Kumpulan Artikel

SHARING, REFLEKSI, SELINGANNovember 29, 2009 9:25 am

GROUP di Facebook ini {http://www.facebook.com/group.php?gid=125113162079} ditulis bukan untuk mengarahkan pembaca untuk bertindak anarkis dalam menyikapi sikon politik saat ini. Tetapi untuk Mengajak kita semua berpikir cerdas dan ilmiah/idealis dan jika memang dianggap perlu, melakukan perubahan-perubahan kearah yang lebih baik, intelek, ilmiah dan lebih bermoral.

———————-

Dua seremonial kenegaraan sudah kita lalui. Pemilu dan pilpres sudah dilaksanakan. Yang tertinggal hanya tuntutan rakyat atas janji-janji kampanye persuatif para kandidat, serta sisa-sisa konflik yang terjadi antar parpol dan massa pendukung. Terlepas dari apakah prosesi pemilu dan pilpres (pesta rakyat) itu sukses atau tidak, konstitusional atau tidak, dan apakah janji-janji itu terealisasi atau tidak. Yang penting untuk dipertanyakan adalah "sudah benarkah kedaulatan negeri ini?" Berawal dari DPT yang bermasalah, hingga cara-cara kandidat memperoleh suara (ingat, suara belum tentu dukungan murni masyarakat). Maka penting bagi kita untuk mempertanyakan kembali "sudah benarkah kedaulatan tertinggi itu ditangan rakyat? Untuk apa semua itu dilakukan? Benarkah dilakukan atas dasar dan tujuan yang luhur atau hanya sekedar mengejar popularitas untuk menguasai dan menunggangi publik? Jika memang dilandasi tujuan luhur, tujuan luhur apa yang dijadikan dasar dan apa sasaran yang ingin di capai? Benarkah demi mencapai keluhuran bersama atau hanya sekedar keluhuran pribadi dan golongan? Miris memang, ketika kita melihat hanya segelintir orang/tokoh yang memang benar-benar memiliki visi-misi dan jiwa kenegaraan. Sementara yang lainnya hanya menjadi ikon/boneka pelengkap gedung-gedung pemerintahan dan parlemen. Oleh karena itu, sudah sewajarnya rakyat menggugat esensi kedaulatan negeri ini. Apakah dukungan dan kepatuhan itu hanya semata-mata menjadi sesembahan kepada penguasa dan parlemen? Dalam ajaran agama, jika patuh dan taat akan mendapat ganjaran pahala dan syurga. Dan jika tidak patuh dan tidak taat akan diganjari dosa dan neraka. Lalu, jika patuh dan taat kepada pemerintah dan parlemen akan mendapatkan ganjaran apa? Apakah hanya cukup dengan janji-janji kosong (cek kosong)? Tidak, itu pembodohan dan penindasan manusia oleh manusia.

 

Seharusnya ada kemudahan hidup di bidang ekonomi, lapangan kerja, pendidikan, keamanan, kepastian hukum dan sarana prasarana (pol-ek-sos-bud-han-kam-rata). Potongan sila ke 4 pancasila mengatakan "kerakyatan yang dipimpin…dst…" sudah tidak terasa hikmat dan bijaksana lagi. Itu disebabkan oleh idealisme dan ideologi yang tidak tertanam kuat dalam diri perwakilan masyarakat. Dan itu dapat dilihat dari sikap masyarakat yang tidak panatis dan tidak konsisten dengan satu tokoh/figur. Itu dikarenakan oleh sikap ikut-ikutan dan terintimidasi ketika memberikan dukungan. Konspirasi parpol yang ambisius (mulai dari tingkat pusat dan provinsi telah memberikan imbas sampai ke daerah-daerah) cenderung melahirkan tindakan politik kotor yang penuh tipu daya. (Kejahatan terorganisir memang sangat berbahaya dan mengancam kebaikan yang tidak terorganisir). Akibat dari konspirasi ambisius itu, konstitusi dan kesakralan undang-undang hanya menjadi jilidan kertas yang isinya tidak dipegang dengan teguh. Era konstitusi dan undang-undang mulai tereliminasi oleh kekuatan uang (materi). Itu berarti sistim feodalisme gaya baru atau neokolonialisme mulai bercokol di negeri ini. Reformasi memang sudah lama berjalan. Dan jika mau mengakui dengan jujur, pemerintah di era reformasi ini, belum menemukan sistim/pola pemerintahan yang kokoh dan konsisten (good goverment). Hal ini dapat dilihat pada begitu keroposnya tatanan dan fondasi-fondasi ekonomi nasional dan begitu lemahnya sistim pemilu yang lalu. Yang pada akhirnya menciptakan pemerintahan yang penuh dengan konflik, korup, kurang produktif, tidak efisien dan tidak ekonomis. Lalu saya teringat ada seorang teman yang menyebutkan istilah "artis-artis senayan". Hm…itu berarti parlemen (baik pusat maupun daerah) hanya dianggap sebagai penghibur masyarakat saja, tidak lebih dari itu. Lalu, kemanakah fungsi perwakilan rakyat dan majelis yang selayaknya memimpin dengan penuh hikmat dan kebijaksanaan itu? Negara yang seharusnya menjadi solusi bagi rakyat, melalui aparatur dan politisinya yang kurang bermoral justru menciptakan konflik dan melegitimasi penyimpangan dan kecurangan yang dilakukan oleh aparatur negara itu sendiri.

Dan jika ada orang yang mengkritisi penyimpangan-penyimpangan itu, disebut sebagai aliran kiri. INGAT! Justru ada orang-orang yang mengaku aliran kanan bertindak lebih kiri dan busuk! Retorika-retorika yang diberikan tidak lebih dari untuk mengejar kekuasaan dan memperbudak masyarakat! Ini memang na’if bagi sebuah sistim kenegaraan yang katanya moralis, ideologis dan Bermartabat. Lalu, apakah memang begitu lemahnya dan tidak berartinya kedaulatan yang diberikan oleh masyarakat kepada legislative dan eksekutif tersebut? Karena itulah, tulisan rakyat mengugat kedaulatan negara ini disusun. Dalam sebuah buku saya temukan, ada filosofi tentang anjing dan harimau. Anjing adalah binatang pemburu yang sangat kompak disaat memburu mangsanya. Namun, ketika hasil buruan tersebut diperolehnya, ada yang membawa kabur demi kepentingan diri sendiri. Dan malah ada yang saling berebutan. Lain halnya dengan harimau, dia biasanya memburu mangsanya seorang diri, namun ketika mendapatkan tangkapan, dia paling baik dan royal dalam membagi hasil tangkapannya. Dua filosofi hewan pemburu ini, identik dengan sifat dan perilaku politisi, parlemen dan pemerintah. Akan tetapi sebagai "hewan yang berfikir", manusia seyogyanya lebih baik dibanding sifat dua jenis hewan tersebut. Jangan bicara tentang SK, warna plat kendaraan, sepatu pansus, jas dan dasi, pulpen, dan kantor tempat kerja. Itu semua hanyalah atribut yang ditempelkan pada jasad yang suatu waktu akan mati, dikubur dan dimakan cacing tanah. Jika memang merasa sebagai politisi yang berjiwa negarawan, bicaralah tentang kebenaran, keluhuran dan pengabdian pada tanah air. Seberapa banyak sumbangsih yang diberikan kepada rakyat? Bukan sebaliknya, berapa banyak rakyat yang bisa dibohongi dan ditunggangi? Ini sungguh jauh berbeda dengan ideologi dan idealisme sebuah bangsa yang bermartabat dan bermoral luhur.

