Kumpulan Artikel

SHARING, REFLEKSI, SELINGANNovember 29, 2009 9:25 am

GROUP di Facebook ini {http://www.facebook.com/group.php?gid=125113162079} ditulis bukan untuk mengarahkan pembaca untuk bertindak anarkis dalam menyikapi sikon politik saat ini. Tetapi untuk Mengajak kita semua berpikir cerdas dan ilmiah/idealis dan jika memang dianggap perlu, melakukan perubahan-perubahan kearah yang lebih baik, intelek, ilmiah dan lebih bermoral.

———————-

Dua seremonial kenegaraan sudah kita lalui. Pemilu dan pilpres sudah dilaksanakan. Yang tertinggal hanya tuntutan rakyat atas janji-janji kampanye persuatif para kandidat, serta sisa-sisa konflik yang terjadi antar parpol dan massa pendukung. Terlepas dari apakah prosesi pemilu dan pilpres (pesta rakyat) itu sukses atau tidak, konstitusional atau tidak, dan apakah janji-janji itu terealisasi atau tidak. Yang penting untuk dipertanyakan adalah "sudah benarkah kedaulatan negeri ini?" Berawal dari DPT yang bermasalah, hingga cara-cara kandidat memperoleh suara (ingat, suara belum tentu dukungan murni masyarakat). Maka penting bagi kita untuk mempertanyakan kembali "sudah benarkah kedaulatan tertinggi itu ditangan rakyat? Untuk apa semua itu dilakukan? Benarkah dilakukan atas dasar dan tujuan yang luhur atau hanya sekedar mengejar popularitas untuk menguasai dan menunggangi publik? Jika memang dilandasi tujuan luhur, tujuan luhur apa yang dijadikan dasar dan apa sasaran yang ingin di capai? Benarkah demi mencapai keluhuran bersama atau hanya sekedar keluhuran pribadi dan golongan? Miris memang, ketika kita melihat hanya segelintir orang/tokoh yang memang benar-benar memiliki visi-misi dan jiwa kenegaraan. Sementara yang lainnya hanya menjadi ikon/boneka pelengkap gedung-gedung pemerintahan dan parlemen. Oleh karena itu, sudah sewajarnya rakyat menggugat esensi kedaulatan negeri ini. Apakah dukungan dan kepatuhan itu hanya semata-mata menjadi sesembahan kepada penguasa dan parlemen? Dalam ajaran agama, jika patuh dan taat akan mendapat ganjaran pahala dan syurga. Dan jika tidak patuh dan tidak taat akan diganjari dosa dan neraka. Lalu, jika patuh dan taat kepada pemerintah dan parlemen akan mendapatkan ganjaran apa? Apakah hanya cukup dengan janji-janji kosong (cek kosong)? Tidak, itu pembodohan dan penindasan manusia oleh manusia.

 

Seharusnya ada kemudahan hidup di bidang ekonomi, lapangan kerja, pendidikan, keamanan, kepastian hukum dan sarana prasarana (pol-ek-sos-bud-han-kam-rata). Potongan sila ke 4 pancasila mengatakan "kerakyatan yang dipimpin…dst…" sudah tidak terasa hikmat dan bijaksana lagi. Itu disebabkan oleh idealisme dan ideologi yang tidak tertanam kuat dalam diri perwakilan masyarakat. Dan itu dapat dilihat dari sikap masyarakat yang tidak panatis dan tidak konsisten dengan satu tokoh/figur. Itu dikarenakan oleh sikap ikut-ikutan dan terintimidasi ketika memberikan dukungan. Konspirasi parpol yang ambisius (mulai dari tingkat pusat dan provinsi telah memberikan imbas sampai ke daerah-daerah) cenderung melahirkan tindakan politik kotor yang penuh tipu daya. (Kejahatan terorganisir memang sangat berbahaya dan mengancam kebaikan yang tidak terorganisir). Akibat dari konspirasi ambisius itu, konstitusi dan kesakralan undang-undang hanya menjadi jilidan kertas yang isinya tidak dipegang dengan teguh. Era konstitusi dan undang-undang mulai tereliminasi oleh kekuatan uang (materi). Itu berarti sistim feodalisme gaya baru atau neokolonialisme mulai bercokol di negeri ini. Reformasi memang sudah lama berjalan. Dan jika mau mengakui dengan jujur, pemerintah di era reformasi ini, belum menemukan sistim/pola pemerintahan yang kokoh dan konsisten (good goverment). Hal ini dapat dilihat pada begitu keroposnya tatanan dan fondasi-fondasi ekonomi nasional dan begitu lemahnya sistim pemilu yang lalu. Yang pada akhirnya menciptakan pemerintahan yang penuh dengan konflik, korup, kurang produktif, tidak efisien dan tidak ekonomis. Lalu saya teringat ada seorang teman yang menyebutkan istilah "artis-artis senayan". Hm…itu berarti parlemen (baik pusat maupun daerah) hanya dianggap sebagai penghibur masyarakat saja, tidak lebih dari itu. Lalu, kemanakah fungsi perwakilan rakyat dan majelis yang selayaknya memimpin dengan penuh hikmat dan kebijaksanaan itu? Negara yang seharusnya menjadi solusi bagi rakyat, melalui aparatur dan politisinya yang kurang bermoral justru menciptakan konflik dan melegitimasi penyimpangan dan kecurangan yang dilakukan oleh aparatur negara itu sendiri.

Dan jika ada orang yang mengkritisi penyimpangan-penyimpangan itu, disebut sebagai aliran kiri. INGAT! Justru ada orang-orang yang mengaku aliran kanan bertindak lebih kiri dan busuk! Retorika-retorika yang diberikan tidak lebih dari untuk mengejar kekuasaan dan memperbudak masyarakat! Ini memang na’if bagi sebuah sistim kenegaraan yang katanya moralis, ideologis dan Bermartabat. Lalu, apakah memang begitu lemahnya dan tidak berartinya kedaulatan yang diberikan oleh masyarakat kepada legislative dan eksekutif tersebut? Karena itulah, tulisan rakyat mengugat kedaulatan negara ini disusun. Dalam sebuah buku saya temukan, ada filosofi tentang anjing dan harimau. Anjing adalah binatang pemburu yang sangat kompak disaat memburu mangsanya. Namun, ketika hasil buruan tersebut diperolehnya, ada yang membawa kabur demi kepentingan diri sendiri. Dan malah ada yang saling berebutan. Lain halnya dengan harimau, dia biasanya memburu mangsanya seorang diri, namun ketika mendapatkan tangkapan, dia paling baik dan royal dalam membagi hasil tangkapannya. Dua filosofi hewan pemburu ini, identik dengan sifat dan perilaku politisi, parlemen dan pemerintah. Akan tetapi sebagai "hewan yang berfikir", manusia seyogyanya lebih baik dibanding sifat dua jenis hewan tersebut. Jangan bicara tentang SK, warna plat kendaraan, sepatu pansus, jas dan dasi, pulpen, dan kantor tempat kerja. Itu semua hanyalah atribut yang ditempelkan pada jasad yang suatu waktu akan mati, dikubur dan dimakan cacing tanah. Jika memang merasa sebagai politisi yang berjiwa negarawan, bicaralah tentang kebenaran, keluhuran dan pengabdian pada tanah air. Seberapa banyak sumbangsih yang diberikan kepada rakyat? Bukan sebaliknya, berapa banyak rakyat yang bisa dibohongi dan ditunggangi? Ini sungguh jauh berbeda dengan ideologi dan idealisme sebuah bangsa yang bermartabat dan bermoral luhur.

GNU/ LINUX, SELINGAN, WACANA, BeritaNovember 11, 2009 11:16 am

Koala Terancam Punah 30
Tahun Mendatang

SIDNEY - Kehidupan binatang
khas Australia, Koala
terancam punah dalam 30
tahun mendatang.
Berkurangnya habitat koala
akibat aktivitas perusakan
lingkungan oleh manusia
dituding sebagai ancaman
utama binatang tersebut.
Berdasarkan data Australia
Koala Foundation (AKF)
jumlah koala turun 50 persen
sejak enam tahun terakhir.
Pembangunan rumah dan
gedung perkantotan, serta
perubahan iklim di sejumlah
wilayah menyebabkan
banyak koala yang mati.
Selain itu, penyebaran
penyakit Chlamydia juga
diidentifikasi sebagai
penyebab berkurangnya
jumlah koala.
Jumlah koala di Australia,
berdasarkan survey hingga
saat ini, tinggal 43 ribu.
Padahal dalam survei
terakhir enam tahun lalu
jumlahnya mencapai 100 ribu.
“Jika anda tetap menebang
pohon terus menerus, maka
dalam 30 tahun ke depan
anda takkan dapat melihat
koala lagi,” kata CEO AKF
Deborah Tabar seperti
diberitakan BBC, Rabu
(11/11/2009).
Penebangan pohon akan
menyulitkan koala untuk
mencari sumber makanan
utama, daun eucalyptus.
Akibatnya banyak koala yang
kekurangan nutrisi akibat
minimnya sumber makanan.

Sumber: okezone.com

Umum, ISLAM, SELINGAN, WACANASeptember 30, 2009 7:39 am

Warga Israel menunjukkan reaksi beragam berkaitan dengan pidato Obama

TEPI BARAT – Penjajahan yang dilakukan Israel teradap wilayah Palestina yang terus berlanjut hingga 42 tahun menyusul perang 6 hari pada tahun 1967 merupakan hal yang memalukan. Juru runding Palestina, kata Saeb Erakat pada hari Jumat kemarin.

“Sangat disayangkan, masyarakat internasional masih terus mendiamkan penjajahan kolonial yang paling mengerikan selama 42 tahun. Penjajahan tersebut terus berlanjut dengan pembangunan tembok pembatas dan pemukiman (Yahudi),” kata Erakat kepada wartawan.

Dia berbicara pada peringatan perang Arab-Israel, yang pecah pada tanggal 5 Juni 1967. Selama peperangan 6 hari tersebut, Israel merampas Tepi Barat, termasuk Yerusalem timur, Jalur Gaza, semenanjung Sinai dari Mesir dan dataran tinggi Golan dari Syiria.

Hingga saat ini, empat puluh persen wilayah Tepi Barat ada dibawah kendali penjajah kolonial kekaisaran Israel, kata Erakat.  

Dia mengatakan bahwa sejak Israel menjajah tanah milik Palestina, sebanyak 23.000 unit rumah Palestina diratakan dengan tanah, dan lebih dari 8.000 orang Palestina diusir dari Yerusalem timur.

Sebagai tambahan, dia mengatakan bahwa Israel telah menangkap lebih dari 650.000 warga Palestina dan 4.000 orang lainnya dibantai sejak dimulainya intifada kedua pada tahun 2000.

Erakat menyanjung pidato Barack Obama yang ditujukan kepada dunia Muslim dari Kairo, dimana presiden AS tersebut mengekspresikan dukungannya terhadap berdirinya negara Palestina merdeka, dan dia dengan tajam mengkritik reaksi berlebihan pihak Israel atas pidato tersebut.

“Israel… tidak mengatakan sepatah katapun mengenai solusi dua negara atau pembekuan pembangunan pemukiman Yahudi ilegal,” kata Erakat, merujuk pada kebijakan AS yang diusung oleh Obama.

Para komentator di surat kabar Israel menginterpretasikan pidato presiden AS Barack Obama kepada dunia Muslim sebagai penanda yang jelas bahwa ada pergeseran hubungan antara AS-Israel, dan kemungkinan mengarah kepada akhir dari hubungan mesra antara kedua negara tersebut.

Seorang penulis menyerukan kepada pemerintah Israel untuk segera beradaptasi dengan angin baru yang dihembuskan dari Washington jika tidak ingin tersapu oleh badai, sementara sejumlah penulis lainnya mengatakan bahwa presiden AS tersebut telah memberikan sinyal bahwa Israel harus menghormati komitmen yang telah dibuat untuk mencapai perdamaian dengan bangsa Palestina.

Setidaknya satu orang penulis menginterpretasikan hal tersebut sebagai tanda dari AS bahwa perdana menteri Benjamin Netanyahu harus melakukan reshuffle kabinet. Mendepak sejumlah menteri yang menghalangi perdamaian seperti misalnya Lieberman, dan menunjuk menteri baru.

Sejumlah penulis memandang hal tersebut sebagai kata-kata yang positif dari pemimpin AS tersebut, sementara sebagian lainnya memilih untuk mengabaikan saja hal tersebut, dan satu orang menganggap Obama sebagai seorang penjilat.

Sementara itu, seorang warga Palestina ditembak mati oleh polisi Israel dalam sebuah aksi unjuk rasa di desa Niin, Tepi Barat, unjuk rasa tersebut digelar untuk memprotes tembok pemisah yang dibangun oleh Israel.

Aqel Srur, 35, menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah ditembak serdadu Israel. Butiran timah panas tersebut melesak masuk dan menembus jantungnya, demikian menurut pihak medis.

Namun juru bicara militer Israel menyangkal dan berkilah bahwa pasukan Israel hanya bermaksud membubarkan “kerusuhan massa” – walaupun semestinya jika hanya ingin membubarkan kerumunan massa, yang boleh dipergunakan hanyalah peluru karet, bukan peluru tajam.

Seorang pengunjuk rasa lainnya yang beru berusia 15 tahun mengalami luka-luka karena dianiaya oleh serdadu Israel, demikian menurut pihak medis.

Sekitar 200 oarng, termasuk warga Palestina, Israel dan aktivis perdamaian, mengambil bagian dalam unjuk rasa tersebut. Para aktivis memprotes pembangunan pembatas Israel di Tepi Barat. Nyaris setiap Jumat mereka harus berbentrokan dengan serdadu Israel, dan hal tersebut telah berlangsung selama lebih dari dua tahun.

Israel mengatakan bahwa tembok pemisah sepanjang 723 kilometer (454 mil) yang terbuat dari besi baja dan beton serta dilengkapi dengan pagar dan kawat berduri tersebut diperlukan untuk “keamanan”. Sementara rakyat Palestina memandang pendirian tembok tersebut sebagai upaya pencaplokan tanah oleh Israel untuk mengklaim tanah Palestina.


Dikutip dari http://swaramuslim.net/berita/more.php?id=5819_0_12_0_M

Umum, REFLEKSI, ISLAM, SELINGANMarch 18, 2009 3:16 am

Muhammad SAW: The Super Leader and Super Manager
Oleh : Dito Anurogo, S. Ked.

20-Apr-2008, 14:45:04 WIB - [*www.kabarindonesia.com*]

KabarIndonesia – Resensi Buku dengan judul: Teladan Sukses dalam Hidup &
Bisnis, Muhammad SAW: The Super Leader Super Manager. Buku itu dikarang oleh
Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec (Nio Gwan Chung). Penerbitnya adalah
Tazkia Multimedia & ProLM Centre dan kini beredar pada Cetaka III Oktober
Tahun 2007 dengan tebal 318 Halaman + xvi, berikut resensi saya.

Penilaian: secara umum ISTIMEWA dan LUAR BIASA Enak dibaca, gaya
bahasanya mudah dipahami oleh berbagai kalangan, mulai dari cendekiawan,
politikus, seniman, orang awam hinggaanak kecil sekalipun. Bagi para
orangtua (muslim), buku ini amat cocok, misalnya sebagai cerita pengantar
(dongeng) sebelum tidur agar putra-putrinya dapat meneladani Rasulullah SAW
sejak dini.

