Kumpulan Artikel

REFLEKSI, ISLAMNovember 26, 2009 10:21 am

Aspek pendidikan merupakan salah satu solusi dalam upaya mengentaskan kemiskinan.

Dunia pernah dibuat kagum oleh para pesepak bola asal Kamerun. Salah satunya adalah aksi brilian striker Kamerun, Roger Milla, kala menumbangkan tim kuat Argentina pada laga pembuka Piala Dunia 1990 di Italia. Itulah momen ketika nama Kamerun segera menjadi topik pembicaraan hangat di seantero jagat.

Hingga kini, negara yang terletak di sub-Sahara Afrika itu tetap mampu mempertahankan tradisi sepak bola andalnya. Pemain-pemain Kamerun telah berkiprah di liga-liga terbaik dunia sekaligus mengharumkan nama Kamerun. Selain Roger Milla, pemain asal Kamerun lainnya yang kini sangat populer adalah Samuel Eto’o, mantan pemain Barcelona yang kini bermain di klub Inter Milan, Italia. Eto’o pernah menjadi top skor La Liga (Spanyol) saat memperkuat Barcelona.

Sesungguhnya, bukan hanya dari kancah sepak bola saja yang membuat Kamerun dikenal dunia. Sejak lama, negara tersebut diakui sebagai contoh terbaik perwujudan toleransi dan kerukunan antarumat beragama di benua Afrika.

Ya, berbeda dengan negara-negara tetangga mereka, sejauh ini Kamerun sangat jarang terdengar munculnya konflik komunal yang diakibatkan perbedaan keyakinan agama. Masyarakat Kamerun justru dapat memelihara sikap saling menghargai satu sama lain.

Pujian pun datang dari mana-mana. Salah satunya dari Paus Benediktus XVI. Pemimpin umat Nasrani ini bahkan menjadikan Kamerun sebagai awal lawatannya ke benua Afrika, medio Maret 2009.

Dalam kesempatan itu, Paus menyempatkan diri untuk bertemu dengan sejumlah tokoh Islam di sana. Ketika itu, secara khusus Paus memberikan apresiasi dan penghargaan pada peran umat Islam dalam menjaga kerukunan beragama.

Paus lantas mengatakan, Islam adalah salah satu agama yang menjadi dasar peradaban manusia. Oleh sebab itu, dia meminta umat Islam dan Nasrani di Kamerun dapat meneruskan contoh kerukunan tadi kepada negara-negara Afrika lainnya.

‘’Saya berharap, umat Islam dan Nasrani di Kamerun untuk dapat selalu bekerja sama dalam upaya membangun peradaban cinta,’’ ujar Paus dalam pertemuan di Ounde, Kamerun. Berdasarkan data, jumlah umat Muslim di Kamerun saat ini sekitar 22 persen dari populasi sebanyak 17,2 juta jiwa. Adapun penganut Katolik dan Animisme masing-masing berjumlah 27 persen dan 18 persen lagi merupakan penganut Protestan.

Lebih jauh, Paus mengharapkan umat beragama di Kamerun dapat terus mempertahankan situasi rukun dan damai, sekaligus menghindari konflik antaragama. ‘’Kita ingin melihat kehidupan umat beragama di negara ini bisa menjadi panutan bagi negara-negara lain di kawasan dalam rangka mewujudkan komitmen terhadap keadilan, perdamaian, dan kebaikan bersama,’’ tegasnya.

Seperti disebutkan David Grim, peneliti senior bidang agama dan kerja sama internasional di Pew Forum in Religion and Public Life, kedua agama (Islam dan Nasrani) sedang mengalami pertumbuhan pesat di Afrika.

Dulu, hanya satu dari 10 orang di sub-Sahara Afrika adalah penganut Nasrani. Kini, jumlahnya hampir enam dari 10 orang. ‘’Begitu pula umat Islam, jika pada awal abad 20 jumlahnya baru sekitar 14 persen dari populasi, saat ini sudah mencakup 20-30 persen,’’ tegasnya.

Maka itu, sangatlah penting agar setiap pemeluk agama dapat memelihara toleransi di antara mereka. ‘’Sejauh ini, Kamerun telah berhasil memenuhi harapan itu,’’ paparnya bangga.

Hal ini dipertegas oleh Krisztof Zielenda, direktur Institut Saint Joseph Mukasa Institute, Yoaunde. Dia melihat, selama ini umat beragama di Kamerun dapat hidup berdampingan secara damai dan penuh harmoni.

Menurutnya, selain sikap toleransi yang memang telah tertanam sejak lama, situasi kondusif itu juga ditopang oleh kebijakan pemerintah yang dirasakan sangat akomodatif, termasuk telah tercantum dalam undang-undang negara. ‘’Kerja sama antaragama terpelihara dengan baik. Ini antara lain karena pemerintah amat memberikan perhatian,’’ papar Zielanda.

Dia lantas mencontohkan, pada tahun 2004, pernah hampir terjadi gesekan antara pemuda Islam dan Nasrani di wilayah utara. Akan tetapi, segera seluruh pejabat pemerintah turun tangan meredam gejolak tersebut yang pada akhirnya mampu mendamaikan kedua pihak.

‘’Saat itu, para tokoh agama, baik Islam, Katolik, maupun Protestan, dipertemukan dan difasilitasi pemerintah. Di situ, kita sepakat untuk turun ke masyarakat dan menyosialisasikan pesan-pesan damai dalam agama,’’ terangnya.


Meningkatkan taraf hidup
Kondisi damai memang tercipta. Meski demikian, bukan berarti kewajiban umat Islam telah selesai. Masih ada tugas lain yang lebih berat, yakni bagaimana meningkatkan taraf kehidupan agar menjadi lebih baik, khususnya dalam distribusi kesejahteraan.

Bukan rahasia lagi, negara berpenduduk sekitar 16 juta jiwa itu masih menghadapi tantangan untuk dapat keluar dari masalah kemiskinan yang menimpa sebagian warganya. Hal itu telah berlangsung lama, dimulai oleh praktik eksploitasi sumber daya manusia dan alam oleh kaum kolonial di masa lalu.

Bahkan, hingga kemerdekaan penuh diraih tahun 1973, negara di kawasan barat Afrika itu masih harus berjuang keras mengatasi problem itu. Dibanding negara lainnya di kawasan tersebut, Kamerun tergolong negara dengan sumber daya alam melimpah.

Tak terkecuali dengan umat Muslim. Mereka kebanyakan tinggal di kawasan utara dan sebagian hidup kekurangan. Akan tetapi, umat senantiasa berupaya untuk mengatasi masalah kemiskinan dan kebodohan tersebut.

Selain aspek ekonomi, salah satu yang kini terus dikembangkan adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas bidang pendidikan. Ini mengingat telah muncul kesadaran bahwa di antara penyebab maraknya kemiskinan adalah kurangnya tingkat pendidikan, baik umum maupun agama, di kalangan umat selama ini.

Lembaga keislaman
Oleh karena itu, di beberapa wilayah mayoritas Muslim, mulai dibangun sejumlah masjid dan sekolah. Program ini telah dimulai sejak tahun lalu dan mendapat sambutan luas segenap umat Muslim.

Adalah sebuah lembaga bernama Humanitarian Relief Foundation yang mensponsori program itu. Belum lama ini, sebuah masjid berlantai tiga telah diresmikan di distrik Pakakatorz, Kota Duala. Pembangunan masjid ini juga didanai oleh Osman Gazi Municipality.

Selain untuk tempat ibadah, masjid ini juga dapat difungsikan untuk beragam kegiatan, misalnya pendidikan, sosial, ekonomi, dan sebagainya. ‘’Ini adalah salah satu upaya meningkatkan kualitas kehidupan umat. Semoga lebih banyak masjid dan sekolah lagi yang dapat dibangun,’’ tegas Durmus Aydin, direktur Relief Foundation, saat acara peresmian. berbagai sumber ed : sya



Syiar Islam Sejak Abad X

Agama Islam pertama kali masuk ke kawasan utara Kamerun pada abad ke-10 yang dibawa oleh para pedagang dari jazirah Arab melalui Sahara. Mereka berdagang berbagai barang keperluang harian, emas, perunggu, garam, tembaga, dan lain sebagainya.

Di samping berniaga, para pedagang ini sekaligus mendakwahkan Islam pada penduduk pribumi dan dalam waktu singkat telah mendapatkan sambutan luas. Islam pun tumbuh pesat dan akhirnya menguasai wilayah bagian utara dan tengah.

Islam mulai meraih kejayaan ketika Kerajaan Kanem Bornu di dekat Danau Chad yang dipimpin oleh Dinasti Saifawa (Sefuwa), yaitu Raja Dunama Dibbalemi, masuk Islam tahun 1221. Dinasti ini memerintah sampai dengan tahun 1251. Islam di Afrika Tengah mulai menyebar, mulai dari Chad, Nigeria, Niger, hingga Kamerun.

Pengaruh Kanem Bornu di Kamerun berlanjut hingga abad ke-15. Namun, agama Islam baru menjadi kekuatan penuh di bagian utara saat suku Fulani (Fulbe) berkuasa pada abad ke-18. Mereka lantas mendirikan Kerajaan Adamawa (Adamawa Emirate) yang meliputi Kamerun dan Nigeria.

Suku Fulani dikenal sebagai salah satu suku unggulan di Afrika dan gigih menyebarkan agama Islam di kawasan itu. Sebelumnya, suku ini melakukan ekspansi ke Kerajaan Bamoun di abad ke-17 yang didirikan oleh Nshare Yen dan Kerajaan Bamoun menerima Islam secara utuh pada tahun 1833 ketika Sultan Njoya Ibrahima berkuasa.

Agama Nasrani baru berkembang pada abad ke-19. Dimulai oleh kedatangan orang Barat pertama, yakni Fenando Po dari Portugis, pada tahun 1472. Dinamakan Kamerun karena orang Portugis ini melihat banyak udang di perairan di sana sehingga mereka menamakan Rio des Cameroes (The Prawn River)

Di bawah kekuasaan bangsa Barat inilah, agama Nasrani disebarluaskan ke seluruh negeri. Dengan dukungan kebijakan kaum kolonial dan dana yang memadai, agama ini kian berkembang dan menjangkau penduduk lebih luas.

Faktor inilah yang menyebabkan agama Nasrani tumbuh menjadi mayoritas, kendati secara awal kedatangan, Islam-lah yang lebih dahulu tiba. Sedangkan, agama Islam tetap ‘menguasai’ kawasan utara dan tengah hingga saat ini.

Presiden Muslim
Peran umat Islam dalam percaturan perpolitikan dan sosial tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Ini misalnya ditunjukkan dengan tampilnya El Haji Ahmadou Babatoura Ahijo sebagai presiden pertama setelah negara itu memperoleh kemerdekaan pada 1 Januari 1960. Ahmadou Ahijo bahkan dinobatkan sebagai Bapak Kemerdekaan Kamerun.

Dia adalah pejuang Muslim sejati yang berasal dari suku Fulani. Pria kelahiran 1924 ini membawa negara seluas 475 ribu km persegi itu pada gerbang kemerdekaan ketika partainya, l’Union Camerounaise, berhasil menguasai parlemen pada tahun 1958.

Ada dua hal penting yang patut dicatat selama pemerintahan Ahijo ini. Pertama, mampu mempersatukan dua daerah yang bersengketa, daerah utara berbasis koloni Inggris dan daerah selatan berbasis koloni Prancis.  Kedua adalah pemerintahan ini berhasil memajukan sektor pertanian dan industri.

Presiden Ahijo mengundurkan diri dari jabatannya pada 6 November 1982 karena alasan kesehatan. Selanjutnya, ia digantikan Paul Biya. Pemimpin karismatik ini wafat di Dakar, Senegal, pada 30 November 1989.

