Kumpulan Artikel

Umum, keseharian, ISLAMOctober 21, 2009 1:38 pm

Harian Qatar, Benjamin Netanyahu digambarkan bermoncong babi
Wabah flu babi yang kian hari kian meluas rupanya memiliki kaitan kuat dengan negara Yahudi Israel, hal tersebut ditunjukkan dengan beredarnya sejumlah gambar kartun yang mengaitkan keterlibatan Israel dalam meluasnya wabah flu babi di dunia, kontan saja orang-orang Yahudi merasa kebingungan dan ramai-ramai mengeluarkan bantahan terhadap kemungkinan tersebut.

Liga Anti Penodaan (ADL) misalnya, badan bentukan Israel tersebut merasa gerah dengan beredarnya kartun yang dilansir sejumlah media Arab karena gambar-gambar kartun tersebut seakan membongkar kejahatan Israel yang menjadi dalang meluasnya wabah flu babi di dunia, yang selama ini justru diyakini berawal dari Meksiko.

ADL, Lembaga Israel yang memantau perlakuan anti-Semit di media-media Arab, dengan emosi menyala menuduh sejumlah surat kabar seperti Al-Watan di Qatar dan Al-Quds al-Arabi di Inggris atas eksploitasi penyakit flu babi dan menyebarkan pesan-pesan anti-Israel dan menunjukkan perilaku anti-Semit.

Gambar-gambar kartun bertemakan flu babi yang berkaitan dengan Israel bermunculan bak jamur di sejumlah media utama Arab dan juga harian Muslim di sejumlah negara diantaranya Qatar, Uni Emirat Arab dan Britania Raya.

Dalam sebuah kartun yang diterbitkan oleh sebuah media Arab, terdapat kata-kata: “Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan tentang penyebaran penyakit ke seluruh dunia, penyakit flu babi,” dengan memajang gambar kartun Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang bermoncong babi.

“Dalam sebuah kartun anti-Israel yang mengangkat tema flu babi, para pemimpin Israel dibuat versi kartunnya. Bedanya, dalam gambar kartun tersebut, hidung mereka digantikan dengan moncong babi,” kata pihak ADL dalam sebuah pernyataan pers yang dikeluarkan pada hari Senin lalu.

“Sekali lagi, pers Arab tidak menanggapi isu wabah penyakit global yang mematikan tersebut dengan serius,” kata Direktur nasional ADL, Abraham Foxman. “Mereka ‘mengeksploitasi’ wabah flu babi sebagai upaya mengangkat sentimen anti-Israel dan anti-Yahudi dan menggunakan media kartun untuk menimbulkan kebencian terhadap negara dan penduduk Yahudi.”

Pada bulan Maret lalu, kaum Yahudi juga berang dengan gambar kartun yang menggambarkan mengenai keadaan nyata di Gaza, dimana Israel menganiaya dan membantai para penduduk Palestina di sana. Harian yang memuat gambar tersebut dituding melakukan tindakan anti-Semit.

Dalam gambar yang dibuat oleh kartunis politik, Pat Oliphant tersebut, tampak sesosok tentara tanpa kepala yang berbaris dan menggelindingkan bintang david yang bermata tajam untuk menggilas seorang wanita berbadan kecil bertuliskan kata Gaza.

Gambar tersebut mewakili pembantaian warga Palestina, termasuk wanita dan anak-anak selama berpuluh-puluh tahun, dan dunia internasional hanya bisa duduk termangu dan melihat tanpa melakukan upaya apapun untuk menghentikan kekejian tersebut.

Simon Wiesenthal Center, sebuah lembaga hak asasi manusia Yahudi yang berpusat di Los Angeles, langsung menghubungi New York Times dan media lainnya, mereka mendesak agar gambar kartun tersebut segera dihapuskan. Mereka beranggapan bahwa gambar tersebut dibuat dengan maksud untuk “mencemarkan” dan “menyetankan” Israel.

“Gambar kartun ini menunjukkan semangat anti-Semit yang sama dengan propaganda yang pernah dibuat pada era kekuasaan Nazi dan Soviet,” kata perwakilan Wiesenthal dalam sebuah pernyataan pada tanggal 26 Maret lalu.

Dikutip dari http://swaramuslim.net/berita/more.php?id=5803_0_12_0_M67

Umum, keseharian, ISLAM, inspirasiAugust 28, 2008 4:25 am

Pengertian

Secara etimologis, shiyam (atau shaum) berarti menahan diri. Adapun secara terminologis, shiyam adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya, sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari, disertai dengan niat.

Keutamaan Puasa

  1. Diantara keutamaan puasa adalah sebagai berikut :
  2. Puasa merupakan perisai dari berbagai hawa nafsu.
  3. Puasa sangat istimewa dihadapan Allah, karena setiap ibadah adalah untuk kepentingan seorang hamba kecuali puasa, sehingga Dia sendiri yang akan membalasnya.
  4. Orang-orang yang gemar berpuasa akan masuk surga melalui pintu khusus yang bernama Al-Rayyaan.
  5. Diantara doa yang mudah dikabulkan oleh Allah adalah doa orang yang sedang berpuasa sampai dia berbuka, atau pada saat berbuka.
  6. Dari sisi jasmaniyah, puasa bisa menjaga kesehatan tubuh.

Macam-macam Puasa

Puasa dibedakan atas yang fardhu, yang tathawwu’, yang diharamkan, dan yang makruh. Puasa yang fardhu adalah puasa ramadhan, puasa kaffarat, dan puasa nadzar. Puasa yang tathawwu’ adalah puasa Dawud (yakni puasa sehari dan berbuka sehari), puasa Senin dan Kamis, puasa tiga hari setiap bulan (yakni pada Ayyamul Biidh : tanggal 13, 14, 15 setiap bulan qamariyah), puasa enam hari di bulan Syawwal, puasa pada hari Arafah bagi yang tidak berhaji, puasa delapan hari di bulan Dzulhijjah, puasa Taasuu-aa’ (9 Muharram) dan puasa ‘Aasyuuraa’ (10 Muharram), puasa pada bulan-bulan haram yaitu Muharram, Rajab, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah, puasa pada bulan Sya’ban, puasa pada hari dimana tidak punya makanan.

Puasa yang dilarang (haram) adalah  puasa sunnah seorang wanita tanpa seijin suaminya sementara suaminya itu hadir, puasa pada hari syakk (yang diragukan), puasa pada hari ‘Id (baik ‘Idul Fithri maupun ‘Idul Adhha), puasa pada hari-hari Tasyriq (yakni 11, 12, dan 13 Dzulhijjah), puasa wanita yang sedang haidh atau nifas, puasa wishal (siang dan malam sekaligus), puasa yang sangat dikhawatirkan akan menyebabkan kebinasaan bagi pelakunya. Sedangkan puasa yang makruh adalah puasa khusus hari Jum’at atau Sabtu dan puasa dahr (puasa setiap hari).

Syarat-syarat Puasa

Syarat wajibnya puasa adalah :

  1. Islam
  2. Baligh
  3. Berakal
  4. Mampu
  5. Muqim

Adapun syarat sahnya puasa adalah :

  1. Berniat
  2. Tidak sedang haidh atau nifas (bagi wanita)
  3. Pada waktu yang diperbolehkan berpuasa

Sunnah-sunnah Puasa

  1. Makan sahur (antara tengah malam sampai terbitnya fajar) dan mengakhirkannya lebih utama
  2. Menyegerakan berbuka
  3. Berdoa selama berpuasa dan pada saat berbuka
  4. Memberi makan orang yang berpuasa
  5. Menjaga semua anggota tubuh dari dosa
  6. Banyak bershadaqah dan berbuat baik kepada sesama
  7. Mandi besar (karena junub, suci dari haidh, suci dari nifas) sebelum terbitnya fajar
  8. Banyak membaca Al-Qur’an dengan disertai tadabbur, dan banyak mempelajari ilmu-ilmu agama selama bulan Ramadhan
  9. Giat dalam beribadah, terutama dengan beriktikaf pada sepuluh hari yang terakhir bulan Ramadhan
  10. Melakukan qiyamul lail (qiyam Ramadhan) selama bulan Ramadhan

Batalnya Puasa

  1. Makan dan minum
  2. Masuknya sesuatu yang zhahir kedalam perut melalui rongga tubuh
  3. Muntah secara sengaja
  4. Haidh , nifas, atau melahirkan
  5. Onani (istimna’)
  6. Murtad
  7. Jima’ (berhubungan kelamin) : Kafarahnya adalah membebaskan budak, atau berpuasa dua bulan berturut-turut, atau memberi makan 60 orang miskin.

Hal-hal yang Diperbolehkan Selama Berpuasa

  1. Mengguyurkan air ke tubuhnya atau membenamkan diri kedalam air
  2. Bercelak, mencuci mata dengan air, atau memasukkan apapun ke kelopak mata
  3. Mencium isteri atau memeluknya bagi yang sanggup menahan dirinya
  4. Berbekam (suatu bentuk pengobatan dengan cara mengambil darah pada bagian-bagian tubuh tertentu), kecuali jika akan melemahkan yang dibekam maka hukumnya makruh.
  5. Berkumur-kumur (madhmadhah) atau membersihkan hidung dengan air (istinsyaq), kecuali jika berlebihan maka hukumnya makruh.
  6. Mencicipi makanan sekedarnya, sepanjang tidak sampai ke kerongkongan.
  7. Mendapati waktu shubuh dalam keadaan junub
  8. Wanita yang terputus darah haidh atau nifasnya sebelum shubuh boleh mengakhirkan mandinya pada waktu shubuh.

Sebab-sebab Diperbolehkannya Berbuka

Pertama. Safar (perjalanan jauh) : wajib qadha’
Kedua. Sakit : wajib qadha’. Jika sakitnya tidak bisa diharapkan kesembuhannya maka ia tidak usah meng-qadha’ tetapi cukup bayar fidyah.
Ketiga. Hamil : diperselisihkan penggantiannya
Keempat. Menyusui : diperselisihkan penggantiannya

Untuk wanita yang hamil atau menyusui :

Jika khawatir terhadap dirinya sendiri saja : wajib qadha’ saja

Jika khawatir terhadap anaknya saja :

  • menurut jumhur  : wajib qadha’ saja
  • menurut Imam Syafi’i   : wajib qadha dan juga fidyah

Jika khawatir terhadap dirinya dan juga anaknya :

  • menurut Ibnu Umar dan Ibnu Abbas : wajib bayar fidyah saja
  • menurut Imam Syafi’i  : wajib qadha’ saja

Jika seorang wanita berturut-turut melahirkan dan menyusui, Dr. Yusuf Al-Qaradhawi mengatakan bahwa ia hanya wajib membayar fidyah, tanpa meng-qadha’.

Kelima. Lanjut usia : wajib bayar fidyah
Keenam. Lapar atau haus yang sangat hebat  : wajib qadha’
Ketujuh. Paksaan : wajib qadha’

Keterangan : Membayar fidyah artinya memberi makan satu orang miskin sebanyak hari dimana seseorang meninggalkan puasa. Besarnya fidyah menurut jumhur adalah satu mudd, sedangkan menurut Hanafiyah adalah setengah sha’.

 

Bulan Ramadhan

Menurut bahasa, Ramadhan artinya yang membakar dan sangat panas menyengat. Dengan demikian, diharapkan pada bulan Ramadhan dosa-dosa kita bisa terbakar dengan amal ibadah kita. Adapun menurut istilah, bulan Ramadhan adalah nama bulan ke-9 dalam tahun qamariyah, sesudah Sya’ban dan sebelum Syawwal.

Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an (QS Al-Baqarah : 185) sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan dan keterangan tentang petunjuk itu, dan juga pembeda antara yang benar dan yang bathil.

Bulan Ramadhan merupakan bulan diwajibkannya berpuasa dalam rangka tarbiyah:

  • Tarbiyah ruhiyah : menguatkan iman, ketaatan, dan kedekatan diri kepada Allah.
  • Tarbiyah akhlaqiyah : melatih kejujuran, kesabaran, kerja keras, dan kasih-sayang serta persaudaraan.
  • Tarbiyah jismiyah : melatih kesiapan berjihad

Bulan Ramadhan merupakan bulan diutusnya Muhammad sebagai Rasulullah, dimana beliau merupakan rujukan syariat sekaligus teladan bagi umat manusia.

Bulan Ramadhan sangat kondusif untuk banyak beribadah dan beramal shalih.

  • Pada bulan ini, pintu-pintu surga dibuka lebar-lebar, pintu-pintu neraka ditutup rapat-rapat, dan syetan-syetan dibelenggu.
  • Pada bulan ini, pahala-pahala amal baik dilipatgandakan berlipat-lipat. Amalan sunnah pada bulan ini berpahala seperti amalan wajib pada bulan-bulan yang lain. Amalan wajib dilipatgandakan berlipat-lipat tidak seperti bulan-bulan yang lain.
  • Pada bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bula, yakni malam lailatul qadar.
  • Bulan ini merupakan bulan penghapusan dosa bagi yang berpuasa dengan ikhlas dan sungguh-sungguh.