Kelebihan: buku ini memiliki pembahasan dan uraian yang amat lengkap dan
menyentuh sisi keteladanan Rasulullah SAW di (hampir) semua aspek kehidupan,
dapat memperkaya perbendaharaan kata (vocabulary) Anda karena di bagian
tertentu ada kutipan-kutipan dalam bahasa Inggris, menggunakan 88 referensi
yang amat lengkap termasuk software hadits dan internet, edisi Lux, Full
Colour, Hard Cover, dilengkapi dengan apendix (piagam madinah dan meluruskan
riwayat pernikahan Rasulullah SAW dengan Aisyah ra), index, tabel, grafik,
peta yang warna-warni, dan pita pembatas halaman.

Kekurangan: harga relatif mahal, namun jika dibandingkan dengan manfaatnya
... harga ini "terlalu murah"

Pujian untuk buku ini:
Buku pertama yang ditulis cendekiawan Indonesia yang mengkaitkan secara padu
dan sistematis antara suri tauladan Muhammad SAW dengan disiplin leadership
dan manajemen modern. Satu pencerahan yang dinanti Indonesia dan dunia.
(DR. Hidayat Nur Wahid, Ketua MPR-RI)

Buku ini harus dibaca oleh Umat Muslim dan Tionghoa di Indonesia, karena
bisa memberikan inspirasi Kebangsaan Nasional. Indonesia dengan penduduk
Muslim terbesar di dunia dan suku Tionghoa terbesar diluar "Greater China"
sudah seharusnya merajut kembali Jalan Sutera di Tanah Air tercinta. Karena
itulah, buku ini menjadi penting sekali. (Hermawan Kartajaya, Mark Plus.
Inc.)

"*Muhammad is* THE MOST successful of all Prophets and religious
personalities
" (*The Encyclopaedia Britanica*)

Buku yang istimewa dan spesial ini mengkaji perjalanan hidup Rasulullah SAW
dalam 8 bidang utama:
1. self development atau personal leadership
2. bisnis dan kewirausahaan
3. kepemimpinan keluarga
4. dakwah
5. sosial dan politik
6. sistem hukum
7. pendidikan
8. strategi militer

Di dalam buku ini, Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec, selaku penulis,
mencoba melihat Rasulullah SAW dengan kaca mata baru yang lebih luas yaitu
bukan saja mengakui Rasulullah SAW sebagai Nabi dan Rasul tetapi juga
menempatkannya sebagai pemilik traits of leadership dan models of
management. Untuk mudahnya, traits of leadership Rasulullah SAW dibuat dalam
satu model berbentuk cakram yang terdiri dari 8 bidang utama, yaitu: self
development atau personal leadership, bisnis dan kewirausahaan, kepemimpinan
keluarga, dakwah, . sosial dan politik, sistem hukum, pendidikan, dan
strategi militer.

Secara umum, buku ini dibagi menjadi 4 bagian utama yang terdiri dari 12
bab. Bagian I terdiri dari 2 bab yaitu bab 1 sebagai Mukaddimah dan bab 2
berisi pembacaan terhadap konsep-konsep manajemen dan leadership modern.
Bagian II memuat satu bab yakni tentang bab 3 berupa survey of literature
terhadap berbagai tulisan dan kajian klasik tentang Muhammad SAW. Tujuan
utama dari bagian II adalah untuk menunjukkan betapa banyaknya suri teladan
dari Nabi Muhammad SAW yang selama ini belum tergali atau tersentuh oleh
literatur, baik dari luar maupun dari dalam negeri.

Bagian III berisi 8 bab yang merupakan isi pokok dari buku ini.

Bagian IV terdiri dari 12 bab yang merupakan bab penutup berupa epilog. Di
bagian akhir buku disertakan pula appendix, index, dan daftar pustaka.

Mari kita sedikit "menyelami" buku ini dari bab 1 hingga bab 12.

Bab 1: Belajar Kepemimpinan dan Manajemen dari Teladan Terbaik
*
Disini terungkap bahwa krisis terbesar dunia saat ini adalah krisis
keteladanan (hlm 3). Dunia (Islam), terutama Indonesia, sangat merindukan
pemimpin politik yang memiliki visi, kompetensi, dan compassionate untuk
memajukan dirinya (hlm 5).

Diungkap pula tentang rabun jauh orientalis, dintaranya adalah pernyataan
Dante Alighieri (1265-1321): "Muhammad adalah pemuka dari jiwa-jiwa terkutuk
yang membangkitkan perpecahan dalam agama dan mengembangkan agama-agama
palsu." (hlm 8) Satu di antara sebab ketidakmampuan kita mengambil suri
tuladan Rasulullah SAW secara holistik dan komprehensif adalah karena adanya
distorsi image yang muncul dari ekses studi para orientalis. Tidak dapat
dipungkiri bahwa orientalis memiliki etos kajian dengan kedalaman dan
disiplin metodologi yang tinggi (hlm 6).

Dibahas pula tentang rabun dekat kaum muslim.
Banyak di antara kita yang memposisikan Rasulullah SAW terlalu melangit,
tinggi, dan jauh di atas sehingga mendekati posisi dewa atau anak dewa.
Akibatnya beliau menjadi "asing" bagi kita dan tidak bisa ditiru dan
dijadikan suri tauladan lagi. Karena dengan demikian dimensinya menjadi
berbeda antara dimensi kita manusia biasa dan beliau sebagai "manusia
langit" (hlm 9).

Terungkap pula fakta tentang banyaknya ekonom Islam yang telah dilupakan
Barat dan umat Islam sendiri (hlm 11), antara lain:

1. Ibn Khaldun (1332-1404 M)
2. Al-Maqrizi (1364-1441 M)
3. Abu Ubaid (838 H)
4. Abu Yusuf (731-798 H)
5. Muhammad Ibn Hasan al-Saybani (750-804 H)
6. Nidzam al-Mulk al-Tusi (1018-1099 H)
7. Ibn Taymiyah (1263-1329 M)
8. Ibn Qayyim al-Jawziyah (1292-1350 M)
9. Al-Ghazali (1055-1111 M)
10. Kahn al-Dahlawi (1703-1762 M)

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika traits of leadership dan
management models Muhammad SAW masih asing bagi umatnya apalagi umat
beragama lain.

*Bab 2: Jejak-jejak Muhammad SAW dalam Teori Leadership dan Management
Modern


Disini diungkapkan fakta bahwa hampir semua teori kepemimpinan ada pada
Muhammad SAW (hlm 19-25). Misalnya: empat fungsi kepemimpinan yang
dikembangkan oleh Stephen Covey:
1. perintis (*pathfinding*)
2. penyelaras (*aligning*)
3. pemberdaya (*empowering*)
4. panutan (*modeling*)

Begitu pula karakteristik Muhammad SAW dapat ditemukan pula di dalam
sifat-sifat dasar kepemimpinan menurut Warren Bennis (1994) dalam "*On
Becoming a Leader*", antara lain:
1. Visioner (*guiding vision*)
2. Berkemauan kuat (*passion*)
3. Integritas (*integrity*)
4. Amanah (*trust*)
5. Rasa ingin tahu (*curiosity*)
6. Berani (*courage*)

Muhammad SAW juga mempunyai keterampilan-keterampilan (*skills*) yang
dirumuskan oleh Burt Nanus dan James O’Toole berikut ini:

Megaskills of Leadership by Burt Nanus:
1. Berpandangan jauh ke depan
2. Menguasai perubahan
3. Disain organisasi
4. Pembelajaran antisipatoris
5. Inisiatif
6. Penguasaan interdependensi
7. Standar integritas yang tinggi

James O’Toole’s Characteristics of Values-Based Leaders:
1. Integrity
2. Trust
3. Listening

Bab 3: Khazanah Biografi Muhammad SAW

Disini disebutkan sumber-sumber penulisan sejarah Rasulullah SAW, yaitu:
1. Al-Quran Al-Karim
2. Kitab tafsir dan hadits Rasulullah
3. Buku-buku al-maghazi wa al-siyar
4. Kitab-kitab al-dala’il
5. Buku-buku syama’il
6. Buku-buku sejarah umum
7. Buku-buku al-haramayn
8. Buku-buku sastra dan bahasa

Bab 4: Self Development & Personal Leadership

Disini dikemukakan tentang pembentukan self leadership Rasulullah SAW di
waktu kecil hingga dewasa, pentingnya self leadership, self leadership dan
self discipline, hubungan self leadership dan orgnizational leadership, self
leadership
dan stress management, dan ditutup dengan mulailah dari dirimu
sendiri (hlm 63-73).

Dikemukakan pula tentang esensi dari leadership (hlm 71) adalah:
1. mengenali (*recognizing*),
2. menemukan (*discovering*),
3. dan mengidentifikasi diri yang sesungguhnya.

Leadership adalah bagaimana seseorang mempunyai 1. kebiasaan proaktif dan
kreatif,
2. suatu cara berpikir (*way of thinking*),
3. merasakan (*feeling*), dan
4. memfungsikan (*positioning*) sebuah cara hidup (*way of life*), dan cara
menjadi (*way of being*) yang transformatif (hlm 71-72).

Disini (hlm 72) dikemukakan pula tentang tahapan pengelolaan kinerja
diri (*self
performance*):
1. Asma al-Husna, Zikir, Shalat, Tafakur, Puasa, I’tikaf, Muhasabah
2. Self Discovering
3. Self Motivation
4. Self Energizing
5. Peak Performance

Bab 5: Muhammad SAW sebagai Pemimpin Bisnis dan Entrepreneurship

"*Money is not number one capital in business,
the number one capital is trust*"

Disini diceritakan masa kecil Muhammad SAW dalam membentuk jiwa wirausaha,
fungsi leadership penggembala, perjalanan dagang Muhammad SAW, peta
pasar-pasar Arab yang pernah disinggahi Muhammad SAW, 13 pusat perdagangan
Arab di masa Jahiliyah, bisnis Muhammad SAW setelah menikah, perkembangan
karir bisnis Muhammad SAW, contoh perdagangan oleh Muhammad SAW, kekayaan
Muhammad SAW, posisi kehidupan ekonomi Muhammad SAW, sikap Muhammad SAW
terhadap harta, dan wafat Muhammad SAW dengan penuh kesederhanaan (hlm
77-96).

Bab 6: Muhammad SAW sebagai Pemimpin Keluarga yang Harmonis

Disini diungkapkan fakta yang jarang disentuh buku-buku Islam kebanyakan,
yaitu tentang maskawin Muhammad SAW (hlm 100).

Muhammad SAW menikahi Khadijah pada tahun 595 M dengan 20 ekor unta muda
sebagai maskawin (sumber lain menyebutkan ditambah dengan emas 12,5 ons dari
harta Muhammad SAW sendiri).

Adapun putra-putri Rasulullah dengan Khadijah (hlm 101) adalah:
1. Qasim
2. Zainab
3. Abdullah
4. Ruqayah
5. Ummu Kultsum
6. Fathimah

Mengapa tidak ada putra Muhammad SAW yang dapat bertahan hidup hingga
dewasa? Apa hikmahnya? Ini dapat pembaca temukan uraiannya di halaman 102.

Yang menarik lagi, ada penjelasan yang rasional disertai grafik tentang usia
Rasulullah SAW saat monogami dan poligami (hlm 105-106). Juga dua belas
istri beliau yang diterangkan dengan tabel yang warna-warni (hlm 108-109)
sehingga para pembaca pastilah tertarik untuk membaca buku ini hingga
selesai.

Rasulullah SAW seorang ayah teladan, mertua yang pengertian, kakek
penyayang, juga suami teladan yang amat mesra dan romantis dengan para
istrinya. Mandi bersama hanyalah salah satu contoh dari 23 bentuk kemesraan
dan romantisnya Rasulullah SAW dengan para istrinya (hlm 111-121).

Bab 7: Kepemimpinan Dakwah Muhammad SAW

Yang menarik dari bab 7 adalah sifat-sifat kepemimpinan keagamaan Muhammad
SAW (hlm 138-142):
1. Disiplin wahyu
2. Memberikan teladan
3. Komunikasi yang efektif
4. Dekat dengan umatnya
5. Pengkaderan dan pendelegasian wewenang

Bab 8: Muhammad sebagai Pemimpin Sosial-Politik

Disini dijelaskan tentang keunikan politik Muhammad SAW di zamannya,
strategi Muhammad SAW dalam membidik Madinah sebagai pusat Islam, saat
hijrah Muhammad SAW, kondisi awal Madinah, segmentasi warga Madinah,
pergantian nama dari Yatsrib ke Madinah, Tahapan Pengembangan negara
Madinah, juga keadaan muslim di Makkah dan Madinah.

Kebijakan Sosial Politik yang Dilakukan Muhammad SAW pada periode Madinah
antara lain: mempersaudarakan muhajirin dan anshar, membuat kesepakatan
antarberbagai faksi yang ada di madinah. Kesepakatan ini disebut sebagai
Piagam Madinah. Adanya kesetaraan bagi semua warga, persoalan pendidikan,
lima makna kemenangan perjanjian Hudaibiyah (hlm 152-160). Disebutkan pula
delapan utusan diplomatik Muhammad SAW beserta misi mereka (hlm 161-2).

Di bidang Politik Ekonomi, Muhammad SAW telah melarang riba, gharar,
ihtikar, tadlis, dan market inefficiency (hlm 163-164). Beliau juga sangat
memperhatikan sistem upah (hlm 164) dan memiliki sistem kebijakan fiskal
yang unik di zamannya (hlm 164-177).

Diuraikan pula tentang penerimaan negara Madinah antara lain berasal dari:
1. zakat
(berbentuk uang tunai, hasil pertanian, dan binatang ternak)
2. khums (harta rampasan perang)
3. jizyah (dibayarkan oleh warga non-Muslim khususnya ahli Kitab
untuk jaminan perlindungan jiwa, properti, ibadah, dan bebas
dari kewajiban militer. Kelompok non-Muslim yang pertama kali
setuju membayar jizyah kepada Rasulullah SAW adalah kaum
Kristen Najran)
4. Kharaj (pajak tanah)
5. Sumber Penerimaan Lain, misalnya:
a. ‘Usyr: bea impor yang dikenakan kepada semua pedagang,
dibayar hanya sekali dalam setahun dan hanya berlaku
terhadap barang yang nilainya lebih dari 200 dirham.
b. pembayaran tebusan atas tawanan perang.
c. sumber penerimaan sekunder lainnya:
c.1. pinjaman-pinjaman
c.2. rikaz: harta karun yang ditemukan pada periode sebelum
Islam.
c.3. amwal al-fadhla: harta yang berasal dari kaum Muslim yang
meninggal tanpa ahli waris atau berasal dari barang-barang
seorang Muslim yang meninggalakan negerinya.
c.4. wakaf: harta benda yang didedikasikan kepada umat Islam
ikhlas semata karena Allah SWT.
c.5. nawa’ib: pajak yang jumlahnya cukup besar yang
dibebankan kepada kaum Muslim yang kaya untuk
menutupi pengeluaran negara selama masa darurat.
Hal ini pernah terjadi di masa perang Tabuk.
c.6. Bentuk lain shadaqah seperti qurban dan kaffarat.