 

Sumber: http://m.republika.co.id/artikel.php?id=91597&menu=islam_mancanegara

Umum, SHARING, REFLEKSINovember 12, 2009 6:42 pm

Antara Axon, Dendrite dan Cahaya Allah

Written by Ust. H. Arsil Ibrahim MA
Saturday, 24 May 2008
www.nurulyaqin.org

Sel-sel otak manusia berjumlah sekitar 100 milyar. Banyaknya jumlah sel tersebut tidak berarti apa-apa, sebab yang menjadi ukuran kepintaran dan kebijaksanaan seorang manusia adalah sebanyak mana terjadinya interaksi arus listrik (electrical impulses) antara axon pada satu sel otak dengan dendrite pada sel otak yang lain. (Lam Peng Kwan & Eric Y K Lam, 2003). Studi empiris membuktikan bahwa dari 100 milyar sel-sel otak itu, kapasitas interaksi arus listrik dalam rata-rata otak seorang manusia modern hanya berkisar antara 6 sampai 8% saja. Sedangkan sisa 92% lagi dari 100 milyar sel-sel otak adalah daerah gelap dan terbiar bagaikan rimba belantara yang tidak pernah dijelajahi. Itu sebabnya banyak ungkapan yang menggambarkan otak manusia sebagai raksasa yang tidur atau wilayah terbesar dunia yang belum dijelajahi. (Collin Rose & Malcolm J.Nicholl, 1997).

Jika manusia modern menamakan interaksi arus listrik antar sel otak itu dengan istilah electrical impulse yang bergerak dari satu axon ke dendrite, ratusan tahun yang lalu Imam Syafi’i dan gurunya Imam Waki’ ‘mengistilahkannya’ sebagai Nurullah (Cahaya Allah). Beliau dan gurunya Imam Waki’ berkeyakinan bahwa dasar daripada pemahaman dan penyerapan yang kuat terhadap ilmu pengetahuan adalah cahaya Allah yang menerangi hati dan pemikiran. Dalam sinergi pemahaman yang sederhana bisa disimpulkan bahwa prosentase electrical impulse pada sel-sel otak manusia dapat dilejitkan dengan cara meningkatkan kapasitas cahaya Allah dalam hati dan pemikiran.

Sebuah riwayat menceritakan bahwa Imam Syafi’i pernah mengadu kepada gurunya tentang kesukarannya dalam menghafal ilmu pengetahuan. Maka gurunya Imam Waki’ menasehatinya untuk mensucikan diri dengan meninggalkan kemaksiatan. Beliau juga berpesan demikian, "Ilmu pengetahuan itu adalah cahaya Allah. Dan cahaya Allah tidak akan menyinari hati orang yang berbuat maksiat." Setelah menjalankan pesan gurunya itu tingkat kepahaman dan hafalan Imam Syafi’i terpacu secara luar biasa. Beliau dapat mengingat hampir seluruh huruf pada buku yang dibacanya atau seluruh perkataan pada ceramah yang didengarnya.

Orang yang diterangi Allah hati dan pemikirannya digelari al-Quran sebagai Ulil Albab. Perkataan Albab adalah bentuk plural dari Lubb yang salah satu maknanya adalah akal. Maka Ulil Albab bermaksud orang-orang yang memiliki kemampuan akal yang tinggi (Ibrahim Anis, 1972). Sebutlah nama-nama ulama besar seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Ibnu Taymia, Ibnu Khaldun dan lain-lain. Dengan mengimbas ‘cahaya Allah’ yang timbul dari ketakwaan, akal mereka begitu tercerahkan (enlighted) dan berhasil menemukan fenomena-fenomena alam semesta. Penemuan mereka bahkan masih menjadi sumber inspirasi dalam dunia ilmu pengetahuan hingga hari ini. Satu-satunya cara yang mereka contohkan agar ‘cahaya Allah’ berperan dalam memacu kekuatan arus listrik pada sel-sel otak adalah dengan meningkatkan ketakwaan dan meninggalkan kemaksiatan. Firman Allah:

"Dan bertakwalah kepada Allah niscaya Allah akan mengajari kamu ilmu, dan Allah Maha Mengetahui akan segala sesuatu." (Al-Baqarah: 282)

Ayat di atas merupakan rumus yang jelas dan tegas betapa solusi utama yang paling efisien untuk mengeluarkan umat Islam dari kemunduran pemikiran, ketumpulan analisa dan kelemahan ilmu pengetahuan adalah dengan mengkilapkan kembali cahaya ketakwaan dalam sanubari mereka. Inilah cara yang dicontohkan para ulama terdahulu untuk melejitkan interaksi arus listrik (electrical impulse) antara axon dengan dendrite dalam otak.

Lebih menarik lagi untuk disimak sebuah kajian empiris yang dilakukan oleh peneliti ahli dalam bidang neuropsikologi, Michael Persinger dan V.S. Ramachandran. Mereka berdua menemukan adanya ‘Titik Tuhan’ (God Spot) dalam belantara otak manusia. Lebih rinci lagi mereka menyebutkan bahwa ada sebuah area di sekitar lobus temporal otak yang bersinar saat seseorang diajak untuk berdiskusi dan merenungkan hal-hal yang bersifat keTuhanan. Area tersebut juga menunjukkan peningkatan aktivitas saat seseorang menerima wejangan rohani atau renungan keTuhanan.(Martin, Anthony Dio 2003) Seakan-akan sudah ada suatu mekanisme khusus dalam diri (otak) manusia untuk berhubungan dengan Pencipta alam semesta. Dan sesungguhnya ‘hubungan’ (atau lazim disebut dalam Islam dengan ibadah) itulah yang meningkatkan kualitas dirinya sebagai manusia dan melejitkan kemampuan akalnya.

Kita sama-sama memahami bahwa ilmu pengetahuan terhasil dari kumpulan pengalaman lima panca indra manusia (penglihatan, penciuman, pendengaran, perasa dan peraba). Seluruh apa yang dialami oleh lima indra tersebut berupa rangsangan pengalaman (impulse) diterima oleh saraf penerimaan (receptor neurone) untuk selanjutnya dianalisa oleh saraf sensor (sensory neurone). Kesemua proses ini terjadi dengan adanya interaksi arus listrik dalam sel-sel otak sehingga manusia mampu membentuk suatu kesimpulan (analisa) atau melakukan respon fisik (motoric neurone).

Sebesar mana proses interaksi arus listrik dalam otak manusia yang terjadi akibat pengalaman lima indra itu, sebesar itu pulalah daya penyerapan pengetahuan dalam otak. Maka wajarlah jika timbul perbedaan sudut pandang antara manusia yang cerdas (yang memiliki kapasitas besar pada interaksi arus listrik pada sel-sel otaknya) dengan orang awam (yang memiliki kapasitas kecil pada interaksi arus listrik pada sel-sel otaknya). Terutama dalam kemampuan menganalisa apa yang dilihat, dirasa, dan didengarnya. Firman Allah SWT:

"Perbandingan dua golongan itu seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan mendengar. Apakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran?" (Surah Hud 11: 24)

Ayat di atas mengesahkan fungsi panca indra sebagai sarana penyerap ilmu pengetahuan. Tentu yang dimaksud dengan pendengaran dan penglihatan di sini bukanlah alat indra mata atau telinga yang dimiliki oleh semua orang secara sama. Tetapi kadar kemampuan sel-sel otak dalam menganalisa pengetahuan yang dideteksi oleh indra-indra tersebut.

Jika kita yakin dengan firman Allah di atas dan percaya dengan penemuan pakar Neuropsikologi tentang ‘God Spot’, maka tentulah kita berkesimpulan bahwa pencapaian manusia dalam melejitkan kemampuan sel-sel otak sangat tergantung kepada sebanyak mana ia menyerap cahaya Allah dalam dirinya. Pada hadits Qudsi berikut dapat kita pahami betapa sebenarnya kekuatan intelektual para ulama zaman silam ternyata bertapak pada kekuatan spritual mereka dalam menambah cahaya Allah dalam diri. Rasulullah SAW bersabda, Allah SWt berfirman dalam hadits Qudsi:

"Jika HambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan melakukan hal-hal yang Sunnah, maka ia akan kucintai (Dan jika demikian) maka Akulah yang menjadi pendengaran yang ia mendengar dengannya, Aku menjadi penglihatan yang ia melihat dengannya, Aku menjadi lidah yang ia bertutur dengannya dan Aku menjadi akal yang ia berfikir dengannya. Jika ia berdoa kepadaku niscaya Aku perkenankan. Jika ia meminta kepadaku niscaya Aku kurniakan. Dan jika ia memohon pertolongan kepadaKu pasti Aku tolong. Ibadahnya yang paling Aku cintai adalah kewajiban yang ditunaikannya untukKu" (Hadits Qudsi Riwayat at-Thabrani dalam kitab al-Kabir yang bersumber dari Abu Umamah)

Jelas sekali diilustrasikan dalam hadits Qudsi di atas betapa seorang hamba yang banyak melakukan ibadah Nawafil (sunnah) akan memiliki kekuatan ekstra pada penglihatan, pendengaran, karya tangan dan gerakan kaki. Bayangkanlah para ulama zaman silam yang sudah terbentuk kekuatan penglihatan, pendengaran, pembicaraan dan pemikirannya dengan cahaya-cahaya Allah. Semua interaksi panca indranya teramat kuat karena mengambil imbasan kekuatan Allah. Seluruh hasil bacaannya, hasil pengamatannya, hasil pendengarannya, hasil karya fikirnya diproses oleh sel-sel otak dengan menggunakan kekuatan cahaya Allah.

Rangkuman dari semua kekuatan itulah yang membentuk peribadi-peribadi yang unggul dalam bidang apapun yang ditekuninya. Jika ia seorang pelayar maka ia menjadi pakar ilmu pelayaran yang unggul (Vasco da Gama; tidak akan pernah menjadi manusia Eropa pertama yang sampai ke India dan Nusantara jika bukan karena menyandera pakar pelayaran Muslim bernama Ibnu Majid yang pada saat itu sudah mengarang tiga kitab ilmu pelayaran), jika ia menekuni bidang kedokteran maka ia menjadi dokter yang tiada tanding (Ibnu Sina dengan The Canon of Medicine nya masih menyisakan sisi sisi keilmuan medika yang dikaji hingga hari ini), jika ia menjadi pakar matematik maka ia mampu mengungkapkan misteri angka dan bentuk yang tidak habis digali sepanjang zaman (Trilogi dunia matematika; Al-Jabar, Aritmatika dan Logaritma ternyata ditemukan oleh al-Khawarizmi) dan jika ia menjadi negarawan maka ia menjadi tumpuan kecintaan rakyat karena membawa kesejahteraan yang tiada tara dalam sejarah bangsanya (Umar bin Abdul Aziz menjadikan rakyatnya sejahtera sehingga tidak ada lagi orang yang memerlukan bantuan).

Penulis teringat dengan kata-kata keramat yang ditoreh oleh Imam Malik pada kulit kitabnya yang monumental; al-Muwattha’, "Tidak akan sukses generasi akhir dari umat ini, melainkan mereka mengadopsi cara-cara dan tradisi yang telah mensukseskan generasi pertama."

Kita yang hidup pada akhir zaman ini tidak perlu lagi melakukan proses ‘try and error’ dalam menciptakan keunggulan sumberdaya manusia. Tumpuan pencarian yang benar adalah pada meningkatkan serapan cahaya Allah sebanyak mungkin, yang dengan mudah kita dapati melalui ibadah-ibadah Sunnah seperti melantunkan al-Quran yang merupakan kalam Ilahi, terdiam dalam sujud-sujud tahajud yang panjang, shalat-shalat sunnah (Dhuha rawatib, dll), puasa-puasa sunnah (Senin, Kamis, puasa Asyura’, puasa Arafah, dll) serta ibadah-ibadah sunnah lainnya yang dapat menaikkan derajat kita menjadi orang yang dicintai Allah. Ingatlah betapa hadits di atas menerangkan bahwa jika Allah telah mencintai seseorang maka orang itu dapat melihat, mendengar, berbicara dan berfikir dengan kekuatan dan cahaya Allah. Inilah inti daripada kecerdasan spritual (Spiritual Quotient) yang merupakan motor penggerak terhadap kecerdasan intelektual (Intelectual Quotient) dan kecerdasan emosional (Emotional Quotient)

 

dikutip dari milis daarut-tauhiid@yahoogroups.com

REFLEKSI, ISLAM, WACANANovember 7, 2009 3:57 am

Ada sebuah pertanyaan besar dari laporan online CIA: akankah Israel bisa bertahan dalam jangka dua dekade ke depan? Berlepas dari validitas laporan tersebut, dengan hubungan berat-sebelah Israel dan AS, pertanyaan itu semakin mengerucut: Israel jatuh dalam waktu lima tahun lagi?