Kapan Bulan Ramadhan Tiba ?

Tibanya bulan Ramadhan diketahui dengan melihat bulan baru (ru’yatul hilal) setelah bulan Sya’ban. Jika setelah malam ke-29 Sya’ban kita tidak bisa melihat bulan maka kita genapkan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. Rasulullah saw bersabda,”Berpuasalah kalian karena melihat bulan dan berbukalah kalian (ber-Idul Fithri) karena melihat bulan, jika mendung menghalangi pandangan kalian maka genapkanlah hitungan Sya’ban menjadi tiga puluh hari”.

Terkait dengan masalah hisab (perhitungan), kesaksian melihat bulan tidak boleh bertentangan dengan hasil hisab.

Ancaman Bagi yang Tidak Berpuasa pada Bulan Ramadhan Tanpa Udzur

Dari Ibnu Abbas ra : Rasulullah saw bersabda,”Simpul-simpul Islam dan landasan agama ada tiga, dimana prinsip-prinsip Islam dibangun diatas ketiganya. Barangsiapa meninggalkan salah satu dari ketiganya maka dia telah kafir dan halal darahnya : 1)Syahadat Laa Ilaaha Illallah, 2)Sholat-sholat wajib, 3)Puasa Ramadhan”. [HR Abu Ya’laa dan Ad-Dailami, dishahihkan oleh Imam Adz-Dzahabi]

Dari Abu Hurairah ra : Nabi saw bersabda,”Barangsiapa tidak berpuasa sehari saja pada bulan Ramadhan, tidak karena rukhshah yang diberikan oleh Allah kepadanya, maka tidak akan dapat menggantikannya puasa seumur hidup seandainya ia melakukannya”. [HR Abu Dawud, Ibnu Majah, dan At-Tirmidzi ]. Dalam riwayat Bukhari, disebutkan bahwa Abu Hurairah berkata : Nabi saw bersabda,” Barangsiapa tidak berpuasa sehari saja pada bulan Ramadhan, tidak karena udzur dan tidak pula karena sakit, maka tidak akan dapat menggantikannya puasa seumur hidup seandainya ia melakukannya”...........Selengkapnya>>

Umum, keseharian, ISLAM, inspirasi 4:22 am

Secara praktis puasa Ramadhan sangat mudah dilakasanakan, yakni hanya menahan diri dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Akan tetapi jika dilihat lebih jauh, banyak hal yang mesti dihindari baik secara makro dan mikro untuk mencegah batalnya puasa tersebut. Sebahagian kalangan menilai bahwa puasa itu batal dikarenakan makan dan minum atau mengkonsumsi segala makanan malalui rongga mulut dan tidak melaksanakan hubungan suami istri di siang hari bulan Ramadhan. Jika demikian halnya timbul suatu pertanyaan yang bernuansa sedikit kritis, yaitu hanya sebatas itukah nilai-nilai puasa yang terkandung dalam perintahkan Allah SWT yang termaktub dalam surah al-Baqarah ayat 183 atau ada hal lain yang sangat signifikan dibalik perintah itu dan sejauhmana kesakralan bulan Ramadhan tersebut.

Secara filosofis, semua ajaran dan perintah yang dibebankan Allah SWT. kepada umat manusia mempunyai nilai-nilai yang sangat penting dan urgen serta punya efek positif bagi yang mentaatinya. Sebaliknya akan menuai kesengsaraan dan azab bagi umat yang tidak menjalankan perintah-Nya. Janji Allah, baik yang berbentuk ganjaran pahala dan azab senantiasa ditepati-Nya bila waktunya telah tiba. Untuk itu, momen puasa Ramadhan saat ini mari sama-sama melaksanakan perintah puasa dengan penuh keikhlasan dan keimanan yang kokoh kiranya mandapat gelar takwa, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an yaitu: la’allakum tattakuun (Q.S. al-Baqarah: 183).

Nilai Filosofis dalam Puasa Ramadhan
Jika dicermati dengan baik apa yang termaktub dalam surah al-Baqarah ayat: 183 tersebut, di dalamnya akan terungkap apa sebenarnya nilai-nilai filosofis tujuan dari puasa Ramadhan tersebut, di antaranya adalah; untuk mencapai sebuah gelar atau derajat yang paling tinggi yakni  gelar takwa. Gelar itu diperoleh bagi umat yang beriman dan melaksanakan puasa Ramadhan. Puasa Ramadhan hanya diwajibkan bagi orang yang beriman, meskipun dia mengaku orang Islam tapi tidak merasa beriman, dia tidak termasuk kategori orang yang dipanggil untuk wajib melaksanakan puasa Ramadhan jika diamati dengan baik serta teliti makna dari perintah yang terdapat pada surah al-Baqarah di atas.

Selanjutnya, nilai filosofis yang lain adalah memupuk rasa kasih sayang antar sesama, dengan merasakan lapar dengan cara berpuasa itu hati kita akan tersentuh betapa sengsaranya kaum fakir miskin yang senantiasa merasa kelaparan serta serba kekurangan dalam segala hal. Para kaum dhu’afa senantiasa menanti uluran tangan kaum dermawan agar menyisihkan sebahagian hartanya untu didermakannya. Orang yang beriman dan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan dengan penuh keimanan, pasti akan tersentuh hatinya untuk menolong kaum fakir miskin yang selalu hidup dalam keadaan serba kepapaan. Kemudian, nilai filosofis yang terdapat dalam puasa itu yakni, membina dan menata diri kaum mukmin agar senantiasa hidup dengan teratur, utamanya dalam mengkonsumsi makanan. Jika seseorang mengkonsumsi makanan dengan cara yang tidak teratur akan mengakibatkan kesehatannya kurang baik, karena perut manusia butuh waktu untuk mengolah makanan yang telah dikonsumsi.

Maka dengan mengatur pola makan yang baik dan teratur akan menjadikannya seorang manusia yang sehat, hal ini sejalan dengan hadis Nabi SAW. dari Abu Hurairah yang artinya: "Berpauasalah kamu agar kamu sehat." Nilai filosofis yang tidak kalah pentingnya adalah, puasa Ramadhan akan menata atau memanajemen hati seorang yang berpuasa agar lebih suci dan bersih, sehingga terhindar dari sifat-sifat yang jelek atau tercela, seperti sifat dengki, iri hati, riya’ atau suka dipuji dan dilihat orang lain, dan lain sebagainya yang tergolong pada hal-hal yang mengotori hati manusia. Jika sifat yang disebutkan di atas, tumbuh subur di hati seseorang maka nilai puasanya dalam pandangan Allah sangat buruk dan tidak akan mendapatkan ganjaran selain lapar dan haus. Bulan Ramadhan sebagai bulan yang awalnya rahmah, pertengahannya merupakan ma’firah dan akhir bulan Ramadhan merupakan momen terlepas dari api neraka, maka secara tidak langsung akan memberikan motivasi yang sangat bererti bagi umat Islam untuk lebih giat dalam beribadah untuk mencapai ridha Allah SWT. Selanjutnya Allah telah memberikan malam yang sangat mulia di sepuluh akhir Ramadhan, malam itu dikanal dengan malam kemuliaan atau "Lailat al-Qadr" (malam yang lebih baik dari seribu bulan). Secara tidak langsung malam kemuliaan atau Lailat al-Qadr itu termasuk dari nilai filosafis yang terkadung dalam bulan Ramadhan itu sendiri.

Keutamaan BulanRamadhan
Bulan Ramadhan sangat jauh berbeda dengan bulan lainnya, bulan Ramadhan terkenal dengan bulan "Bursa Pahala" (reward). Segala amal ibadah hamba Allah di bulan itu akan dilipat gandakan, sebagaimana sabda Nabi SAW yang artinya: "Setiap amal anak Adam (manusia) diberi ganjaran 700 kali lipat (di bulan Ramadhan), kecuali puasa. Sesungguhnya puasa untuk-Ku dan Akulah yang memberi ganjarannya" (H.R. Mutta’alaihi). Bulan Ramdhan penuh dengan bulan keampunan, hal ini sejalan dengan hadis Nabi yang disampaikan oleh Abu Abdillah bin al-Hafiz dan Muhammad bin Musa yang artinya: "Barangsiapa yang berpuasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barang siapa yang beribadah di malam bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (H.R. Muttafa’alaihi). Demikianlah Allah memberikan sugesti dan dorongan kepada hambanya agar selalu melaksanakan ibadah di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan kepada Allah SWT.

Penuh keimanan yang disebutkan dalam hadis di atas, sangat erat kaitannya dengan apa yang terdapat dalam surah al-Baqarah ayat 183, dimana dalam ayat tersebut yang diwajibkan untuk berpuasa Ramadhan adalah orang yang beriman. Selajutnya setelah tuntutan beriman dipenuhi baru diwajibkan berpuasa dengan penuh keikhlasan, karena nilai puasa yang dipersembahkan hanya untuk Allah SWT semata. Sejalan dengan informasi yang telah disebutkan di atas, bahwa di bulan Ramadhan penuh dengan "Bursa pahala" dan seharusnya memperbanyak amal ibadah, di antaranya seperti, shalat tarawih, shalat witir, shalat malam atau tahajjud, tadarusan Al-Qur’an atau membaca Al-Qur’an, memperbanyak sedekah, iktikaf dan amalan lainnya yang dikategorikan kepada amal yang shaleh. Mari tingkatkan amal ibadah lebih baik dari tahun yang lalu, sebab kehadiran bulan Ramahan sekali dalam setahun. Bekalilah hidup untuk kehidupan yang hakiki, gunakanlah hidupmu sebelum datang matimu agar tidak terjadi penyesalan yang tidak berarti
 
 
Sumber: http://www.waspada.co.id/Mimbar-Jumat/Artikel-Jumat/Nilai-Filosofis-Dalam-Ibadah-Puasa-Ramadhan.html

keseharian, ISLAM, inspirasi 4:14 am

Suatu hari di zaman Rasulullah SAW ada dua orang pemuda yang sedang dalam perjalanan. Pemuda yang pertama bernama Wongso dan kedua bernama Ngadul. Mereka melintasi padang pasir yang sangat panas. Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya mereka menemukan sebuah kota. Namun sesampainya di sebuah patung yang besar sekali, mereka dicegat oleh beberapa orang.

" Wahai anak muda !!..Ada keperluan apa kalian datang ke kota ini ??" sambut mereka.

" Ee..e..kami dari negeri seberang yang sedang dalam perjalanan dan kebetulan kami melewati kota Anda. " Sahut Wongso.

" Kalian tahu peraturan di kota ini ??,Siapa saja yang melewati patung ini harus meletakkan sesajen !! " kata penduduk kota.

Suasana di tempat itu makin menegangkan karena salah seorang dari penduduk kota membawa sebilah pedang. Si Wongso dan Ngadul semakin ngeri melihat tingkah mereka yang sangar.

" Tapi kami tak ada barang apapun yang berharga untuk persembahan patung ini "jawab Ngadul.

" Berilah sesuatu pada patung ini meskipun dengan seekor lalat. "kata penduduk kota.

Lalu si Ngadul mencari-cari seekor lalat dan menemukannya kemudian meletakkannya di bawah patung besar tersebut. Kemudian Ngadul berhasil melewati sekumpulan orang yang mengerikan itu. Namun, Si Wongso terlihat diam saja tak melakukan apapun.

" Hai anak muda, kenapa kau tak memberi apa-apa pada patung ini?! " salah seorang penduduk kota terlihat kesal.

" Aku tak akan memberikan persembahan apapun kecuali pada Allah SWT. "jawab Wongso.

Mendengar jawaban itu penduduk kota marah dan langsung memenggal kepala Wongso di tempat.

Dalam perjalanannya, Ngadul kehabisan bekal makanan dan akhirnya meninggal juga.

Kemudian Rasulullah SAW berkata pada sahabat-sahabatnya, yang seorang tersebut masuk surga dan yang satu lagi masuk neraka. 