Bab 9: Muhammad SAW sebagai Pemimpin Sistem Pendidikan Holistik

Dalam bab ini (hlm 181-213) dibahas tentang: perhatian Rasulullah SAW
terhadap pendidikan, Rasulullah SAW sebagai Living Model, lembaga-lembaga
pendidikan di masa Rasulullah SAW, lembaga-lembaga pendidikan pasca
Rasulullah SAW, tuntunan Rasul tentang sifat-sifat guru, dua puluh metode
dan teknik pengajaran.

Sebelas sifat mulia yang patut diamalkan oleh para guru (hlm187-193) yaitu:
ikhlas, jujur, walk the talk (melakukan semua yang dikatakan), adil dan
egaliter, berakhlak mulia, tawadhu, berani (dalam mengakui kesalahan dan
kekurangan diri, mengungkapkan kebenaran, menegur perilaku siswa yang
bermoral rendah atau berakhlak buruk), berjiwa humor (tidak berlebihan dalam
bergurau), sabar dan menahan amarah, menjaga lisan, mampu bersinergi dan
bermusyawarah.

Diuraikan secra lengkap dan terperinci pula disini (hlm 194-213) tentang 20
metode dan teknik pengajaran "*Holistic Learning Methods*" yaitu:
1. Learning Conditioning
2. Active Interaction
3. Applied-Learning Method
4. Scanning and Levelling
5. Discussion and Feed Back
6. Story Telling
7. Analogy and Case Study
8. Teaching and Motivating
9. Body Language
10. Picture and Graph Technology
11. Reasoning and Argumentation
12. Self Reflection
13. Affirmation and Repetition
14. Focus and Point Basis
15. Question and Answer Method
16. Guessing with Question
17. Encouraging Students to Ask
18. Wisdom in Answering Question
19. Commenting on Students Question
20. Honesty


Bab 10: Muhammad SAW sebagai Pemimpin Hukum

Dalam bab ini (hlm 217-252) dikemukakan tentang penghargaan dunia terhadap
Muhammad SAW di bidang hukum, peran Rasulullah SAW dalam pembentukan Legal
Jurisprudence
, "karir hukum" Rasulullah SAW, peranan Rasulullah SAW dalam
pembinaan hukum, karakteristik hukum Islam, periode pembentukan hukum Islam,
Madinah kota peradaban berlandaskan hukum dan keadilan, metode pembentukan
hukum Islam, keistimewaan hukum pada masa Rasulullah SAW, berijtihad dalam
menetapkan hukum pada masa Rasulullah SAW, kesatuan hukum, kodifikasi hukum,
perkembangan periode selanjutnya.

Ada beberapa hal yang menarik, yaitu: Nabi Muhammad SAW termasuk sebagai
salah satu tokoh hukum dunia sepanjang masa (hlm 219), juga sebelas
karakteristik hukum Islam (hlm 227-236):
1. Rabbaniyah (bersumber dari Allah)
2. Tadarruj (bertahap)
3. Umum (general)
4. Ideal dan Relistis
5. Wasathiyah/moderate (seimbang dan proporsional)
6. Murunah (fleksibel)
7. Al’Adalah (adil)
8. Raf’u al-Haraj (tidak sukar)
9. Qillatu al-Taklif (meminimalkan kewajiban hukum)
10. Jalbu al-Mashalih (sesuai dengan kemaslahatan umat manusia)
11. Takamul/Syumul (komprehensif, maksudnya: lengkap, sempurna, dan
berkumpul padanya berbagai macam pandangan hidup)

Bab 11: Kepemimpinan Militer Muhammad SAW

"*Seratus kemenangan dalam seratus pertempuran bukanlah keterampilan militer
yang luar biasa. tetapi menundukkan kekuatan lawan tanpa pertempuran itulah
keterampilan militer yang paling hebat*." (Sun Tzu)

Dalam bab ini (hlm 255-282) diuraikan tentang: Perang Fijar, ancaman dari
luar madinah, strategi pertahanan Madinah, Perang Badar al-Kubra, Ekspedisi
antara Badr dan Uhud, Perang Uhud, Ekspedisi-ekspedisi antara perang Uhud
dan Ahzab (Khandaq), Perang Ahzab (Khandaq), operasi militer sesudah Perang
Ahzab, Perang Khaibar, Penaklukan Makkah, Ekspedisi Pasca Penaklukan Makkah,
Beberapa Strategi Militer Muhammad SAW.

Beberapa sifat kepemimpinan militer Muhammad SAW sbb:
1. Bermusyawarah dalam menentukan taktik militer
2. Mengalahkan musuh tanpa pertempuran
3. Meminimalkan jumlah korban
4. Tidak mudah marah
5. Pendelegasian Kepemimpinan Pasukan
6. Membawa Tradisi baru tujuan peperangan, yakni jihad
7. Komunikasi militer yang Jelas dan Tegas
8. Selalu waspada
9. Tidak segan turun ke bawah
10. Memberi pujian dan bersikap adil terhadap pasukan

*Bab 12. Epilog: Jika Saat ini Rasulullah SAW Duduk di Samping Anda
*
Bab ini (hlm 285-291) berisi mutiara nasihat seandainya Rasulullah SAW saat
ini di samping kita.

"Wahai saudaraku aku (Rasulullah SAW) bahagia engkau telah membaca
perjalanan dakwah dan riwayat hidupku. Aku berharap di setiap lembaran buku
yang kau baca akan kaudapatkan hikmah dan pencerahan serta motivasi untuk
berjuang menuju hari esok yang lebih baik."

"Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa dakwah yang paling utama adalah dakwah
dengan suri tauladan. Usahakanlah dengan maksimal untuk shalat tahajjud
secara teratur sebelum kita mengajak orang lain bangun shalat malam.
Bermurah tanganlah kepada kerabat dekat dan handai taulan serta fakir miskin
sebelum kita mengajak orang lain bershadqah. Berhentilah merokok sebelum
menyuruh anak Anda tidak merokok. Tekanlah ego Anda dan tebarkanlah senyum
sebelum Anda menyuruh orang lain berperilaku santun.

 

Dikutip dari milis daarut-tauhiid@yahoogroups.com

SHARING, REFLEKSI, SELINGANMarch 4, 2009 4:30 am

Jombang itulah nama daerahnya, konon sejarahnya daerah ini dinamai dengan sebutan Jombang dikarenakan adanya dua dimensi yang ada dalam masyarakatnya, setidaknya bisa disebut ijo abang (hijau dan merah). Sebuah warna yang memang dipilih sebagai simbol untuk sebuah strata seseorang, hijau mewakili orang yang melek huruf, atau santri kata yang berasal dari bahasa kuno sastri (melek huruf) dan berkaitan juga dengan cantrik anda bisa membacanya secara lengkap dalam catatan sejarah yang ada.

Untuk memberi gambaran secara lebih dekat anggap saja Ryan (si jagal jombang) mewakili kelompok merah alias masyarakat yang membuat nilai daerahnya tertulis dengan nilai merah, dan Ponari sebagai wakil dari kelompok hijau (penyembuh) hal demikian adalah sebagai bentuk penyeimbang, dan mungkin hebohnya berlipat ganda dibanding hebohnya Ryan.

Itu adalah contoh terkini, dan hampir seluruh Indonesia tahu, meski pada sejarahnya banyak juga kisah rakyat dan mungkin realita pada zamannya, bahwa disanalah gudang dua hal itu, toh dimanapun hal demikian juga akan selalu ada, dimana ada baik disitu ada buruk, sebab tidak akan mungkin sebuah kebaikan itu hadir tanpa diimbangi dengan keburukan, surga pun tak akan laku jika neraka tidak ada.

Sebuah fenomena yang unik bagi saya melihat puluhan ribu orang mengantri untuk minta obat, yang secara rasional tertolak mentah-mentah, namun toh sehebat apapun rasio tak bisa mengalahkan realita yang ada. Banyak dari kalangan kesehatan terweleh-welehkan (dalam bahasa gaulnya, ilmu yang dipelajarinya dicampakkan dengan kejadian ponari), bocah umur 9 tahun yang habis tersambar petir dan mendapat batu, dan ketika batu itu dibuang ternyata kembali ketempat ponari lagi, pembaca boleh percaya boleh tidak, namun penulis yakin ponari bukan pembohong layaknya dukun-dukun itu.

Orang mengatakan Ponari adalah dukun cilik, namun menurut penulis dia bukan dukun, namun hanya kebetulan diberi kelebihan oleh Allah, itu pun karena batu yang datang min haitsu la yahtasib, namun setidaknya efeknya positif, kalau memang itu bisa membuat orang jadi sembuh lantaran hal itu, toh juga yang menyembukan Allah. Jika ada orang yang kurang berilmu berkata itu syirik, saya kira perlu hati-hati, berobat ke dokter dan ke ponari adalah sama, menyakini jika minum obat dari dokter membuat dia sembuh adalah keliru, sebagaimana menyakini minum air yang dicelupi batunya ponari. Kecuali jika mereka tetap yakin yang menyembuhkan adalah Allah, lewat air itu, atau obat dari dokter.

Anda bisa simak sejarah nabi Musa ketika sakit gigi, ketika dia memohon kesembuhan pada Allah dia disuruh mengambil sebuah rerumputan, disaat yang lain dia sakit lagi, dan langsung mengambil rerumputan dan melupakan Allah, akhirnya sakitnya malah parah, setelah itu baru sadar dan mendapat teguran dari Allah.

Kisah ponari ini menurut penulis adalah sebuah peringatan kepada pemerintah Indonesia, dimana pelayanan kesehatan begitu minim dan mahal, baru daftar menjadi pasien saja sudah mahal apalagi resmi menjadi pasien dan harus menebus obat-obat yang mahal, maka tak heran jika puluhan ribu orang rela antri berhari-hari hanya karena pengobatan yang murah.

Hal demikian juga mengulang sejarah nabi Isa, juru pengobatan yang tak masuk akal pada saat kekuatan akal diagung-agungkan oleh kaum yahudi yang memang rasionalis, bahkan nabi Isa pun dilahirkan tanpa ayah, sebagai bukti bahwa Allah mampu melakukan apa yang akal manusia tak mampu menjangkau.

Penulis pun terkadang terbentur dengan hal demikian, ketika mencoba menjadikan sesuatu sesuai akal dalam sejarah-sejarah para nabi, para wali, dan orang sholeh lainya. Satu contoh adalah Hajar aswad, batu hitam yang diciumi jutaan orang, yang sekarang terletak disebuah sudut ka’bah, batu itu dalam tafsir yang penulis pelajari, adalah batu dari surga, buah-buahan yang diberikan untuk maryam ketika i’tikaf dalam tempat khalwatnya adalah dari surga, Istri salah seorang wali di Indonesia .juga bidadari dari surga.

Disitulah manusia diuji antara percaya dan tidak percaya, dan disitu pula manusia diajari bahwa yang gaib itu ada, dan yang ada itu gaib. Yang atas itu bawah dan yang bawah itu atas, up is down kata orang inggris, dan penulis yakin ketika pembaca berpikir sejenak dari contoh yang akan penulis berikan, pembaca akan sadar.

Contoh atas adalah bawah.

Kita semua tahu bahwa bumi adalah bulat, langit yang kita anggap diatas kita sebenarnya adalah dibawah bumi, dan langit yang dibawah bumi sebenarnya diatas kita. Anggap saja apa yang dianggap tertinggi dibagian bumi amerika, adalah apa yang dianggap rendah oleh bagian bumi Indonesia, dan semakin tinggi orang menumpuk harta, semakin dalam pula ia terkubur dengan harta.

Kalau saja umur kita diakhirat nanti sama dengan umur kita didunia, anda bisa bayangkan jika satu hari penuh kita berdosa, sebagai balasan kejelekan adalah 1:1 maka kita akan terhukum selama 1000 tahun dunia, karena satu hari diakhirat sama dengan 1000 tahun didunia. Nah kalau berbuat baik kan sistemnya 1:10, so jika kita beramal baik satu hari penuh maka balasannya 10.000 tahun, coba bayangkan kalau seumur hidup kita mampu beramal baik.

Maka, kata guruku “dalam diam, janganlah hatimu diam, dalam ramai, janganlah hatimu ramai”, ini penulis jabarkan aja, yang jelas iintinya guruku berpesan jika hatimu menyebut Allah tiap detaknya, bukankah itu tabungan kebaikan dan setiap kebaikan akan dibalas, sementara waktu tak bisa di pause atau di replay, jika hari ini kamu tidak menyebut Allah, maka kamu tak akan dapat mencari waktu hari ini, setelah hari ini.

Dalam diamnya mulut kita, dzikirlah yang keras dengan hati kita, dan dalam ramainya mulut kita, janganlah hati kita ramai kecuali untuk menyebut Allah. Janganlah mulut kita dzikir dengan keras sementara hati kita tidur atau bahkan wisata kemana-mana, apalagi mulut kita tidak berdzikir, hati kita maksiat, na’udzubillah!.


dikutip dari daarut-tauhiid@yahoogroups.com

Umum, SHARING, REFLEKSI, ISLAM, SELINGAN, PENDAPATJune 21, 2008 9:45 am



 
Mengawali tulisan ini saya akan mengutipkan pandangan seorang filosof Muslim-India, M. Iqbal (1877-1938) yang tidak populer kita ketahui, yaitu bahwa kisah Adam dalam Al-Qur’an bukanlah kisah nyata dalam sejarah umat Islam, dan kisah Adam itu bukanlah suatu peristiwa sejarah, melainkan ia hanya sebuah “legenda” semata. Pendapat Iqbal ini nampaknya seakan kontradiksi dengan pendapat yang umumnya diyakini umat Islam. Akan tetapi, sebenarnya Iqbal ingin menegaskan kalau pengirim Adam ke dunia itu bukanlah suatu “kejatuhan” melainkan suatu “kebangkitan” baru umat manusia yang sering terabaikan sebab watak semangat Al-Qur’an itu harus dipahami sebagai semangat kebangkitan, bukan “kejatuhan” tepatnya lagi kebangkitan umat manusia sebagai pemimpin di muka bumi ini.

Sesungguhnya, dapat dipahami apabila manusia pertama saja sudah mengalami “kejatuhan” tentu penerusnya akan mengalami kondisi yang lebih mengkuatirkan lagi. Oleh karena itu, interpretasi tentang Adam ini tidak lah harus seradikal Iqbal menolak ketokohan Adam, melainkan harus dilihat dalam perspektif baru bahwa itu semua merupakan suatu proses kebangkitan awal manusia menuju kehidupan yang lebih esensial sebab sesuatu yang awal akan sangat menentukan perkembangan selanjutnya. Selain itu, penempatan Adam sebagai gerak pertama kebangkitan sekaligus juga sebagai penolakan terhadap sebahagian anggapan bahwa Adam itu telah “mewariskan dosa” kepada generasi selanjutnya sehingga ia terusir dari surga.

Untuk ini lah sangat relevan mengemukakan tulisan ini sebagai upaya untuk mendudukkan kembali semangat-semangat kebangkitan yang dinafasi oleh Al-Qur’an yang memang kita butuhkan dalam mengatur tatanan kehidupan global. Sebab tanpa itu kita akan terus termarginalkan oleh “kekejaman” globalisasi yang tidak dapat dihindari sebagaimana yang pernah diramalkan futurolog Barat, John Naisbitt dan Patricia Aburdence, bahwa globalisasi akan menciptakan “ledakan” dahsyat dalam semua bidang kehidupan. Oleh sebab itu, di sini lah letak pentingnya memproyeksikan Al-Qur’an itu sebagai “kitab kebangkitan” untuk kembali menatap masa depan yang lebih cemerlang dari sebelumnya akibat dari “keterperangkapan” manusia dari kehidupan yang diciptakannya sendiri.