Lebih dari enam dekade, dukungan AS terhadap Israel begitu mendominasi media, sehingga memudahkan Tel Aviv untuk meletakkan gambaran positif menutup kelakuan buruknya, termasuk juga pembantaian dalam tragedi Gaza, delapan bulan lalu. Dan sekarang, dengan terbukanya akses online yang mengglobal, Zionis yang sumir menunjukkan sisi-sisi sebenarnya.

Walaupun rakyat AS jarang sekali menunjukan minat pada urusan luar negeri, namun perubahan itu mulai terasa. Banyak dari mereka yang melihat secara langsung tanpa filter Yahudi, akan—misalnya—peristiwa Gaza silam. Rakyat AS mulai kembali menguak pertanyaan lama yang mengendap dalam kepala mereka: mengapa mereka harus mendukung pemerintah apartheid yang menjajah?

Dengan Partai Likud yang memimpin Israel, jelas sudah bawa Tel Aviv hanya berkehendak meluaskan daerah jajahannya, tak ada yang lain commonwealth dan sebagainya. Dengan fakta itu, Israel tidak hanya menyudutkan Barack Obama, tapi juga memaksa keamanan nasional AS untuk membuat sebuah keputusan strategis: Apakah Israel merupakan rekan yang kredibel dalam perdamaian? Jawabannya, “Tidak.”

Kesimpulan yang tak terelakkan itu memberikan rakyat AS sedikit pilihan. Bagaimanapun AS bertanggung jawab pada eskalasi Israel di bulan Mei 1948 ketika Harry Truman, seorang presiden Kristen-Zionis, menerima negara Israel. Truman mengabaikan keberatan Menteri Luar Negeri George Marshal, gabungan pejabat dan staf, CIA dan korporasi diplomatik AS.

Pada Desember 1948, sekelompok ilmuwan dan intelektual Yahudi berbicara di The New York Times akan bahaya Fasis dengan berdirinya negara Yahudi. Salah satu ilmuwan tersebut adalah Albert Einstein. Jauh hari sebelum semua kejadian yang terjadi di dekade ini, semua orang sudah memprediksikan kelakuan Israel yang selalu merupakan ancaman untuk perdamaian.

Sebenarnya, isu kunci semua itu tidak lagi perlu menjadi bahan perdebatan tanpa akhir. Harus ada satu solusi negara konsisten dengan prinsip-prinsip demokratis persamaan yang penuh. Rakyat AS yang melek media tidak lagi bersedia mendukung negara teokratis di mana kewarganegaraan penuh hanya terbatas pada mereka yang dianggap "Yahudi" (apa pun artinya itu).

Jika tingkat kelahiran lokal menunjukkan suatu akhir dari "negara Yahudi," maka jadilah. Mengapa menunggu dua dekade ketika mimpi buruk ini dapat ditarik dalam waktu kurang dari lima tahun?

Lupakan saja pra-1967. Orang Palestina harus mempunyai hak, (sa/alahram/eramuslim)termasuk juga hak memiliki barang kepunyaannya sendiri yang dirampas Yahudi. Jika penjajah Yahudi menginginkan kompensasi, seharusnya mereka mencarinya pada segenap umatnya yang saat ini tengah berdiaspora di seluruh belahan dunia.

Mereka yang masih menganggap dirinya Yahudi harus segera pergi. AS harus mulai mempertimbangkan 500.000 orang Yahudi yang memegang paspor AS, dengan jumlah 300.000 lebih mendiami California. AS sudah sedemikian terbuka, dan dunia internasional pun telah melihat AS yang rapuh dan hanya sekadar menjadi bemper Yahudi.

Sampai saat ini, bertahun-tahun Zionis telah diaktifkan oleh sekelompok presiden Amerika Serikat. Bagi AS, untuk memulihkan kredibilitasnya ada satu hal yang perlu dilakukan: tidak hanya berusaha menutup gambar besar Zionis, tetapi juga berbagi tanggung jawab atas semua kejadian yang menimpa dunia yang disebabkan oleh bangsa tersebut. (sa/alahram/eramuslim)



Sumber: http://swaramuslim.net/berita/more.php?id=5845_0_12_0_M

Umum, SHARING, REFLEKSISeptember 30, 2009 7:42 am

Ortodoks Yahudi AS Menyuarakan "Wipe Israel"

Yang mengkhawatirkan Organisasi Zionist Internasional dari Negara Israel adalah karena posisi Israel dan zionis sudah mengalami penurunan di seluruh dunia dalam skala besar bahkan di negara-negara dimana pemerintahannya dan opini publicnya mendukung Israel baik dari sisi politik, materi dan ideology. Yang mereka khawatirkan bukan karena menurunnya solidaritas dunia kepada Israel dan kejahatannya namun karena meluasnya kecaman dunia terhadap kejahatan Israel setelah terungkap kedoknya. Negara yang mengaku demokratis itu terhadap terhanya sangat jahat dan sadis terhadap bangsa Arab yang mereka ingin lenyapkan dari eksistensinya.

Sudah terungkap kedok “penyesatan opini Israel” terutama setelah terungkap data-data menunjukkan bahwa mereka berdiri di atas darah dalam perang imperialisme terhadap gerakan pembebasan Arab. terutama kejahatan dan pembantuan yang mereka lakukan baik oleh pasukan atau warga pemukim Israel di wilayah-wilayah Palestina.

Darah rakyat sipil Palestina di Jalur Gaza dan ribuan korban meninggal dan luka-luka lainnya dari anak-anak, wanita, lansia tidak akan membeku kecuali jika Israel lenyap. Tindakan diskriminatif mereka selama 60 tahun terhadap rakyat Palestina, warga asli semakin meyakinkan dunia bahwa bahwa ideology dan tindakan penguasa di Israel adalah “gerakan rasisme yang menebar kejahatan”.

Untuk mengconter meluasnya kutukan dan kecaman dunia terhadap mereka, Pemerintah Zionist Israel mendapatkan jawabannya dengan cara melakukan opini balik membela diri. Mereka menuding balik siapa saja yang mengecam politik Israel bahwa dia anti Semit, anti Yahudi dan anti "Israel". Namun tetap saja tindakan anti kemanusiaan zionis di Palestina menurunkan kedudukan Israel.

Ini yang membuat khawatir biro-biro yahudi di dunia. Inilah yang ditegaskan oleh Ketua Badan Yahudi Dunia Zeev Beleski masa jabatannya berakhir Februari 2009 ini dimana ia menulis di koran Yediot Aharonot awal Maret lalu dengan judul "Bangsa yang Akan Hilang di Tengah Jalan”. Menurutnya hilangnya yahudi itu bukan karena menurunnya jumlah karena dikejar-kejar karena hukum atau gerakan anti semit atau rasis. Namun hilangnya Israel itu karena “pembauran Yahudi dengan bangsa lain” melalui perkawinan campuran sehingga memperkecil jumlah yahudi berdarah asli. Ia mengungkapkan data pembauran itu di Amerika Utara hingga 50%, di Inggris dan Perancis 40%, 45% di Brazil dan di Argentina, dan 80% di Rusia!



Ortodoks Yahudi AS Menyuarakan "Wipe Israel", mereka sudah "muak" dengan Zionisme Israel

Hubungan orang-orang Yahudi yang diaspora dengan organisasi Zionis mengalami penurunan drastic. Di Amerika kurang dari 50% orang-orang tidak terkait dengan dengan organisasi Yahudi, 60 % dari yahudi Amerika utara tidak pernah berkunjung ke Israel meski hanya sekali. Bahkan mayoritas Yahudi di sini tidak meyakini bahwa Israel sebagai kendaraan untuk menentukan identitas mereka. Ketika 60 tahun lalu Israel terbentuk warga Yahudi dunia meyakini ini sebagai capaian mereka, namun kini keyakinan ini semakin luntur. Kebanyakan Yahudi dunia terutama di Amerika utara kini lebih loyal kepada Negara tempat tinggal mereka dan bukan kepada Israel. Mereka adalah generasi kedua dan ketiga yang dilahirkan di Amerika dan tidak memperoleh pendidikan Yahudi yang hakiki dan tidak bisa berbahasa Ibrani. Mantan Ketua Organisasi Yahudi ini Zeev Beleski menilai bahwa untuk menghadapi ini Israel bertanggungjawab menjamin tetapnya bangsa Yahudi yang diapora. Yang menjadi krisis sekarang adalah hubungan Israel dan yahudi diaspora sekarang.

Namun Zeev tidak menyentuh akar krisis itu sekarang. Sebab antara artikel-artikel Israel dan data yang ada di lapangan menunjukkan kontradiksi. Politik jahat pemerintah penjajah Israel semakin meyakinkan bahwa Negara Israel adalah tempat paling tidak aman bagi Yahudi dan semakin tidak benarnya pernyataan Israel soal penghimpunan Yahudi di Israel untuk menyelamatkan mereka dari tekanan dan rasisme serta gerakan anti Semit.

Tindakan rasialisme Israel yang memusuhi kemanusiaan, keadilan sosial, kemerdekaan bangsa adalah identitas asli pemikiran gerakan zionisme yang tidak mungkin menjadi daya tarik atau dukungan bagi mereka. Baik dari Negara merdeka dunia atau bahkan dari biro-biro Yahudi di dunia. Inilah penyebab sesungguhnya menurunnya pamor Israel, bukan seperti yang diungkap oleh Zeev Beleski.

Dikutip dari http://swaramuslim.net/berita/more.php?id=5795_0_12_0_M67

Umum, SHARING, REFLEKSI 7:40 am

Professor Lester Carl Thurow, seorang guru besar dari Sloan Management School, Massachusets Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat, pada tahun 1991, atau sekitar 16 tahun yang lampau pernah merilis sebuah kalimat pada suatu pertemuan dengan NSF (National Science Foundation) semacam LIPI-nya Amerika Serikat sebagai berikut:

In the 21st century, comparative advantages will become much less a function of natural resources endowments and capital labour ratios and much more a function of technology and skills. Mother nature and history will play a much smaller role, while human ingenuity will play a much bigger role.

Penggalan kalimat yang pernah dirilis oleh Prof. Thurow tersebut dilatarbelakangi dari data pertumbuhan ekonomi AS, yang semakin lama semakin ditopang oleh peran penting dari penemuan-penemuan baru di bidang teknologi informasi serta fenomena semakin maraknya internet sebagai media komunikasi global.

Paling tidak ada tiga kata kunci dari penggalan kalimat yang disampaikan oleh Prof. Thurow dan ketiganya memberikan gambaran langsung dari tantangan yang akan membentuk masa depan. Ketiga kata kunci tersebut adalah: pertama, akan semakin berkurangnya peran sumber daya alam dan buruh sebagai elemen dasar untuk keunggulan suatu bangsa; kedua, akan semakin berkurangnya peran dari kejayaan masa lalu suatu bangsa dalam pertumbuhan bangsa; dan ketiga akan semakin meningkatnya peran dari kreatifitas dan daya inovasi manusia (human ingenuity) sebagai unsur pokok dalam menentukan keunggulan dan keberhasilan pertumbuhan ekonomi suatu bangsa.

Sehubungan bahwa pembangunan sebuah bangsa tidak bisa dilepaskan dari aktifitas ekonomi, maka pada makalah ini akan diulas secara singkat tentang tiga hal penting, yakni: format tantangan pembangunan ekonomi di masa depan, bentuk-bentuk pekerjaan yang ada di masa depan, dan peran sumber daya manusia kreatif dalam mendinamisasi tantangan-tantangan masa depan tersebut.