SHARING, REFLEKSI, ISLAM 9:24 am

KAIRO—Beberapa hari sebelum referendum yang sangat menetukan terkait dengan usulan larangan menara di Swiss, Amnesty International, Rabu (25/11), kemarin, mengingatkan bahwa larangan membangun menara masjid merupakan pelanggaran terhadap kebebasan beragama dan pelanggaran hak-hak kesetaraan atas dasar agama.

“Berlawanan dengan klaim penggagas referendum, larangan umum atas pembangunan menara merupakan pelanggaran hak umat Islam di Swiss untuk mengekspresikan agama mereka,” ujar Nicola Duckworth, Direktur Program AI Eropa dan Asia Tengah pada Amnesty International.

Pada Ahad (29/11) mendatang, warga Swiss akan memberikan suara pada referendum yang dipelopori oleh Partai Rakyat Swiss (SVP) untuk melarang pembangunan menara di negara Eropa. Partai ekstrim kanan ini membantah pernyataan Amnesty dan mengklaim bahwa menara adalah simbol syariah, dengan demikian tidak sesuai dengan sistem hukum Swiss.

Usulan larangan tersebut ditentang oleh pemerintah, parlemen, dan semua partai politik besar di negara ini. Uskup Katolik Roma dan rabi Yahudi juga mendesak para pemilih untuk menolak usulan larangan tersebut.

“Melarang pembangunan menara sementara, misalnya, membiarkan pembangunan menara gereja tetap berjalan merupakan diskriminasi atas dasar agama,” tegas Duckworth.

Hak asasi manusia internasional mendesak pengawas Swiss untuk menolak pelarangan tersebut. “Suatu perubahan dalam konstitusi yang akan mennfasilitasi larangan pembangunan menara harus ditolak dengan tegas,” desak Duckworth.

“Langkah tersebut penting karena akan memperkuat kesetaraan hak bagi semua orang yang tinggal di Swiss.” Swiss adalah negara sekuler, konstitusi yang menjamin kebebasan ekspresi keagamaan untuk semua.

Islam adalah agama kedua di negara itu—dengan jumlah 350.000 orang—setelah agama Kristen. Masjid di Swiss kebanykan adalah bekas gudang dan pabrik. Di ibukota Swiss, Bern, masjid terbesarnya adalah bekas parkiran bawah tanah. Di seluruh negeri, hanya ada empat masjid dengan menara; tidak satu pun dari kempatnya yang digunakan untuk mengumandangkan Azan, panggilan untuk salat. iol/taq

Sumber: http://m.republika.co.id/artikel.php?id=91989&menu=islam_mancanegara

Umum, BeritaNovember 28, 2009 1:53 pm

WINA—Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Jumat, mengumumkan kesepakatan guna membantu negara Afrika memerangi lalat tsetse, penghantar utama parasit yang menyebabkan sakit gangguan tidur melalui gigitannya.
IAEA, yang telah menangani masalah tersebut bersama negara Afrika selama 30 tahun, dapat menyediakan Teknik Pembersihan Hama (SIT), teknologi pengendalian yang berpusat pada nuklir yang seringkali digambarkan sebagai "pengendalian kelahiran biologis bagi serangga", kata badan PBB tersebut di jejaringnya.

IAEA menandatangani memorandum persepahaman (MoU), Rabu, dengan Uni Afrika, yang memperluas kerja sama pada sejumlah bidang. Penanganan penyakit gangguan tidur dilakukan menyusul percobaan yang efektif di Zanzibar pada penghujung 1990-an. Penyakit gangguan tidur, atau trypanosomosis pada hewan, adalah penyakit mematikan yang ditemukan di 35 negara Afrika, tempat penyakit tersebut membunuh 400.000 orang per tahun, bersama dengan sebanyak tiga juta ternak.

Selain dari korban jiwa, penyakit itu dipandang sebagai penghalang utama bagi pembangunan, dan membuat semua negara tersebut kehilangan penghasilan sebesar empat miliar dolar AS per tahun. "Dalam penindasan hama yang didukung SIT dan upaya pencegahan, jutaan hama jantan yang disterilkan dilepaskan ke daerah sasaran. Serangga itu kawin dengan serangga betina di lapangan, tapi tak menghasilkan keturunan. Akhirnya, populasi hama tersebut tertekan dan secara tetap berkurang dari waktu ke waktu," kata IAEA.

Kerja sama medis adalah bagian dari penjelasan singkat IAEA, yang berpusat di Wina dan bertanggung jawab meningkatkan penggunaan damai energi atom.

Sumber: http://m.republika.co.id/artikel.php?id=92247&menu=saintek

REFLEKSI, ISLAMNovember 26, 2009 10:21 am

Aspek pendidikan merupakan salah satu solusi dalam upaya mengentaskan kemiskinan.

Dunia pernah dibuat kagum oleh para pesepak bola asal Kamerun. Salah satunya adalah aksi brilian striker Kamerun, Roger Milla, kala menumbangkan tim kuat Argentina pada laga pembuka Piala Dunia 1990 di Italia. Itulah momen ketika nama Kamerun segera menjadi topik pembicaraan hangat di seantero jagat.

Hingga kini, negara yang terletak di sub-Sahara Afrika itu tetap mampu mempertahankan tradisi sepak bola andalnya. Pemain-pemain Kamerun telah berkiprah di liga-liga terbaik dunia sekaligus mengharumkan nama Kamerun. Selain Roger Milla, pemain asal Kamerun lainnya yang kini sangat populer adalah Samuel Eto’o, mantan pemain Barcelona yang kini bermain di klub Inter Milan, Italia. Eto’o pernah menjadi top skor La Liga (Spanyol) saat memperkuat Barcelona.