Spirit Al-Qur’an Tentang Kebangkitan
Tidak terlalu berlebihan kalau seandainya dikatakan kenapa umat Islam selalu saja terbelakang dalam segala hal di dunia ini, atau setidaknya ini pernah menjadi renungan dan pertanyaan besar bagi seorang pemikir asal Libanon, Syakib Arsalan (1869-1946) mengapa umat Islam itu terbelakang? Di antara salah satu penyebab utama keterbelakangan umat Islam yang disimpulkan Arsalan, yaitu bahwa umat Islam telah lama “menelantarkan” Al-Qur’an dengan mengabaikan semangat kebangkitan yang terkandung dalam inti ajarannya.

Padahal, sesungguhnya semangat kebangkitan itu merupakan suatu bagian dari entitas Al-Qur’an yang tidak hanya dapat membangkitkan masyarakat Arabia semata, melainkan seluruh pelosok penjuru bumi yang pernah bersentuhan dengan ide-ide kebangkitan yang terkandung di dalamnya. Di antara bentuk kebangkitan yang disuarakan Al-Qur’an itu ialah kebangkitan atas perbudakan mempertuhankan benda-benda yang tidak lebih baik dari manusia itu sendiri yang kita kenal dalam sejarah umat Islam dengan istilah paganisme (penyembah arca-arca) sebagaimana yang pernah ada dalam tradisi masyarakat Arab pra Islam (Lihat Q.S. 7:71, 22:71, 26:71, dan lainnya).

Selain itu, semangat kebangkitan lain yang dipolopori Al-Qur’an itu kebangkitan untuk membebaskan manusia dari segala bentuk perbudakan sesama manusia karena memang Al-Qur’an secara tegas menolak perbudakan atas manusia dengan mengedepankan semangat bahwa manusia itu tidak ada yang lebih baik dari yang lainnya kecuali hanya berdasarkan kepatuhan dan penyembahan yang total kepada Tuhan (Q.S. 2:21; 63; 177, dan lainnya).

Kemudian, semangat kebangkitan lain yang disuarakan Al-Qur’an itu dapat dilihat dari substansi ajarannya yang selalu menginginkan perbaikan dari dalam sistem kehidupan umat manusia yang merupakan inti dari kebangkitan yang sesungguhnya sebab suatu kebangkitan yang tidak didasari oleh hati nurani yang ingin bangkit hanya akan menghasilkan “kebangkitan semu” (Q.S. 13:11). Sesungguhnya, penyebab utama kenapa kebangkitan yang digerakkan oleh anak-anak bangsa ini tidak dapat bertahan lama sangat mungkin sekali didasari oleh bukan oleh dorongan hati nurani secara total, sebut saja umpamanya gerakan reformasi tanpa bermaksud mengecilkannya tidak mampu membawa perubahan signifikan dalam kehidupan berbangsa kita.

Untuk itu lah sangat tepat sekali mengaitkan semangat kebangkitan Al-Qur’an ini dengan konteks kekinian dan kedisinian bahwa sebenarnya disadari atau tidak bahwa inspirasi kebangkitan bermoral yang dulang Al-Qur’an tentang ilmu pengetahun telah mampu merubah jalan sejarah umat manusia yang seharusnya dapat ditangkap secara baik dalam mengisi kebangkitan bangsa. Oleh karena itu, tidak mengherankan kebangkitan yang diteriakkan para pembaharu selalu saja menempatkan pengembangan ilmu pengetahuan sebagai syarat utama dari proses kebangkitan yang tidak boleh diabaikan dalam mensiasati kebangkitan dan semangat cinta ilmu pengetahuan ini oleh Al-Qur’an sejak dini telah diingatkan peran dan pentingnya dalam menyusun kehidupan yang sesungguhnya.

Menurut saya menjadikan Al-Qur’an sebagai “kitab kebangkitan” sebenarnya tentunya harus dimulai dengan semangat kembali pada Al-Qur’an dalam artian yang sesungguhnya sebab menyuarakan kembali pada Al-Qur’an tanpa proyeksi praktis tetap saja menjadikannya tetap melangit dan belum membumi makanya tidak mengherankan tradisi yang kita lakukan dalam upaya mengapresiasi Al-Qur’an seperti melakukan kompetisi dalam segala aspeknya tidak mampu membawa perubahan berarti dalam tataran pengamalannya. Pada dasarnya, kembali pada Al-Qur’an tentulah mengembalikan semua persoalan hidup dalam suatu tuntunannya secara maksimal sebab harus diakui semangat yang terkandung dalam Al-Qur’an tidak akan pernah kering untuk terus ditimba sebab kandungan ayatnya itu semakin ditimba semakin banyak mengalir deras membajiri kehidupan.

Dimaksudkan kembali pada Al-Qur’an ialah upaya serius untuk terus belajar dan mengamalkan apa-apa saja yang dapat ditangkap dari pesan-pesannya terutama semangat kebangkitan yang kerap kita abaikan saat berinteraksi dengan Al-Qur’an yang sejati telah dibuktikan dalam oleh generasi awal bahwa ternyata Al-Qur’an mengajarkan kebangkitan yang spektakuler yang tidak dapat ditandingi oleh kebangkitan yang pernah dikenal dalam dunia ini. Karena itu, memang Al-Qur’an selain mengajarkan kebangkitan juga mengajarkan cara mengisi kebangkitan itu dengan langkah-langkah yang dapat menjadikan kebangkitan itu membawa perubahan yang berarti dalam menata kehidupan sebagaimana yang terlampir dalam pesan-pesan universalnya untuk menjaga dan mengatur alam semesta.

Dengan kata lain, sejatinyalah kebangkitan ini harus dimulai dari kebangkitan yang disemangati Al-Qur’an tanpa itu semua kebangkitan itu tidak akan pernah berdaya guna yang maksimal dalam mengisi kehidupan sebab selain posisi Al-Qur’an yang telah teruji oleh sejarah juga tuntunan ajaranya yang selalu sesuai dengan segala suasana termasuk dalam kehidupan yang kita dimonopoli oleh kekuasan sains dan teknologi karena tanpa adanya bimbingan Al-Qur’an dalam menghadapi kenyataan ini bukan lah mustahil itu semua dapat menjadi “mesin pemusnah” bagi kehidupan manusia itu seperti kata Alfin Toffler, di sinilah letak pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai “kitab kebangkitan” menuju kebangkitan yang sesungguhnya dalam menatap kehidupan kontemporer.
 
 
Sumber: http://www.waspada.co.id/Mimbar-Jumat/Artikel-Jumat/Menjadikan-Al-Qur-an-Sebagai-Kitab-Kebangkitan.html 
 

Umum, MUSIK, REFLEKSI, ISLAM, SELINGAN, PENDAPAT 9:42 am

Manusia seolah-olah sudah lali dengan perkara-perkara yang sering mereka temui setiap hari. Apabila manusia pertama kali mendengar sesuatu berita tentang kekejaman yang berlaku, mereka menjadi begitu prihatin. Namun demikian, keprihatinan mereka itu hanya menjadi suatu perkara rutin tidak berapa lama kemudian.

Peperangan dan konflik yang berlaku di dalam dunia yang sedang kita diami ini adalah kes yang paling jelas dan nyata. Apabila sesebuah negara dijajah dan kemudian proses penyembelihan dan genocide (Pent: Tiada terjemahan tepat untuk perkataan genocide, maka istilah ini dikekalkan. Genocide ber­maksud pembunuhan seluruh bangsa atau kaum yang tertentu) bermula, kita akan dapat melihat banyak protes-protes anti-kekejaman yang diadakan di seluruh pelusuk dunia. Sebagai contoh, mari kita merenung semula detik-detik pertama tercetusnya konflik di Bosnia, ataupun Chechnya, ataupun Palestin… Imej seorang kanak-kanak Palestin yang berada di riba ayahnya yang tidak lama selepas itu menjadi sasaran peluru askar-askar Israel, bayi-bayi Chechen yang dibunuh ketika mereka sedang lena diulit mimpi, wanita, golongan tua dan kanak-kanak yang menjadi mangsa genocide yang sangat mengerikan di Bosnia…

Apabila manusia pertama kali melihat imej-imej kekejaman tersebut, mereka sering meluahkan perasaan marah dan berkata mahu melakukan sesuatu. Walau bagaimanapun, laporan-laporan kekejaman yang bertali-arus, yang tidak pernah putus-putus itu, akhirnya tidak berupaya untuk menarik perhatian mereka lagi. Semakin ramai manusia yang mati setiap hari, wanita-wanita dicabul kehormatannya, kanak-kanak sewenang-wenangnya ditembak atau kehilangan kaki setelah terpijak periuk api… Walau bagaimanapun, reaksi masyarakat ketika awal-awal konflik dan peperangan, akhirnya telah digantikan dengan sikap acuh tak acuh dan tidak ambil kisah. Apabila mereka membeli suratkhabar, mereka lebih suka membaca gosip-gosip artis berbanding berita-berita peperangan. Oleh sebab itulah, kematian manusia yang berlaku di Palestin, Chechnya, Kashmir ataupun Timur Turkistan hanya sekadar menjadi suatu "berita rutin."

Tambahan pula, propaganda-propaganda yang dicipta telah menggambarkan kebuasan-kebuasan manusia itu sebagai suatu perkembangan politik sahaja. Akibatnya, pembunuhan berterusan di Chechnya hanya dianggap sebagai urusan sulit pihak Rusia, apa yang berlaku di Palestin hanyalah suatu perjuangan untuk mendapatkan tanah di antara orang-orang Israel dan Palestin, dan penekanan puak Hindu ke atas penduduk Kashmir sebagai masalah yang berpunca daripada posisi strategik wilayah itu. Memang benar bahawa faktor sejarah dan ekonomi memainkan peranan penting yang mencetuskan konflik-konflik tersebut. Chechnya mempunyai kepentingan ekonomi dan strategi yang penting kepada Rusia. Orang-orang Yahudi yang fanatik terus berniat untuk menawan Jerusalem dan kawasan-kawasan pendudukan Palestin yang lain sejak berabad-abad lamanya. Namun demikian, faktor-faktor dalaman dan ekonomi bukanlah satu-satunya penyebab kepada tekanan yang dikenakan kepada orang-orang Chechen oleh pihak komunis Rusia, ataupun kekejaman yang dilakukan kepada umat Islam di Afrika, ataupun keganasan dan proses pembersihan etnik yang dideritai oleh umat Islam di rantau Balkan yang dilakukan di hadapan mata penduduk dunia. Di dalam bab-bab yang seterusnya, kita akan dapat melihat bahawa konflik-konflik yang tercetus itu adalah disebabkan identiti umat Islam itu sendiri.

Mereka dihimpit dengan berbagai-bagai bentuk penindasan kerana mereka adalah golongan yang beriman kepada Allah dan mahu hidup dengan berlandaskan Islam, dan mahu melihat anak-anak mereka menjadi orang-orang yang beriman juga. Kewujudan negara-negara kuat yang mementingkan nilai-nilai spirituil atau sebuah liga Islam yang kuat yang akan melindungi hak-hak umat Islam seadil-adilnya, telah menimbulkan ketakutan kepada golongan-golongan tertentu di Barat dan juga telah menimbulkan ancaman terhadap kepentingan pihak-pihak tertentu.

Aspek lain tentang hal ini ialah terdapat sesetengah manusia yang tidak mengetahui apa-apa pun tentang masyarakat yang hidup di negara-negara tersebut, dan malah tidak pernah mendengar sama sekali nama negara-negara itu. Situasi bagi seseorang yang tidak memiliki sebarang idea tentang kepayahan, penindasan, kekejaman, kebuluran, dan kemiskinan yang dideritai oleh umat Islam Sudan, Algeria, Indonesia, Myanmar, Djibouti dan Tunisia sebenarnya memerlukan suatu "makanan" untuk mengisi minda mereka. Ada juga segelintir manusia yang menyedari kekejaman dan ketidakadilan tersebut. Namun dia tidak mencuba untuk menghulurkan sebarang bantuan ataupun berusaha untuk menghentikan penindasan tersebut. Tambahan lagi, mereka sungguh yakin bahawa mereka tidak dapat melakukan apa-apa, malah laporan-laporan yang dibaca dan imej-imej kekejaman yang dilihat menerusi televisyen tidak dapat menyedarkan mereka walaupun sedikit.

Seseorang yang benar-benar beriman, walau bagai­mana­pun,bertanggungjawab sepenuhnya terhadap apa yang mereka lihat dan dengar. Allah menyeru umat Islam di dalam Al-Quran:

Mengapa kamu enggan berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik lelaki, wanita, mahupun kanak-kanak yang semuanya berdoa: "Ya Tuhan kami. Keluarkanlah kami dari negeri ini yang mempunyai penduduk yang zalim, dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu. Dan berilah kami penolong dari sisi-Mu." (An-Nisaa’, 75)

Sudah tiada sebab lagi bagi orang-orang yang memiliki kesedaran, yang patuh kepada arahan yang terkandung di dalam ayat di atas untuk terus menutup mata dan tidak mengendahkan apa yang sedang berlaku. Adalah sesuatu yang mustahil untuk umat Islam tidur dengan nyenyak di atas katil tanpa wujud sebarang perasaan tanggungjawab di hati mereka, membazirkan masa mereka, dan hanya memikirkan tentang kepentingan dan keseronokkan dirinya sahaja sewaktu kekejaman yang melampau-lampau sedang berlaku di seluruh dunia. Ini kerana orang-orang yang beriman mengetahui bahawa kunci asas untuk menyelesaikan masalah peperangan yang berat sebelah, pembunuhan beramai-ramai, kekejaman, kebuluran, dan kebejatan masalah sosial, atau dengan ringkas segala masalah yang ada di dunia ini, adalah dengan menyebarkan ajaran moral yang terkandung di dalam al-Quran. Pengetahuan tentang perkara tersebut telah meletakkan suatu tanggungjawab besar di atas bahu mereka: iaitu menerangkan tentang ajaran Islam dan keindahan-keindahan yang dibawa olehnya, menyebarkan ajaran moral yang terkandung di dalam al-Quran, dan melancarkan peperangan ideologi kepada golongan ateis… (Pent: iaitu golongan yang tidak percaya kepada kewujudan Tuhan)

Sesiapa yang mengambil tugas mulia tersebut akan dapat membebaskan semua insan yang hidup di bawah penindasan dengan bantuan petunjuk al-Quran:

...Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan sebuah kitab yang jelas. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan yang selamat. Dan Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan kepada cahaya yang terang-benderang dengan izin-Nya, dan menunjuk mereka ke jalan yang lurus. (Al-Maaidah, 15-16)

Tujuan utama penulisan buku ini adalah untuk mendedahkan penderitaan umat Islam yang tidak berdosa di serata dunia, dan juga untuk menyeru mereka yang berkesedaran untuk memikirkan tentang situasi tersebut dan seterusnya mencari jalan penyelesaiannya. Ini bukan masanya untuk kekal membisu, bersifat tidak kisah, mengejar kesenangan kecil dunia ini, dan membuang masa dengan perdebatan dan pertengkaran yang sia-sia. Ketika berjuta-juta umat Islam menderita disebabkan oleh kekejaman dahsyat tersebut, kita adalah manusia yang tersangat-sangat mementingkan diri sendiri jika enggan memikul sebarang tanggungjawab untuk menegakkan agama Islam. Tidak menjadi satu keraguan bahawa perbuatan tersebut hanya menyebabkan kita menerima akibat yang pedih di akhirat nanti.