Format Tantangan Pembangunan Masa Depan
Abad ke-18 sampai dengan paruh pertama abad ke-19 dikenal sebagai era agraris dan format ekonomi yang ada dikenal dengan istilah agricultural economy yang sumber daya utama umumnya berupa tanah (pertanian, atau tanah garapan). Karena dari tanah (pertanian, atau tanah garapan) inilah kemudian dapat dimulai dan selanjutnya dikembangkan berbagai aktifitas ekonomi (yakni kreasi, produksi dan distribusi produk, jasa maupun proses).

Selanjutnya paruh kedua abad ke-19 sampai dengan paruh pertama abad ke-20 sering disebut dengan era industri dan format ekonomi yang ada lazim disebut dengan istilah industrial economy atau ekonomi industri (lihat tabel 1). Pada era ekonomi industri sumber daya alam (misalnya batubara, mineral dan bijih besi) dan buruh (yakni sumber daya manusia, namun umumnya sebatas dinilai dari aspek pekerjaan tangan atau manual labour) merupakan sumber daya utama dalam menggerakkan aktifitas ekonomi.

Adapun paruh kedua abad ke-20 dan awal abad ke-21 sering disebut dengan istilah era informasi atau information age atau digital age, dan format ekonomi yang ada di dalamnya lazim disebut dengan ekonomi berbasis teknologi informasi atau information economy dan sering disebut dengan ekonomi berbasis pengetahuan atau knowledge based economy dengan pengetahuan atau knowledge menjadi sumber daya utamanya.

Tahapan selanjutnya, yaitu masih di era abad ke-21 adalah tumbuh dan berkembangnya ekonomi kreatif atau creative economy, yaitu sebuah tatanan ekonomi yang ditopang oleh tiga unsur yakni keunggulan budaya, seni dan inovasi teknologi. Ekonomi kreatif pada hakekatnya masih merupakan bagian dari knowledge based economy atau ekonomi berbasis pengetahuan akan tetapi lebih mengedepankan pada perpaduan dari ketiga unsur tersebut.

Pada hakekatnya di dua format ekonomi yang sebelumnya, pengetahuan atau knowledge juga sudah merupakan hal yang penting. Misalnya di format ekonomi industri, pengetahuan untuk menambang (knowledge to mine), pengetahuan untuk membangun (knowledge to build), dan seterusnya adalah hal-hal yang juga penting.

Namun di kedua era tersebut, pengetahuan dalam konteks yang masih intrinsik umumnya memiliki nilai ekonomi yang rendah. Transaksi ekonomi umumnya didominasi oleh ’pengetahuan’ yang telah dikonversi menjadi unsur yang ’tangible’, misalnya berupa jasa dan produk. Akan halnya, di era ekonomi kreatif, terutama dengan didorong oleh kemajuan teknologi informasi, maka proses rantai nilai olah-pengetahuan menjadi produk dapat lebih dipercepat, sehingga ’pengetahuan’ dalam konteks yang masih berupa ide dan gagasan pun telah memiliki nilai keekonomian yang potensial. Gambaran ringkas dari kinerja ekonomi kreatif menurut World Bank pada tahun 2006 adalah sebagai berikut:
1. Tingkat pertumbuhan ekonomi kreatif mencapai 9% per tahun.
2. Tahun 2006, global turn over dari ekonomi kreatif mencapai US $2,24 trilyun.
3. Sampai dengan akhir tahun 2006; 7,3% PDB dunia adalah kontribusi dari industri kreatif.
4. Kontribusi industri kreatif meningkat 13% per tahun.
5. Pekerja kreatif saat ini baru mencapai 5% dari total angkatan kerja global, akan tetapi terus tumbuh rata-rata di atas 5% setiap tahun.

Data dan fakta yang dipaparkan di atas, menunjukkan bahwasanya potensi dari ekonomi kreatif adalah sangat besar dan sanggup memberikan implikasi yang luar biasa dalam pola pelaksanaan kegiatan ekonomi. Oleh karena itu, maka membangun ekonomi kreatif adalah peluang yang harus dimanfaatkan dalam mengakselerasi pembangunan bangsa, khususnya dalam konteks untuk mempertahankan daya saing dan menjalankan pembangunan nasional yang berorientasi pada pertumbuhan.

Ekonomi Kreatif dan Bentuk Pekerjaan Di Masa Depan
Ekonomi kreatif2 didefinisikan sebagai sebuah kumpulan aktifitas ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economic activities) yang secara intensif menggunakan kreatifitas dan inovasi sebagai primary input-nya untuk menghasilkan berbagai produk dan jasa yang bernilai tambah. Adapun ruang lingkup dari ekonomi kreatif mencakup aspek yang sangat luas dan tidak terbatas pada seni dan budaya saja. Secara umum konomi kreatif memiliki 3 dimensi yaitu dimensi inovasi dan kreatifitas, dimensi kapabilitas teknologi, dan dimensi seni dan budaya.

Prinsip yang paling fundamental dari ekonomi kreatif adalah jika di era sebelumnya kinerja dari masyarakatnya umumnya diukur sebatas dari tingkat produktifitas dalam memproduksi produk, jasa maupun proses; maka dalam era ekonomi kreatif kinerja masyarakat diukur tidak sebatas pada peningkatan produktifitas belaka, akan tetapi lebih diukur berdasarkan dari peningkatan akumulasi pengetahuan dan peningkatan kapasitasnya dalam melakukan inovasi-inovasi ketika melakukan sejumlah aktifitas produksi tersebut.

Setidaknya ada tiga jenis tren dari bentuk pekerjaan di masa depan yang akan semakin menuntut adanya peran dari pekerja (atau worker) untuk sanggup menjadi pekerja kreatif. Ketiga tren jenis pekerjaan tersebut meliputi:

Pertama adalah aset non-fisik atau ide dan gagasan menjadi lebih penting dibandingkan dengan aset fisik, seperti modal dan sumber daya fisik lainnya. Di masa depan nanti akan semakin banyak terbentuk berbagai kerjasama antara penemu dan pencetus ide yang inovatif dengan sejumlah pemilik modal untuk terlibat dalam aktifitas kreasi pengetahuan (atau knowledge creation) yang bentuk nyatanya adalah aktifitas terkait dengan penelitian, pengembangan dan riset yang diarahkan untuk menghasilkan inovasi-inovasi baru. Tren seperti ini sudah nampak di negara maju, misalnya di negara-negara Skandinavia yang semenjak 5-6 tahun terakhir ini, perusahaan-perusahaan besar di sana sudah biasa memberikan modal ventura kepada para lulusan universitas yang memiliki ide dan temuan yang potensial untuk dikembangkan lebih lanjut pada skala komersial.

Kedua adalah maraknya bentuk tata organisasi yang lebih bersifat horisontal dan non-hirarkis, guna mempercepat proses produksi inovasi dan merangsang kreatifitas. Pekerja sekarang umumnya dituntut untuk sanggup melakukan pengayaan atau (enrichment) dari bentuk pekerjaan yang telah ada. Setiap individu dituntut untuk semakin aktif dalam mempelajari berbagai bentuk pengetahuan baru dengan cepat. Kinerja bagi para pekerja sekarang diukur dari tingkat kecepatannya dalam memperkaya pengetahuan yang telah dimilikinya dari waktu ke waktu.

Ketiga adalah semakin pentingnya kelembagaan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual. Di era dimana gagasan dan ide telah semakin memiliki nilai keekonomian yang tinggi, maka diperlukan suatu interaksi fungsional dalam bentuk yang baru antara pencetus ide dengan produsen komersialnya. Interaksi fungsional yang dimaksud itu adalah penumbuhkembangan dari Lembaga Hak Atas Kekayaan Intelektual. Tanpa keberadaan kelembagaan tersebut, maka pencetus ide sebagai ’pemilik’ dari gagasan dan inovasi justru akan berada dalam posisi yang tidak diuntungkan secara ekonomis, hal mana dapat berdampak pada berkurangnya motivasi untuk mencetuskan berbagai ide dan inovasi baru. Di pihak lain, kelembagaan perlindungan hak kekayaan intelektual dan hak cipta tersebut juga berfungsi sebagai rambu-rambu yang efektif dalam menjamin adanya persaingan di era ekonomi kreatif yang semakin mengglobal.
Ketiga tren di atas saat ini telah mulai menggejala di negara-negara maju. Negara-negara maju tersebut, khususnya yang tergabung dalam OECD telah mengantisipasi dengan sejumlah pranata kebijakan yang mengatur tatanan angkatan kerja di negeri masing-masing untuk mengantisipasi tren tersebut. Pada paragraf berikut akan dibahas tentang peran sumber daya manusia kreatif dalam menghadapi masa depan seiring dengan adanya tren bentuk pekerjaan baru di masa depan berikut tantangan-tantangan pembangunan ekonomi masa depan.


Pembinaan Sumber Daya Manusia Kreatif Sebagai Unsur Utama Pembangunan Bangsa Masa Depan
Komitmen Pemerintah Republik Indonesia untuk mengembangkan ekonomi kreatif tercermin dari program nasional yang dikenal dengan Indonesia Design Power atau IDP. Program yang dikoordinir oleh Departemen Perdagangan RI ini telah dimulai pada tahun 2006 dan dijadwalkan akan selesai pada tahun 2010 mendatang. Program itu ditujukan untuk memberikan brand/merek baru pada sebanyak 200 komoditi domestik sehingga menjadi Good Design Product Made in Indonesia. Melalui program Indonesia Design Power, Pemerintah berupaya untuk mengembangkan produk nasional yang berdaya saing dengan berbasiskan pada pemberdayaan tiga pilar ekonomi kreatif, yaitu keunggulan budaya lokal, kemajuan teknologi dan seni yang dikemas melalui tiga kekuatan yang disebut dengan "branding", "packaging" dan "product design". Selain dari itu, pemerintah sekarang juga terus mensosialisasikan serta terus mendorong para inovator untuk mendaftarkan penemuannya ke Ditjen Hak Atas Kekayaan Intelektual.

Unsur utama dari pengembangan ekonomi kreatif tentunya adalah sumber daya manusia kreatif. Oleh karena itu, pembinaan sumber daya manusia menjadi para penemu dan pencetus ide kreatif adalah solusi untuk menghadapi berbagai peluang di era masa depan.

Pada dua paragraf sebelumnya telah diulas tentang sejumlah tantangan strategis pada pembangunan ekonomi di masa depan serta bentuk-bentuk pekerjaan yang dituntut oleh pembangunan ekonomi masa depan tersebut. Maka pada paragraf ini akan diulas secara ringkas tentang pembinaan sumber daya manusia kreatif dalam menghadapi sekaligus mengantisipasi hal-hal tersebut.

Dalam kaitan dengan pembinaan tersebut, sedikitnya ada tiga langkah penting yang harus dikedepankan untuk dapat mengakselerasi pengembangan sumber daya manusia kreatif di tanah air, sebagai berikut:

Yang pertama adalah pada aspek individu, yaitu adanya upaya untuk semakin meningkatkan kapasitas pengetahuan masyarakat melalui berbagai program pendidikan dan pelatihan serta perluasan aksesibilitas pada berbagai program pendidikan dan pelatihan tersebut. Dengan cara ini maka diharapkan kapasitas pengetahuan masyarakat akan meningkat dan memperbesar potensinya untuk pengembangan daya kreatifitas dan inovasinya.

Yang kedua adalah aspek koordinasi. Yang dimaksud dengan aspek koordinasi di sini adalah terus memperbaiki koordinasi dan hubungan kerja antara kelembagaan produksi pengetahuan (dalam hal ini perguruan tinggi) dan kelembagaan pengguna pengetahuan (khususnya industri). Dengan mendorong koordinasi antara keduanya, maka akan terbina kerjasama yang intensif dan akan mengakselerasi pengembangan daya kreatifitas dan inovasi di kedua kelembagaan tersebut.