Sesungguhnya, bukan hanya dari kancah sepak bola saja yang membuat Kamerun dikenal dunia. Sejak lama, negara tersebut diakui sebagai contoh terbaik perwujudan toleransi dan kerukunan antarumat beragama di benua Afrika.

Ya, berbeda dengan negara-negara tetangga mereka, sejauh ini Kamerun sangat jarang terdengar munculnya konflik komunal yang diakibatkan perbedaan keyakinan agama. Masyarakat Kamerun justru dapat memelihara sikap saling menghargai satu sama lain.

Pujian pun datang dari mana-mana. Salah satunya dari Paus Benediktus XVI. Pemimpin umat Nasrani ini bahkan menjadikan Kamerun sebagai awal lawatannya ke benua Afrika, medio Maret 2009.

Dalam kesempatan itu, Paus menyempatkan diri untuk bertemu dengan sejumlah tokoh Islam di sana. Ketika itu, secara khusus Paus memberikan apresiasi dan penghargaan pada peran umat Islam dalam menjaga kerukunan beragama.

Paus lantas mengatakan, Islam adalah salah satu agama yang menjadi dasar peradaban manusia. Oleh sebab itu, dia meminta umat Islam dan Nasrani di Kamerun dapat meneruskan contoh kerukunan tadi kepada negara-negara Afrika lainnya.

‘’Saya berharap, umat Islam dan Nasrani di Kamerun untuk dapat selalu bekerja sama dalam upaya membangun peradaban cinta,’’ ujar Paus dalam pertemuan di Ounde, Kamerun. Berdasarkan data, jumlah umat Muslim di Kamerun saat ini sekitar 22 persen dari populasi sebanyak 17,2 juta jiwa. Adapun penganut Katolik dan Animisme masing-masing berjumlah 27 persen dan 18 persen lagi merupakan penganut Protestan.

Lebih jauh, Paus mengharapkan umat beragama di Kamerun dapat terus mempertahankan situasi rukun dan damai, sekaligus menghindari konflik antaragama. ‘’Kita ingin melihat kehidupan umat beragama di negara ini bisa menjadi panutan bagi negara-negara lain di kawasan dalam rangka mewujudkan komitmen terhadap keadilan, perdamaian, dan kebaikan bersama,’’ tegasnya.

Seperti disebutkan David Grim, peneliti senior bidang agama dan kerja sama internasional di Pew Forum in Religion and Public Life, kedua agama (Islam dan Nasrani) sedang mengalami pertumbuhan pesat di Afrika.

Dulu, hanya satu dari 10 orang di sub-Sahara Afrika adalah penganut Nasrani. Kini, jumlahnya hampir enam dari 10 orang. ‘’Begitu pula umat Islam, jika pada awal abad 20 jumlahnya baru sekitar 14 persen dari populasi, saat ini sudah mencakup 20-30 persen,’’ tegasnya.

Maka itu, sangatlah penting agar setiap pemeluk agama dapat memelihara toleransi di antara mereka. ‘’Sejauh ini, Kamerun telah berhasil memenuhi harapan itu,’’ paparnya bangga.

Hal ini dipertegas oleh Krisztof Zielenda, direktur Institut Saint Joseph Mukasa Institute, Yoaunde. Dia melihat, selama ini umat beragama di Kamerun dapat hidup berdampingan secara damai dan penuh harmoni.

Menurutnya, selain sikap toleransi yang memang telah tertanam sejak lama, situasi kondusif itu juga ditopang oleh kebijakan pemerintah yang dirasakan sangat akomodatif, termasuk telah tercantum dalam undang-undang negara. ‘’Kerja sama antaragama terpelihara dengan baik. Ini antara lain karena pemerintah amat memberikan perhatian,’’ papar Zielanda.

Dia lantas mencontohkan, pada tahun 2004, pernah hampir terjadi gesekan antara pemuda Islam dan Nasrani di wilayah utara. Akan tetapi, segera seluruh pejabat pemerintah turun tangan meredam gejolak tersebut yang pada akhirnya mampu mendamaikan kedua pihak.

‘’Saat itu, para tokoh agama, baik Islam, Katolik, maupun Protestan, dipertemukan dan difasilitasi pemerintah. Di situ, kita sepakat untuk turun ke masyarakat dan menyosialisasikan pesan-pesan damai dalam agama,’’ terangnya.


Meningkatkan taraf hidup
Kondisi damai memang tercipta. Meski demikian, bukan berarti kewajiban umat Islam telah selesai. Masih ada tugas lain yang lebih berat, yakni bagaimana meningkatkan taraf kehidupan agar menjadi lebih baik, khususnya dalam distribusi kesejahteraan.

Bukan rahasia lagi, negara berpenduduk sekitar 16 juta jiwa itu masih menghadapi tantangan untuk dapat keluar dari masalah kemiskinan yang menimpa sebagian warganya. Hal itu telah berlangsung lama, dimulai oleh praktik eksploitasi sumber daya manusia dan alam oleh kaum kolonial di masa lalu.

Bahkan, hingga kemerdekaan penuh diraih tahun 1973, negara di kawasan barat Afrika itu masih harus berjuang keras mengatasi problem itu. Dibanding negara lainnya di kawasan tersebut, Kamerun tergolong negara dengan sumber daya alam melimpah.

Tak terkecuali dengan umat Muslim. Mereka kebanyakan tinggal di kawasan utara dan sebagian hidup kekurangan. Akan tetapi, umat senantiasa berupaya untuk mengatasi masalah kemiskinan dan kebodohan tersebut.

Selain aspek ekonomi, salah satu yang kini terus dikembangkan adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas bidang pendidikan. Ini mengingat telah muncul kesadaran bahwa di antara penyebab maraknya kemiskinan adalah kurangnya tingkat pendidikan, baik umum maupun agama, di kalangan umat selama ini.

Lembaga keislaman
Oleh karena itu, di beberapa wilayah mayoritas Muslim, mulai dibangun sejumlah masjid dan sekolah. Program ini telah dimulai sejak tahun lalu dan mendapat sambutan luas segenap umat Muslim.

Adalah sebuah lembaga bernama Humanitarian Relief Foundation yang mensponsori program itu. Belum lama ini, sebuah masjid berlantai tiga telah diresmikan di distrik Pakakatorz, Kota Duala. Pembangunan masjid ini juga didanai oleh Osman Gazi Municipality.