 

REFLEKSI, keseharian, ISLAM, inspirasi 4:11 am

Diriwayatkan oleh Imam Ali kw., Rasulullah saw. berkhutbah menjelang bulan Ramadhan: "Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah yang membawa berkah, rahmat, dan ampunan. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari paling utama. Malam-malamnya adalah malam paling utama. Waktu demi waktunya adalah waktu paling utama. Inilah bulan di mana engkau diundang menjadi tamu Allah, dan dimulikan oleh-Nya. Nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu menjadi ibadah, amal-amalmu diterima, dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shaum dan membaca kitab-Nya. Sungguh celakalah orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah pada bulan yang agung ini. Kenanglah rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan pada hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fakir dan miskin. Muliakan orangtuamu. Sayangilah yang muda, sambungkan tali persaudaraan, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari hal yang tidak halal kamu pandang. Dan tahan pula pendengaranmu dari yang tidak halal kamu dengar. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya anak-anak yatimmu akan dikasihi manusia. Bertobatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa di waktu shalatmu, karena saat itulah saat yang paling utama, ketika Allah memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih. Dia menjawab ketika mereka menyerunya. Dia menyambut ketika mereka memanggilnya. Dan, Dia mengabulkan doa-doa ketika mereka bermunajat kepadanya. Wahai manusia, sesungguhnya diri-diri kalian tergadai karena amal-amal kalian. Maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena dosa-dosa, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu. Ketahuilah bahwa Allah bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa ia tidak akan mengadzab orang-orang yang shalat dan sujud. Tidak akan mengancam mereka dengan neraka, pada hari manusia berdiri di hadapan Rabbul ‘Alamin. Wahai manusia, barang siapa di antara kalian memberi makan orang yang berbuka, maka di sisi Allah ia bagaikan membebaskan seorang budak dan akan dibebaskan dari dosa-dosa yang telah lalu. Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah kami tidak akan mampu berbuat demikian.’ Lalu beliau melanjutkan khutbahnya, Jagalah diri kalian dari api neraka walau hanya dengan sebiji kurma. Jagalah diri kalian dari api neraka walau dengan seteguk air. Wahai manusia, barang siapa membaguskan akhlaknya, dia akan berhasil melewati shiratal mustaqiim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Barangsiapa meringankan pekerjaan orang-orang di yang dimiliki tangan kanan pembantunya, maka Allah akan meringankan hisabnya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya, Allah akan menahan murkanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memuliakan anak yatim, maka Allah akan memuliakannya di saat perjumpaan dengan-Nya. Barangsiapa yang menyambungkan tali silaturahmi, maka Allah akan menghubungkan dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Dan, barangsiapa memutuskan silaturahmi, maka Allah akan memutuskan ia dari rahmat-Nya. Barangsiapa yang melakukan shalat, maka Ia akan membebaskannya dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardhu, maka ganjarannya seperti melakukan 70 kali shalat fardhu. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku, maka Allah akan memberatkan timbangannya ketika banyak timbangan menjadi ringan. Barangsiapa yang membaca satu ayat Alquran, maka nilainya sama dengan mengkhatamkan Alquran. Wahai manusia, sesungguhnya pintu surga dibukakan untukmu, maka mintalah kepada Allah agar Ia tidak menutupnya lagi untukmu. Pintu-pintu neraka ditutup, maka mintalah agar ia tidak dibukakan lagi untukmu. Setan-setan dibelenggu, maka mintalah kepada Tuhanmu, agar ia tidak lagi menguasaimu. Lalu Ali kw. berdiri dan berkata, ‘Ya Rasulullah, amal apa yang paling utama di bulan ini?’ Rasulullah menjawab, ‘Ya Abul Hasan amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari yang diharamkan Allah Swt.’"

Umum, SHARING, REFLEKSI, keseharian, ISLAM, WACANAJune 21, 2008 9:43 am


imageMenarik beberapa peristiwa yang terjadi pada minggu2 ini, dimana rakyat Indonesia akan menyelenggarakan pemilihan presiden secara langsung, ditetapkannya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir sebagai tersangka bom bali dan bom2 lainnya yang terjadi di Indonesia oleh POLRI setelah keputusan pengadilan membebaskannya dari segala tuduhan2 terorisme.

Ditolaknya mentah2 kemauan Amerika Serikat untuk menjerat Ustadz Abu Bakar Ba’asyir ke penjara selama-lamanya melalui ketua umum Muhamadiyah Syamsul Ma’arif, tuduhan Amerika dan PBB mengenai kasus Haramain yang melibatkan Ust. Hidayat Nur Wahid yang salah alamat, dan ketidak tundukan Ketua Umum NU Hasyim Muzadi terhadap dikte2 Amerika Serikat.

Saya agak tersenyum gembira melihat fenomena tersebut karena ternyata tidak semua ulama2 yang ada di Indonesia dapat dipengaruhi oleh kekayaan, kekuasaan dan jabatan dan saya berharap pula semoga di masa depan bangsa ini akan memunculkan ulama2 seperti beliau2 diatas lebih banyak lagi sehingga dapat mengantarkan bangsa ini menuju masa keemasannya dibawah naungan Al- Quran dan hadist.

Tulisan dibawah ini hanya merupakan gagasan dari pemikiran penulis belaka, bukan bermaksud mengurui, karena kebenaran itu hanya datang dari Allah SWT, maka apabila ada kebenaran dalam tulisan ini maka itu mutlak milik Allah SWT, dan jika ada kesalahan dan kebodohan maka itu 100% dari kebodohan penulis.

Kita sekarang ini banyak membicarakan mengenai pemilihan umum dengan fokus penekanannya terdapat pada tahap pemilihan Presiden dan wakil presiden, seharusnya umat Islam yang terdapat di berbagai partai (baik partai Islam mapun nasionalis) tidak hanya mencurahkan semua tenaganya pada penekanan siapa yang akan menjadi pemimpin nasional. Tetapi tenaga itu seharusnya juga difokuskan kepada pembinaan umat supaya mereka lebih mengetahui lebih banyak lagi mengenai agamanya sehingga tercipta seorang muslim yang mempunyai hati dan akhlak yang luhur, serta kepintaran dan wawasan yang luas mengenai keilmuan dan keteknologian. Sebagian energi tersebut seharusnyalah difokuskan pula secara proporsional untuk memunculkan ulama-ulama yang bersih sebagaimana dicontohkan para ulama-ulama bersih sebelumnya (baik yang ada sekarang maupun yang ada di masa lalu, baik yang ada di Indonesia maupun luar Indonesia) yang berjuang dengan gagah berani menjalankan amar ma’ruf dan nahi munkar, tanpa takut akan celaan dan cacian tanpa takut kehilangan jabatan dan kekayaan, tanpa takut penyiksaan dan penjara bahkan kematian karena hidup mereka hanya untuk mengapai ridho Allah SWT.

Belajar dari kejayaan dan keruntuhan Khalifah Ustmaniyah di Turki, maka kita dapat memperhatikan pelajaran, bahwa kejayaan Islam dan kejatuhannya ternyata ditentukan oleh tiga komponen penggeraknya yaitu,

1 para ulama bersih
2. para pemimpin yang tidak berbuat maksiat kepada Rabbnya dan
3. rakyat/umatnya yang mayoritasnya mempunyai kualitas keimanan yang tinggi.

Ketika Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel yang merupakan wilayah kekuasaan dari Romawi. Kita melihat bahwa kondisi umat Islam dewasa itu ditopang oleh tiga pilar kekuatan utama yaitu ulama bersih yang menegakkan amar maruf dan nahi mungkar sesuai sebagaimana ditentukan oleh syariat Islam, pemimpin yang adil dan bersendikan keikhlasan dan tidak berbuat maksiat dalam kehidupan sehari-harinya ditopang dengan rakyat yang sebagian besarnya merupakan kalangan muslim dengan kualitas keimanan yang tinggi. Mereka secara bersinergi menjalankan syariat Islam dengan benar dan hasilnya adalah kekuatan yang besar dan menentukan yang disegani oleh semua orang kala itu.

Selanjutnya setelah beberapa ratus tahun berlalu, kita melihat bahwa pada akhirnya ketiga pilar tersebut pelan-pelan mengalami penurunan dalam kualitasnya, para ulama mereka banyak yang melacurkan diri kepada kekuasaan yang ada, menjual ayat-ayat quran dengan imbalan materi dan tidak menjalankan mekanisme amar maruf dan nahi mungkar sebagaimana yang digariskan oleh Quran dan Sunnah. Para pemimpin hanya memikirkan mempertahankan kekuasaan dan banyak berbuat kemaksiatan dan kedzoliman dalam kesehariannya, sementara rakyat sebagian besarnya mulai meninggalkan keIslamannya karena dianggap kuno dan ketinggalan sehingga kekhalifahan Turki Ustmani dewasa itu berada dalam masa kemunduran dan ujung-ujungnya adalah kekalahan dan keruntuhannya pada tahun 1924.

Di abad ke-21 ini kita berada di masa kejahiliyyah mencapai tahtanya menggurita ke seluruh sendi kehidupan dan sendi ketata hubungan seluruh masyarakat.

Dunia diliputi oleh kegelapan dengan dicampakkanya sumber penerangan utama Islam Quran dan hadist. Umat kebanyakan terlena oleh kegemerlapannya kehidupan duniawi yang semu, yang dibawa oleh peradaban imperialisme materialis dan mengira mereka bahwa mereka dapat meneguk kebahagiaan dengan mengikuti peradaban batil tersebut.

Keruntuhan kekhalifahan Turki Ustmani merupakan bencana besar bagi umat Islam, karena umat pada waktu itu dan juga pada dewasa ini tidak mempunyai payung untuk melindunginya dari intaian dan serangan musuh-musuhnya. Umat Islam terpecah dan terkotak-kotak dalam beberapa negara di tengah-tengah pemimpin mereka yang hanya memikirkan kekuasaan dan bergelimpangan dengan kemaksiatan. Umat Islam dewasa ini laksana buih di pantai yang di bawa angin tak menentu arah dan tidak mempunyai peranan untuk memperbaiki dunia sebagaimana diisyaratkan oleh Nabi Muhamad Saw dalam hadistnya :

“ Suatu waktu kelak umat Islam akan diperebutkan oleh umat-umat lainnya sebagaimana orang-orang yang rakus sedang memperebutkan suatu hidangan. Apakah kita waktu itu sedikit jumlahnya wahai Rasulullah? (ujar seorang sahabat). Tidak, jawab beliau, Bahkan kamu waktu itu banyak sekali, tapi hanya ibarat buih di pantai saja”

Apa yang di prediksikan oleh Rasulullah tersebut sepertinya identik dengan kondisi umat Islam dewasa ini, dimana jumlah mereka banyak tetapi peranannya dalam politik internasional hanya menjadi buih yang selalu mengikuti kemana arah USA dan PBB menginginkannya. Mereka laksana santapan yang diperebutkan oleh negara-negara kapitalis untuk mengisi kantong ekonominya, sebagaimana kita lihat negara-negara Arab khususnya dan negara-negara berpenduduk Islam umumnya dewasa ini.

Memang menyedihkan bahwa umat Islam ini berjumlah 1 milyar lebih bertebaran di berbagai negara di dunia ini, tetapi keterwakilannya di dalam Dewan Keamanan PBB paling penting adalah hanya sebagai anggota tidak tetap yang tidak mempunyai hak veto. Sedangkan posisi Anggota Tetap PBB diharamkan negara Islam mendudukinya.

Belajar dari kemunduran-kemunduran tersebut diatas, seyogyanya umat Islam mengambil hikmah dari kemunduran-kemunduran tersebut diatas, dan mulai lagi menata kehidupan mereka hanya untuk satu ideologi yang jelas dan memulai lagi pembinaan sebagaimana nabi Muhammad SAW mempraktekkannya pada awal da’wah beliau di kota Mekkah :

1.dari pribadi jahiliyyah menjadi pribadi Islami dengan memahami Islam sebagai ajaran yang syamil (menyeluruh) yang meliputi semua lingkup kehidupan.

2.dari keluargan yang jahilliyyah menuju keluarga yang Islami dengan mendakwahkan suam/istri, anak, orang tua, adik, kakak, dan keluarga dekat tentang ketiinggian dan kemuliaan dinul Islam.

3.dari masyarakat jahiliyyah menuju masyarakat Islami

4.dari tatanan kenegaraan jahiliyyah menuju tatanan kenegaraan Islami

Selain itu umat Islam harus dapat memunculkan ulama-ulama yang bersih yang tidak mudah tergoda oleh godaan jabatan dan kekayaan yang bertujuan satu meluruskan hukum Islam sesuai rel syariah yang ada yang menjalankan amar maruf dan nahi munkar kepada siapa pun tanpa memandang apakah ia penguasa atau rakyat jelata tanpa harus takut akan intimidasi, hukuman penjara bahkan ancaman pembunuhan sekalipun sebagaimana dicontohkan Imam Ahmad di masa Kekhalifahan Sultan Mahmud dan Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol menentang penjajahan Belanda serta banyak ulama bersih lainnya di masa dahulu maupun masa sekarang.

Setelah umat sebagian besarnya sudah memahami dan tercerahkan oleh Islam serta melepaskan idelogi-idelogi lain selain Islam ditambah lagi dengan bermunculannya ulama-ulama yang bersih, maka tiba saatnya bagi umat Islam untuk memunculkan pemimpin yang bersih yang tidak berbuat maksiat kepada Allah sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah dan khalifah-khalifah generasi awal dan generasi selanjutnya yang memegang amanah kepemimpinan sesuai dengan apa yang digariskan oleh syariah Islam. Sehingga pada akhirnya ketiga pilar ideal tersebut akan bersinergi dan membentuk kekuatan yang besar yang mampu menerjang semua kebatilan yang ada didepannya dan menyebarkan sinar kebenaran dan kesejahteraan keseluruh penjuru bumi.