Yang ketiga adalah aspek kelembagaan. Ada dua hal penting di sini, yang pertama adalah keberadaan Kelembagaan Perlindungan Hak Cipta dan Hak Intelektual bagi para pencipta dan penemu, serta kemudahan akses bagi para pencipta dan penemu tersebut untuk memperoleh hak-haknya dan yang kedua adalah pranata keuangan yang memberikan akses modal awal (start up capital) kepada para pencipta dan penemu yang berminat untuk mengkomersialisasikan penemuannya. Kedua hal di atas, sangat diperlukan, selain untuk memberikan motivasi yang lebih tinggi di kalangan para pencipta (innovator), juga akan membangkitkan budaya baru di kalangan masyarakat yaitu, budaya wirausaha (entrepreneurship) sebuah budaya yang sangat relevan dengan keberadaan ekonomi kreatif. Mentalitas kewirausahaan itulah yang nantinya akan semakin mendorong pengembangan kreatifitas dan inovasi.

Ketiga langkah penting yang dipaparkan di atas, saat ini telah dan sedang dilaksanakan secara intensif oleh Pemerintah. Meskipun demikian masih terdapat sejumlah tantangan dalam proses implementasinya. Tantangan yang terberat adalah merancang pranata keuangan yang khas (lex specialist) bagi para penemu agar memberikan kesempatan bagi mereka untuk membuka dan mengawali usahanya (start up company).

Penutup
Saat ini kita hidup di era gelombang ke-4 peradaban yang dicirikan dengan semakin tumbuh dan berkembangnya ekonomi kreatif. Dalam peradaban gelombang ke-4 itu, unsur penentu daya saing adalah kreatifitas dan inovasi. Sehingga tantangan pembangunan yang terpenting yang harus kita hadapi dewasa ini, adalah tantangan untuk terus berinovasi atau the need to continuosly innovating. Ekonomi kreatif ditopang oleh 3 pilar yaitu: budaya kreatifitas, daya inovasi, dan kemajuan teknologi.

Karena maraknya peran daya kreatifitas dan inovasi tersebut, maka beberapa literatur juga sering menyebutkan era sekarang ini sebagai abad inovasi atau the Century of Innovation. Saat ini inovasi, di berbagai bidang nyaris berlangsung tanpa henti, dan sebagai konsekuensinya, para inovator semakin menempati peran penting dalam peradaban sekarang ini.

Dalam kondisi tersebut, maka karakteristik pekerjaan masa depan (the future of works and employment) ditandai dengan tuntutan untuk terus menerus melakukan inovasi atau innovative intensive employment dan berintikan pada pengarusutamaan pembelajaran terus menerus.

Di era ekonomi kreatif, maka infrastruktur dan segenap aktifitas ekonomi dengan sendirinya harus disesuaikan dengan karakteristik ekonomi kreatif, yaitu adanya basis pengetahuan yang menunjang inovasi, adanya mekanisme koordinasi yang menjamin sinergi industri dan universitas, serta pembentukan kelembagaan yang memberikan akses pemodalan dan pranata perlindungan hukum untuk kekayaan intelektual.

Pemerintah sedang dan terus mengembangkan sumber daya manusia sebagai aset utama dalam meraih peluang di era ekonomi kreatif. Program nasional Indonesia Design Power yang saat ini dilaksanakan dan diproyeksikan selesai pada tahun 2010 mendatang adalah platform dalam mencapai tujuan tersebut. Pada makalah ini telah diulas sejumlah hal penting yang menyangkut aspek individu, aspek kelembagaan dan aspek koordinasi untuk mengakselerasi pencapaian tujuan dari program tersebut, khususnya dalam pembinaan sumber daya manusia kreatif.

Sumber http://www.setneg.go.id/index.php?Itemid=192&id=1667&option=com_content&task=view

Umum, REFLEKSI, ISLAMMarch 18, 2009 3:18 am

Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat
telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah
secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun
Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu
hari ia ditanya oleh para Tabi’in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah
SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu
Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :

Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.

Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah),
sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah
nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur
sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang
diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan
Allah. Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW
yaitu : "Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit
dari kita". Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan
memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan
kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel” dengan terus
bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih
besar lagi. Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!

Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.

Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga
yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam
keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan
anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila
memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk
mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula
seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang
luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan
suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki
seorang istri yang sholeh.

Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.

Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang
anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah
SAW bertanya kepada anak muda itu : "Kenapa pundakmu itu ?" Jawab anak
muda itu : "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu
yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah
melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat,
ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu
menggendongnya". Lalu anak muda itu bertanya: " Ya Rasulullah, apakah
aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua
?" Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: "Sungguh Allah
ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku
ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu". Dari
hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata
tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun
minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa
anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah.
Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.

Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.

Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh
mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib
kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap
keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita
untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang
sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila
kita berbuat salah. Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia
karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya
wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang
yang ada disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu
dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.

Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.

Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi
halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya.
Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah
bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. "Kamu
berdoa sudah bagus", kata Nabi SAW, "Namun sayang makanan, minuman dan
pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya
dikabulkan”. Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena
doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan
menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan
kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah
orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.

Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.

Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu
agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk
belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan
ciptaan-Nya. Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu,
semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi
cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi
cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan meng ”hidup” kan
hatinya, hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya
nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh
semangat memahami ilmu agama Islam.

Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.

Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh,
yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi
hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi
dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun
cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu
pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya,
maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia
sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan
yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak
mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua
semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya
diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa
takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk
segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang
dijanjikan Allah. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah
umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.

Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.

Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator
kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki
diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu’
mungkin membaca doa ‘sapu jagat’ , yaitu doa yang paling sering dibaca
oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut “Rabbanaa aatina
fid dun-yaa hasanaw” (yang artinya “Ya Allah karuniakanlah aku
kebahagiaan dunia ”), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada
Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas
ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang
soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal,
semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah.

Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam
genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja
sudah patut kita syukuri.

Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu “wa fil
aakhirati hasanaw” (yang artinya “dan juga kebahagiaan akhirat”), untuk
memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu
bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah
sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal
soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.

Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari
puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk
surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita
tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.

Kata Nabi SAW, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?”. Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”.

Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya
bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat
Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).

(Sumber tulisan: ceramah Ustad Aam Aminudin, Lc. di Sapporo, Jepang,
disarikan secara bebas oleh Sdr. Asep Tata Permana, sedikit diedit oleh
Penjaga Kebun Hikmah)

Umum, REFLEKSI, ISLAM, SELINGAN 3:16 am

Muhammad SAW: The Super Leader and Super Manager
Oleh : Dito Anurogo, S. Ked.

20-Apr-2008, 14:45:04 WIB - [*www.kabarindonesia.com*]

KabarIndonesia – Resensi Buku dengan judul: Teladan Sukses dalam Hidup &
Bisnis, Muhammad SAW: The Super Leader Super Manager. Buku itu dikarang oleh
Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec (Nio Gwan Chung). Penerbitnya adalah
Tazkia Multimedia & ProLM Centre dan kini beredar pada Cetaka III Oktober
Tahun 2007 dengan tebal 318 Halaman + xvi, berikut resensi saya.

Penilaian: secara umum ISTIMEWA dan LUAR BIASA Enak dibaca, gaya
bahasanya mudah dipahami oleh berbagai kalangan, mulai dari cendekiawan,
politikus, seniman, orang awam hinggaanak kecil sekalipun. Bagi para
orangtua (muslim), buku ini amat cocok, misalnya sebagai cerita pengantar
(dongeng) sebelum tidur agar putra-putrinya dapat meneladani Rasulullah SAW
sejak dini.

Kelebihan: buku ini memiliki pembahasan dan uraian yang amat lengkap dan
menyentuh sisi keteladanan Rasulullah SAW di (hampir) semua aspek kehidupan,
dapat memperkaya perbendaharaan kata (vocabulary) Anda karena di bagian
tertentu ada kutipan-kutipan dalam bahasa Inggris, menggunakan 88 referensi
yang amat lengkap termasuk software hadits dan internet, edisi Lux, Full
Colour, Hard Cover, dilengkapi dengan apendix (piagam madinah dan meluruskan
riwayat pernikahan Rasulullah SAW dengan Aisyah ra), index, tabel, grafik,
peta yang warna-warni, dan pita pembatas halaman.

Kekurangan: harga relatif mahal, namun jika dibandingkan dengan manfaatnya
... harga ini "terlalu murah"

Pujian untuk buku ini:
Buku pertama yang ditulis cendekiawan Indonesia yang mengkaitkan secara padu
dan sistematis antara suri tauladan Muhammad SAW dengan disiplin leadership
dan manajemen modern. Satu pencerahan yang dinanti Indonesia dan dunia.
(DR. Hidayat Nur Wahid, Ketua MPR-RI)

Buku ini harus dibaca oleh Umat Muslim dan Tionghoa di Indonesia, karena
bisa memberikan inspirasi Kebangsaan Nasional. Indonesia dengan penduduk
Muslim terbesar di dunia dan suku Tionghoa terbesar diluar "Greater China"
sudah seharusnya merajut kembali Jalan Sutera di Tanah Air tercinta. Karena
itulah, buku ini menjadi penting sekali. (Hermawan Kartajaya, Mark Plus.
Inc.)

"*Muhammad is* THE MOST successful of all Prophets and religious
personalities
" (*The Encyclopaedia Britanica*)

Buku yang istimewa dan spesial ini mengkaji perjalanan hidup Rasulullah SAW
dalam 8 bidang utama:
1. self development atau personal leadership
2. bisnis dan kewirausahaan
3. kepemimpinan keluarga
4. dakwah
5. sosial dan politik
6. sistem hukum
7. pendidikan
8. strategi militer

Di dalam buku ini, Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec, selaku penulis,
mencoba melihat Rasulullah SAW dengan kaca mata baru yang lebih luas yaitu
bukan saja mengakui Rasulullah SAW sebagai Nabi dan Rasul tetapi juga
menempatkannya sebagai pemilik traits of leadership dan models of
management. Untuk mudahnya, traits of leadership Rasulullah SAW dibuat dalam
satu model berbentuk cakram yang terdiri dari 8 bidang utama, yaitu: self
development atau personal leadership, bisnis dan kewirausahaan, kepemimpinan
keluarga, dakwah, . sosial dan politik, sistem hukum, pendidikan, dan
strategi militer.

Secara umum, buku ini dibagi menjadi 4 bagian utama yang terdiri dari 12
bab. Bagian I terdiri dari 2 bab yaitu bab 1 sebagai Mukaddimah dan bab 2
berisi pembacaan terhadap konsep-konsep manajemen dan leadership modern.
Bagian II memuat satu bab yakni tentang bab 3 berupa survey of literature
terhadap berbagai tulisan dan kajian klasik tentang Muhammad SAW. Tujuan
utama dari bagian II adalah untuk menunjukkan betapa banyaknya suri teladan
dari Nabi Muhammad SAW yang selama ini belum tergali atau tersentuh oleh
literatur, baik dari luar maupun dari dalam negeri.

Bagian III berisi 8 bab yang merupakan isi pokok dari buku ini.

Bagian IV terdiri dari 12 bab yang merupakan bab penutup berupa epilog. Di
bagian akhir buku disertakan pula appendix, index, dan daftar pustaka.

Mari kita sedikit "menyelami" buku ini dari bab 1 hingga bab 12.

Bab 1: Belajar Kepemimpinan dan Manajemen dari Teladan Terbaik
*
Disini terungkap bahwa krisis terbesar dunia saat ini adalah krisis
keteladanan (hlm 3). Dunia (Islam), terutama Indonesia, sangat merindukan
pemimpin politik yang memiliki visi, kompetensi, dan compassionate untuk
memajukan dirinya (hlm 5).

Diungkap pula tentang rabun jauh orientalis, dintaranya adalah pernyataan
Dante Alighieri (1265-1321): "Muhammad adalah pemuka dari jiwa-jiwa terkutuk
yang membangkitkan perpecahan dalam agama dan mengembangkan agama-agama
palsu." (hlm 8) Satu di antara sebab ketidakmampuan kita mengambil suri
tuladan Rasulullah SAW secara holistik dan komprehensif adalah karena adanya
distorsi image yang muncul dari ekses studi para orientalis. Tidak dapat
dipungkiri bahwa orientalis memiliki etos kajian dengan kedalaman dan
disiplin metodologi yang tinggi (hlm 6).