Selain untuk tempat ibadah, masjid ini juga dapat difungsikan untuk beragam kegiatan, misalnya pendidikan, sosial, ekonomi, dan sebagainya. ‘’Ini adalah salah satu upaya meningkatkan kualitas kehidupan umat. Semoga lebih banyak masjid dan sekolah lagi yang dapat dibangun,’’ tegas Durmus Aydin, direktur Relief Foundation, saat acara peresmian. berbagai sumber ed : sya



Syiar Islam Sejak Abad X

Agama Islam pertama kali masuk ke kawasan utara Kamerun pada abad ke-10 yang dibawa oleh para pedagang dari jazirah Arab melalui Sahara. Mereka berdagang berbagai barang keperluang harian, emas, perunggu, garam, tembaga, dan lain sebagainya.

Di samping berniaga, para pedagang ini sekaligus mendakwahkan Islam pada penduduk pribumi dan dalam waktu singkat telah mendapatkan sambutan luas. Islam pun tumbuh pesat dan akhirnya menguasai wilayah bagian utara dan tengah.

Islam mulai meraih kejayaan ketika Kerajaan Kanem Bornu di dekat Danau Chad yang dipimpin oleh Dinasti Saifawa (Sefuwa), yaitu Raja Dunama Dibbalemi, masuk Islam tahun 1221. Dinasti ini memerintah sampai dengan tahun 1251. Islam di Afrika Tengah mulai menyebar, mulai dari Chad, Nigeria, Niger, hingga Kamerun.

Pengaruh Kanem Bornu di Kamerun berlanjut hingga abad ke-15. Namun, agama Islam baru menjadi kekuatan penuh di bagian utara saat suku Fulani (Fulbe) berkuasa pada abad ke-18. Mereka lantas mendirikan Kerajaan Adamawa (Adamawa Emirate) yang meliputi Kamerun dan Nigeria.

Suku Fulani dikenal sebagai salah satu suku unggulan di Afrika dan gigih menyebarkan agama Islam di kawasan itu. Sebelumnya, suku ini melakukan ekspansi ke Kerajaan Bamoun di abad ke-17 yang didirikan oleh Nshare Yen dan Kerajaan Bamoun menerima Islam secara utuh pada tahun 1833 ketika Sultan Njoya Ibrahima berkuasa.

Agama Nasrani baru berkembang pada abad ke-19. Dimulai oleh kedatangan orang Barat pertama, yakni Fenando Po dari Portugis, pada tahun 1472. Dinamakan Kamerun karena orang Portugis ini melihat banyak udang di perairan di sana sehingga mereka menamakan Rio des Cameroes (The Prawn River)

Di bawah kekuasaan bangsa Barat inilah, agama Nasrani disebarluaskan ke seluruh negeri. Dengan dukungan kebijakan kaum kolonial dan dana yang memadai, agama ini kian berkembang dan menjangkau penduduk lebih luas.

Faktor inilah yang menyebabkan agama Nasrani tumbuh menjadi mayoritas, kendati secara awal kedatangan, Islam-lah yang lebih dahulu tiba. Sedangkan, agama Islam tetap ‘menguasai’ kawasan utara dan tengah hingga saat ini.

Presiden Muslim
Peran umat Islam dalam percaturan perpolitikan dan sosial tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Ini misalnya ditunjukkan dengan tampilnya El Haji Ahmadou Babatoura Ahijo sebagai presiden pertama setelah negara itu memperoleh kemerdekaan pada 1 Januari 1960. Ahmadou Ahijo bahkan dinobatkan sebagai Bapak Kemerdekaan Kamerun.

Dia adalah pejuang Muslim sejati yang berasal dari suku Fulani. Pria kelahiran 1924 ini membawa negara seluas 475 ribu km persegi itu pada gerbang kemerdekaan ketika partainya, l’Union Camerounaise, berhasil menguasai parlemen pada tahun 1958.

Ada dua hal penting yang patut dicatat selama pemerintahan Ahijo ini. Pertama, mampu mempersatukan dua daerah yang bersengketa, daerah utara berbasis koloni Inggris dan daerah selatan berbasis koloni Prancis.  Kedua adalah pemerintahan ini berhasil memajukan sektor pertanian dan industri.

Presiden Ahijo mengundurkan diri dari jabatannya pada 6 November 1982 karena alasan kesehatan. Selanjutnya, ia digantikan Paul Biya. Pemimpin karismatik ini wafat di Dakar, Senegal, pada 30 November 1989.

 

Sumber: http://m.republika.co.id/artikel.php?id=91597&menu=islam_mancanegara

SHARING, BeritaNovember 25, 2009 11:34 pm

ILLINOIS—Islamofobia belum sepenuhnya hilang dari benak sebagian warga Barat. Kejadian yang menimpa Amal Abusumayah, Muslimah 28 tahun yang tinggal di Tinley Park, Illinois, ketika jilbabnya ditarik secara sengaja oleh Valerie Kenney, warga setempat, adalah salah satu buktinya.

Akibat perbuatannya itu, kini pelaku harus bersiap menjalani proses pengadilan pada 3 Desember mendatang, tuduhannya telah melakukan kekerasan karena kebencian. Dia terancam hukuman tiga tahun penjara serta denda 25 ribu dolar. Kejadiannya sendiri berlangsung tiga hari setelah peristiwa penembakan di Fort Hood, Texas, yang menewaskan 13 tentara Amerika pada Kamis (5/11) lalu.

Saat itu, keduanya sedang berbelanja di pasar swalayan. Tiba-tiba, Kenney mendekati Amal dan langsung memakinya. "Pelaku penembakan di Texas bukan orang Amerika, tapi berasal dari Timur Tengah," teriak Kenney, merujuk pada Mayor Nidal Malik Hasan, si pelaku penembakan.

Amal mengacuhkan penghinaan itu. Namun, hal itu justru kian memancing emosi Kenney, yang langsung menarik jilbabnya secara kasar. Tak terima diperlakukan semena-mena, Amal melapor ke polisi, dan Kenney pun diamankan. Kasus tersebut segera menjadi perbincangan hangat di AS.

Christina Abraham, seorang penggiat hak-hak asasi manusia, mengatakan, kasus kekerasan bermotif agama di Illinois memang berpotensi terjadi, terutama setelah kejadian seperti berlangsung di FortHood. "Ada dorongan kebencian terhadap etnis dan pemeluk agama tertentu. Ini jelas memprihatinkan," katanya.