 

Sumber: http://www.harunyahya.com/malaysian/buku/kebangkitanislam/kebangkitanislam01.php

 

 

 

Umum, TIPS DAN TRIK, REFLEKSI, ISLAM, SELINGAN, PENDAPAT, inspirasi 9:35 am

Kota Vatikan (ANTARA News) – Jumlah umat Islam telah menyusul jumlah umat Katolik Roma di dunia, kata seorang pejabat tahta suci umat Katolik di Vatikan layaknya dilaporkan Reuters, Minggu (30/3).

Monsignor Vittorio Formenti, yang menyusun buku tahunan 2008 Vatikan yang baru dikeluarkan, mengatakan bahwa umat Islam merupakan 19,2 persen dari penduduk dunia dan umat Katolik 17,4 persen.

"Untuk pertama kali dalam sejarah kami tidak lagi di puncak, umat Islam telah menyusul kami," ujar Formenti kepada surat kabar L’Osservatore Romano Vatikan dalam satu wawancara, dan ia pun mengatakan data itu menunjuk pada tahun 2006.

Ia mengatakan, jika semua kelompok Kristen dipertimbangkan, termasuk gereja Orthodox, Anglikan dan Protestan, maka umat Kristiani merupakan 33 persen dari penduduk dunia atau sekitar dua miliar orang.

Vatikan belum lama ini menyebutkan jumlah umat Katolik di dunia 1,13 miliar orang. Mereka tidak memberikan jumlah umat Islam, biasanya kira-kira sekitar 1,3 miliar.

Data mengenai kelompok agama itu biasanya diketahui dari sumber statistik lainnya, tapi penting bahwa Vatikan memilih untuk menarik perhatian pada jumlahnya dan apa yang mereka lihat sebagai sebab di baliknya.

Formenti mengatakan bahwa sementara jumlah umat Katolik sebagai bagian dari penduduk dunia hampir stabil, persentase umat Islam bertambah karena angka kelahiran yang lebih tinggi.

Ia juga mengatakan, data mengenai penduduk Muslim dikumpulkan oleh negara sendiri dan kemudian dikeluarkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia pun menambahkan, Vatican hanya dapat menjamin untuk statistiknya sendiri.

 

Sumber: http://www.antara.co.id/arc/2008/4/1/vatikan-umat-islam-jumlahnya-lebih-banyak-dari-umat-katolik/ 

Umum, ISLAM, SELINGAN, PENDAPAT, WACANA, inspirasi 9:34 am

Berbicara tentang kebangkitan, berarti berbicara tentang usaha masyarakat untuk keluar dari keterpurukan yang selama ini telah melanda. Berbagai upaya telah dilakukan, namun hasil yang diperoleh tidak mampu membangkitkan umat secara keseluruhan. Lantas apa yang mesti dilakukan untuk meraih kebangkitan? Kebangkita apa pula yang diinginkan untuk mengubah keadaan yang ada saat ini?

Kebangkitan yang paling mendasar adalah kebangkitan dari segi pemikiran. Ini berarti, harus ada upaya mengubah pemikiran/cara berpikir masyarakat yang ada saat ini tentang segala hal yang terkait dengan seluruh aspek yang menjadi pokok permasalahan. Dengan berubahnya pemikiran masyarakat, berubah pula pemahaman yang nantinya akan mengubah perilaku.

Saat ini pemikiran masyarakat dicekoki dengan ide-ide pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme). Masyarakat bahkan mendudukkan fungsi Tuhan (agama) pada wilayah pribadi saja (ibadah mahdhah), sedangkan untuk persoalan kemasyarakatan Tuhan (agama) dianggap tidak memiliki andil. Inilah kesalahan berpikir masyarakat kita saat ini yang pada akhirnya menjadikan mereka senantiasa terkungkung dengan permasalahan yang tiada berkesudahan.

Hal lain yang menjadi faktor kebangkitan adalah bersatunya umat Islam untuk meraih kebangkitan. Ketika umat Islam bersatu maka dijamin akan menghimpun kekuatan yang sangat besar untuk mengalahkan negara adikuasa (AS). Saat ini selayaknya umat Islam menyatukan barisan langkah untuk menghimpun kekuatan dengan menjadikan Islam sebagai kepemimpinan berpikir dan menjadikan institusi Islam (Khilafah) sebagai payung kekuasaan. Hanya negara adikuasa Islamlah, yakni Khilafah, yang akan mampu melawan negara adikuasa AS dan sekutu-sekutunya yang selama ini terbukti menjadi otak dari keterpurukan umat yang terjadi.

Lagipula Allah telah menerangkan dalam QS ar-Ra’d ayat 11: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka. Jadi, ketika masyarakat ingin mengubah kondisinya maka sepantasnyalah mereka berusaha untuk bangkit dengan Islam sebagai kepemimpinan berpikir dan Negara Islam sebagai kekuatan. Wallahu a’lam bi ash-shshawab.

 

Sumber: http://hizbut-tahrir.or.id/2008/05/06/bangkitkan-umat-dengan-islam/ 

Umum, SHARING, REFLEKSI, keseharian, ISLAM, SELINGAN, PENDAPAT, inspirasiMay 28, 2008 8:44 am

Carter menyebut perlakuan Israel terhadap bangsa Palestina sebagai kejahatan kemanusiaan terbesar di dunia

Mantan Presiden Amerika, Jimmy Carter, mengatakan Israel memiliki paling tidak 150 bom atom.

Israel tidak pernah membenarkan bahwa negara itu memiliki senjata nuklir, namun negara itu diyakini memilikinya, sejak salah seorang ilmuwan membocorkan rincian di tahun 1980-an.

Carter mengeluarkan pernyataan mengenai senjata Israel ini di sebuah jumpa pers dalam festival sastra di Wales, Inggris, Hay Festival.

Dia juga menyebut perlakuan Israel terhadap bangsa Palestina sebagai “salah satu kejahatan terhadap hak asasi manusia terbesar di bumi.”

Carter menyebut perkiraan jumlah senjata nuklir yang dimiliki Israel itu ketika menjawab pertanyaan mengenai kebijakan Amerika terhadap Iran yang kemungkinan memiliki senjata nuklir.

“Amerika memiliki lebih dari 12.000 senjata nuklir, Uni Soviet memiliki jumlah yang kira-kira sama, Inggris dan Perancis memiliki ratusan, dan Israel memiliki 150 atau lebih,” berikut kutipan pernyataan Carter dari penyelenggara festival itu.

“Kami memiliki koleksi persenjataan yang besar… bukan hanya besar, namun kami juga memiliki roket-roket untuk membawa rudal-rudal itu ke sasaran dengan akurat.”

Sebagian besar ahli memperkirakan Israel memiliki antara 100-200 hulu ledak nuklir.

Perkiraan ini berdasarkan informasi yang dibocorkan kepada surat kabar Inggris the Sunday Times di tahun 1980-an oleh Mordechai Vanunu, seorang bekas pegawai reaktor nuklir Dimona di Israel.

‘Dipenjara’

Dalam jumpa pers itu, Carper menyatakan dukungannya kepada Israel sebagai sebuah negara, namun mengecam kebijakan dalam dan luar negeri negara itu.

“Salah satu kejahatan kemanusiaan terbesar di dunia adalah memblokir makanan dan memenjarakan 1,6 juta warga Palestina,” katanya.

Mantan presiden Amerika itu menyebut angka statistik yang menunjukkan konsumsi gizi anak-anak Palestina berada di bawah anak-anak di Afrika Sub Sahara.

Carter, yang mendapat Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2002, menjadi penengah kesepakatan Mesir-Israel tahun 1979, kesepakatan damai pertama antara Israel dan sebuah negara Arab.

Bulan April lalu dia secara kontroversial mengadakan pembicaraan di ibukota Suriah, Damaskus, dengan Khaled Meshaal, pemimpin gerakan militan Palestina Hamas. (BBC ; 26 mei 2008)

 

 

Sumber: http://www.hizbut-tahrir.or.id/2008/05/27/israel-miliki-150-senjata-nuklir/ 

Umum, ISLAM, SELINGAN, PENDAPAT, inspirasiMay 3, 2008 8:26 am

oleh: Hidayatullah Muttaqin *
Siapa pun pasti tidak mau dirinya dizalimi oleh orang lain dan ingin hidup merdeka bebas dari ketertindasan. Sikap tersebut manusiawi dan senantiasa muncul dari manusia mana pun sebagai konsekwensi adanya naluri mempertahankan diri pada dirinya. Hatta, Islam. Sebab diantara ajaran utama Islam adalah melarang berlaku dzalim. Termasuk sikap umat Islam yang menolak keberadaan Ahmadiyah sebagai bagian dari Islam adalah sikap yang benar untuk menjaga keutuhan dan kemurnian akidah Islam.

Keluarnya fatwa MUI No. 11/MUNAS VII/15/2005 yang menyatakan Ahmadiyah bukan bagian dari Islam, sesat dan menyesatkan, merupakan fatwa yang bertujuan melindungi akidah umat dari fitnah dan “rongrongan” akidah Ahmadiyah. Fatwa ini sekaligus menjadi edukasi bagi pengkuatan akidah umat. Fatwa hanya melindungi umat Islam dari akidah yang benar. Namun tetap melarang mendzolimi secara pribadi penganutnya. Dua hal ini, adalah beda sisi yang tak banyak dipahami orang.

Fatwa MUI: Monopoli Kebenaran?
Seiring dikeluarkannya rekomendasi Bakorpakem (16 April 2008) berbagai cacian dan pemaksaan opini dilontarkan oleh banyak pihak khususnya terhadap MUI. Salah satunya adalah sebutan "memonopoli kebenaran" yang diberikan oleh Prof. Dr. Syafii Maarif kepada MUI (www.okezone.com, 27/04/2008).

Menurut Prof. Dr. Syafii Maarif keberadaan Ahmadiyah di Indonesia dilindungi oleh undang-undang yang menjamin kebebasan beragama. Bahkan menurut sang profesor, atheis pun diperbolehkan hidup di Indonesia selama tidak mengganggu kepercayaan orang lain (ibid).

Sebaliknya, Prof. Dr. Syafii Maarif menganggap fatwa MUI bertentangan dengan undang-undang, sehingga jika rekomendasi Bakorpakem ditindaklanjuti dalam bentuk SKB, maka SKB tersebut dianggap profesor sebagai wujud "monopoli kebenaran" MUI. Tak hanya MUI, para intelektual –bahkan tak memiliki otoritas hukum Islam pun—ikut mengecam MUI. Termasuk Adnan Buyung Nasution.

Argumentasi yang dipaksakan oleh profesor lemah dan bertentangan dengan fakta. Pertama, rekomendasi Bakorpakem lahir dari pengamatan rinci dan pemantauan selama tiga bulan pada 55 komunitas Ahmadiyah di 33 kabupaten. Menurut Kepala Litbang Depag, Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) telah menyimpang dari ajaran pokok Islam karena di seluruh cabang Ahmadiyah, Mirza Gulam Ahmad tetap diakui sebagai Nabi dan Tadzkirah sebagai kitab suci mereka. Koordinator Bakorpakem juga menyatakan, dengan jelasnya penyimpangan JAI maka tidak ada lagi evaluasi, negosiasi, dan diskusi tentang akidah Ahmadiyah. Jadi rekomendasi Bakorpakem lahir bukan karena paksaan dari MUI melainkan hasil pengamatan berdasarkan fakta.

Kedua, tuduhan terhadap MUI oleh profesor hanya berdasarkan "logika jungkir balik". Maksudnya, dengan mengacu pada logika "kebebasan beragama" semua permasalahan kehidupan beragama dinilai dengan menggunakan logika ini tetapi di sisi lain logika ini justru menjungkirbalikkan pokok-pokok ajaran agama Islam.

Semua orang pasti mengetahui kitab suci umat Islam hanyalah Al-Quran dan tidak ada nabi dan rasul setelah Muhammad SAW. Sedangkan Ahmadiyah mengaku dirinya Islam tetapi kitab sucinya adalah Tadzkirah dan Nabinya adalah Mirza Gulam Ahmad, bahkan Ahmadiyah mengkafirkan Islam selain Islam versi Ahmadiyah. Fakta ini menunjukkan Ahmadiyah bukan hanya mengganggu keyakinan beragama umat, tetapi melakukan penistaan dan penghancuran akidah Islam. Penghancuran bangunan akidah Islam oleh Ahmadiyah merupakan fitnah yang lebih jahat dari tindakan kriminal terhadap manusia.

Jika saja ada seseorang yang tidak dikenal dan bukan darah daging profesor tiba-tiba datang mengaku sebagai anak kandung beliau dan menuduh anak kandung profesor sebagai orang lain, apakah profesor dapat menerimanya? Apalagi tujuan orang tersebut mengaku anak kandung hanya untuk merampok harta warisan profesor. Secara naluri dan perasaan mungkin saja profesor menolak kedatangan orang yang tak dikenal tersebut dan marah bila ia tetap bersikeras mengaku sebagai anak. Jika profesor konsisten dengan "logika jungkir balik" kebebasan beragama, maka profesor harus menerima orang tersebut sebagai anak kandungnya. Bila sikap ini yang diambil profesor, maka profesor mengakomodir kebohongan orang yang tak dikenal tersebut yang akan merusak keutuhan kehidupan keluarga.

Inilah fakta, siapa pun tidak dapat mengelak dari kebenaran bila kebenaran tersebut berpijak pada fakta yang benar, di luar itu adalah "kebohongan" belaka. Dan ini pula yang menjadi pijakan fatwa MUI bahwa Ahmadiyah sesat dan menyesatkan ditinjau dari akidah Islam. Sehingga fatwa MUI tersebut bukanlah "memonopoli kebenaran" melainkan "mengungkap kebenaran".

Munculnya “Diktator” Intelektual


Berlindungan dibalik jargon "Kebebasan Beragama", kalangan Non Muslim termasuk Pendeta juga melakukan demo anti Fatwa MUI, Kok bisa?? Baca »
Sikap menuduh penolakan umat terhadap Ahmadiyah yang diwakili oleh MUI melalui fatwanya sebagai "memonopoli kebenaran", tidak menghargai kebebasan beragama, dan melanggar HAM, merupakan sikap arogan dan zalim. Memaksakan pemikiran "logika jungkir balik" kebebasan beragama meski umat telah menolaknya merupakan suatu bentuk "arogansi pemikiran". Memberikan "cap negatif" sebagai punishment terhadap penolakan pemikiran yang dipaksakan adalah "kezaliman pemikiran".

Bagaimanapun, MUI adalah representadi umat Islam seluruh Indonesia. Sebagai representasi umat, MUI punya hak melindungi dan menjaga kemurnian aqidah umatnya melalui Fatwa. Itu adalah hak dan kewajibannya. Justru akan lain, jika fatwa itu datang dari kaum minoritas yang dipaksakan untuk mayoritas. Jika yang terjadi seperti yang terakhir, maka, itu adalah kediktatoran.