Dibahas pula tentang rabun dekat kaum muslim.
Banyak di antara kita yang memposisikan Rasulullah SAW terlalu melangit,
tinggi, dan jauh di atas sehingga mendekati posisi dewa atau anak dewa.
Akibatnya beliau menjadi "asing" bagi kita dan tidak bisa ditiru dan
dijadikan suri tauladan lagi. Karena dengan demikian dimensinya menjadi
berbeda antara dimensi kita manusia biasa dan beliau sebagai "manusia
langit" (hlm 9).

Terungkap pula fakta tentang banyaknya ekonom Islam yang telah dilupakan
Barat dan umat Islam sendiri (hlm 11), antara lain:

1. Ibn Khaldun (1332-1404 M)
2. Al-Maqrizi (1364-1441 M)
3. Abu Ubaid (838 H)
4. Abu Yusuf (731-798 H)
5. Muhammad Ibn Hasan al-Saybani (750-804 H)
6. Nidzam al-Mulk al-Tusi (1018-1099 H)
7. Ibn Taymiyah (1263-1329 M)
8. Ibn Qayyim al-Jawziyah (1292-1350 M)
9. Al-Ghazali (1055-1111 M)
10. Kahn al-Dahlawi (1703-1762 M)

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika traits of leadership dan
management models Muhammad SAW masih asing bagi umatnya apalagi umat
beragama lain.

*Bab 2: Jejak-jejak Muhammad SAW dalam Teori Leadership dan Management
Modern


Disini diungkapkan fakta bahwa hampir semua teori kepemimpinan ada pada
Muhammad SAW (hlm 19-25). Misalnya: empat fungsi kepemimpinan yang
dikembangkan oleh Stephen Covey:
1. perintis (*pathfinding*)
2. penyelaras (*aligning*)
3. pemberdaya (*empowering*)
4. panutan (*modeling*)

Begitu pula karakteristik Muhammad SAW dapat ditemukan pula di dalam
sifat-sifat dasar kepemimpinan menurut Warren Bennis (1994) dalam "*On
Becoming a Leader*", antara lain:
1. Visioner (*guiding vision*)
2. Berkemauan kuat (*passion*)
3. Integritas (*integrity*)
4. Amanah (*trust*)
5. Rasa ingin tahu (*curiosity*)
6. Berani (*courage*)

Muhammad SAW juga mempunyai keterampilan-keterampilan (*skills*) yang
dirumuskan oleh Burt Nanus dan James O’Toole berikut ini:

Megaskills of Leadership by Burt Nanus:
1. Berpandangan jauh ke depan
2. Menguasai perubahan
3. Disain organisasi
4. Pembelajaran antisipatoris
5. Inisiatif
6. Penguasaan interdependensi
7. Standar integritas yang tinggi

James O’Toole’s Characteristics of Values-Based Leaders:
1. Integrity
2. Trust
3. Listening

Bab 3: Khazanah Biografi Muhammad SAW

Disini disebutkan sumber-sumber penulisan sejarah Rasulullah SAW, yaitu:
1. Al-Quran Al-Karim
2. Kitab tafsir dan hadits Rasulullah
3. Buku-buku al-maghazi wa al-siyar
4. Kitab-kitab al-dala’il
5. Buku-buku syama’il
6. Buku-buku sejarah umum
7. Buku-buku al-haramayn
8. Buku-buku sastra dan bahasa

Bab 4: Self Development & Personal Leadership

Disini dikemukakan tentang pembentukan self leadership Rasulullah SAW di
waktu kecil hingga dewasa, pentingnya self leadership, self leadership dan
self discipline, hubungan self leadership dan orgnizational leadership, self
leadership
dan stress management, dan ditutup dengan mulailah dari dirimu
sendiri (hlm 63-73).

Dikemukakan pula tentang esensi dari leadership (hlm 71) adalah:
1. mengenali (*recognizing*),
2. menemukan (*discovering*),
3. dan mengidentifikasi diri yang sesungguhnya.

Leadership adalah bagaimana seseorang mempunyai 1. kebiasaan proaktif dan
kreatif,
2. suatu cara berpikir (*way of thinking*),
3. merasakan (*feeling*), dan
4. memfungsikan (*positioning*) sebuah cara hidup (*way of life*), dan cara
menjadi (*way of being*) yang transformatif (hlm 71-72).

Disini (hlm 72) dikemukakan pula tentang tahapan pengelolaan kinerja
diri (*self
performance*):
1. Asma al-Husna, Zikir, Shalat, Tafakur, Puasa, I’tikaf, Muhasabah
2. Self Discovering
3. Self Motivation
4. Self Energizing
5. Peak Performance

Bab 5: Muhammad SAW sebagai Pemimpin Bisnis dan Entrepreneurship

"*Money is not number one capital in business,
the number one capital is trust*"

Disini diceritakan masa kecil Muhammad SAW dalam membentuk jiwa wirausaha,
fungsi leadership penggembala, perjalanan dagang Muhammad SAW, peta
pasar-pasar Arab yang pernah disinggahi Muhammad SAW, 13 pusat perdagangan
Arab di masa Jahiliyah, bisnis Muhammad SAW setelah menikah, perkembangan
karir bisnis Muhammad SAW, contoh perdagangan oleh Muhammad SAW, kekayaan
Muhammad SAW, posisi kehidupan ekonomi Muhammad SAW, sikap Muhammad SAW
terhadap harta, dan wafat Muhammad SAW dengan penuh kesederhanaan (hlm
77-96).

Bab 6: Muhammad SAW sebagai Pemimpin Keluarga yang Harmonis

Disini diungkapkan fakta yang jarang disentuh buku-buku Islam kebanyakan,
yaitu tentang maskawin Muhammad SAW (hlm 100).

Muhammad SAW menikahi Khadijah pada tahun 595 M dengan 20 ekor unta muda
sebagai maskawin (sumber lain menyebutkan ditambah dengan emas 12,5 ons dari
harta Muhammad SAW sendiri).

Adapun putra-putri Rasulullah dengan Khadijah (hlm 101) adalah:
1. Qasim
2. Zainab
3. Abdullah
4. Ruqayah
5. Ummu Kultsum
6. Fathimah

Mengapa tidak ada putra Muhammad SAW yang dapat bertahan hidup hingga
dewasa? Apa hikmahnya? Ini dapat pembaca temukan uraiannya di halaman 102.

Yang menarik lagi, ada penjelasan yang rasional disertai grafik tentang usia
Rasulullah SAW saat monogami dan poligami (hlm 105-106). Juga dua belas
istri beliau yang diterangkan dengan tabel yang warna-warni (hlm 108-109)
sehingga para pembaca pastilah tertarik untuk membaca buku ini hingga
selesai.

Rasulullah SAW seorang ayah teladan, mertua yang pengertian, kakek
penyayang, juga suami teladan yang amat mesra dan romantis dengan para
istrinya. Mandi bersama hanyalah salah satu contoh dari 23 bentuk kemesraan
dan romantisnya Rasulullah SAW dengan para istrinya (hlm 111-121).

Bab 7: Kepemimpinan Dakwah Muhammad SAW

Yang menarik dari bab 7 adalah sifat-sifat kepemimpinan keagamaan Muhammad
SAW (hlm 138-142):
1. Disiplin wahyu
2. Memberikan teladan
3. Komunikasi yang efektif
4. Dekat dengan umatnya
5. Pengkaderan dan pendelegasian wewenang

Bab 8: Muhammad sebagai Pemimpin Sosial-Politik

Disini dijelaskan tentang keunikan politik Muhammad SAW di zamannya,
strategi Muhammad SAW dalam membidik Madinah sebagai pusat Islam, saat
hijrah Muhammad SAW, kondisi awal Madinah, segmentasi warga Madinah,
pergantian nama dari Yatsrib ke Madinah, Tahapan Pengembangan negara
Madinah, juga keadaan muslim di Makkah dan Madinah.

Kebijakan Sosial Politik yang Dilakukan Muhammad SAW pada periode Madinah
antara lain: mempersaudarakan muhajirin dan anshar, membuat kesepakatan
antarberbagai faksi yang ada di madinah. Kesepakatan ini disebut sebagai
Piagam Madinah. Adanya kesetaraan bagi semua warga, persoalan pendidikan,
lima makna kemenangan perjanjian Hudaibiyah (hlm 152-160). Disebutkan pula
delapan utusan diplomatik Muhammad SAW beserta misi mereka (hlm 161-2).

Di bidang Politik Ekonomi, Muhammad SAW telah melarang riba, gharar,
ihtikar, tadlis, dan market inefficiency (hlm 163-164). Beliau juga sangat
memperhatikan sistem upah (hlm 164) dan memiliki sistem kebijakan fiskal
yang unik di zamannya (hlm 164-177).

Diuraikan pula tentang penerimaan negara Madinah antara lain berasal dari:
1. zakat
(berbentuk uang tunai, hasil pertanian, dan binatang ternak)
2. khums (harta rampasan perang)
3. jizyah (dibayarkan oleh warga non-Muslim khususnya ahli Kitab
untuk jaminan perlindungan jiwa, properti, ibadah, dan bebas
dari kewajiban militer. Kelompok non-Muslim yang pertama kali
setuju membayar jizyah kepada Rasulullah SAW adalah kaum
Kristen Najran)
4. Kharaj (pajak tanah)
5. Sumber Penerimaan Lain, misalnya:
a. ‘Usyr: bea impor yang dikenakan kepada semua pedagang,
dibayar hanya sekali dalam setahun dan hanya berlaku
terhadap barang yang nilainya lebih dari 200 dirham.
b. pembayaran tebusan atas tawanan perang.
c. sumber penerimaan sekunder lainnya:
c.1. pinjaman-pinjaman
c.2. rikaz: harta karun yang ditemukan pada periode sebelum
Islam.
c.3. amwal al-fadhla: harta yang berasal dari kaum Muslim yang
meninggal tanpa ahli waris atau berasal dari barang-barang
seorang Muslim yang meninggalakan negerinya.
c.4. wakaf: harta benda yang didedikasikan kepada umat Islam
ikhlas semata karena Allah SWT.
c.5. nawa’ib: pajak yang jumlahnya cukup besar yang
dibebankan kepada kaum Muslim yang kaya untuk
menutupi pengeluaran negara selama masa darurat.
Hal ini pernah terjadi di masa perang Tabuk.
c.6. Bentuk lain shadaqah seperti qurban dan kaffarat.

Bab 9: Muhammad SAW sebagai Pemimpin Sistem Pendidikan Holistik

Dalam bab ini (hlm 181-213) dibahas tentang: perhatian Rasulullah SAW
terhadap pendidikan, Rasulullah SAW sebagai Living Model, lembaga-lembaga
pendidikan di masa Rasulullah SAW, lembaga-lembaga pendidikan pasca
Rasulullah SAW, tuntunan Rasul tentang sifat-sifat guru, dua puluh metode
dan teknik pengajaran.

Sebelas sifat mulia yang patut diamalkan oleh para guru (hlm187-193) yaitu:
ikhlas, jujur, walk the talk (melakukan semua yang dikatakan), adil dan
egaliter, berakhlak mulia, tawadhu, berani (dalam mengakui kesalahan dan
kekurangan diri, mengungkapkan kebenaran, menegur perilaku siswa yang
bermoral rendah atau berakhlak buruk), berjiwa humor (tidak berlebihan dalam
bergurau), sabar dan menahan amarah, menjaga lisan, mampu bersinergi dan
bermusyawarah.