Pernyataan itu dikuatkan oleh hasil penelitian Pew Research Center, akhir September lalu. Disebutkan bahwa warga Muslim Amerika menghadapi lebih banyak tindakan diskriminasi dibanding penganut agama lain. Akan tetapi, Pew mencatat ada pula momen ketika persentase aksi tercela tersebut mengalami penurunan pasca tragedi 11 September.

Pada 2007 misalnya, dari 1.477 kasus kekerasan berlatar belakang agama, hanya sembilan persen saja yang menimpa umat Islam AS. Muncul keberatan terhadap hukuman bagi si pelaku. Meski perbuatan itu tidak terpuji, namun Richard Roeper, kolumnis Sun Times, menilai hukuman penjara terlalu berat. Menurutnya, akan lebih baik jika diganti dengan
hukuman pelayanan ke masyarakat sekaligus meminta maaf.

Sementara itu, Kepala Polisi Michael O’Connel menegaskan, pihaknya tidak menoleransi terjadinya kejahatan karena kebencian. "Hal itu melukai harga diri orang lain yang berbeda ras, agama, atau etnis," paparnya.

 

Sumber: http://m.republika.co.id/artikel.php?id=91390&menu=islam_mancanegara

WACANA, inspirasi, Berita 11:29 pm

GAZA—Pusat Informasi dan Media Perempuan Palestina di Jalur Gaza menegaskan, perempuan Palestina mengalami kejahatan sangat brutal oleh Israel dalam agresi terakhir di Jalur Gaza yang menelan korban 1500 korban syahid, kebanyakan adalah perempuan dan anak-anak dan menghancurkan 22 rumah dan 95 ribu warga terlunta-lunta, kebanyakan perempuan dan anak-anak.

Pusat Studi menambahkan, dalam penyataan pers yang disampaikan kepada Infopalestina menegaskan, blockade Israel terhadap Jalur Gaza sejak 24 bulan lalu semakin menambah kondisi buruk perempuan Palestina.

“Terputusnya aliran listrik, kekurangan bahan bakar telah menyebabkan kehidupan perempuan kepada kehidupan masa lampau dalam menunaikan pekerjaan rumah tangga. Sehingga hal itu menyebabkan kebanyakan mereka mengalami penderitaan kesehatan,” tegas studi perempuan.

Pusat Studi menegaskan, Israel telah menjadikan warga Gaza secara umum dan perempuan secara khusus – sebagaimana laporan resmi internasional – sebagai manusia paling miskin di dunia karena mereka dilarang bepergian keluar dari Jalur Gaza, menutup perlintasan serta pengurangan bahan-bahan pokok, sehingga kondisi ekonomi di Jalur Gaza hancur.

Dalam konteks yang sama, PBB mengeluarkan laporan bahwa 8 dari 10 keluarga Palestina hidup di bawah garis kemiskinan di Jalur Gaza. Prosentase kemiskinan melebihi 30 % dari pada di Tepi Barat. Imbas kemiskinan itu terkena wanita Gaza berupa pengangguran, tidak adanya peluang pendidikan, layanan kesehatan yang memadai dan 80 % warga di Jalur Gaza bergantung kepada bantuan.

Sumber: http://m.republika.co.id/artikel.php?id=91862&menu=breaking_news

Umum, SHARING, REFLEKSINovember 12, 2009 6:42 pm

Antara Axon, Dendrite dan Cahaya Allah

Written by Ust. H. Arsil Ibrahim MA
Saturday, 24 May 2008
www.nurulyaqin.org

Sel-sel otak manusia berjumlah sekitar 100 milyar. Banyaknya jumlah sel tersebut tidak berarti apa-apa, sebab yang menjadi ukuran kepintaran dan kebijaksanaan seorang manusia adalah sebanyak mana terjadinya interaksi arus listrik (electrical impulses) antara axon pada satu sel otak dengan dendrite pada sel otak yang lain. (Lam Peng Kwan & Eric Y K Lam, 2003). Studi empiris membuktikan bahwa dari 100 milyar sel-sel otak itu, kapasitas interaksi arus listrik dalam rata-rata otak seorang manusia modern hanya berkisar antara 6 sampai 8% saja. Sedangkan sisa 92% lagi dari 100 milyar sel-sel otak adalah daerah gelap dan terbiar bagaikan rimba belantara yang tidak pernah dijelajahi. Itu sebabnya banyak ungkapan yang menggambarkan otak manusia sebagai raksasa yang tidur atau wilayah terbesar dunia yang belum dijelajahi. (Collin Rose & Malcolm J.Nicholl, 1997).

Jika manusia modern menamakan interaksi arus listrik antar sel otak itu dengan istilah electrical impulse yang bergerak dari satu axon ke dendrite, ratusan tahun yang lalu Imam Syafi’i dan gurunya Imam Waki’ ‘mengistilahkannya’ sebagai Nurullah (Cahaya Allah). Beliau dan gurunya Imam Waki’ berkeyakinan bahwa dasar daripada pemahaman dan penyerapan yang kuat terhadap ilmu pengetahuan adalah cahaya Allah yang menerangi hati dan pemikiran. Dalam sinergi pemahaman yang sederhana bisa disimpulkan bahwa prosentase electrical impulse pada sel-sel otak manusia dapat dilejitkan dengan cara meningkatkan kapasitas cahaya Allah dalam hati dan pemikiran.

Sebuah riwayat menceritakan bahwa Imam Syafi’i pernah mengadu kepada gurunya tentang kesukarannya dalam menghafal ilmu pengetahuan. Maka gurunya Imam Waki’ menasehatinya untuk mensucikan diri dengan meninggalkan kemaksiatan. Beliau juga berpesan demikian, "Ilmu pengetahuan itu adalah cahaya Allah. Dan cahaya Allah tidak akan menyinari hati orang yang berbuat maksiat." Setelah menjalankan pesan gurunya itu tingkat kepahaman dan hafalan Imam Syafi’i terpacu secara luar biasa. Beliau dapat mengingat hampir seluruh huruf pada buku yang dibacanya atau seluruh perkataan pada ceramah yang didengarnya.