Arogansi dan zalim merupakan sifat yang melekat pada seorang diktator. Karena arogansi dan kezaliman ini berada dalam ranah pemikiran, maka orang-orang dan kaum intelektual yang mengusung pemikiran dengan cara seperti ini lebih tepat disebut "diktator intelektual".

Seperti halnya yang disampaikan Prof. Dr. Syafii Maarif, Dr. Hamim Ilyas yang bekerja sebagai dosen pada UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengungkapkan fatwa MUI bertentangan dengan konstitusi dan HAM yang menjamin kebebasan beragama. Ia juga mengatakan karena fatwa sesatnya, MUI harus disadarkan (Okezone.com 24/04/2008). Dari pernyataan tersebut, seolah-olah Dr. Hamim Ilyas mengatakan yang sesat adalah MUI bukan Ahmadiyah, sehingga yang harus diluruskan adalah MUI. Sebagai bagian umat Islam, "cap sesat" terhadap MUI bagi penulis sangat zalim dan menyakitkan, karena cap tersebut semata-mata fitnah belaka.

Dr. Hamim Ilyas juga menyatakan MUI perlu didemo karena menolak pluralisme agama. Apalagi MUI menggunakan dana APBN/APBD, yang salah satunya berasal dari pajak warga Ahmadiyah. Katanya, "kalau mau menyesatkan jangan pakai APBN dan APBD dong". Hamim menambahkan, berdasarkan hasil penelitian UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, fatwa-fatwa MUI menyebabkan deintelektualitas kaum Muslim (ibid).

Benar-benar "logika ngawur" apa yang disampaikan dan dituduhkan Dr. Hamim Ilyas tersebut. Ia dengan yakinnya menjadikan pluralisme agama sebagai "kebenaran mutlak", yang berbeda menurut pemikirannya ini salah dan harus didemo.

Sebagai institusi ulama, maka wajar bagi MUI untuk memberikan edukasi akidah dan edukasi syariah Islam kepada umatnya salah satunya dalam fatwa. Karenanya kesimpulan penelitian UIN Sunan Kalijaga seperti yang disampaikan Dr. Hamim Ilyas patut dipertanyakan khususnya menyangkut metodologi, independensi, dan sponsorshipnya.

Sebaliknya langkah-langkah Dr. Hamim Ilyas dan orang-orang yang katanya mengusung "kebebasan berpikir" hanya akan memalingkan umat dari akidah dan syariah agamanya. Sifat-sifat "diktator pemikiran" yang suka memfitnah inilah yang justru menyebabkan "deintelektualitas umat Islam".

Dari sisi tinjauan fakta, jika seseorang ingin menjadi Muslim ia harus memahami dan mengadopsi akidah Islam sebagai fondasi agamanya, dan mengambil syariah Islam sebagai tata perilaku dan perbuatan dalam kehidupannya. Begitu pula jika seseorang ingin menjadi mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga, ia harus mengikuti prosedur pendaftaran dan seleksi yang telah ditetapkan pihak rektorat. Dan ketika sudah diterima, ia harus mematuhi tata tertib kampus dan aturan akademik.

Jika ada seorang pemuda ditangkap polisi karena melakukan tindakan kriminal dan mengaku sebagai mahasiswa UIN Sunan Kalijaga padahal ia tidak pernah terdaftar sebagai mahasiswa, maka "sangat logis" bila rektorat UIN Sunan Kalijaga menyatakan pemuda tersebut bukan mahasiswanya. Jika logika berpikir Dr. Hamim Ilyas diterapkan dalam kasus ini, maka rektorat harus mengakui pemuda tersebut adalah mahasiswanya. Tentu pengakuan seperti ini merupakan kebohongan.

Penutup
Sikap penolakan terhadap klaim Ahmadiyah merupakan hak umat Islam. Sikap para "diktator intelektual" yang menuduh MUI dan penolakan umat atas Ahmadiyah dengan tuduhan keji seperti "memonopoli kebenaran" dan "cap sesat" merupakan "pemerkosaan" atas hak umat untuk beragama sesuai agamanya.

Sebagai "diktator intelektual", kepentingan yang di bawa oleh pengusung "kebebasan berpikir" bukanlah kepentingan umat melainkan kepentingan ashobiyah (golongan). Di sini, bisa golongan nafsu dan golongan yang punya kepentingan lain. Karenanya, jika umat dihadapkan pada dua pilihan, kepada MUI (lembaga agama yang memiliki otoritas dalam hukum Islam) dan golongan nafsu (yang tidak merepresantasikan wakil umat, apalagi bukan pakar hukum Islam), kira-kira pilihannya jatuh ke mana? Pertanyaan ini sama dengan jika kita ditanya, “Kalau masalah penyakit, kira-kira kita akan bertanya kepada dokter atau pada tukang las?” Dan insyaAllah, umat lebih tahu jawabanya. []

Penulis adalah dosen tetap Fakultas Ekonomi Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin dan pengelola website Jurnal Ekonomi Ideologis : jurnal-ekonomi.org

Sumber: http://www.swaramuslim.com/

Umum, REFLEKSI, SELINGAN, PENDAPAT, inspirasi 8:23 am

JOGJA Corpsegrinder. Dari namanya saja sudah ketahuan kalau itu berhubungan dengan dunia bawah tanah atau lebih kerennya lagi, underground. Terus Jogja Corpsegrinder itu apa? Weits, jangan berpikiran yang bukan-bukan. Jangan dikira itu itu semacam batalyon pasukan inferinya Mr Voldemort untuk membunuh Mr Potter. Jangan dikira juga itu semacam Inferi Fans Club. Trus apa dong? Jogja Corpsegrinder terdiri dari kata Jogja, corpse, dan grinder. Jogja adalah tempat berdirinya komunitas ini. Sedangkan corpse, yang berarti mayat, sebutan para sceneters (orang-orang underground) untuk diri mereka sendiri. Sedangkan grinder berarti pelumat. "Jadi arti secara keseluruhan, para corpse ingin meng-grind segala sesuatu yang dilewatinya," ujar Iwan dan Camel, dedengkot underground di Yogya. Sayangnya komunitas ini hanya eksis sekitar 5 tahun. Walaupun umurnya pendek komunitas ini merupakan cikal bakal event underground terbesar di Yogya, Jogja Brebeg (JB) yang masih tetap hidup sampai sekarang. Komunitas anak-anak underground ini berdiri tahun 1993-an. Berawal dari nongkrong bareng, semakin banyak sceneters yang datang dari seluruh penjuru Yogya. Saat itu, belum terlintas untuk mendirikan komunitas karena nongkrong bareng telah dianggap sebagai kebiasaan. Selalu, saat band salah satu dari mereka naik panggung, mereka semua ramai-ramai men-supportnya. Sering pula mereka men-support band sampai luar kota. Karena animo yang semakin besar dan masih sangat sedikit (bahkan tak ada sama sekali) komunitas underground di Yogya, maka dibentuklah Jogja Corpsegrinder oleh beberapa sceneters senior. Anggota Jogja Corpsegrinder selalu nongkrong setiap Sabtu malam di depan Hotel Inna Garuda. Tahun 1996 merupakan tahun paling bersejarah bagi dunia underground Yogya. Karena pada tahun itulah JB pertama kali diadakan. Event ini pertama kali diselenggarakan oleh seluruh sceneters Yogya dengan biaya patungan. Namun tahun-tahun berikutnya (sampai JB 14) Jogja Brebeg diadakan dengan biaya pribadi dari seorang sceneters senior yang juga merupakan penggagas Jogja Corpsegrinder sedangkan JB 15-19 telah menggunakan sponsor. Jogja Corpsegrinder hanya berlangsung sampai tahun 1998an karena kesibukan masing-masing dan pergantian muka lama dengan muka baru. Kini, para sceneters di Yogya memiliki kelompok sendiri-sendiri yang lebih kecil daripada Jogja Corpsegrinder. Biasanya kelompok ini bersifat kedaerahan. Maksudnya, anggotanya sceneters yang tinggal di sekitar wilayah itu. Jadi, saat ini yang dimaksud komunitas underground di Yogya bukan suatu membership community, namun keseluruhan sceneters di Yogya yang (bisa disebut) selalu ber-reuni ria setahun sekali pada saat JB.

Sumber: http://www.kr.co.id/

Umum, keseharian, ISLAM, SELINGAN, PENDAPAT, inspirasi 8:22 am

Nablus – Infopalestina: Pasukan penjajah Zionis Israel terus melanjutkan operasi militer di kota-kota, desa-desa dan kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat di tengah-tengah aksi penembakan dan terror terhadap warga sipil Palestina. Dalam sepekan Israel melakukan 40 kali operasi militer, sebanyak 37 warga Palestina diculik di antaranya dua orang bocah.

Dalam penelusuran lapangan yang dilakukan Pusat HAM Palestina atau PCHR (The Palestinian Centre for Human Rights) tercatat bahwa penjajah Israel melakukan 36 operasi militer di sebagian besar kota-kota dan kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat. Selama itu pula pasukan penjajah Israel menyerbu bangunan-bangunan dan rumah-rumah warga, melakukan penembakan beberapa kali secara sporadis dan sengaja kea rah warga dan rumah-rumah mereka.

Jumlah warga Palestina yang menjadi korban penculikan Israel hingga akhir April mencapai 1051 warga. Belum lagi mereka yang ditangkap di perlintasan-perlintasan militer, gerbang-gerbang perbatasan, saat melakukan aksi protes damai menentang terus berlanjutnya aktifitas pembangunan tembok pemisah rasial di Tepi Barat, dan penentangan terhadap kebijakan sanksi massal yang dilakukan Israel dengan mendirikan perlintasan-perlintasan militer dan penutupan jalan-jalan.

Sementara itu di Jalur Gaza, dalam rentang waktu yang sama penjajah Israel melakukan 4 kali operasi militer. Dua di antaranya di Beit Hanun, wilayah utara Jalur Gaza. Sekali di Abasan, timur kota Khan Yunis dan sekali di kota Deor Balah, tengah Jalur Gaza. (seto)

Umum, SHARING, REFLEKSI, keseharian, ISLAM, SELINGAN, WACANAApril 25, 2008 9:21 am

Agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah disempurnakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai rahmat bagi seluruh hamba-Nya, sehingga agama ini tidak butuh tambahan, pengurangan dan otak-atik.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (QS. Al-Ma`idah: 3)

Di antara rahmat Allah Ta’ala kepada hamba hamba-Nya, disyari’atkannya “poligami” (seorang laki laki memiliki lebih dari satu istri) berdasarkan dalil-dalil yang akan datang.

Namun berbicara masalah poligami akan mengundang berbagai tanggapan. Ada yang menanggapinya secara posotif dan ini datangnya dari ulama’ dan kaum beriman. Tetapi, ada pula yang menanggapinya secara negatif, bahkan menentangnya dengan keras di antara segelintir orang dari kalangan orang-orang munafiq, dan orang-orang yang jahil dari kaum wanita dan laki-laki. Berbagai alasan dilontarkan intuk menolak poligami, entah dengan alasan kecemburuan, emosi, atau tidak siap dimadu, bahkan dengan alasan ketidakadilan.

Mungkin dengan dasar inilah, ada seorang penulis wanita (kami tidak sebutkan namanya) berusaha menentang, dan menzholimi “anugerah poligami” ini untuk membela kaum wanita menurut sangkaannya, padahal sebenarnya ia menzholimi kaum wanita. Maka dia pun menuangkan “pembelaannya” (baca: penzholimannya) tersebut dalam bentuk tulisan yang dimuat oleh koran “Kompas”, edisi 11 Desember 2006, dengan judul, “Wabah itu Bernama Poligami”. Sebuah judul yang memukau bagi orang-orang jahil, terlebih lagi orang-orang munafiq. Namun hal itu sangat berbahaya bagi keimanannya, dan mengerikan bagi kaum beriman. Betapa tidak, dia telah berani menyebut poligami sebagai “wabah”, dan telah lancang berani menyebut syari’at yang Allah Ta’ala sendiri yang menurunkan-Nya sebagai “wabah”. Dia telah menghina, menentang dan mengingkari anugerah yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Kalau wanita ini menganggap poligami adalah wabah, berarti dia telah menganggap bahwa Allah Ta’ala telah menurunkan wabah kepada para hamba-Nya,“Subhanallah wa Ta’ala ‘an qaulihim uluwwan kabiran Maha Suci, dan Maha Tinggi Allah atas apa yang mereka ucapkan.

Wanita untuk memuntahkan kebenciannya, dan penolakannya kepada syari’at poligami, maka ia pun tidak tanggung-tanggung membawakan hadits untuk menguatkan pendapatnya. Padahal hadits itu tidaklah menguatkan dirinya sedikitpun, bahkan menolak dengan kejahilannya: Wanita itu membawakan hadits, bahwa dilaporkan Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam marah ketika beliau mendengar putrinya Fatimah akan di poligami suaminya, Ali bin Abi Thalib. Beliau bergegas menuju mesjid, naik mimbar dan menyampaikan pidato, “Keluarga Bani Hasim bin Al-Mughiroh telah meminta izinku untuk menikahkan putri mereka dengan Ali Bin Abi Thalib saya tidak mengizinkan sama sekali kecuali Ali menceraikan putri Saya terlebih dahulu”. Kemudian Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan, “Fatimah adalah bagian dari-ku. Apa yang memggamggu dia adalah menggangguku dan apa yang menyakiti dia adalah menyakitiku juga”. Akhirnya, Ali bin Abi Thalib tetap monogami hingga Fatimah wafat.

Setelah membaca hadits diatas, mungkin kita akan menganggukkan kepala dan membenarkan wanita tersebut. Namun Saking “pandainya” wanita ini, ia lupa riwayat lain dalam Shohih Muslim (2449), “Sesungguhnya aku tidak mengharamkan yang halal dan tidak menghalalkan yang haram. Tapi, demi Allah, tidak akan berkumpul putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan putri musuh Allah selamanya”. Artinya, Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam tidak mengharamkan atas umatnya sesuatu yang halal, yaitu poligami. Selain itu, Syaikh Al-Adawiy dalam Fiqh Ta’addud Az-Zaujat (126) berkata, “Di antara kekhususan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, putrinya tidak boleh dimadu. Ini yang dikuatkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari (9/329)”.

Perlu diketahui bahwa para sahabat sepeninggal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan Ali sendiri berpoligami setelah Fathimah wafat. Ali bin Rabi’ah berkata, “Dulu Ali memiliki dua istri”. [HR. Ahmad dalam Fadho’il Ash-Shohabah (no.889)]. Ini menunjukkan bahwa poligami tetap diamalkan oleh para sahabat sepeninggal Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bukan bersifat kondisional !!

Lebih jauh lagi, Wanita itu mengomentari ayat berikut,

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. (QS. An-Nisa`: 3)

Wanita ini berkata, “Ayat tersebut turun setelah perang Uhud, dimana banyak sahabat wafat di medan perang. Ayat ini memungkinkan lelaki muslim mengawini janda, atau anak yatim, jika dia yakin inilah cara melindungi kepentingan mereka, dan hartanya dengan penuh keadilan. Jadi, ayat ini bersifat kondisional”.