Itulah sekelumit gambaran dari penulis mengenai tiga pilar kebangkitan Islam. Akhirnya kesemuanya dikembalikan kepada Kekuasaan dan Iradah Allah SWT, Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdo’a dengan dibarengi dengan niat karena mengharapkan ridho Allah dalam bingkai keikhlasan kepada-NYA.
 
Sumber: http://swaramuslim.net/more.php?id=A1758_0_1_0_M 
 

Umum, SHARING, REFLEKSI, keseharian, ISLAM, PENDAPAT, inspirasi 9:39 am

Baru semalam aku terdengar cerita dr imam di masjid..minggu ni sahaja dia telah membantu 3 org melafazkan kalimah syahadah. MasyaAllah. Gembira mendengar berita baik tu. Semoga 3 org saudara-saudara baru kita itu thabat di jalan yg telah mereka pilih dan semoga Allah membantu mereka menempuh hidup yg penuh dgn onak dan duri especially di US ni.

Lebih mengharukan lagi bile aku dgr sorg pompuan antara yg tiga org tu tutup kemas dgn hijab dan pakaian yg sesuai dgn pakaian seorg muslimah bila sampai ke masjid dimalam harinya. MasyaAllah. Begitu mudah Allah membuka hati manusia untuk terus mengamalkan ajaran Islam sebaik selepas melafaz syahadah.
Aku gembira tapi pada masa sedih.

Sedih kerana byk muslimah dikalangan kita yg bergelar Islam sejak lahir tetapi masih ada doubt dalam hati untuk mengamalkan apa yg telah digariskan Islam. Sayang seribu kali sayang. Bila ditanya mengapa tidak mahu memakai hijab atau menutup aurat dgn elok, jawapan yg diterima, itu adalah pilihan masing-masing. Iya hidup ini sentiasa penuh dgn pilihan. Dan dalam kes ini pilihannya samada untuk taat dgn perintah atau tidak? Dosa atau pahala?

Pilihan itu ditangan anda! Dan ketahuilah akibat dr pilihan yg anda pilih jua akan anda tanggung sendiri! Marilah kita mendalami lagi ilmu Islam dan bersama-sama cuba sedaya upaya mengamalkan semua yg telah digariskan dlm syariat, insyaAllah.

[256] Tidak ada paksaan dalam agama (Islam) kerana sesungguhnya telah nyata kebenaran (Islam) dari kesesatan (kufur). Oleh itu, sesiapa yang tidak percayakan Taghut dan dia pula beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada simpulan (tali agama) yang teguh yang tidak akan putus dan (ingatlah), Allah Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui. [257] Allah Pelindung (Yang mengawal dan menolong) orang-orang yang beriman. Ia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kufur) kepada cahaya (iman) dan orang-orang yang kafir, penolong-penolong mereka ialah Taghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya (iman) kepada kegelapan (kufur). Mereka itulah ahli Neraka, mereka kekal di dalamnya. (Al-Baqarah)

wallahu’alam.

 

Sumber: http://usrah.kakiblog.com/2008/05/22/hidayah-itu-milik-allah/ 

Umum, TIPS DAN TRIK, SHARING, REFLEKSI, keseharianJune 4, 2008 4:58 am

Komisi Nasional (Komnas) HAM mengecam insiden pemukulan yang dilakukan oleh puluhan orang dari massa yang mengenakan atribut Front Pembela Islam (FPI) di Monumen Nasional (Monas) Jakarta terhadap Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB).

“Komnas HAM mengecam kekerasan tersebut,” kata subkomisi pengkajian dan penelitian Komnas HAM, Ahmad Baso, seperti dilansir okezone.com, Senin (2/6).

Dia menambahkan, Komnas juga menyesalkan terlambatnya tindakan aparat kepolisian.

“Kami juga menyayangkan tindakan aparat karena membiarkan kekerasan terjadi. Mereka (para polisi) baru datang saat mereka (massa AKKBB) sudah luka-luka, sehingga terkesan adanya pembiaran,” tandasnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, Komnas mendesak agar aparat kepolisian bertindak tegas. “Aparat harus bersikap tegas untuk menangkap pelaku peganiayaan, dan meminta polisi untuk koreksi dalam hal mendukung adanya upaya hukum,” imbuhnya.

PLBHM Kutuk Tindakan Anarkis FPI

Perkumpulan Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat (PLBHM) mengutuk keras tindakan penyerangan yang dilakukan Front Pembela Islam (FPI) terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), saat melakukan apel besar Satu Indonesia untuk Semua, bersama tokoh lintas agama dan tokoh nasional, pada Minggu siang (1/6) di Monas, Jakarta.

“Insiden ini merupakan tragedi bangsa, dimana FPI dan para pendukungnya menjawab perbedaan dengan tindakan kekerasan, dan hal itu tidak dapat ditolerir,” kata Ketua Dewan Pengurus PLBHM, Taufik Basari, Senin (2/6/2008).

Oleh karenanya, PLBHM mengajak seluruh komponen untuk bersikap tegas dalam menyikapi insiden tersebut. Pihaknya meminta, kepolisian, politikus, anggota dewan, dan presiden mengeluarkan pernyataan resmi mengecam serta mengutuk keras peristiwa penyerangan yang dilakukan oleh sejumlah massa dari FPI.

“Karena tindakan tersebut sama saja menciptakan kematian demokrasi,” tandasnya.

Selain itu, PLBHM juga mendesak pihak kepolisian untuk segera menangkap, memproses, dan mengadili secara hukum pihak-pihak yang terlibat akan tindakan anarkis tersebut.

Sumber: http://mahasiswa.com/?ar_id=7535

Umum, SHARING, REFLEKSI, keseharian, ISLAM, PENDAPAT, WACANA, inspirasiMay 28, 2008 8:45 am

Jakarta (ANTARA News) – Hizbut Tahir Indonesia (HTI) menilai telah berhasil memperkenalkan konsep khilafah melalui Konferensi Khilafah Internasional yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (12/8) dan dihadiri oleh sekitar 100.000 peserta. “Umat menjadi tahu istilah khilafah, istilah yang untuk sebagian orang terasa asing,” kata juru bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto, saat diskusi mengenai khilafah di Jakarta, Senin malam.
Diskusi yang dibuka oleh Menneg Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault tersebut juga menghadirkan pembicara dari Hizbut Tahir Sudan Utsman Ibrahim Abu Khalil, Guru Besar Sekolah Teologi Universitas Doshisha Jepang Prof Dr Hassan Ko Nakata dan dari Hizbut Tahir Inggris Mehmed Salim, serta dihadiri sekitar 50 organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan. Nakata mengatakan, salah satu konsep khilafah Hizbut Tahir yaitu pemerintahan berdasarkan pada hukum syariah Islam dan dijalankan melalui kepemimpinan yang dipilih seluruh umat Islam.
Nakata juga mengatakan, khilafah adalah sistem pemerintahan keduniaan membumi yang menjamin perlindungan seluruh masyarakat berdasar hukum publik Islam dan memberikan kebebasan kepada komunitas berbasis agama di bidang keagamaan. Ismail mengatakan, lewat konferensi tersebut banyak orang tahu istilah khilafah termasuk polisi-polisi yang menjaga acara tersebut. Ia mengatakan, pemahaman terhadap arti khilafah tersebut penting untuk mengembangkan gagasan tersebut.
 “Ini sebuah kemajuan karena banyak umat Islam tidak tahu,” katanya. Ia mengatakan konferensi tersebut juga diliput oleh banyak media di Indonesia. Langkah selanjutnya yang dilakukan HTI adalah melakukan pembinaan sehingga ada kesadaran politik Islam yakni segala sesuatu tidak boleh tidak diatur oleh syariat Islam. Sementara itu Adhyaksa dalam sambutannya mengatakan, yang perlu diambil pelajaran dari khilafah adalah upaya mewujudkan persatuan umat Islam dan ukhuwah Islamiyah.
Adhyaksa juga mengatakan semangat persatuan umat Islam itu dilakukan tanpa mengambil atau mengganggu hak agama lain. “Sehingga tidak perlu dikuatirkan,” katanya. Sebelumnya Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyerukan agar umat Islam mengambil esensi dari konsep kekhilafan yaitu persatuan dan kebersamaan serta menerapkannya dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia mengatakan, khilafah adalah ajaran Islam yang jelas tercantum dalam Al Quran tetapi terdapat berbagai perbedaan pendapat antar ulama mengenai bagaimana cara terbaik untuk mengimplementasikannya.(*) Sumber : http://www.antara.co.id

Umum, SHARING, REFLEKSI, keseharian, ISLAM, SELINGAN, PENDAPAT, inspirasi 8:44 am

Carter menyebut perlakuan Israel terhadap bangsa Palestina sebagai kejahatan kemanusiaan terbesar di dunia

Mantan Presiden Amerika, Jimmy Carter, mengatakan Israel memiliki paling tidak 150 bom atom.

Israel tidak pernah membenarkan bahwa negara itu memiliki senjata nuklir, namun negara itu diyakini memilikinya, sejak salah seorang ilmuwan membocorkan rincian di tahun 1980-an.

Carter mengeluarkan pernyataan mengenai senjata Israel ini di sebuah jumpa pers dalam festival sastra di Wales, Inggris, Hay Festival.

Dia juga menyebut perlakuan Israel terhadap bangsa Palestina sebagai “salah satu kejahatan terhadap hak asasi manusia terbesar di bumi.”

Carter menyebut perkiraan jumlah senjata nuklir yang dimiliki Israel itu ketika menjawab pertanyaan mengenai kebijakan Amerika terhadap Iran yang kemungkinan memiliki senjata nuklir.

“Amerika memiliki lebih dari 12.000 senjata nuklir, Uni Soviet memiliki jumlah yang kira-kira sama, Inggris dan Perancis memiliki ratusan, dan Israel memiliki 150 atau lebih,” berikut kutipan pernyataan Carter dari penyelenggara festival itu.

“Kami memiliki koleksi persenjataan yang besar… bukan hanya besar, namun kami juga memiliki roket-roket untuk membawa rudal-rudal itu ke sasaran dengan akurat.”

Sebagian besar ahli memperkirakan Israel memiliki antara 100-200 hulu ledak nuklir.

Perkiraan ini berdasarkan informasi yang dibocorkan kepada surat kabar Inggris the Sunday Times di tahun 1980-an oleh Mordechai Vanunu, seorang bekas pegawai reaktor nuklir Dimona di Israel.

‘Dipenjara’

Dalam jumpa pers itu, Carper menyatakan dukungannya kepada Israel sebagai sebuah negara, namun mengecam kebijakan dalam dan luar negeri negara itu.

“Salah satu kejahatan kemanusiaan terbesar di dunia adalah memblokir makanan dan memenjarakan 1,6 juta warga Palestina,” katanya.

Mantan presiden Amerika itu menyebut angka statistik yang menunjukkan konsumsi gizi anak-anak Palestina berada di bawah anak-anak di Afrika Sub Sahara.

Carter, yang mendapat Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2002, menjadi penengah kesepakatan Mesir-Israel tahun 1979, kesepakatan damai pertama antara Israel dan sebuah negara Arab.

Bulan April lalu dia secara kontroversial mengadakan pembicaraan di ibukota Suriah, Damaskus, dengan Khaled Meshaal, pemimpin gerakan militan Palestina Hamas. (BBC ; 26 mei 2008)

 

 

Sumber: http://www.hizbut-tahrir.or.id/2008/05/27/israel-miliki-150-senjata-nuklir/ 

Umum, REFLEKSI, keseharian, ISLAM, inspirasiMay 12, 2008 9:30 am

Sehari setelah politisi ekstrim Belanda Geert Wilders, mempublikasikan film “Fitna” yang melecehkan Islam, di Amsterdam, dimulailah aksi Muslim Belanda bekerjasama dengan Saudi Arabia untuk menghadapi kedustaan yang dilakukan oleh film "Fitna."

Para pelaku aksi ini memilih buku-buku da’i terkenal dari Selatan Afrika yakni Syaikh Ahmad Deedat. Tokoh yang kini sudah wafat itu memiliki buku-buku yang terkenal kuat argumentasinya menghadapi tuduhan dan fitnah yang dilancarkan musuh-musuh Islam terhadap Al-Quranul Karim.

Seorang tokoh perbandingan agama asal Saudi, Asham Ahmad yang juga menggagas aksi ini mengatakan, “Target kampanye yang kami lakukan terfokus pada bentuk reaksi besar terhadap serangan terhadap Al-Quranul Karim. Karena itu, kami melakukan aksi ‘tenang’ ini, untuk memfungsikan semua programnya secara damai, guna memperbaiki pengertian publik terhadap risalah Islam.”

Ia menambahkan bahwa agenda aksinya juga ditujukan untuk menutup kesempatan bagi para musuh Islam untuk mewujudkan apa yang mereka inginkan, yakni menekan minoritas Muslim dengan aksi-aksi teror dan kekerasan.