Orang yang diterangi Allah hati dan pemikirannya digelari al-Quran sebagai Ulil Albab. Perkataan Albab adalah bentuk plural dari Lubb yang salah satu maknanya adalah akal. Maka Ulil Albab bermaksud orang-orang yang memiliki kemampuan akal yang tinggi (Ibrahim Anis, 1972). Sebutlah nama-nama ulama besar seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Ibnu Taymia, Ibnu Khaldun dan lain-lain. Dengan mengimbas ‘cahaya Allah’ yang timbul dari ketakwaan, akal mereka begitu tercerahkan (enlighted) dan berhasil menemukan fenomena-fenomena alam semesta. Penemuan mereka bahkan masih menjadi sumber inspirasi dalam dunia ilmu pengetahuan hingga hari ini. Satu-satunya cara yang mereka contohkan agar ‘cahaya Allah’ berperan dalam memacu kekuatan arus listrik pada sel-sel otak adalah dengan meningkatkan ketakwaan dan meninggalkan kemaksiatan. Firman Allah:

"Dan bertakwalah kepada Allah niscaya Allah akan mengajari kamu ilmu, dan Allah Maha Mengetahui akan segala sesuatu." (Al-Baqarah: 282)

Ayat di atas merupakan rumus yang jelas dan tegas betapa solusi utama yang paling efisien untuk mengeluarkan umat Islam dari kemunduran pemikiran, ketumpulan analisa dan kelemahan ilmu pengetahuan adalah dengan mengkilapkan kembali cahaya ketakwaan dalam sanubari mereka. Inilah cara yang dicontohkan para ulama terdahulu untuk melejitkan interaksi arus listrik (electrical impulse) antara axon dengan dendrite dalam otak.

Lebih menarik lagi untuk disimak sebuah kajian empiris yang dilakukan oleh peneliti ahli dalam bidang neuropsikologi, Michael Persinger dan V.S. Ramachandran. Mereka berdua menemukan adanya ‘Titik Tuhan’ (God Spot) dalam belantara otak manusia. Lebih rinci lagi mereka menyebutkan bahwa ada sebuah area di sekitar lobus temporal otak yang bersinar saat seseorang diajak untuk berdiskusi dan merenungkan hal-hal yang bersifat keTuhanan. Area tersebut juga menunjukkan peningkatan aktivitas saat seseorang menerima wejangan rohani atau renungan keTuhanan.(Martin, Anthony Dio 2003) Seakan-akan sudah ada suatu mekanisme khusus dalam diri (otak) manusia untuk berhubungan dengan Pencipta alam semesta. Dan sesungguhnya ‘hubungan’ (atau lazim disebut dalam Islam dengan ibadah) itulah yang meningkatkan kualitas dirinya sebagai manusia dan melejitkan kemampuan akalnya.

Kita sama-sama memahami bahwa ilmu pengetahuan terhasil dari kumpulan pengalaman lima panca indra manusia (penglihatan, penciuman, pendengaran, perasa dan peraba). Seluruh apa yang dialami oleh lima indra tersebut berupa rangsangan pengalaman (impulse) diterima oleh saraf penerimaan (receptor neurone) untuk selanjutnya dianalisa oleh saraf sensor (sensory neurone). Kesemua proses ini terjadi dengan adanya interaksi arus listrik dalam sel-sel otak sehingga manusia mampu membentuk suatu kesimpulan (analisa) atau melakukan respon fisik (motoric neurone).

Sebesar mana proses interaksi arus listrik dalam otak manusia yang terjadi akibat pengalaman lima indra itu, sebesar itu pulalah daya penyerapan pengetahuan dalam otak. Maka wajarlah jika timbul perbedaan sudut pandang antara manusia yang cerdas (yang memiliki kapasitas besar pada interaksi arus listrik pada sel-sel otaknya) dengan orang awam (yang memiliki kapasitas kecil pada interaksi arus listrik pada sel-sel otaknya). Terutama dalam kemampuan menganalisa apa yang dilihat, dirasa, dan didengarnya. Firman Allah SWT:

"Perbandingan dua golongan itu seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan mendengar. Apakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran?" (Surah Hud 11: 24)

Ayat di atas mengesahkan fungsi panca indra sebagai sarana penyerap ilmu pengetahuan. Tentu yang dimaksud dengan pendengaran dan penglihatan di sini bukanlah alat indra mata atau telinga yang dimiliki oleh semua orang secara sama. Tetapi kadar kemampuan sel-sel otak dalam menganalisa pengetahuan yang dideteksi oleh indra-indra tersebut.

Jika kita yakin dengan firman Allah di atas dan percaya dengan penemuan pakar Neuropsikologi tentang ‘God Spot’, maka tentulah kita berkesimpulan bahwa pencapaian manusia dalam melejitkan kemampuan sel-sel otak sangat tergantung kepada sebanyak mana ia menyerap cahaya Allah dalam dirinya. Pada hadits Qudsi berikut dapat kita pahami betapa sebenarnya kekuatan intelektual para ulama zaman silam ternyata bertapak pada kekuatan spritual mereka dalam menambah cahaya Allah dalam diri. Rasulullah SAW bersabda, Allah SWt berfirman dalam hadits Qudsi:

"Jika HambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan melakukan hal-hal yang Sunnah, maka ia akan kucintai (Dan jika demikian) maka Akulah yang menjadi pendengaran yang ia mendengar dengannya, Aku menjadi penglihatan yang ia melihat dengannya, Aku menjadi lidah yang ia bertutur dengannya dan Aku menjadi akal yang ia berfikir dengannya. Jika ia berdoa kepadaku niscaya Aku perkenankan. Jika ia meminta kepadaku niscaya Aku kurniakan. Dan jika ia memohon pertolongan kepadaKu pasti Aku tolong. Ibadahnya yang paling Aku cintai adalah kewajiban yang ditunaikannya untukKu" (Hadits Qudsi Riwayat at-Thabrani dalam kitab al-Kabir yang bersumber dari Abu Umamah)

Jelas sekali diilustrasikan dalam hadits Qudsi di atas betapa seorang hamba yang banyak melakukan ibadah Nawafil (sunnah) akan memiliki kekuatan ekstra pada penglihatan, pendengaran, karya tangan dan gerakan kaki. Bayangkanlah para ulama zaman silam yang sudah terbentuk kekuatan penglihatan, pendengaran, pembicaraan dan pemikirannya dengan cahaya-cahaya Allah. Semua interaksi panca indranya teramat kuat karena mengambil imbasan kekuatan Allah. Seluruh hasil bacaannya, hasil pengamatannya, hasil pendengarannya, hasil karya fikirnya diproses oleh sel-sel otak dengan menggunakan kekuatan cahaya Allah.

