan dukungannya terhadap berdirinya negara Palestina merdeka, dan dia dengan tajam mengkritik reaksi berlebihan pihak Israel atas pidato tersebut.
“Israel… tidak mengatakan sepatah katapun mengenai solusi dua negara atau pembekuan pembangunan pemukiman Yahudi ilegal,” kata Erakat, merujuk pada kebijakan AS yang diusung oleh Obama.
Para komentator di surat kabar Israel menginterpretasikan pidato presiden AS Barack Obama kepada dunia Muslim sebagai penanda yang jelas bahwa ada pergeseran hubungan antara AS-Israel, dan kemungkinan mengarah kepada akhir dari hubungan mesra antara kedua negara tersebut.
Seorang penulis menyerukan kepada pemerintah Israel untuk segera beradaptasi dengan angin baru yang dihembuskan dari Washington jika tidak ingin tersapu oleh badai, sementara sejumlah penulis lainnya mengatakan bahwa presiden AS tersebut telah memberikan sinyal bahwa Israel harus menghormati komitmen yang telah dibuat untuk mencapai perdamaian dengan bangsa Palestina.
Setidaknya satu orang penulis menginterpretasikan hal tersebut sebagai tanda dari AS bahwa perdana menteri Benjamin Netanyahu harus melakukan reshuffle kabinet. Mendepak sejumlah menteri yang menghalangi perdamaian seperti misalnya Lieberman, dan menunjuk menteri baru.
Sejumlah penulis memandang hal tersebut sebagai kata-kata yang positif dari pemimpin AS tersebut, sementara sebagian lainnya memilih untuk mengabaikan saja hal tersebut, dan satu orang menganggap Obama sebagai seorang penjilat.
Sementara itu, seorang warga Palestina ditembak mati oleh polisi Israel dalam sebuah aksi unjuk rasa di desa Niin, Tepi Barat, unjuk rasa tersebut digelar untuk memprotes tembok pemisah yang dibangun oleh Israel.
Aqel Srur, 35, menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah ditembak serdadu Israel. Butiran timah panas tersebut melesak masuk dan menembus jantungnya, demikian menurut pihak medis.
Namun juru bicara militer Israel menyangkal dan berkilah bahwa pasukan Israel hanya bermaksud membubarkan “kerusuhan massa” – walaupun semestinya jika hanya ingin membubarkan kerumunan massa, yang boleh dipergunakan hanyalah peluru karet, bukan peluru tajam.
Seorang pengunjuk rasa lainnya yang beru berusia 15 tahun mengalami luka-luka karena dianiaya oleh serdadu Israel, demikian menurut pihak medis.
Sekitar 200 oarng, termasuk warga Palestina, Israel dan aktivis perdamaian, mengambil bagian dalam unjuk rasa tersebut. Para aktivis memprotes pembangunan pembatas Israel di Tepi Barat. Nyaris setiap Jumat mereka harus berbentrokan dengan serdadu Israel, dan hal tersebut telah berlangsung selama lebih dari dua tahun.
Israel mengatakan bahwa tembok pemisah sepanjang 723 kilometer (454 mil) yang terbuat dari besi baja dan beton serta dilengkapi dengan pagar dan kawat berduri tersebut diperlukan untuk “keamanan”. Sementara rakyat Palestina memandang pendirian tembok tersebut sebagai upaya pencaplokan tanah oleh Israel untuk mengklaim tanah Palestina.
Dikutip dari http://swaramuslim.net/berita/more.php?id=5819_0_12_0_M