“Mereka ingin menjadikan film itu sebagai sarana untuk lebih menekan umat Islam, mempersempit ruang kaum muslimin sebagaimana yang telah terjadi atas minoritas Muslim di Eropa, ” ujar Ahmad.

Geert Wilders telah mengabaikan berbagai pendapat dan permintaan agar ia membatalkan penyiaran film "Fitna" yang diprediksi akan memunculkan reaksi besar umat Islam. Dan sebagai jawabannya, umat Islam akan memanfaatkan momentum ini untuk lebih memperluas penjelasan dan dakwah Islam yang sesungguhnya ke masyarakat Belanda.

Program aksi ini dilakukan dengan membagikan lebih dari 50 ribu eksemplar buku gratis milik Ahmad Deedat yang berjudul, “Al-Masih dalam Islam dan Al-Quran”. Buku itu kini sudah diterjemahkan dalam bahasa Belanda dan siap dibagikan secara luas di masyarakat Belanda melalui berbagai tempat, seperti masjid, perkantoran, dan berbagai organisasi masyarakat Belanda.

Dengan dukungan walikota Amsterdam yang juga mendukung kegiatan ini, kaum minoritas Muslim Belanda akan semakin terdorong untuk menyebarkan misi Islam yang memang damai dan bisa berdampingan hidup dengan berbagai agama di Belanda.

Pilihan buku Ahmad Deedat untuk melawan kejahatan atas Islam dalam film "Fitna", adalah karena Ahmad Deedat merupakan tokoh terkenal dan mempunyai pengalaman panjang dalam membela dakwah Islam sekaligus mampu menawarkan argumentasi yang mematikan di hadapan orang-orang yang memusuhi Islam.

“Dia juga memiliki kumpulan karya yang sangat berharga dari tulisannya yang sudah terbukti manfaatnya bagi dunia Islam. Buku-buku Ahmad Deedat telah juga membuka pintu bagi ribuan orang yang telah masuk Islam setelah membaca buku-bukunya, ” ujar Ahmad.

Sumber: http://www.eramuslim.com/berita/int/8329103252-menangkal-film-quotfitnaquot-muslim-belanda-sebarkan-50-ribu-buku-ahmad-deedat-gratis.htm

Umum, keseharian, ISLAM, SELINGAN, PENDAPAT, inspirasiMay 3, 2008 8:22 am

Nablus – Infopalestina: Pasukan penjajah Zionis Israel terus melanjutkan operasi militer di kota-kota, desa-desa dan kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat di tengah-tengah aksi penembakan dan terror terhadap warga sipil Palestina. Dalam sepekan Israel melakukan 40 kali operasi militer, sebanyak 37 warga Palestina diculik di antaranya dua orang bocah.

Dalam penelusuran lapangan yang dilakukan Pusat HAM Palestina atau PCHR (The Palestinian Centre for Human Rights) tercatat bahwa penjajah Israel melakukan 36 operasi militer di sebagian besar kota-kota dan kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat. Selama itu pula pasukan penjajah Israel menyerbu bangunan-bangunan dan rumah-rumah warga, melakukan penembakan beberapa kali secara sporadis dan sengaja kea rah warga dan rumah-rumah mereka.

Jumlah warga Palestina yang menjadi korban penculikan Israel hingga akhir April mencapai 1051 warga. Belum lagi mereka yang ditangkap di perlintasan-perlintasan militer, gerbang-gerbang perbatasan, saat melakukan aksi protes damai menentang terus berlanjutnya aktifitas pembangunan tembok pemisah rasial di Tepi Barat, dan penentangan terhadap kebijakan sanksi massal yang dilakukan Israel dengan mendirikan perlintasan-perlintasan militer dan penutupan jalan-jalan.

Sementara itu di Jalur Gaza, dalam rentang waktu yang sama penjajah Israel melakukan 4 kali operasi militer. Dua di antaranya di Beit Hanun, wilayah utara Jalur Gaza. Sekali di Abasan, timur kota Khan Yunis dan sekali di kota Deor Balah, tengah Jalur Gaza. (seto)

Umum, SHARING, keseharian, ISLAM, PENDAPAT, WACANA, inspirasiApril 25, 2008 9:23 am

Wanita di Masa Jahiliyah

Wanita di masa jahiliyah (sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) pada umumnya tertindas dan terkungkung khususnya di lingkungan bangsa Arab, tetapi tidak menutup kemungkinan fenomena ini menimpa di seluruh belahan dunia. Bentuk penindasan ini di mulia sejak kelahiran sang bayi, aib besar bagi sang ayah bila memiliki anak perempuan. Sebagian mereka tega menguburnya hidup-hidup dan ada yang membiarkan hidup tetapi dalam keadaan rendah dan hina bahkan dijadikan sebagai harta warisan dan bukan termasuk ahli waris. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Dan apabila seorang dari mereka diberi khabar dengan kelahiran anak perempuan, merah padamlah mukanya dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah. Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (An Nahl: 58-59)

Islam Menjunjung Martabat Wanita

Dienul Islam sebagai rahmatal lil’alamin, menghapus seluruh bentuk kezhaliman-kezhaliman yang menimpa kaum wanita dan mengangkat derajatnya sebagai martabat manusiawi. Timbangan kemulian dan ketinggian martabat di sisi Allah subhanahu wata’ala adalah takwa, sebagaiman yang terkandung dalam Q.S Al Hujurat: 33). Lebih dari itu Allah subhanahu wata’ala menegaskan dalam firman-Nya yang lain (artinya):

“Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan pula kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An Nahl: 97)

Ambisi Musuh-Musuh Islam untuk Merampas Kehormatan Wanita

Dalih emansipasi atau kesamarataan posisi dan tanggung jawab antara pria dan wanita telah semarak di panggung modernisasi dewasa ini. Sebagai peluang dan jembatan emas buat musuh-musuh Islam dari kaum feminis dan aktivis perempuan anti Islam untuk menyebarkan opini-opini sesat. “Pemberdayaan perempuan”, “kesetaraan gender”, “kungkungan budaya patriarkhi” adalah sebagai propaganda yang tiada henti dijejalkan di benak-benak wanita Islam. Dikesankan wanita-wanita muslimah yang menjaga kehormatannya dan kesuciannya dengan tinggal di rumah adalah wanita-wanita pengangguran dan terbelakang. Menutup aurat dengan jilbab atau kerudung atau menegakkan hijab (pembatas) kepada yang bukan mahramnya, direklamekan sebagai tindakan jumud (kaku) dan penghambat kemajuan budaya. Sehingga teropinikan wanita muslimah itu tak lebih dari sekedar calon ibu rumah tangga yang tahunya hanya dapur, sumur, dan kasur. Oleh karena itu agar wanita bisa maju, harus direposisi ke ruang rubrik yang seluas-luasnya untuk bebas berkarya, berkomunikasi dan berinteraksi dengan cara apapun seperti halnya kaum lelaki di masa moderen dewasa ini.

Ketahuilah wahai muslimah! Suara-suara sumbang yang penuh kamuflase dari musuh-musuh Allah subhanahu wata’ala itu merupakan kepanjangan lidah dari syaithan. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaithan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapak kalian dari jannah, ia menanggalkan dari kedua pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya.” (Al A’raf: 27)

Peran Wanita dalam Rumah Tangga

Telah termaktub dalam Al Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia yang datang dari Rabbull Alamin Allah Yang Maha Memilki Hikmah:

“Dan tetaplah kalian (kaum wanita) tinggal di rumah-rumah kalian.” (Al Ahzab: 33)

Maha benar Allah subhanahu wata’ala dalam segala firman-Nya, posisi wanita sebagai sang istri atau ibu rumah tangga memilki arti yang sangat urgen, bahkan dia merupakan salah satu tiang penegak kehidupan keluarga dan termasuk pemeran utama dalam mencetak “tokoh-tokoh besar”. Sehingga tepat sekali ungkapan: “Dibalik setipa orang besar ada seorang wanita yang mengasuh dan mendidiknya.”

Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkta: “Perbaikan masyarakat dapat dilakukan dengan dua cara:

Pertama: perbaikan secara dhahir, di pasar-pasar, di masjid-masjid dan selainnya dari perkara-perkara dhahir. Ini didominasi oleh lelaki karena merekalah yang bisa tampil di depan umum.

Kedua: perbaikan masyarakat dilakukan yang di rumah-rumah, secara umum hal ini merupakan tanggung jawab kaum wanita. Karena merekalah yang sangat berperan sebagai pengatur dalam rumahnya. Sebagaiman Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Tetaplah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj (berpenampilan) sebagaimana penampilannya orang-orang jahiliyah yang pertama. Tegakkanlah shalat, tunaikan zakat, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah hanyalah berkehendak untuk menghilangkan dosa-dosa kalian wahai Ahlul bait dan mensucikan kalian dengan sebersih-bersihnya.” (Al Ahzab: 33)

Kami yakin setelah ini, tidaklah salah bila kami katakan perbaikan setengah masyarakat itu atau bahkan mayoritas tergantung kepada wanita dikarenakan dua sebab:

1. Kaum wanita jumlahnya sama dengan kaum laki-laki bahkan lebih banyak, yakni keturunan Adam mayoritasnya wanita sebagamana hal ini ditunjukkan oleh As Sunnah An Nabawiyah. Akan tetapi hal itu tentunya berbeda antara satu negeri dengan negeri lain, satu jaman dengan jaman lain. Terkadang di suatu negeri jumlah kaum wanita lebih dominan dari pada jumlah lelaki atau sebaliknya… Apapun keadaannya wanita memiliki peran yang sangat besar dalam memperbaiki masyarakat.

2. Tumbuh dan berkembangnya satu generasi pada awalnya berada dibawah asuhan wanita. Atas dasar ini sangat jelaslah bahwa tentang kewajiban wanita dalam memperbaiki masyarakat. (Daurul Mar’ah Fi Ishlahil Mujtama’)

Pekerjaan Wanita di dalam Rumah

Beberapa pekerjaan wanita yang bisa dilakukan di dalam rumah:

1. Beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala. Tinggalnya ia di dalam rumah merupakan alternatif terbaik karena memang itu perintah dari Allah subhanahu wata’ala dan dapat beribadah dengan tenang. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Tetaplah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliyah yang pertama. Tegakkanlah shalat, tunaikan zakat, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Al Ahzab: 33)

2. Wanita berperan memberikan sakan (ketenangan/keharmonisan) bagi suami. Namun tidak akan terwujud kecuali ia melakukan beberapa hal berikut ini:

- Taat sempurna kepada suaminya dalam perkara yang bukan maksiat bahkan lebih utama daripada melakukan ibadah-ibdah sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُوْمَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Tidak boleh seorang wanita puasa (sunnah) sementara suaminya ada di tempat kecuali setelah mendapat izin suaminya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Al Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Hadits ini menunjukkan lebih ditekankan kepada istri untuk memenuhi hak suami daripada mengerjakan kebajikan yang hukumnya sunnah. Karena hak suami itu wajib sementara menunaikan kewajiban lebih didahulukan daripada menunaikan perkara yang sunnah.’ (Fathul Bari 9/356)

- Menjaga rahasia suami dan kehormatannya dan juga menjaga kehormatan ia sendiri disaat suaminya tidak ada di tempat. Sehingga menumbuhkan kepercayaan suami secara penuh terhadapnya.

- Menjaga harta suami. Rasulullah bersabda:

خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الإِبِلَ صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ : أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ، وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ

“Sebaik-baik wanita penunggang unta, adalah wanita yang baik dari kalangan quraisy yang penuh kasih sayang terhadap anaknya dan sangat menjaga apa yang dimiliki oleh suami.” (Muttafaqun ‘alaihi)

- Mengatur kondisi rumah tangga yang rapi, bersih dan sehat sehingga tampak menyejukkan pandangan dan membuat betah penghuni rumah.

3. Mendidik anak yang merupakan salah satu tugas yang termulia untuk mempersiapkan sebuah generasi yang handal dan diridhai oleh Allah subhanahu wata’ala.