Yang menjadi pembahasan kita dalam perkataannya adalah bahwa ayat ini bersifat kondisional, padahal seandainya ayat ini bersifat kondisional, justru ayat ini sangat memungkinkan untuk diamalkan pada zaman sekarang, karena melihat perbandingan jumlah wanita jauh lebih banyak dibandingkan jumlah laki-laki. Oleh karena itu, poligami di saat sekarang ini mestinya lebih disemarakkan! Selain itu, para ulama membuat kaedah, “Barometer dalam menafsirkan ayat dilihat pada keumuman lafazhnya, bukan pada kekhususan sebab turunnya ayat tertentu”. Jadi, dilihat cakupan dan keumuman ayat di atas dan lainnya, maka mencakup semua lelaki yang memiliki kemampuan lahiriah.

Kemudian, dia pun mengomentari firman Allah berikut layaknya sebagai ahli tafsir, padahal ia bukan termasuk darinya,

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri- isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An-Nisa`: 129)

Wanita ini berkata dengan congkak, “Ayat ini dapat disimpulkan, Islam pada dasarnya agama monogami”. Pembaca semoga dirahmati Allah beginilah apabila menafsirkan ayat dengan penafsiran sendiri, tanpa mau melihat bagaimana para ulama tafsir ketika menafsirkan ayat-ayat Allah. Ayat ini justru menunjukan disyari’atkannya poligami. Dengarkan para ahli tafsir ketika mereka menafsirkan ayat di atas (QS. An-Nisa`: 129)

Ath-Thabariy rahimahullah berkata, “Kalian, wahai kaum lelaki, tak akan mampu menyamakan istri-istrimu dalam hal cinta di dalam hatimu sampai kalian berbuat adil di antara mereka dalam hal itu. Maka tidak di hati kalian rasa cinta kepada sebagiannya, kecuali ada sesuatu yang sama dengan madunya, karena hal itu kalian tidak mampu melakukannya, dan urusannya bukan kepada kalian”. [Lihat Jami’ Al-Bayan (9/284)]

Syaikh Muhammad bin Nashir As-Sa’diyrahimahullah dalam menafsirkan ayat di atas (QS. An-Nisa`: 129), “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa suami tidak akan mampu. Bukanlah kesanggupan mereka berbuat adil secara sempurna di antara para istri, sebab keadilan mengharuskan adanya kecintaan, motivasi, dan kecenderungan yang sama dalam hati kepada para istri, kemudian demikian pula melakukan konsekuensi hal tersebut. Ini adalah perkara yang susah dan tidak mungkin. Oleh karena itu, Allah Ta’ala memaafkan perkara yang tidak sangup untuk dilakukan. Kemudian, Allah Ta’ala melarang sesuatu yang mungkin terjadi (yaitu, terlalu condong kepada istri yang lain, tanpa menunaikan hak-hak mereka yang wajib-pent),

فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ

Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung”. (QS. An-Nisa`: 129)

Maksudnya, janganlah engkau terlalu condong (kepada istri yang lain) sehingga engkau tidak menunaikan hak-haknya yang wajib, bahkan kerjakanlah sesuatu yang berada pada batas kemampauan kalian berupa keadilan. Maka memberi nafkah, pakaian, pembagian dan semisalnya, wajib bagi kalian untuk berbuat adil di antara istri-istri dalam hal tersebut, lain halnya dengan masalah kecintaan, jimak (bersetubuh), dan semisalnya, karena seorang istri, apabila suaminya meninggalkan sesuatu yang wajib (diberikan) kepada sang istri, maka jadilah sang istri dalam kondisi terkatung-katung bagaikan wanita yang tidak memiliki suami, lantaran itu sang istri bisa luwes dan bersiap untuk menikah lagi serta tidak lagi memiliki suami yang menunaikan hak-haknya”. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 207)]

Lebih gamblang, seorang mufassir ulung, Syaikh Asy-Syinqithiy rahimahullah berkata dalam Adhwa’ Al-Bayan (1/375) ketika menafsirkan ayat di atas, “Keadilan ini yang disebutkan oleh Allah disini bahwa ia tak mampu dilakukan adalah keadilan dalan cinta, dan kecenderungan secara tabi’at, karena hal itu bukan di bawah kemampaun manusia. Lain halnya dengan keadilan dalam hak-hak yang syar’iy, maka sesuangguhnya itu mampu dilakukan”.

Jadi, dari komentar para ahli tafsir tadi, tidak ada di antara mereka yang berdalil dengan ayat itu untuk menolak poligami. Lantas kenapa wanita ini tak mau menoleh ucapan para ulama’ tafsir? Jawabnya, karena tafsiran mereka tidak tunduk kepada hawa nafsu wanita ini.

Adapun dalil dalil yang menunjukan disyariatkannya poligami antara lain, maka telah berlalu dalam (QS. An-Nisa`: 3).

Di antara dalil poligami, Seorang tabi’in, Sa’id bin Jubair, “Ibnu Abbbas berkata kepadaku: “Apakah engkau telah menikah ?” Aku menjawab ” Belum”. Ibnu Abbas berkata, “Maka menikahlah, karena sebaik baik manusia pada umat ini adalah orang yang paling banyak istrinya”. [HR. Al-Bukhariydalam Shohihnya).

Satu lagi dalil poligami -namun sebenarnya masih banyak, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Termasuk sunnah jika seorang laki laki menikahi perawan setellah istri sebelumnya janda maka sang suami pun tinggal di rumah istri yang perawan ini selama tujuh hari maka sang suami tinggal dirumah istri yang janda selama tiga hari kemudian dia bagi”. [HR Bukhariy dalam Ash-Shohih]

Seorang ulama’ Syafi’iyyah, Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fatul Bari (9/10) berkata, “Dalam hadits ini, ada anjuran untuk menikah dan meninggalkan hidup membujang”.

Setelah kita mengetahui dalil-dalil yang menunjukan disyari’atkannya seorang muslim, laki-laki maupun wanita melakukan poligami. Jadi, kami nasihatkan kepada diri kami dan para suami dan calon suami untuk menikah hingga empat orang istri, jika dia sanggup untuk berbuat adil dalam perkara lahirah, seperti, pembagian malam, dan nafkah. Adapun adil dalam perkara batin (seperti, cinta, kesenangan jimak, perasaan bahagia bersama dengan salah satu diantara mereka), maka ini bukan merupakan syarat berdasarkan hadits-hadits dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana yang diterangkan oleh para ulama.

Terakhir, Kami nasihatkan kepada para wanita agar bersiap untuk dimadu dan berlapang dada untuk menerima anugerah poligami ini, serta tidak menentang syari’at poligami, karena ini adalah kekufuran. Samahatusy Syaikh Abdul Azizi bin Bazrahimahullah berkata, “Barangsiapa yang membenci sedikitpun dari sesuatu yang dibawa Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam, meskipun dia mengamalkannya, maka sungguh dia telah kafir. Allah Ta’ala berfirman,

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka”. (QS. Muhammad: 9) [Lihat Nawaqid Al-Islam]

Sumber: Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 07 Tahun I. Penerbit: Pustaka Ibnu Abbas. Alamat: Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP: 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab: Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi: Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh: Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout: Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan hubungi alamat di atas. (infaq Rp. 200,-/exp)

Sumber: http://almakassari.com/?p=44

Umum, REFLEKSI, ISLAM, SELINGAN, PENDAPAT 9:20 am

Masalah kewanitaan dalam Islam menjadi tema yang tak habis-habisnya disoroti oleh aktivis perempuan dan kalangan feminis. Dari soal kepemimpinan, “diskriminasi” peran, partisipasi yang “rendah” karena posisinya yang dianggap “subordinat”, hingga poligami. Semuanya bermuara pada sebuah gugatan bahwa wanita harus mempunyai hak yang sama alias sejajar dengan pria. Seolah-olah dalam agama ini terjadi pembedaan (yang membabi buta) antara pria dan wanita.

Adalah sebuah kenyataan, wanita berbeda dengan pria dalam banyak hal. Dari perbedaan kondisi fisik, sisi emosional yang menonjol, sifat-sifat bawaan, dan sebagainya. Makanya syariat pun memayungi perbedaan ini dengan adanya fiqh yang khusus diperuntukkan bagi laki-laki dan fiqh yang dikhususkan bagi perempuan.

Secara fisiologis, misalnya, wanita mengalami haid hingga berkonsekuensi berbeda pada hukum-hukum yang dibebankan atasnya. Sementara dari kejiwaan, pria umumnya lebih mengedepankan akalnya sehingga lebih bijak, sementara wanita cenderung mengedepankan emosinya. Namun dengan emosi yang menonjol itu, wanita patut menjadi ibu yang mana punya ikatan yang kuat dengan anak. Sebaliknya, dengan kelebihannya, laki-laki pantas menjadi pemimpin sekaligus menjadi tulang punggung dalam rumah tangganya.

Hal-hal di atas bersifat kodrati, bukan label sosial yang dilekatkan (sebagaimana sering didalilkan kaum feminis). Semuanya itu merupakan tatanan terbaik yang diatur Sang Pencipta, Allah l. Kelebihan dan kekurangan masing-masing akan saling melengkapi sehingga pria dan wanita bisa bersenyawa sebagai suami istri. Namun tatanan ini nampaknya hendak dicabik-cabik oleh para penjaja emansipasi yang mengemasnya sebagai “kesetaraan” jender, yang mana hal itu telah diklaim sebagai simbol kemajuan di negara-negara Barat.

Para feminis dan aktivis perempuan itu seolah demikian percaya bahwa kemajuan terletak pada segala hal yang berbau Barat. “Akidah” ini, sekaligus merupakan potret dari sebagian masyarakat Islam sekarang. Di mana busana, kultur, sistem politik (demokrasi) hingga makanan ’serba Barat’ telah demikian kokoh menjajah ‘gaya hidup’ sebagian kaum muslimin.

Demikian juga emansipasi. Propagandanya telah memperkuat citra yang rendah terhadap ibu rumah tangga yang jamak ditekuni oleh sebagian besar muslimah, bahwa berkutatnya wanita dalam wilayah domestik dianggap keterbelakangan sebelum bisa menapaki karir.

Falsafah ini kian diperparah dengan paham yang mendewakan kecantikan fisik. Alhasil, ada wanita yang tidak mau menyusui, hanya mau melahirkan lewat jalan operasi, dan sebagainya, (konon) demi semata menjaga “bentuk tubuh”. Sedemikian rusaknya pandangan ini, hingga anak pun dianggap sebagai penghambat kemajuan (karir).

Sejatinya, jika mau jujur, emansipasi tak lebih dari “produk gagal” dari industri peradaban Barat. Hanya karena kemasan alias silau terhadap kemajuan (fisik) Barat kemudian lahirlah pemahaman bahwa kemunduran negara-negara Islam disebabkan tidak mengikuti Barat, seakan menjadi harga mati.

Padahal kalau kita menilik sejarah, bukan teknologi atau tatanan pergaulan ala Barat sekarang yang membuat Islam jaya di masa silam. Apa arti teknologi jika tidak diimbangi keimanan. Yang terjadi, teknologi justru kemudian digunakan untuk membunuh, mengeksploitasi alam, menjajah negara lain apalagi hanya dengan dalih menangkap gembong teroris, memainkan perannya sebagai polisi dunia, serta menjerat negara berkembang dengan hutang plus (intervensi politik).

Negara Barat seakan tutup mata dengan keroposnya sendi-sendi masyarakat mereka karena tingginya angka perceraian, meratanya seks bebas, meningkatnya homoseksualitas (karena dilegalkan), kentalnya praktik rasial (terhadap warga non kulit putih), dan sebagainya.

Makanya jika kita masih saja berkaca dengan Barat, sudah saatnya kita meninjau ulang emansipasi!

 

Sumber:  http://akhwat.web.id/

Umum, keseharian, ISLAM, SELINGAN, PENDAPATApril 24, 2008 7:04 am

Semua makhluk ciptaan Allah SWT dapat dibagi kepada dua macam, yaitu: makhluk yang gaib (al ghaib) dan makhluk yang nyata (as syahadah). Yang bisa membedakan keduanya adalah pancaindera manusia. Segala sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh salah satu pancaindera manusia digolong­kan kepada al ghaib, sedangkan yang bisa dijangkau oleh salah satu pancaindera manusia digolongkan kepada as syahadah.

Untuk mengetahui dan mengimani wujud makhluk gaib tersebut, seseorang dapat menempuh dua cara. Pertama, melalui berita atau infor­masi yang diberikan oleh sumber tertentu (bil-Akhbar).
Kedua, melalui bukti bukti nyata yang menunjukkan makhluk gaib itu ada (bil atsar).

Salah satu makhluk gaib Allah adalah malaikat.

Allâh menciptakan mahkluk-makhluk untuk menjalankan alam semesta ini. Di antara makhluk-makhluk Allâh, ada yang diciptakan nyata (yaitu meliputi seluruh zat dan energi fisik, termasuk makhluk-makhluk biologis), dan ada yang diciptakan ghaib . Hukum fisik real berlaku untuk mahkhuk nyata, dan hukum ghaib berlaku untuk makhluk ghaib. Tidak banyak yang dapat diketahui manusia tentang keghaiban, kecuali yang diinformasikan Allâh melalui rasul dan kitab-Nya.

Salah satu jenis makhluk ghaib adalah malaikat. Malaikat mengemban tugas-tugas tertentu dalam mengelola alam semesta. Jumlah malaikat sangat banyak [kita tidak akan membahas lagi kata jumlah dalam dimensi ghaib]. Beberapa nama malaikat yang perlu dikenal adalah :

Jibril (Ruhul Amin, Ruhul Qudus, Gabriel). Bertugas menyampaikan wahyu dari Allâh.
Mikail (Michael). Mengatur urusan pengaturan semesta, termasuk rizqi manusia.
Izrail (Malaikat maut). Mencabut ruh semua makhluk.
Israfil. Meniup sangkakala pertanda hari kiamat.
Raqib. Mencatat amal baik manusia.
Atid. Mencatat amal buruk manusia.
Munkar dan
Nakir. Menanyai manusia yang baru wafat.
Ridwan. Menjaga surga.
Malik. Menjaga neraka.

Maka untuk meyakini dan mengimani keber­adaan malaikat bisa ditempuh dengan dua cara.
Pertama, melalui berita (akhbar) yang disampaikan oleh firman Allah dalam Al-Qur‘an maupun sabda Rasulullah SAW dalam Hadits. Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur‘an dan hadits yang menjelaskan perihal malaikat. Karena kita mengimani kebenaran sumber (Al-Qur‘an dan Hadits), maka berita tentang malaikat pun kita imani adanya.

Kedua, kita dapat mengetahui dan mengimani wujud malaikat melalui bukti-bukti nyata yang ada di alam semesta yang menunjukkan bahwa malaikat itu benar-benar ada. Misalnya, Malaikat Maut yang bertugas mencabut nyawa manusia, dapat dibuktikan secara nyata dengan adanya peristiwa kematian manusia. Demikian pula dengan keberadaan Malaikat Jibril, bisa dibukti­kan secara nyata dengan adanya Al-Qur‘an yang disampaikannya kepada Nabi Muhammad SAW.