Rangkuman dari semua kekuatan itulah yang membentuk peribadi-peribadi yang unggul dalam bidang apapun yang ditekuninya. Jika ia seorang pelayar maka ia menjadi pakar ilmu pelayaran yang unggul (Vasco da Gama; tidak akan pernah menjadi manusia Eropa pertama yang sampai ke India dan Nusantara jika bukan karena menyandera pakar pelayaran Muslim bernama Ibnu Majid yang pada saat itu sudah mengarang tiga kitab ilmu pelayaran), jika ia menekuni bidang kedokteran maka ia menjadi dokter yang tiada tanding (Ibnu Sina dengan The Canon of Medicine nya masih menyisakan sisi sisi keilmuan medika yang dikaji hingga hari ini), jika ia menjadi pakar matematik maka ia mampu mengungkapkan misteri angka dan bentuk yang tidak habis digali sepanjang zaman (Trilogi dunia matematika; Al-Jabar, Aritmatika dan Logaritma ternyata ditemukan oleh al-Khawarizmi) dan jika ia menjadi negarawan maka ia menjadi tumpuan kecintaan rakyat karena membawa kesejahteraan yang tiada tara dalam sejarah bangsanya (Umar bin Abdul Aziz menjadikan rakyatnya sejahtera sehingga tidak ada lagi orang yang memerlukan bantuan).

Penulis teringat dengan kata-kata keramat yang ditoreh oleh Imam Malik pada kulit kitabnya yang monumental; al-Muwattha’, "Tidak akan sukses generasi akhir dari umat ini, melainkan mereka mengadopsi cara-cara dan tradisi yang telah mensukseskan generasi pertama."

Kita yang hidup pada akhir zaman ini tidak perlu lagi melakukan proses ‘try and error’ dalam menciptakan keunggulan sumberdaya manusia. Tumpuan pencarian yang benar adalah pada meningkatkan serapan cahaya Allah sebanyak mungkin, yang dengan mudah kita dapati melalui ibadah-ibadah Sunnah seperti melantunkan al-Quran yang merupakan kalam Ilahi, terdiam dalam sujud-sujud tahajud yang panjang, shalat-shalat sunnah (Dhuha rawatib, dll), puasa-puasa sunnah (Senin, Kamis, puasa Asyura’, puasa Arafah, dll) serta ibadah-ibadah sunnah lainnya yang dapat menaikkan derajat kita menjadi orang yang dicintai Allah. Ingatlah betapa hadits di atas menerangkan bahwa jika Allah telah mencintai seseorang maka orang itu dapat melihat, mendengar, berbicara dan berfikir dengan kekuatan dan cahaya Allah. Inilah inti daripada kecerdasan spritual (Spiritual Quotient) yang merupakan motor penggerak terhadap kecerdasan intelektual (Intelectual Quotient) dan kecerdasan emosional (Emotional Quotient)

 

dikutip dari milis daarut-tauhiid@yahoogroups.com

GNU/ LINUX, SELINGAN, WACANA, BeritaNovember 11, 2009 11:16 am

Koala Terancam Punah 30
Tahun Mendatang

SIDNEY - Kehidupan binatang
khas Australia, Koala
terancam punah dalam 30
tahun mendatang.
Berkurangnya habitat koala
akibat aktivitas perusakan
lingkungan oleh manusia
dituding sebagai ancaman
utama binatang tersebut.
Berdasarkan data Australia
Koala Foundation (AKF)
jumlah koala turun 50 persen
sejak enam tahun terakhir.
Pembangunan rumah dan
gedung perkantotan, serta
perubahan iklim di sejumlah
wilayah menyebabkan
banyak koala yang mati.
Selain itu, penyebaran
penyakit Chlamydia juga
diidentifikasi sebagai
penyebab berkurangnya
jumlah koala.
Jumlah koala di Australia,
berdasarkan survey hingga
saat ini, tinggal 43 ribu.
Padahal dalam survei
terakhir enam tahun lalu
jumlahnya mencapai 100 ribu.
“Jika anda tetap menebang
pohon terus menerus, maka
dalam 30 tahun ke depan
anda takkan dapat melihat
koala lagi,” kata CEO AKF
Deborah Tabar seperti
diberitakan BBC, Rabu
(11/11/2009).
Penebangan pohon akan
menyulitkan koala untuk
mencari sumber makanan
utama, daun eucalyptus.
Akibatnya banyak koala yang
kekurangan nutrisi akibat
minimnya sumber makanan.

Sumber: okezone.com

GNU/ LINUX, SHARING, inspirasiNovember 9, 2009 4:07 am

Pada tanggal 8 November 2009 bertempat di pendopo Kabupaten Rembang dilakukan seminar nasional dan SAGUSALA Fair yang dihadiri oleh 375 guru sekabupaten Rembang. Dengan penyaji tingkat nasional, yaitu James F. Tomasow (Program manajer teacher’s professional development program Klub Guru Indonesia), Reza Erfani (Litbang open source Klub Guru Indonesia), dan Onno W Purbo. Acara dibuka oleh Bupati Rembang Haji Moch. Salim. Pak Bupati secara explisit mengatakan pentingnya kita menggunakan Open Source untuk kemandirian bangsa, effisiensi pendanaan maupun agar kita tidak perlu mengeluarkan devisa keluar negeri untuk membeli software.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Haji Moch. Salim melaunching pencanangan penandatanganan beberapa sekolah, yaitu SMAN 1 Rembang, SMAN 1 Lasem, SMPN 1 Lasem, SMK TI Umar Fatah, SMKN 1 Rembang, dan SMPN2 Rembang untuk melakukan migrasi ke Open Source. James F. Tomasow berbicara tentang framework pengembangan ICT untuk pendidikan. Antara lain dibahas tentang program SAGUSALA (Satu Guru Satu Laptop) dan SAGUMUTU (Sekolah Guru Bermutu). Sementara KG Multimedia alias Klub Guru Multmedia menyampaikan materi untuk mengembangkan konten pendidikan oleh guru, agar dapat membuat materi dalam bentuk CD, atau web, atau artikel online. Dan yang terakhir adalah e-Sekolah yaitu sekolah online dilengkapi dengan blog, wiki, portal pendidikan. 

Reza Erfani menjelaskan teknis implementasi dari pengembangan ICT pendidikan. Reza adalah instruktur/avenglist. Reza memberikan workshop GUNDU adalah sistem operasi untuk guru berbasis Ubuntu. GUNDU mirip edubuntu, tapi aplikasinya dalam proses diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Mimpinya sistem operasi untuk mengajar/guru dan SchoolOnffLine. Onno W. Purbo sendiri memberikan penjelasan taktik untuk memberikan pelajaran internet di sekolah tanpa perlu ada sambungan Internet menggunakan distro linux SchoolOnffLine yang dibuat sendiri oleh Onno. Dalam distro SchoolOnffLine sudah ada Blog Wordpesss, e- learning Moodle, Perpustakaan Digital, sistem informasi sekolah, webmail dll. Sehingga proses belajar Internet di sekolah dapat dilakukan tanpa perlu ada sambungan ke Internet.