Adab Keluar Rumah

Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Mengetahui tentang maslahat (kebaikan) hambanya di dunia maupun diakhirat yaitu kewajiban wanita untuk tetap tinggal di rumah. Namun bila ada kepentingan, diperbolehkan baginya keluar rumah untuk memenuhi kebutuhannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

قَدْ أَذِنَ لَكُنَّ أَنْ تَخْرُجْنَ لِحَوَائِجِكُنَّ

“Allah telah mengijinkan kalian untuk keluar rumah guna menunaikan hajat kalian.” (Muttafaqun ‘alahi)

Namun juga ingat petuah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang lainnya:

“Wanita itu adalah aurat maka bila ia keluar rumah syaithan menyambutnya.” (HR. At Tirmidzi, shahih lihat Al Irwa’ no. 273 dan Shahihul Musnad 2/36)

Sehingga wajib baginya ketika hendak keluar harus memperhatikan adab yang telah disyariatkan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu:

a. Memakai jilbab yang syar’i sebagaimana dalam surat Al Ahzab: 59.
b. Atas izin dari suaminya, bila ia sudah menikah.
c. Tidak boleh bersafar kecuali dengan mahramnya. (HR. Muslim no. 1341)
d. Menundukkan pandangan. (An Nur: 31)
e. Berbicara dengan wajar tanpa mendayu-dayu (melembut-lembutkan). (Al Ahzab: 32)
f. Tidak boleh melenggak lenggok ketika berjalan.
g. Hindari memakai wewangian. (Al Jami’ush Shahih: 4/311)
h. Tidak boleh menghentakkan kaki ketika berjalan agar diketahui perhiasannya. (An Nur: 31)
i. Tidak boleh ikhtilath (campur baur) antara lawan jenis. (Lihat Shahih Al Bukhari no. 870)
j. Tidak boleh khalwat (menyepi dengan pria lain yang bukan mahram) (Lihat Shahih Muslim 2/978).

Hukum Wanita Kerja di Luar Rumah

Allah menciptakan bentuk fisik dan tabiat wanita berbeda dengan pria. Kaum pria di berikan kelebihan oleh Allah subhanahu wata’ala baik fisik maupun mental atas kaum wanita sehingga pantas kaum pria sebagai pemimpin atas kaum wanita. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Kaum lelaki itu adalah sebagai pemimpin (pelindung) bagi kaum wanita.” (An Nisa’: 35)

Sehingga secara asal nafkah bagi keluarga itu tanggug jawab kaum lelaki. Asy syaikh Ibnu Baaz berkata: “Islam menetapkan masing-masing dari suami istri memiliki kewajiban yang khusus agar keduanya menjalankan perannya, hingga sempurnalah bangunan masyarakat di dalam dan di luar rumah. Suami berkewajiban mencari nafkah dan penghasilan sedangkan istri berkewajiban mendidik anak-anaknya, memberikan kasih sayang, menyusui dan mengasuh mereka serta tugas-tugas lain yang sesuai baginya, mengajar anak-anak perempuan, mengurusi sekolah mereka, dan mengobati mereka serta pekerjaan lain yang khusus bagi kaum wanita. Bila wanita sampai meninggalkan kewajiban dalam rumahnya berarti ia menyia-nyiakan rumah berikut penghuninya. Hal tersebut berdampak terpecahnya keluarga baik hakiki maupun maknawi. (Khatharu Musyarakatil Mar’ah lir Rijal fil Maidanil amal, hal. 5)

Bila kaum wanita tidak ada lagi yang mencukupi dan mencarikan nafkah, boleh baginya keluar rumah untuk bekerja, tentunya ia harus memperhatikan adab-adab keluar rumah sehingga tetap terjaga iffah (kemulian dan kesucian) harga dirinya.

Wanita adalah Sumber Segala Fitnah

Bila wanita sudah keluar batas dari kodratnya karena melanggar hukum-hukum Allah subhanahu wata’ala. Keluar dari rumah bertamengkan slogan bekerja, belajar, dan berkarya. Meski mengharuskan terjadinya khalwat (campur baur dengan laki-laki tanpa hijab), membuka auratnya (tanpa berjilbab), tabarruj (berpenampilan ala jahiliyah), dan mengharuskan komunikasi antar pria dan wanita dengan sebebas-bebasnya. Itulah pertanda api fitnah telah menyala.

Bila fitnah wanita telah menyala, ia merupakan inti dari tersebarnya segala fitnah-fitnah yang lainnya. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia untuk condong kepada syahwat, yaitu wanita-wanita, anak-anak dan harta yang banyak … .” (Ali Imran: 14).

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Sesunggunya fitnah wanita merupakan fitnah yang terbesar dari selainnya …, karena Allah menjadikan para wanita itu sebagai sumber segala syahwat. Dan Allah meletakkan para wanita (dalam bagian syahwat) pada point pertama (dalam ayat di atas) sebelum yang lainnya, mengisyaratkan bahwa asal dari segala syahwat adalah wanita.” (Nashihati Linnisaa’i: 114)

Bila fitnah wanita itu telah menjalar, maka tiada yang bisa membendung arus kebobrokan dan kerusakan moral manusia. Fenomena negara barat atau negara-negara lainnya yang menyuarakan emansipasi wanita, sebagai bukti kongkrit hasil dari perjuangan mereka yaitu pornoaksi dan pornografi bukan hal yang tabu bahkan malah membudaya, foto-foto telanjang dan menggoda lebih menarik daya beli dan mendongkrak pangsa pasar. Tak lebih harga diri wanita itu seperti budak pemuas syahwat lelaki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضْرَةٌ وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَ اتَّقُوا النِّسَاءَ فَإنَّ أَوَّلِ فِتْنَةِ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau dan Allah subhanahu wata’ala menjadikan kalian berketurunan di atasnya. Allah melihat apa yang kalian perbuat. Takutlah kepada (fitnah) dunia dan takutlah kepada (fitnah) wanita, karena sesungguhnya awal fitnah yang menimpa Bani Isra’il dari wanitanya.” (HR. Muslim)

Setelah mengetahui hak dan tanggung jawab wanita sedemikian rupa, rapi dan serasi yang diatur oleh Islam, apakah bisa dikatakan sebagai wanita pengangguran atau kuno? sebaliknya, silahkan lihat kenyataan kini dari para wanita karier dibalik label emansipasi atau slogan “Mari maju menyambut modernisasi?” Renungkanlah wahai kaum wanita, bagaimana kedaan suami dan anak-anak kalian setelah kalian tinggalkan tanggung jawab sebagai istri penyejuk hati suami dan penyayang anak-anak?!

Hadits-Hadits Dho’if (Lemah) atau Palsu yang Tersebar di Kalangan Ummat

اُطْلُبُوْا العِلْمَ وَ لَوْ بِالصِّيْنِ

“Tuntutlah Ilmu walau sampai ke negeri Cina.”

Keterangan:

Hadits ini adalah bathil, diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy, Abu Nu’aim, Al Khotib, Al Baihaqi, dan selain mereka. Hadits ini dikritik oleh para ulama seperti Al Imam Al Bukhori, Ahmad, An Nasa’i, Abu Hatim, Ibnu Hibban, Al Khotib, dan selain dari mereka. Karena didalam perawi-perawi hadits ini lemah (dho’if). (Lihat Adh Dhoi’fah No.416)

(Sumber: http://www.assalafy.org/al-ilmu.php?tahun3=8)

Umum, SHARING, REFLEKSI, keseharian, ISLAM, SELINGAN, WACANA 9:21 am

Agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah disempurnakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai rahmat bagi seluruh hamba-Nya, sehingga agama ini tidak butuh tambahan, pengurangan dan otak-atik.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (QS. Al-Ma`idah: 3)

Di antara rahmat Allah Ta’ala kepada hamba hamba-Nya, disyari’atkannya “poligami” (seorang laki laki memiliki lebih dari satu istri) berdasarkan dalil-dalil yang akan datang.

Namun berbicara masalah poligami akan mengundang berbagai tanggapan. Ada yang menanggapinya secara posotif dan ini datangnya dari ulama’ dan kaum beriman. Tetapi, ada pula yang menanggapinya secara negatif, bahkan menentangnya dengan keras di antara segelintir orang dari kalangan orang-orang munafiq, dan orang-orang yang jahil dari kaum wanita dan laki-laki. Berbagai alasan dilontarkan intuk menolak poligami, entah dengan alasan kecemburuan, emosi, atau tidak siap dimadu, bahkan dengan alasan ketidakadilan.

Mungkin dengan dasar inilah, ada seorang penulis wanita (kami tidak sebutkan namanya) berusaha menentang, dan menzholimi “anugerah poligami” ini untuk membela kaum wanita menurut sangkaannya, padahal sebenarnya ia menzholimi kaum wanita. Maka dia pun menuangkan “pembelaannya” (baca: penzholimannya) tersebut dalam bentuk tulisan yang dimuat oleh koran “Kompas”, edisi 11 Desember 2006, dengan judul, “Wabah itu Bernama Poligami”. Sebuah judul yang memukau bagi orang-orang jahil, terlebih lagi orang-orang munafiq. Namun hal itu sangat berbahaya bagi keimanannya, dan mengerikan bagi kaum beriman. Betapa tidak, dia telah berani menyebut poligami sebagai “wabah”, dan telah lancang berani menyebut syari’at yang Allah Ta’ala sendiri yang menurunkan-Nya sebagai “wabah”. Dia telah menghina, menentang dan mengingkari anugerah yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Kalau wanita ini menganggap poligami adalah wabah, berarti dia telah menganggap bahwa Allah Ta’ala telah menurunkan wabah kepada para hamba-Nya,“Subhanallah wa Ta’ala ‘an qaulihim uluwwan kabiran Maha Suci, dan Maha Tinggi Allah atas apa yang mereka ucapkan.

Wanita untuk memuntahkan kebenciannya, dan penolakannya kepada syari’at poligami, maka ia pun tidak tanggung-tanggung membawakan hadits untuk menguatkan pendapatnya. Padahal hadits itu tidaklah menguatkan dirinya sedikitpun, bahkan menolak dengan kejahilannya: Wanita itu membawakan hadits, bahwa dilaporkan Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam marah ketika beliau mendengar putrinya Fatimah akan di poligami suaminya, Ali bin Abi Thalib. Beliau bergegas menuju mesjid, naik mimbar dan menyampaikan pidato, “Keluarga Bani Hasim bin Al-Mughiroh telah meminta izinku untuk menikahkan putri mereka dengan Ali Bin Abi Thalib saya tidak mengizinkan sama sekali kecuali Ali menceraikan putri Saya terlebih dahulu”. Kemudian Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan, “Fatimah adalah bagian dari-ku. Apa yang memggamggu dia adalah menggangguku dan apa yang menyakiti dia adalah menyakitiku juga”. Akhirnya, Ali bin Abi Thalib tetap monogami hingga Fatimah wafat.

Setelah membaca hadits diatas, mungkin kita akan menganggukkan kepala dan membenarkan wanita tersebut. Namun Saking “pandainya” wanita ini, ia lupa riwayat lain dalam Shohih Muslim (2449), “Sesungguhnya aku tidak mengharamkan yang halal dan tidak menghalalkan yang haram. Tapi, demi Allah, tidak akan berkumpul putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan putri musuh Allah selamanya”. Artinya, Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam tidak mengharamkan atas umatnya sesuatu yang halal, yaitu poligami. Selain itu, Syaikh Al-Adawiy dalam Fiqh Ta’addud Az-Zaujat (126) berkata, “Di antara kekhususan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, putrinya tidak boleh dimadu. Ini yang dikuatkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari (9/329)”.

Perlu diketahui bahwa para sahabat sepeninggal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan Ali sendiri berpoligami setelah Fathimah wafat. Ali bin Rabi’ah berkata, “Dulu Ali memiliki dua istri”. [HR. Ahmad dalam Fadho’il Ash-Shohabah (no.889)]. Ini menunjukkan bahwa poligami tetap diamalkan oleh para sahabat sepeninggal Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bukan bersifat kondisional !!

Lebih jauh lagi, Wanita itu mengomentari ayat berikut,

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. (QS. An-Nisa`: 3)

Wanita ini berkata, “Ayat tersebut turun setelah perang Uhud, dimana banyak sahabat wafat di medan perang. Ayat ini memungkinkan lelaki muslim mengawini janda, atau anak yatim, jika dia yakin inilah cara melindungi kepentingan mereka, dan hartanya dengan penuh keadilan. Jadi, ayat ini bersifat kondisional”.

Yang menjadi pembahasan kita dalam perkataannya adalah bahwa ayat ini bersifat kondisional, padahal seandainya ayat ini bersifat kondisional, justru ayat ini sangat memungkinkan untuk diamalkan pada zaman sekarang, karena melihat perbandingan jumlah wanita jauh lebih banyak dibandingkan jumlah laki-laki. Oleh karena itu, poligami di saat sekarang ini mestinya lebih disemarakkan! Selain itu, para ulama membuat kaedah, “Barometer dalam menafsirkan ayat dilihat pada keumuman lafazhnya, bukan pada kekhususan sebab turunnya ayat tertentu”. Jadi, dilihat cakupan dan keumuman ayat di atas dan lainnya, maka mencakup semua lelaki yang memiliki kemampuan lahiriah.