Secara etimologis (lughawiy), kata “malaikah” yang dalam bahasa Indonesia disebut “malaikat,” adalah bentuk jamak dari kata “malak,” berasal dari mashdar “al-alukah” yang berarti ar-risalah (misi atau pesan). Yang membawa misi disebut “ar-rasul” (utusan). Dalam beberapa ayat Al-Qur`an, malaikat juga disebut dengan “rusul” (utusan-utusan), misalnya pada surat Hud 69. Bentuk jamak lainnya dari kata “malak” adalah “mala`ik.” Dalam bahasa Indonesia, kata “malaikat” bermakna tunggal (satu malaikat), bentuk jamaknya menjadi “malaikat-malaikat.”

Secara terminologis (isthilahiy), makaikat adalah makhluk gaib yang diciptakan oleh Allah SWT dari cahaya (nur) dengan wujud dan sifat-sifat tertentu.

Tentang penciptaan malaikat, Rasulullah SAW menginformasikan bahwa malaikat diciptakan dari cahaya (nur), berbeda dengan jin yang diciptakan dari api (nar):

“Malaikat itu diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah diterangkan kepadamu semua” (HR. Muslim).

Tentang kapan waktu penciptaannya, tidak ada penjelasan yang rinci. Tapi yang jelas, malaikat diciptakan lebih dahulu dari manusia pertama (Adam AS) sebagaimana yang disebutkan oleh ­Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 30:

“Ingatlah ketika Rabb-mu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…” (Al Baqarah 30).

Sebagai makhluk ghaib, wujud Malaikat tidak dapat dilihat, didengar, diraba, dicium dan dicicipi (dirasakan) oleh manusia. Dengan kata lain tidak dapat dijangkau oleh panca­indera, kecuali jika malaikat menampil­kan diri dalam rupa tertentu, seperti rupa manusia. Dalam beberapa ayat dan hadits disebutkan beberapa peristiwa malaikat menjelma menjadi manusia, seperti:

“Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucap­kan: Selamat. Ibrahim menjawab: Selamatlah, maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-malaikat) yang diutus kepada kaum Luth” (Hud 69 70).

“Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Qur`an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur maka ia mengadakan tabir (yang malindunginya) dari mereka, lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna” (Maryam 16 17).

Dalam suatu hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa malaikat Jibril pernah datang dalam rupa manusia menemui Rasulullah SAW –disaksikan oleh sahabat sahabat beliau, antara lain Umar bin Khaththab– dan menanyakan tentang Islam, Iman, Ihsan dan Sa’ah (Kiamat). Setelah malaikat itu pergi barulah Rasulullah SAW bertanya kepada Umar: “Ya Umar, tahukah engkau siapa yang ber­tanya tadi. Umar menjawab; “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya ia adalah Jibril yang datang mengajarkan ad diin kepada kalian.” (HR. Muslim).

Malaikat tidak dilengkapi dengan hawa nafsu, tidak memiliki keinginan seperti manusia, tidak berjenis lelaki atau perempuan, dan tidak berkeluarga. Hidup dalam alam yang berbeda dengan kehidupan alam se­mesta yang kita saksikan ini. Yang menge­tahui hakikat wujudnya hanyalah Allah SWT.

Jumlah malaikat sangat banyak, tidak bisa diperkirakan. Sesama mereka juga ada per­bedaan dan tingkatan tingkatan, baik dalam kejadian maupun dalam tugas, pangkat dan kedudukan. Allah menyebutkan bahwa ada malaikat yang bersayap dua, tiga dan empat:

“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Fathir 1).

Dalam suatu hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah melihat Jibril bersayap enam ratus: “Rasulullah SAW melihat Jibril ‘alaihis salam bersayap enam ratus” (HR. Muslim).

Perbedaan jumlah sayap tersebut bisa saja berarti perbedaan kedudukan, pangkat atau perbedaan kemampuan dan kecepatan dalam men­ja­lankan tugas. Sedangkan bagaimana bentuk sayap tersebut tentu saja kita tidak bisa mengetahuinya dan memang tidak perlu berusaha untuk menyelidikinya karena –seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya– malaikat adalah makhluk gaib (immaterial) yang hakikatnya hanyalah Allah SWT yang mengetahuinya. (Sumber majalah Tabligh & Isnet)

Wallahu a’lamu bis-shawab.

 

Sumber:  http://swaramuslim.net/

Umum, REFLEKSI, keseharian, ISLAM, SELINGAN, WACANA 6:53 am

Assalamu’alaikum wr wb, Akhir-akhir ini marak fenomena kesurupan yang terjaid di beberapa daerah. Juga, tayangan mistis di berbagai teve swasta, yang menghadirkan sosok dukun yang kono mampu membawa pemirsa untuk mengetahui keberadaan jin/syetan penunggu rumah dan sebagainya. Tulisan berjudul "Sedikit Tentang JIN" semoga saja memberi sedikit pencerahan kepada ummat Islam berkenaan dengan fenomena yang akhir-akhir ini marak.

Menurut seorang ahli Ruqyah Syar’iyyah, seseorang yang meng-klaim dirinya mampu mengetahui keberadaan JIN, mampu merasakan kehadiran JIN, sesungguhnya orang tersebut adalah orang yang sedang bermasalah, terutama di dalam pelaksanaan ibadah pokok, seperti suka meninggalkan shalat, dan masih dekat dengan perbuatan-perbuatan yang disenangi syetan. Bahkan, boleh jadi, mereka yang meng-klaim bisa melihat JIN adalah tergolong orang yg musyrik dan memang tidak pernah shalat (seperti dukun, paranormal dsb.), begitulah menurut pendapat ahli Ruqyah Syar’iyyah yang pernah kami ketahui.

Wassalamu’alaikum wr

image
Sedikit Tentang JIN
Oleh Muhammad Hanafi Maksum, Jakarta
“Dan kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS Al-Hijr 15:27).

Apakah Jin Itu?


Dalam Islam, makhluk ciptaan Allah dapat dibedakan antara yang bernyawa dan tak bernyawa. Di antara yang bernyawa adalah jin. Kata jin menurut bahasa (Arab) berasal dari kata ijtinan, yang berarti istitar (tersembunyi).

Jadi :
  • jin menurut bahasa berarti sesuatu yang tersembunyi dan halus, sedangkan

  • syetan ialah setiap yang durhaka dari golongan jin, manusia atau hewan.

Dinamakan jin, karena ia tersembunyi wujudnya dari pandangan mata manusia. Itulah sebabnya jin dalam wujud aslinya tidak dapat dilihat mata manusia. Kalau ada manusia yang dapat melihat jin, maka jin yang dilihatnya itu adalah jin yang sedang menjelma dalam wujud makhluk yang dapat dilihat mata manusia biasa.

“Sesungguhnya ua (jin) dan pengikut-pengikutnya melihat kalian (hai manusia) dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (QS Al-A’raf 7:27).

Tentang asal kejadian jin, Allah menjelaskan, kalau manusia pertama diciptakan dari tanah, maka jin diciptakan dari api yang sangat panas sesuai dengan ayat tersebut di atas.

Dalam ayat lain Allah mempertegas: “Dan Kami telah menciptakan jin dari nyala api.” (QS Ar-Rahman 55:15). Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid dan Adhdhahak berkata, bahwa yang dimaksud dengan firman Allah: Dari nyala api, ialah dari api murni.

Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas: Dari bara api. (Ditemukan dalam Tafsir Ibnu Katsir). Dalilnya dari hadits riwayat Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan(diceritakan) kepada kalian.” [yaitu dari air spermatozoa] (HR Muslim di dalam kitab Az-Zuhd dan Ahmad di dalam Al-Musnad).

Bagaimana wujud api itu, Al-Qur’an tak menjelaskan secara rinci, dan Allah pun tidak mewajibkan kepada kita untuk menelitinya secara detail.

Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Syetan memperlihatkan wujud (diri)nya ketika aku shalat, namun atas pertolongan Allah, aku dapat mencekiknya hingga kurasakan dingin air liurnya di tanganku. Kalau bukan karena doa saudaraku Nabi Sulaiman, pasti kubunuh dia.” (HR Bukhari).

Mengubah Bentuk


Setiap makhluk diberi Allah kekhususan atau keistimewaan tersendiri, di mana salah satu kekhususan jin ialah dapat mengubah bentuk. Misalnya jin kafir (syetan) pernah menampakkan diri dalam wujud orang tua kepada kaum Quraisy sebanyak dua kali. Pertama, ketika suku Quraisy berkonspirasi untuk membunuh Nabi Muhammad SAW di Makkah.
Kedua, dalam perang Badr pada tahun kedua Hijriah. (QS Al-Anfaal 8:48).

Apakah Jin Juga Meninggal?


Jin beranak-pinak dan berkembang-biak (lihat surat Al-Kahfi, 18:50). Tentang apakah jin bisa meninggal atau tidak, ada pendapat bahwa jin hanya berkembang biak, tetapi tidak pernah meninggal. Benar atau tidak, wa Allahu a’lam. Namun menurut hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, di mana Nabi Muhammad SAW berdo’a: “Ya Allah, Engkau tidak mati, sedang jin dan manusia mati…” (HR Bukhari 7383 – Muslim 717).

Tempat-tempat Jin


Walaupun banyak perbedaan antara manusia dengan jin, namun persamannya juga ada. Di antaranya sama-sama mendiami bumi. Bahkan jin telah mendiami bumi sebelum adanya manusia dan kemudian tinggal bersama manusia itu di rumah manusia, tidur di ranjang dan amkan bersama manusia.

Tempat yang paling disenangi jin adalah WC. Oleh sebab itu hendaknya kita berdoa waktu masuk WC yang artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari (gangguan) setan (jin) laki-laki dan setan (jin) perempuan.” (HR At-Turmudzi).

Syetan suka berdiam di kubur dan di tempat sampah. Apa sebabnya, Al-Qur’an tidak menjelaskan secara rinci. Kuburan dijadikan sebagai tempat bermeditasi oleh tukang sihir (Paranormal).

Nabi Muhammad SAW melarang kita tidur menyerupai syetan. Syetan tidur di atas perutnya (tengkurap) dan bertelanjang. Manusia yang tidur dalam keadaan bertelanjang menarik perhatian syetan untuk mempermainkan auratnya dan menyebabkan timbulnya penyakit. Na’uzu billah min zaalik!

Qarin


Yang dimaksud dengan qarin dalam surat Qaaf 50:27 ialah yang menyertai. Setiap manusia disertai syetan yang selalu memperdayakannya. Allah berfirman, artinya: “Yang menyertai dia (qarin) berkata pula: ‘Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkan tetapi dialah (manusia) yang berada dalam kesesatan yang jauh’…” (QS Qaaf 50:27).

Manusia dan syetan qarinnya itu akan bersama-sama pada hari berhisab nanti. Dalam sebuah hadits (HR Ahmad) Aisyah ra mengatakan: Rasulullah SAW keluar dari rumah pada malam hari, aku cemburu karenanya. Tak lama ia kembali dan menyaksikan tingkahku, lalu ia berkata: “Apakah kamu telah didatangi syetanmu?”

“Apakah syetan bersamaku?” Jawabku.

“Ya, bahkan setiap manusia.” Kata Nabi Muhammad SAW.

“Termasuk engkau juga?” Tanyaku lagi.

“Betul, tetapi Allah menolongku hingga aku selamat dari godaannya.” Jawab Nabi (HR Ahmad).

Berdasarkan hadits ini, Nabi Muhammad juga ternyata didampingi syetan. Hanya syetan itu tidak berkutik terhadapnya. Lalu bagaimana mendeteksi keberadaan jin (misalnya di rumah kita), apa tanda-tanda seseorang kemasukan jin? Tidak ada cara atau alat yang bisa mendeteksi keberadaan jin. Sebab jin dalam wujud aslinya merupakan makhluk ghaib yang tidak mungkin dilihat manusia (QS Al-A’raf 7:27).

Tidak ada manusia yang bisa melihat jin, dan jika ada manusia yang mengklaim mampu melihat jin, maka orang tersebut sedang bermasalah. Bisa jadi dia mempunyai jin warisan atau pun jin hasil dia belajar. Kemampuan ini sebetulnya dalam Islam dilarang untuk dimiliki, dan termasuk dalam kategori bekerja sama dengan jin yang menyesatkan (QS Al-Jin 72:6).

Sesungguhnya, tidak ada cara yang bisa digunakan untuk mendeteksi keberadaan jin. Jangan meminta bantuan orang yang mempunyai ilmu terawang. Sebab kalau kita meminta bantuannya, kita berarti telah meminta bantuan dukun musyrik yang dalam Islam merupakan dosa besar, bahkan bisa mengeluarkan seseorang dari Islam.

Keberadaan Jin


Yang bisa diketahui dalam hal ini adalah tanda-tanda keberadaan jin. Umpamanya, jin yang menampakkan diri pada seseorang di rumah atau ditempat-tempat tertentu. Atau anggota rumah/kantor yang sering kehilangan uang sementara menurut perkiraan sangat tidak mungkin ada orang yang mencuri. Atau orang sering kesurupan kalau memasuki tempat tersebut. Itu adalah bagian dari indikasi gangguan jin di tempat tersebut.

Jika sudah ada gangguan, maka Ruqyah Syar’iyyah adalah solusi islaminya. Ada pun jika tidak ada gangguan di rumah atau di tempat kita, maka pendeteksian keberadaan jin-jin jahat tak perlu dilakukan.

Demikian juga masalah deteksi jin pada diri seseorang. Tidak ada orang yang dapat melihat keberadaan jin secara pasti dalam tubuh seseorang. Kalau ada yang mengaku mampu mendeteksinya secara pasti, maka orang tersebut juga mempunyai jin yang tidak boleh dimintai bantuan.

Untuk memastikan keberadaan jin yang memasuki tubuh seseorang adalah juga dengan Ruqyah Syar’iyyah. Yaitu, terapi nabawi berupa membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan do’a-do’a yang ma’surat. Itulah satu-satunya cara islami yang diajarkan Islam untuk menangani segala kasus yang berhubungan dengan jin.

Indikasi orang yang dimasuki jin sebagai berikut:


1. Gejala waktu terjaga, di antaranya:
  1. Badan terasa lemah, loyo, dan tidak ada gairah hidup.

  2. Berat dan malas untuk beraktifitas, terutama untuk beribadah kepada Allah.

  3. Banyak mengkhayal dan melamun, senyum dan bicara sendiri.

  4. Tiba-tiba menangis atau tertawa tanpa sebab.
  5. Sering merasa ada getaran, hawa dingin, atau panas, kesemutan, berdebar, dan sesak nafas saat membaca Al-Qur’an.

2. Gejala waktu tidur, di antaranya adalah:
  1. Banyak tidur dan mengantuk berat, atau sulit tidur tanpa sebab.

  2. Sering mengigau dengan kata-kata kotor.

  3. Melakukan gerakan-gerakan aneh, seperti mengunyah dengan keras sampai beradu gigi.

  4. Sering bermimpi buruk dan seram atau seakan-akan jatuh dari tempat yang tinggi.

  5. Bermimpi melihat binatang-binatang seperti ular, kucing, anjing, singa, serigala yang seakan-akan menyerangnya.

  6. Bermimpi ditemui jin yang mengaku arwah nenek moyang atau tokoh tertentu.

  7. Saat tidur merasa seperti ada yang mencekik lehernya atau menggelitikinya dan menendangnya.

Sumber: Lembaran Dakwah Uswatun Hasanah No. 915/Th. XIX, Jum’at ke-1, 7 Rabiul Akhir 1427 H / 5 Mei 2006 M.