Diuraikan secra lengkap dan terperinci pula disini (hlm 194-213) tentang 20
metode dan teknik pengajaran "*Holistic Learning Methods*" yaitu:
1. Learning Conditioning
2. Active Interaction
3. Applied-Learning Method
4. Scanning and Levelling
5. Discussion and Feed Back
6. Story Telling
7. Analogy and Case Study
8. Teaching and Motivating
9. Body Language
10. Picture and Graph Technology
11. Reasoning and Argumentation
12. Self Reflection
13. Affirmation and Repetition
14. Focus and Point Basis
15. Question and Answer Method
16. Guessing with Question
17. Encouraging Students to Ask
18. Wisdom in Answering Question
19. Commenting on Students Question
20. Honesty


Bab 10: Muhammad SAW sebagai Pemimpin Hukum

Dalam bab ini (hlm 217-252) dikemukakan tentang penghargaan dunia terhadap
Muhammad SAW di bidang hukum, peran Rasulullah SAW dalam pembentukan Legal
Jurisprudence
, "karir hukum" Rasulullah SAW, peranan Rasulullah SAW dalam
pembinaan hukum, karakteristik hukum Islam, periode pembentukan hukum Islam,
Madinah kota peradaban berlandaskan hukum dan keadilan, metode pembentukan
hukum Islam, keistimewaan hukum pada masa Rasulullah SAW, berijtihad dalam
menetapkan hukum pada masa Rasulullah SAW, kesatuan hukum, kodifikasi hukum,
perkembangan periode selanjutnya.

Ada beberapa hal yang menarik, yaitu: Nabi Muhammad SAW termasuk sebagai
salah satu tokoh hukum dunia sepanjang masa (hlm 219), juga sebelas
karakteristik hukum Islam (hlm 227-236):
1. Rabbaniyah (bersumber dari Allah)
2. Tadarruj (bertahap)
3. Umum (general)
4. Ideal dan Relistis
5. Wasathiyah/moderate (seimbang dan proporsional)
6. Murunah (fleksibel)
7. Al’Adalah (adil)
8. Raf’u al-Haraj (tidak sukar)
9. Qillatu al-Taklif (meminimalkan kewajiban hukum)
10. Jalbu al-Mashalih (sesuai dengan kemaslahatan umat manusia)
11. Takamul/Syumul (komprehensif, maksudnya: lengkap, sempurna, dan
berkumpul padanya berbagai macam pandangan hidup)

Bab 11: Kepemimpinan Militer Muhammad SAW

"*Seratus kemenangan dalam seratus pertempuran bukanlah keterampilan militer
yang luar biasa. tetapi menundukkan kekuatan lawan tanpa pertempuran itulah
keterampilan militer yang paling hebat*." (Sun Tzu)

Dalam bab ini (hlm 255-282) diuraikan tentang: Perang Fijar, ancaman dari
luar madinah, strategi pertahanan Madinah, Perang Badar al-Kubra, Ekspedisi
antara Badr dan Uhud, Perang Uhud, Ekspedisi-ekspedisi antara perang Uhud
dan Ahzab (Khandaq), Perang Ahzab (Khandaq), operasi militer sesudah Perang
Ahzab, Perang Khaibar, Penaklukan Makkah, Ekspedisi Pasca Penaklukan Makkah,
Beberapa Strategi Militer Muhammad SAW.

Beberapa sifat kepemimpinan militer Muhammad SAW sbb:
1. Bermusyawarah dalam menentukan taktik militer
2. Mengalahkan musuh tanpa pertempuran
3. Meminimalkan jumlah korban
4. Tidak mudah marah
5. Pendelegasian Kepemimpinan Pasukan
6. Membawa Tradisi baru tujuan peperangan, yakni jihad
7. Komunikasi militer yang Jelas dan Tegas
8. Selalu waspada
9. Tidak segan turun ke bawah
10. Memberi pujian dan bersikap adil terhadap pasukan

*Bab 12. Epilog: Jika Saat ini Rasulullah SAW Duduk di Samping Anda
*
Bab ini (hlm 285-291) berisi mutiara nasihat seandainya Rasulullah SAW saat
ini di samping kita.

"Wahai saudaraku aku (Rasulullah SAW) bahagia engkau telah membaca
perjalanan dakwah dan riwayat hidupku. Aku berharap di setiap lembaran buku
yang kau baca akan kaudapatkan hikmah dan pencerahan serta motivasi untuk
berjuang menuju hari esok yang lebih baik."

"Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa dakwah yang paling utama adalah dakwah
dengan suri tauladan. Usahakanlah dengan maksimal untuk shalat tahajjud
secara teratur sebelum kita mengajak orang lain bangun shalat malam.
Bermurah tanganlah kepada kerabat dekat dan handai taulan serta fakir miskin
sebelum kita mengajak orang lain bershadqah. Berhentilah merokok sebelum
menyuruh anak Anda tidak merokok. Tekanlah ego Anda dan tebarkanlah senyum
sebelum Anda menyuruh orang lain berperilaku santun.

 

Dikutip dari milis daarut-tauhiid@yahoogroups.com

SHARING, REFLEKSI, SELINGANMarch 4, 2009 4:30 am

Jombang itulah nama daerahnya, konon sejarahnya daerah ini dinamai dengan sebutan Jombang dikarenakan adanya dua dimensi yang ada dalam masyarakatnya, setidaknya bisa disebut ijo abang (hijau dan merah). Sebuah warna yang memang dipilih sebagai simbol untuk sebuah strata seseorang, hijau mewakili orang yang melek huruf, atau santri kata yang berasal dari bahasa kuno sastri (melek huruf) dan berkaitan juga dengan cantrik anda bisa membacanya secara lengkap dalam catatan sejarah yang ada.

Untuk memberi gambaran secara lebih dekat anggap saja Ryan (si jagal jombang) mewakili kelompok merah alias masyarakat yang membuat nilai daerahnya tertulis dengan nilai merah, dan Ponari sebagai wakil dari kelompok hijau (penyembuh) hal demikian adalah sebagai bentuk penyeimbang, dan mungkin hebohnya berlipat ganda dibanding hebohnya Ryan.

Itu adalah contoh terkini, dan hampir seluruh Indonesia tahu, meski pada sejarahnya banyak juga kisah rakyat dan mungkin realita pada zamannya, bahwa disanalah gudang dua hal itu, toh dimanapun hal demikian juga akan selalu ada, dimana ada baik disitu ada buruk, sebab tidak akan mungkin sebuah kebaikan itu hadir tanpa diimbangi dengan keburukan, surga pun tak akan laku jika neraka tidak ada.

Sebuah fenomena yang unik bagi saya melihat puluhan ribu orang mengantri untuk minta obat, yang secara rasional tertolak mentah-mentah, namun toh sehebat apapun rasio tak bisa mengalahkan realita yang ada. Banyak dari kalangan kesehatan terweleh-welehkan (dalam bahasa gaulnya, ilmu yang dipelajarinya dicampakkan dengan kejadian ponari), bocah umur 9 tahun yang habis tersambar petir dan mendapat batu, dan ketika batu itu dibuang ternyata kembali ketempat ponari lagi, pembaca boleh percaya boleh tidak, namun penulis yakin ponari bukan pembohong layaknya dukun-dukun itu.

Orang mengatakan Ponari adalah dukun cilik, namun menurut penulis dia bukan dukun, namun hanya kebetulan diberi kelebihan oleh Allah, itu pun karena batu yang datang min haitsu la yahtasib, namun setidaknya efeknya positif, kalau memang itu bisa membuat orang jadi sembuh lantaran hal itu, toh juga yang menyembukan Allah. Jika ada orang yang kurang berilmu berkata itu syirik, saya kira perlu hati-hati, berobat ke dokter dan ke ponari adalah sama, menyakini jika minum obat dari dokter membuat dia sembuh adalah keliru, sebagaimana menyakini minum air yang dicelupi batunya ponari. Kecuali jika mereka tetap yakin yang menyembuhkan adalah Allah, lewat air itu, atau obat dari dokter.

Anda bisa simak sejarah nabi Musa ketika sakit gigi, ketika dia memohon kesembuhan pada Allah dia disuruh mengambil sebuah rerumputan, disaat yang lain dia sakit lagi, dan langsung mengambil rerumputan dan melupakan Allah, akhirnya sakitnya malah parah, setelah itu baru sadar dan mendapat teguran dari Allah.

Kisah ponari ini menurut penulis adalah sebuah peringatan kepada pemerintah Indonesia, dimana pelayanan kesehatan begitu minim dan mahal, baru daftar menjadi pasien saja sudah mahal apalagi resmi menjadi pasien dan harus menebus obat-obat yang mahal, maka tak heran jika puluhan ribu orang rela antri berhari-hari hanya karena pengobatan yang murah.

Hal demikian juga mengulang sejarah nabi Isa, juru pengobatan yang tak masuk akal pada saat kekuatan akal diagung-agungkan oleh kaum yahudi yang memang rasionalis, bahkan nabi Isa pun dilahirkan tanpa ayah, sebagai bukti bahwa Allah mampu melakukan apa yang akal manusia tak mampu menjangkau.

Penulis pun terkadang terbentur dengan hal demikian, ketika mencoba menjadikan sesuatu sesuai akal dalam sejarah-sejarah para nabi, para wali, dan orang sholeh lainya. Satu contoh adalah Hajar aswad, batu hitam yang diciumi jutaan orang, yang sekarang terletak disebuah sudut ka’bah, batu itu dalam tafsir yang penulis pelajari, adalah batu dari surga, buah-buahan yang diberikan untuk maryam ketika i’tikaf dalam tempat khalwatnya adalah dari surga, Istri salah seorang wali di Indonesia .juga bidadari dari surga.

Disitulah manusia diuji antara percaya dan tidak percaya, dan disitu pula manusia diajari bahwa yang gaib itu ada, dan yang ada itu gaib. Yang atas itu bawah dan yang bawah itu atas, up is down kata orang inggris, dan penulis yakin ketika pembaca berpikir sejenak dari contoh yang akan penulis berikan, pembaca akan sadar.

Contoh atas adalah bawah.

Kita semua tahu bahwa bumi adalah bulat, langit yang kita anggap diatas kita sebenarnya adalah dibawah bumi, dan langit yang dibawah bumi sebenarnya diatas kita. Anggap saja apa yang dianggap tertinggi dibagian bumi amerika, adalah apa yang dianggap rendah oleh bagian bumi Indonesia, dan semakin tinggi orang menumpuk harta, semakin dalam pula ia terkubur dengan harta.

Kalau saja umur kita diakhirat nanti sama dengan umur kita didunia, anda bisa bayangkan jika satu hari penuh kita berdosa, sebagai balasan kejelekan adalah 1:1 maka kita akan terhukum selama 1000 tahun dunia, karena satu hari diakhirat sama dengan 1000 tahun didunia. Nah kalau berbuat baik kan sistemnya 1:10, so jika kita beramal baik satu hari penuh maka balasannya 10.000 tahun, coba bayangkan kalau seumur hidup kita mampu beramal baik.

Maka, kata guruku “dalam diam, janganlah hatimu diam, dalam ramai, janganlah hatimu ramai”, ini penulis jabarkan aja, yang jelas iintinya guruku berpesan jika hatimu menyebut Allah tiap detaknya, bukankah itu tabungan kebaikan dan setiap kebaikan akan dibalas, sementara waktu tak bisa di pause atau di replay, jika hari ini kamu tidak menyebut Allah, maka kamu tak akan dapat mencari waktu hari ini, setelah hari ini.

Dalam diamnya mulut kita, dzikirlah yang keras dengan hati kita, dan dalam ramainya mulut kita, janganlah hati kita ramai kecuali untuk menyebut Allah. Janganlah mulut kita dzikir dengan keras sementara hati kita tidur atau bahkan wisata kemana-mana, apalagi mulut kita tidak berdzikir, hati kita maksiat, na’udzubillah!.


dikutip dari daarut-tauhiid@yahoogroups.com

SHARING, REFLEKSI, ISLAMMarch 3, 2009 3:50 am

Seorang pria asal California Selatan yang mengaku telah melakukan
kegiatan sebagai mata-mata bayaran FBI di masjid-masjid ingin
membersihakan namanya setelah identitasnya terungkap.

Craigh Monteilh, 46 tahun, seorang konsultan kebugaran tubuh dari
Irvine, mengatakan dia telah masuk ke masjid-masjid dari Juli 2006
hingga Oktober 2007. Bahkan dia juga mengaku telah melakukan wawancara
yang berhasil direkam dengan saudara ipar pengawal pribadi Syeikh
Osama bin Laden.