Kemudian, dia pun mengomentari firman Allah berikut layaknya sebagai ahli tafsir, padahal ia bukan termasuk darinya,

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri- isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An-Nisa`: 129)

Wanita ini berkata dengan congkak, “Ayat ini dapat disimpulkan, Islam pada dasarnya agama monogami”. Pembaca semoga dirahmati Allah beginilah apabila menafsirkan ayat dengan penafsiran sendiri, tanpa mau melihat bagaimana para ulama tafsir ketika menafsirkan ayat-ayat Allah. Ayat ini justru menunjukan disyari’atkannya poligami. Dengarkan para ahli tafsir ketika mereka menafsirkan ayat di atas (QS. An-Nisa`: 129)

Ath-Thabariy rahimahullah berkata, “Kalian, wahai kaum lelaki, tak akan mampu menyamakan istri-istrimu dalam hal cinta di dalam hatimu sampai kalian berbuat adil di antara mereka dalam hal itu. Maka tidak di hati kalian rasa cinta kepada sebagiannya, kecuali ada sesuatu yang sama dengan madunya, karena hal itu kalian tidak mampu melakukannya, dan urusannya bukan kepada kalian”. [Lihat Jami’ Al-Bayan (9/284)]

Syaikh Muhammad bin Nashir As-Sa’diyrahimahullah dalam menafsirkan ayat di atas (QS. An-Nisa`: 129), “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa suami tidak akan mampu. Bukanlah kesanggupan mereka berbuat adil secara sempurna di antara para istri, sebab keadilan mengharuskan adanya kecintaan, motivasi, dan kecenderungan yang sama dalam hati kepada para istri, kemudian demikian pula melakukan konsekuensi hal tersebut. Ini adalah perkara yang susah dan tidak mungkin. Oleh karena itu, Allah Ta’ala memaafkan perkara yang tidak sangup untuk dilakukan. Kemudian, Allah Ta’ala melarang sesuatu yang mungkin terjadi (yaitu, terlalu condong kepada istri yang lain, tanpa menunaikan hak-hak mereka yang wajib-pent),

فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ

Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung”. (QS. An-Nisa`: 129)

Maksudnya, janganlah engkau terlalu condong (kepada istri yang lain) sehingga engkau tidak menunaikan hak-haknya yang wajib, bahkan kerjakanlah sesuatu yang berada pada batas kemampauan kalian berupa keadilan. Maka memberi nafkah, pakaian, pembagian dan semisalnya, wajib bagi kalian untuk berbuat adil di antara istri-istri dalam hal tersebut, lain halnya dengan masalah kecintaan, jimak (bersetubuh), dan semisalnya, karena seorang istri, apabila suaminya meninggalkan sesuatu yang wajib (diberikan) kepada sang istri, maka jadilah sang istri dalam kondisi terkatung-katung bagaikan wanita yang tidak memiliki suami, lantaran itu sang istri bisa luwes dan bersiap untuk menikah lagi serta tidak lagi memiliki suami yang menunaikan hak-haknya”. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 207)]

Lebih gamblang, seorang mufassir ulung, Syaikh Asy-Syinqithiy rahimahullah berkata dalam Adhwa’ Al-Bayan (1/375) ketika menafsirkan ayat di atas, “Keadilan ini yang disebutkan oleh Allah disini bahwa ia tak mampu dilakukan adalah keadilan dalan cinta, dan kecenderungan secara tabi’at, karena hal itu bukan di bawah kemampaun manusia. Lain halnya dengan keadilan dalam hak-hak yang syar’iy, maka sesuangguhnya itu mampu dilakukan”.

Jadi, dari komentar para ahli tafsir tadi, tidak ada di antara mereka yang berdalil dengan ayat itu untuk menolak poligami. Lantas kenapa wanita ini tak mau menoleh ucapan para ulama’ tafsir? Jawabnya, karena tafsiran mereka tidak tunduk kepada hawa nafsu wanita ini.

Adapun dalil dalil yang menunjukan disyariatkannya poligami antara lain, maka telah berlalu dalam (QS. An-Nisa`: 3).

Di antara dalil poligami, Seorang tabi’in, Sa’id bin Jubair, “Ibnu Abbbas berkata kepadaku: “Apakah engkau telah menikah ?” Aku menjawab ” Belum”. Ibnu Abbas berkata, “Maka menikahlah, karena sebaik baik manusia pada umat ini adalah orang yang paling banyak istrinya”. [HR. Al-Bukhariydalam Shohihnya).

Satu lagi dalil poligami -namun sebenarnya masih banyak, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Termasuk sunnah jika seorang laki laki menikahi perawan setellah istri sebelumnya janda maka sang suami pun tinggal di rumah istri yang perawan ini selama tujuh hari maka sang suami tinggal dirumah istri yang janda selama tiga hari kemudian dia bagi”. [HR Bukhariy dalam Ash-Shohih]

Seorang ulama’ Syafi’iyyah, Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fatul Bari (9/10) berkata, “Dalam hadits ini, ada anjuran untuk menikah dan meninggalkan hidup membujang”.

Setelah kita mengetahui dalil-dalil yang menunjukan disyari’atkannya seorang muslim, laki-laki maupun wanita melakukan poligami. Jadi, kami nasihatkan kepada diri kami dan para suami dan calon suami untuk menikah hingga empat orang istri, jika dia sanggup untuk berbuat adil dalam perkara lahirah, seperti, pembagian malam, dan nafkah. Adapun adil dalam perkara batin (seperti, cinta, kesenangan jimak, perasaan bahagia bersama dengan salah satu diantara mereka), maka ini bukan merupakan syarat berdasarkan hadits-hadits dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana yang diterangkan oleh para ulama.

Terakhir, Kami nasihatkan kepada para wanita agar bersiap untuk dimadu dan berlapang dada untuk menerima anugerah poligami ini, serta tidak menentang syari’at poligami, karena ini adalah kekufuran. Samahatusy Syaikh Abdul Azizi bin Bazrahimahullah berkata, “Barangsiapa yang membenci sedikitpun dari sesuatu yang dibawa Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam, meskipun dia mengamalkannya, maka sungguh dia telah kafir. Allah Ta’ala berfirman,

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka”. (QS. Muhammad: 9) [Lihat Nawaqid Al-Islam]

Sumber: Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 07 Tahun I. Penerbit: Pustaka Ibnu Abbas. Alamat: Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP: 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab: Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi: Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh: Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout: Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan hubungi alamat di atas. (infaq Rp. 200,-/exp)

Sumber: http://almakassari.com/?p=44

Umum, keseharian, ISLAM, PENDAPATApril 24, 2008 7:05 am

Memoles kesesatan agar tampak baik dan menarik hati adalah jurus abadi iblis dan antek-anteknya. Bahkan inilah jurus pertama iblis sebelum menggoda manusia untuk bergumul dengan dosa. Allah berfirman:
“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,” (Al-Hijr 39)

Maka setan menghiasi perbuatan keji terlebih dahulu, baru dilanjutkan dengan menyesatkan manusia. Ibnul Qayyim mengomentari ayat tersebut: “Di antara strategi iblis adalah menyihir akal secara kontinyu hingga terpedaya, tidak ada yang selamat darinya kecuali yang dikehendaki Allah. Dia menghiasi perbuatan yang hakekatnya menimbulkan madharat sehingga tampak sebagai perbuatan yang paling bermanfaat. Begitupun sebaliknya, dia mencitrakan buruk perbuatan yang bermanfaat sehingga nampak mendatangkan madharat…”

Komandan Setan Penyeru Zina


Strategi yang sama ditempuh oleh iblis laknatullah ‘alaih untuk menyebarkan luaskan perbuatan zina yang merupakan dosa besar di dalam Islam. Tidak hanya itu, iblis menjadikan hal ini sebagai target utama, sehingga dia melakukan sayembara bagi setan manapun yang mampu menjerumus-kan manusia kepada zina, maka iblis akan memakaikan mahkota di kepalanya sebagai tanda jasa.

Rasululah bersabda tentang hal ini:
“Jika datang pagi hari, Iblis menyebar para tentaranya ke muka bumi lalu berkata, “Siapa di antara kalian yang menyesatkan seorang muslim akan aku kenakan mahkota di kepalanya.” Salah satu tentaranya menghadap dan berkata, “Aku terus menggoda si fulan hingga mau menceraikan istrinya.” Iblis berkata: “Ah, bisa jadi dia akan menikah lagi.” Tentara yang lain menghadap dan berkata: “Aku terus menggoda si fulan hingga ia mau berzina.” Iblis berkata: “Ya, kamu (yang mendapat mahkota)!” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1280)

Iblis juga menyiapkan pasukan khusus yang dikomandani oleh anaknya sendiri bernama Al-A’war. Mujahid bin Jabr, murid utama Ibnu Abbas menyebutkan bahwa Iblis memiliki 5 anak, satu di antaranya bernama Al-A’war. Dia memiliki tugas khusus menyeru orang untuk berbuat zina dan menghiasinya agar nampak baik dalam pandangan manusia. (Talbisul Iblis, Ibnu Al-Jauzy hal. 41)

Al-A’war juga merekrut para setan dari golongan manusia sebagai tim sukses untuk mengkampanyekan perbuatan zina. Segala cara ditempuh, segala sarana dan media digunakan.

Memasang Banyak Umpan


Sebagaimana seorang pemancing, dia harus memasang umpan agar ikan mau mendekati kailnya. Maka setan memasang umpan agar si korban mau mendatangi perangkapnya. Umpan tersebut berupa ‘Nisa’un kaasiyat ‘ariyat’, wanita yang berpakaian telanjang, pornografi, porno aksi dan perangkatnya.

Umpan tersebut dipasang di tempat-tempat yang strategis, sehingga memungkinkan bagi mangsa untuk melihatnya. Di antara tempat strategis tersebut adalah televisi dan media cetak. Maka jika kita lihat di televisi kita banyak berjejal wanita yang berpakaian tapi telanjang, lagu dan tarian erotis, film-film jorok yang bisa disaksikan oleh semua orang. Itu pertanda setan Al-A’war telah berhasil merekrut banyak orang untuk dia jadikan sebagai umpannya. Demikian pula dengan tabloid, koran dan majalah-majalah berjenis kelamin ‘XXX’ yang menjadikan pornografi sebagai menu utama.

Dibumbui Dengan Istilah Penyedap Rasa


Al-A’war tidak membiarkan umpan-umpan itu menyebar begitu saja. Karena masih banyak orang-orang waras yang akan merusak umpannya. Akan banyak orang-orang sehat yang akan menegur, mencela dan memusuhinya. Untuk itu, dia menciptakan istilah dan kilah sebagai penyedap rasa. Sehingga yang antipati menjadi netral, yang netral menjadi simpati, yang simpati menjadi bala-tentaranya.

Di antara istilah yang diilhamkan Al-A’war kepada para anteknya dari golongan manusia adalah menamakan budaya telanjang sebagai bentuk kemajuan, pacaran sebagai upaya penjajakan dan persiapan, nyanyian jorok dan tarian erotis sebagai seni dan porno aksi disebut sebagai kebebasan berekspresi.

Bisa dibilang bahwa menamakan perbuatan keji dengan istilah yang berasumsi baik adalah jurus tersendiri di antara jurus iblis yang diwariskan kepada generasinya. Seperti ketika dia membujuk Adam dengan perkataannya:
“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?” (Thaha: 120)

Dia menyebut pohon yang dilarang dimakan buahnya dengan pohon Khuldi, pohon yang apabila dimakan buahnya menyebabkan dia kekal di jannah.

Tidak berbeda dengan yang dilakukan setan hari ini, mereka memberi istilah perbuatan keji dengan nama yang disukai hati.

Informasi yang menyesatkan diiringi dengan gambar yang menggiurkan jika datang secara bertubi-tubi akhirnya dianggap sebagai hal yang biasa, atau seakan kebenaran yang layak untuk dibela. Sebagaimana yang telah dimaklumi bahwa dengan pemberitaan yang terus menerus, berita dusta dianggap fakta, kesesatan menjelma sebagai kebenaran dalam pandangan manusia. Konon media barat tidak mengenal berita yang benar atau yang salah, tetapi berita cerdas atau bodoh. Berita cerdas adalah yang dikemas sehingga tak nampak kedustaannya sedangkan berita bodoh adalah berita yang tampak kedustaannya.

Nampaknya usaha Al-A’war dan bala tentaranya betul-betul menuai panen raya. Begitu banyak generasi kita yang jatuh ke dalam pelukannya. Mereka mengikuti bujuk rayu Al-A’war, mendatangi umpannya, lalu menelan kailnya. La haula walaa quwwata illa billah.

Akan tetapi, tidak sepantasnya kita berputus asa, karena betapapun gigihnya usaha setan, bagi orang yang beriman dan konsisten dengan keimanannya, tipu daya setan itu lemah:
“Karena sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” (An-Nisa’: 76)

Menjauhi umpan setan, merusaknya hingga nampak maksud jahatnya di hadapan manusia adalah sebagian solusi dan benteng bagi kita dan umat Islam dari serangan Al-A’war dan bala tentaranya, Wallahul muwaffiq. (Majalah Ar Risalah)

 

 

Umum, keseharian, ISLAM, SELINGAN, PENDAPAT 7:04 am

Semua makhluk ciptaan Allah SWT dapat dibagi kepada dua macam, yaitu: makhluk yang gaib (al ghaib) dan makhluk yang nyata (as syahadah). Yang bisa membedakan keduanya adalah pancaindera manusia. Segala sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh salah satu pancaindera manusia digolong­kan kepada al ghaib, sedangkan yang bisa dijangkau oleh salah satu pancaindera manusia digolongkan kepada as syahadah.