Sumber: detik.com

GNU/ LINUX, WACANA, inspirasi 1:52 am

Komunitas Ubuntu Jogja memenangkan penghargaan dalam ajang Global Conference on Open Source (GCOS) yang digelar di Jakarta, 26-27 Oktober 2009. Menkominfo Tifatul Sembiring, saat menyerahkan penghargaan, menyarankan nama Jawa untuk mereka. Hal itu dikemukakan Dedy Haryadi, penggiat Komunitas Ubuntu Jogja, dalam keterangan tertulis yang diterima detikINET, Selasa (27/10/2009).

"Bapak Menkominfo menyarankan untuk membuat mengganti nama Komunitas Ubuntu Jogja menjadi bahasa jawa," ujarnya. Dedy menerima penghargaan atas nama Support and Promotion Geek (SPG) Ubuntu Jogja, sebuah komunitas yang giat menyebarkan pengetahuan soal Open Source di wilayah Yogyakarta. SPG Ubuntu Jogja menerima penghargaan sebagai komunitas Free and Open Source Software terbaik.

Lalu, apa ‘nama Jawa’ yang akan digunakan komunitas tersebut? Dedy mengatakan spontan saat itu ia menjawab ‘Paguyuban’ sebagai nama yang lebih Jawa daripada Komunitas. "Mungkin Komunitas Ubuntu Jogja bisa menjadi Paguyuban Ubuntu Ngayojokarto," katanya sambil bercanda.

 

Sumber: http://m.detik.com/read/2009/10/27/130247/1229334/398/menkominfo-sarankan-nama-jawa-untuk-komunitas-ubuntu

REFLEKSI, ISLAM, WACANANovember 7, 2009 3:57 am

Ada sebuah pertanyaan besar dari laporan online CIA: akankah Israel bisa bertahan dalam jangka dua dekade ke depan? Berlepas dari validitas laporan tersebut, dengan hubungan berat-sebelah Israel dan AS, pertanyaan itu semakin mengerucut: Israel jatuh dalam waktu lima tahun lagi?

Lebih dari enam dekade, dukungan AS terhadap Israel begitu mendominasi media, sehingga memudahkan Tel Aviv untuk meletakkan gambaran positif menutup kelakuan buruknya, termasuk juga pembantaian dalam tragedi Gaza, delapan bulan lalu. Dan sekarang, dengan terbukanya akses online yang mengglobal, Zionis yang sumir menunjukkan sisi-sisi sebenarnya.

Walaupun rakyat AS jarang sekali menunjukan minat pada urusan luar negeri, namun perubahan itu mulai terasa. Banyak dari mereka yang melihat secara langsung tanpa filter Yahudi, akan—misalnya—peristiwa Gaza silam. Rakyat AS mulai kembali menguak pertanyaan lama yang mengendap dalam kepala mereka: mengapa mereka harus mendukung pemerintah apartheid yang menjajah?

Dengan Partai Likud yang memimpin Israel, jelas sudah bawa Tel Aviv hanya berkehendak meluaskan daerah jajahannya, tak ada yang lain commonwealth dan sebagainya. Dengan fakta itu, Israel tidak hanya menyudutkan Barack Obama, tapi juga memaksa keamanan nasional AS untuk membuat sebuah keputusan strategis: Apakah Israel merupakan rekan yang kredibel dalam perdamaian? Jawabannya, “Tidak.”

Kesimpulan yang tak terelakkan itu memberikan rakyat AS sedikit pilihan. Bagaimanapun AS bertanggung jawab pada eskalasi Israel di bulan Mei 1948 ketika Harry Truman, seorang presiden Kristen-Zionis, menerima negara Israel. Truman mengabaikan keberatan Menteri Luar Negeri George Marshal, gabungan pejabat dan staf, CIA dan korporasi diplomatik AS.

Pada Desember 1948, sekelompok ilmuwan dan intelektual Yahudi berbicara di The New York Times akan bahaya Fasis dengan berdirinya negara Yahudi. Salah satu ilmuwan tersebut adalah Albert Einstein. Jauh hari sebelum semua kejadian yang terjadi di dekade ini, semua orang sudah memprediksikan kelakuan Israel yang selalu merupakan ancaman untuk perdamaian.

Sebenarnya, isu kunci semua itu tidak lagi perlu menjadi bahan perdebatan tanpa akhir. Harus ada satu solusi negara konsisten dengan prinsip-prinsip demokratis persamaan yang penuh. Rakyat AS yang melek media tidak lagi bersedia mendukung negara teokratis di mana kewarganegaraan penuh hanya terbatas pada mereka yang dianggap "Yahudi" (apa pun artinya itu).

Jika tingkat kelahiran lokal menunjukkan suatu akhir dari "negara Yahudi," maka jadilah. Mengapa menunggu dua dekade ketika mimpi buruk ini dapat ditarik dalam waktu kurang dari lima tahun?

Lupakan saja pra-1967. Orang Palestina harus mempunyai hak, (sa/alahram/eramuslim)termasuk juga hak memiliki barang kepunyaannya sendiri yang dirampas Yahudi. Jika penjajah Yahudi menginginkan kompensasi, seharusnya mereka mencarinya pada segenap umatnya yang saat ini tengah berdiaspora di seluruh belahan dunia.

Mereka yang masih menganggap dirinya Yahudi harus segera pergi. AS harus mulai mempertimbangkan 500.000 orang Yahudi yang memegang paspor AS, dengan jumlah 300.000 lebih mendiami California. AS sudah sedemikian terbuka, dan dunia internasional pun telah melihat AS yang rapuh dan hanya sekadar menjadi bemper Yahudi.

Sampai saat ini, bertahun-tahun Zionis telah diaktifkan oleh sekelompok presiden Amerika Serikat. Bagi AS, untuk memulihkan kredibilitasnya ada satu hal yang perlu dilakukan: tidak hanya berusaha menutup gambar besar Zionis, tetapi juga berbagi tanggung jawab atas semua kejadian yang menimpa dunia yang disebabkan oleh bangsa tersebut. (sa/alahram/eramuslim)



Sumber: http://swaramuslim.net/berita/more.php?id=5845_0_12_0_M