Untuk mengetahui dan mengimani wujud makhluk gaib tersebut, seseorang dapat menempuh dua cara. Pertama, melalui berita atau infor­masi yang diberikan oleh sumber tertentu (bil-Akhbar).
Kedua, melalui bukti bukti nyata yang menunjukkan makhluk gaib itu ada (bil atsar).

Salah satu makhluk gaib Allah adalah malaikat.

Allâh menciptakan mahkluk-makhluk untuk menjalankan alam semesta ini. Di antara makhluk-makhluk Allâh, ada yang diciptakan nyata (yaitu meliputi seluruh zat dan energi fisik, termasuk makhluk-makhluk biologis), dan ada yang diciptakan ghaib . Hukum fisik real berlaku untuk mahkhuk nyata, dan hukum ghaib berlaku untuk makhluk ghaib. Tidak banyak yang dapat diketahui manusia tentang keghaiban, kecuali yang diinformasikan Allâh melalui rasul dan kitab-Nya.

Salah satu jenis makhluk ghaib adalah malaikat. Malaikat mengemban tugas-tugas tertentu dalam mengelola alam semesta. Jumlah malaikat sangat banyak [kita tidak akan membahas lagi kata jumlah dalam dimensi ghaib]. Beberapa nama malaikat yang perlu dikenal adalah :

Jibril (Ruhul Amin, Ruhul Qudus, Gabriel). Bertugas menyampaikan wahyu dari Allâh.
Mikail (Michael). Mengatur urusan pengaturan semesta, termasuk rizqi manusia.
Izrail (Malaikat maut). Mencabut ruh semua makhluk.
Israfil. Meniup sangkakala pertanda hari kiamat.
Raqib. Mencatat amal baik manusia.
Atid. Mencatat amal buruk manusia.
Munkar dan
Nakir. Menanyai manusia yang baru wafat.
Ridwan. Menjaga surga.
Malik. Menjaga neraka.

Maka untuk meyakini dan mengimani keber­adaan malaikat bisa ditempuh dengan dua cara.
Pertama, melalui berita (akhbar) yang disampaikan oleh firman Allah dalam Al-Qur‘an maupun sabda Rasulullah SAW dalam Hadits. Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur‘an dan hadits yang menjelaskan perihal malaikat. Karena kita mengimani kebenaran sumber (Al-Qur‘an dan Hadits), maka berita tentang malaikat pun kita imani adanya.

Kedua, kita dapat mengetahui dan mengimani wujud malaikat melalui bukti-bukti nyata yang ada di alam semesta yang menunjukkan bahwa malaikat itu benar-benar ada. Misalnya, Malaikat Maut yang bertugas mencabut nyawa manusia, dapat dibuktikan secara nyata dengan adanya peristiwa kematian manusia. Demikian pula dengan keberadaan Malaikat Jibril, bisa dibukti­kan secara nyata dengan adanya Al-Qur‘an yang disampaikannya kepada Nabi Muhammad SAW.

Secara etimologis (lughawiy), kata “malaikah” yang dalam bahasa Indonesia disebut “malaikat,” adalah bentuk jamak dari kata “malak,” berasal dari mashdar “al-alukah” yang berarti ar-risalah (misi atau pesan). Yang membawa misi disebut “ar-rasul” (utusan). Dalam beberapa ayat Al-Qur`an, malaikat juga disebut dengan “rusul” (utusan-utusan), misalnya pada surat Hud 69. Bentuk jamak lainnya dari kata “malak” adalah “mala`ik.” Dalam bahasa Indonesia, kata “malaikat” bermakna tunggal (satu malaikat), bentuk jamaknya menjadi “malaikat-malaikat.”

Secara terminologis (isthilahiy), makaikat adalah makhluk gaib yang diciptakan oleh Allah SWT dari cahaya (nur) dengan wujud dan sifat-sifat tertentu.

Tentang penciptaan malaikat, Rasulullah SAW menginformasikan bahwa malaikat diciptakan dari cahaya (nur), berbeda dengan jin yang diciptakan dari api (nar):

“Malaikat itu diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah diterangkan kepadamu semua” (HR. Muslim).

Tentang kapan waktu penciptaannya, tidak ada penjelasan yang rinci. Tapi yang jelas, malaikat diciptakan lebih dahulu dari manusia pertama (Adam AS) sebagaimana yang disebutkan oleh ­Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 30:

“Ingatlah ketika Rabb-mu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…” (Al Baqarah 30).

Sebagai makhluk ghaib, wujud Malaikat tidak dapat dilihat, didengar, diraba, dicium dan dicicipi (dirasakan) oleh manusia. Dengan kata lain tidak dapat dijangkau oleh panca­indera, kecuali jika malaikat menampil­kan diri dalam rupa tertentu, seperti rupa manusia. Dalam beberapa ayat dan hadits disebutkan beberapa peristiwa malaikat menjelma menjadi manusia, seperti:

“Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucap­kan: Selamat. Ibrahim menjawab: Selamatlah, maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth” (Hud 69 70).

“Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Qur`an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur maka ia mengadakan tabir (yang malindunginya) dari mereka, lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna” (Maryam 16 17).

Dalam suatu hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa malaikat Jibril pernah datang dalam rupa manusia menemui Rasulullah SAW –disaksikan oleh sahabat sahabat beliau, antara lain Umar bin Khaththab– dan menanyakan tentang Islam, Iman, Ihsan dan Sa’ah (Kiamat). Setelah malaikat itu pergi barulah Rasulullah SAW bertanya kepada Umar: “Ya Umar, tahukah engkau siapa yang ber­tanya tadi. Umar menjawab; “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya ia adalah Jibril yang datang mengajarkan ad diin kepada kalian.” (HR. Muslim).

Malaikat tidak dilengkapi dengan hawa nafsu, tidak memiliki keinginan seperti manusia, tidak berjenis lelaki atau perempuan, dan tidak berkeluarga. Hidup dalam alam yang berbeda dengan kehidupan alam se­mesta yang kita saksikan ini. Yang menge­tahui hakikat wujudnya hanyalah Allah SWT.

Jumlah malaikat sangat banyak, tidak bisa diperkirakan. Sesama mereka juga ada per­bedaan dan tingkatan tingkatan, baik dalam kejadian maupun dalam tugas, pangkat dan kedudukan. Allah menyebutkan bahwa ada malaikat yang bersayap dua, tiga dan empat:

“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Fathir 1).

Dalam suatu hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah melihat Jibril bersayap enam ratus: “Rasulullah SAW melihat Jibril ‘alaihis salam bersayap enam ratus” (HR. Muslim).

Perbedaan jumlah sayap tersebut bisa saja berarti perbedaan kedudukan, pangkat atau perbedaan kemampuan dan kecepatan dalam men­ja­lankan tugas. Sedangkan bagaimana bentuk sayap tersebut tentu saja kita tidak bisa mengetahuinya dan memang tidak perlu berusaha untuk menyelidikinya karena –seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya– malaikat adalah makhluk gaib (immaterial) yang hakikatnya hanyalah Allah SWT yang mengetahuinya. (Sumber majalah Tabligh & Isnet)

Wallahu a’lamu bis-shawab.

 

Sumber:  http://swaramuslim.net/

Umum, REFLEKSI, keseharian, ISLAM, PENDAPAT 7:01 am

Memang enak mengumbar lisan, tapi jangan tanyakan akibatnya. Hanya sepatah kata, tanpa disadari bisa menjadi sebab bagi seseorang untuk masuk ke jurang neraka yang amat dalam. Nabi SAW bersabda:
“Sesungguhnya, ada seseorang yang berkata sepatah kata saja di mana dia menganggap tak ada dampaknya namun itu (menjadi sebab) dia terlempar ke dalam neraka sejauh tujuh puluh musim.” (HR. at-Tirmidzi)

Kebanyakan orang yang masuk neraka juga karena lisannya, seperti sabda Nabi SAW:
“Adakah yang menenggelamkan hidung (wajah) manusia ke dalam neraka selain dari hasil perbuatan lisan mereka?” (HR. Ahmad)

Sabda Nabi SAW tersebut menunjukkan bahwa lisan adalah penyebab yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam neraka, meskipun dia seorang muslim. Namun, siksa yang menimpa muslim pasti ada akhirnya.

Para sahabat yang memahami betapa dahsyatnya bahaya lisan, sangat berhati-hati menjaga lisannya. Ibnu Mas’ud ra. berkata: “Tiada yang lebih layak untuk banyak dipenjarakan selain dari lisan saya.”

Iblis juga memahami hal ini. Menjerumuskan manusia ke dalam dosa lisan menjadi wilayah garap utamanya. Maka diangkatlah seorang anaknya menjadi pasukan khusus penyebar gosip. Qatadah menyebutkan, Iblis memiliki anak bernama al-Masuth yang bertugas khusus untuk membuat gosip, menyebarkan kabar burung yang tak jelas asalnya dan belum tentu kebenarannya, sekaligus menyebarkan kedustaan. Al-Masuth memperalat orang-orang yang hobi menyebar gosip menjadi perpanjangan lidahnya.

Dosanya Sesuai dengan Andilnya

Gosip berpotensi besar merusak kehormatan muslim, merapuhkan ukhuwah Islamiyah dan bahkan memicu terjadinya peperangan antara kaum muslimin. Seperti terjadi pada persitiwa ‘haditsul ifki’, berita dusta, di mana banyak rumor berkembang bahwa ummul mukminin Aisyah telah berbuat tidak senonoh dengan sahabat Shafwan. Akan tetapi Allah membersihkan nama beliau ra, sekaligus mengancam pelakunya dengan firman-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (QS. an-Nuur: 19)

Orang-orang yang menyebarkan gosip tidak berada pada satu level dosa, tetapi tergantung besar kecil andilnya dalam menyebarkan gosip. Allah berfirman tentang orang-orang yang ikut andil dalam haditsul ifki:
“Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS. an-Nuur: 11)

Cara Kerja Setan Penyebar Dusta


Untuk menyebarkan berita bohong, setan memiliki cara yang halus dan licik. Dia tidak membisikkan ke hati manusia yang menjadi perpanjangan lidahnya untuk menyebarkan berita yang seluruhnya dusta. Tetapi dia menyelipkan berita yang benar di tengah tumpukan segudang kedustaan. Sehingga ada alasan untuk membela diri bahwa yang dikatakannya tidak semuanya salah, tapi ada juga yang benar.

Alasan lain, pihak yang digosip tidak marah, bahkan merasa senang. Seperti terjadi hari ini, banyak artis malah bangga menjadi obyek gosip, meski isinya miring. Kadang-kadang justru membuat sensasi agar digosipkan demi mendongkrak kete-narannya. Seperti pepatah Arab ‘bul zam-zam fa tu’raf’, kencingilah zam-zam niscaya engkau akan terkenal. Alasan ini tidak merubah status larangan menggosip orang, menceritakan semua kabar yang didengar. Nabi SAW memvonis orang yang gemar menceritakan setiap kabar yang didengarnya dengan predikat ‘pendusta.’ Beliau SAW bersabda:

“Cukuplah seseorang dikatakan dusta jika dia menceritakan setiap apa yang dia dengar.” (HR. Muslim)

Mengapa orang yang menceritakan semua yang didengarnya divonis sebagai pendusta? Karena tidak setiap kabar yang sampai kepadanya itu fakta yang benar-benar terjadi. Besar kemungkinan bahkan pasti ada diantaranya yang ternyata dusta. Jika dia menceritakan semua yang didengarnya, berarti ada juga berita dusta yang dia ceritakan kepada orang lain, maka jadilah dia pendusta.

Di sisi lain, ada informasi yang meski benar namun tidak boleh diceritakan kepada orang lain. Seperti berita tentang aib maupun rahasia orang lain. Inilah yang disebut dengan ghibah. Nabi SAW bersabda: “Tahukah kalian, apakah ghibah itu? Ghibah adalah ketika engkau menceritakan tentang saudaramu apa yang tidak dia sukai?” Para sahabat bertanya: “Bagaimana menurut Anda jika apa yang kami katakan memang ada pada saudaraku itu?” Beliau menjawab, “Jika apa yang kamu katakan benar, maka berarti engkau telah menghibahnya, dan jika yang kamu katakan tidak ada padanya maka berarti engkau telah berdusta tentangnya.” (HR. Muslim)

Kegiatan ‘memakan bangkai’ saudaranya dan mengumbar gosip, menyebarkan kabar burung dan rumor dianggap sebagai menu yang renyah oleh kebanyakan orang. Ada yang bertujuan untuk menjatuhkan kehormatan, sekedar mengisi waktu atau untuk menghibur diri:

“Dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja, padahal di sisi Allah adalah besar.” (QS an-Nuur: 15)

(Abu Umar Abdillah/Majalah Ar Risalah)