Monteilh mengatakan, Ahmadullah Niazi, saudara ipar pengawal pribadi
Syeikh Osama bin Laden, telah menjadi temannya saat dia berinfiltrasi
di dalam masjid. Niazi juga mengatakan padanya bahwa dia ikut
mengirimkan donasi kepada pejuang di Afghanistan dan melakukan
pemboman pada sebuah gedung di California Selatan.

Monteilh muncul setelah Niazi, 34 tahun, ditangkap karena terkait
tuduhan terorisme dan pelanggaran kewarganegaraan dan dokumen paspor.
Namun, pihak FBI telah menyangkal bahwa Monteilh bekerja dalam agen
resmi pemerintah penjajah AS tersebut.

Monteilh mengaku masa kerjanya berakhir beberapa bulan setelah Niazi
dan beberapa jamaah masjid melaporkannya karena menghalang-halangi dia
dan sejumlah jamaah untuk pergi ke masjid.

Sebuah kelompok advokasi Muslim telah meminta investigator federal
untuk membebaskan Niazi, hal ini karena Niazi telah dipaksa untuk
menjadi informan FBI karena Monteilh.

Niazi yang merupakan keturuan Afghanistan yang mendapatkan
kewarganegaraan AS tahun 2004, kini dikenai denda $ 500,000 dan akan
menghadapi sidang federal Senin depan.

Dalam infiltrasinya Monteilh selalu membawa alat pengawasan dab
bertemu dengan agennya di Starbuck atau restauran lokal sepekan
sekali. Dia juga mengerjakan laporan harian untuk FBI dan mendapatkan
upah $11,200 per bulan untuk aksinya ini.

Munira Syeda, jubir Council on American-Islamic Relations di Los
Angeles mengatakan tuduhan yang bisa dilancarkan kepada Niazi hanya
sebatas masalah administrasi kewarganegaraan saja, karena keterkaitan
dengan kegiatan "terorisme" tidak bisa dibuktikan.

Sementara itu, kegiatan mata-mata dalam hukum Islam sendiri, jika
seseorang tertangkap dan terbukti melakukan aksi ini, maka menurut
berbagai madzhab Islam berlaku hukum pancung baginya.

 

http://www.muslimdaily.net/2009/02/28/Konsultan+Fitnes+Mengaku+Jadi+Mata-mata+FBI+di+Masjid+California.html

Umum, SHARING, REFLEKSI, ISLAMFebruary 28, 2009 6:04 am

Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allohu Ta’ala. kita memujiNya meminta pertolongan kepadaNya dan memohon ampunanNya, serta berlindung kepada Alloh dari kejelekan diri diri kita dan dari kejahatan amalan amalan kita. Barangsiapa yang Alloh beri petunjuk padanya, maka tiada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang Alloh sesatkan, maka tiada yang bisa menunjukkinya.
Dan aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allohu Ta’alaa dan tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya.

Amma ba’du

:: 4 TIPE ORANG SEPUTAR HARTA & ILMU ::

Di negeri ini masih banyak orang mempunyai ilmu dan harta tapi mengapa negeri ini masih dilanda krisis ?!

Dari Abu Kabsyah Al-Anmari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

"Dunia itu diberikan kepada empat golongan:

(1) Seorang hamba yang Allah anugerahi harta dan ilmu, maka dia pun bertakwa kepada Rabbnya dalam hal hartanya, menggunakan hartanya untuk menyambung tali kekerabatan dan mengetahui bahwa Allah memiliki hak dalam hartanya itu, maka dia berada pada derajat yang paling mulia di sisi Allah.

(2) Dan seorang hamba yang Allah karuniai ilmu namun tidak diberi harta, dia adalah seorang yang benar niatnya. Dia katakan, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku akan beramal seperti amalan Fulan’, maka dengan niatnya itu pahala mereka berdua sama.

(3) Juga seorang hamba yang Allah beri harta namun tidak dikaruniai ilmu, sehingga dia gunakan hartanya tanpa ilmu. Dia tidak bertakwa kepada Rabbnya dalam hartanya itu, tidak menggunakannya untuk menyambung tali kekerabatan, dan tidak pula mengetahui ada hak Allah dalam hartanya, maka dia berada pada derajat yang paling hina di sisi Allah.

(4) Dan seorang hamba yang tidak Allah beri harta maupun ilmu, lalu dia mengatakan, ‘Seandainya aku memiliki harta aku akan berbuat seperti perbuatan Fulan’, maka dengan niatnya itu dosa mereka berdua sama."

(HR. At-Tirmidzi no. 2325, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi: Shahih)

 dikutip dari mili daarut-tauhiid

REFLEKSI, ISLAM 6:00 am

Kesaksian dari tim Mer-C dalam acara Gaza Untold Story di Masjid Al Barkah Bekasi :

Selama
tim Mer-C berada di Gaza, mereka menemukan setidaknya ada 80 tank
israel yang hancur. 1 tank israel dioperasikan rata rata 4-5 tentara.
Ini berarti setidak-tidaknya 80×5 = 400 tentara israel mati atau
setidaknya luka parah. Kabar yang juga menggelikan, bahwa semua tentara
israel yang berada di tank memakai pampers …...... mereka amat sangat
takut keluar dari tank. Sehingga urusan buang air ya di pampers itu.

FPI
yang selama ini sering disikapi sinis oleh masyarakat Indonesia, bahkan
oleh sebagian umat Islam sendiri, ternyata juga telah mengirimkan
relawannya ke Gaza. Di sana mereka betemu dengan tim Mer-C.

Tim
FPI membawa langsung bantuan kemanusiaan ke Gaza. Sedang faktanya masuk
ke Gaza sendiri bukan urusan mudah dari segi perizinan, belum lagi dari
sisi siap mati kapanpun. Sehingga masyarakat Palestina, Gaza khususnya
sangat terharu dengan kepedulian umat Islam dari Indonesia. Nama
Indonesia sangat terkenal dan harum di mata rakyat Palestina.

 

 

Dikutip dari Milis daarut-tauhiid

Umum, REFLEKSI, ISLAMFebruary 18, 2009 4:35 am



                               There were no valentines
    for the kids in palestine
    no v-cards
    no valentines day there were no candy hearts
    for the old decripit ones
    no candy
    no cinnamon buns all you little boys and girls
    we’ll give you all our candy  pearls
    pearls pearls pearls pearls  pearls
    we’ll give you candy pearls where has all the candy gone?
    candy candy candy where has all the love gone?  

 

 

Pernah dengar lagu dari lirik di atas? Nggak usah minder kalo belum, karena
lagu ini memang bukan major label alias indie. Genrenya juga abstrak,
bukan termasuk pop, rock, rap apalagi dangdut. Bahkan si penyanyi yaitu
Tishomingo juga nggak jelas asal usulnya. Suaranya pun sangat cempreng
dan nggak asik untuk didengar. Tapi at least, kita jadi tahu
apa yang dia mau dari lirik lagu ciptaannya ini. Ia masih mau peduli
dengan nasib jutaan manusia di Palestina, yang bagi zionis Israel
dengan dukungan Amerika ingin dimusnahkan hingga akar-akarnya. Gimana
nggak, bila bayi merah pun mereka bunuh dengan tangan dingin.  Terlepas
dari sejarah asal-usul Valentine, hari ini diyakini oleh banyak orang
sebagai hari kasih sayang. Hari yang penuh dengan permen, coklat,
boneka, benda-benda berbentuk hati, dan warna pink. Budaya yang awal
mulanya dari Italia dan kemudian dikomersilkan oleh Amerika ini semakin
mendunia. Negeri-negeri muslim termasuk Indonesia pun jadi latah
ikut-ikutan. Seakan-akan bila belum ikut merayakan hari Valentine,
hidup serasa kurang pas, nggak gaul dan siap dicap kuno.  Amerika,
Eropa dan banyak negeri muslim pun jejingkrakan merayakan Valentine.
Memang sih ada beberapa orang yang merayakannya dengan syahdu tapi
tetep aja ujung-ujungnya juga mengarah ke gaul bebas dan konsumerisme.
Terus, apa dong hubungan antara hari Valentine dengan Palestine
terutama Gaza yang awal tahun ini diserang selama 22 hari nonstop itu?
Ikuti yuk, biar paham.  Valentine, Palestine

Wah…apa hubungannya antara Palestina dengan hari Valentine? Secara
langsung emang nggak ada hubungannya, tapi kalo dipaksa-paksain bisa
juga yaitu dengan tujuan sekadar tahu seberapa buruk wajah Valentine
dikaitkan dengan isu Palestina.  Bulan Februari
semua toko dan hampir semua pusat perbelanjaan menjajakan barang-barang
berlabel hari kasih sayang. Nggak cuma Amerika sebagai lokomotif
penjaja budaya ini, tapi termasuk Indonesia dan banyak negeri muslim
lainnya rela menjadi gerbong kayak sapi ompong yang ikut-ikutan
merayakannya.  Lagu di atas ditulis oleh anak
muda yang peduli tentang nasib bangsa Palestina. Dikaitkan dengan
Valentine yang katanya hari kasih sayang, fenomena ini sangat jauh dari
perlakuan dunia terhadap masalah Palestina. Nah, karena perayaan
Valentine ini masih dekat dengan luka Gaza sejumlah 1300 nyawa lebih
dibantai Zionis atas izin Amerika, maka kita patut untuk mengaitkannya
dan melihat kebobrokannya.  Lagu di atas tuh
kurang lebih terjemahan bebasnya gini neh: kalo emang Valentine itu
hari kasih sayang, trus kemana rasa cinta itu pergi bila sudah kena
masalah Palestina? Nah, bahkan anak muda yang nulis lirik ini aja punya
kesadaran kemanusiaan tinggi kayak gini, gimana dengan kamu-kamu yang
masih aja merayakan Valentine di saat sodara-sodara kita dibantai? Lagu
ini sebetulnya nyentil banget untuk melihat betapa bopengnya wajah
peradaban Barat yang suka bersembunyi atas nama cinta dan kasih sayang.
Ketika Israel penjajah dihujani roket dari wilayah Gaza aja, mereka
teriak-teriak seakan dunia runtuh. Padahal para zionis itulah yang
datang tak diundang untuk merampok wilayah Palestina. Namun ketika
Penduduk Palestina mempertahankan diri, eh…malah dibilang teroris dan
dibantai. 1300 jiwa melayang dengan mayoritas anak-anak dan wanita jadi
korban. Namun apa kata pemerintah Amerika dan PBB yang katanya badan
perdamaian? Mereka sepakat mendukung Israel dan meneruskan pembantaian
atas rakyat Gaza.   Kedua pemerintah negara ini
memang saling bantu dalam hal melemahkan kaum muslimin dari segala
aspeknya, terutama dari segi budaya. Bahkan, bila ditelusuri, ternyata
negeri penjajah semacam Israel pun, mempunyai tradisi yang tak jauh
beda dengan perayaan Valentine ala Barat. Kita tak perlu heran Israel
ikut-ikutan perayaan Valentine ini karena bukankah yang mempunyai ide
adalah Israel besar? (baca: Amerika= Israel besar, Israel= Amerika
kecil).   Valentine ala Yahudi

Hadirnya hari Valentine, tidak begitu asing bagi komunitas Yahudi
terutama dalam lingkup negara yang dirampas dari Palestina, yaitu
Israel. Hari tersebut disebut Tu B’Av yang artinya adalah tanggal lima
belas bulan Av (bulan orang Yahudi), kira-kira kalau dalam penanggalan
masehi, tanggal ini jatuh sekitar akhir bulan Juli.
 Tu B’Av ini
adalah hari untuk merayakan cinta bagi orang Yahudi yang kurang lebih
seperti hari Valentine. Para gadis yang dalam agama Yahudi begitu
banyak larangan untuk bergaul dengan lawan jenis, pada Tu B’Av mereka
keluar rumah dan memakai baju putih hasil dari meminjam serta
berdansa-dansi di kebun anggur. Mereka berdansa untuk menarik lawan
jenis dengan mengucapkan kata-kata “Hai para pemuda, bukalah mata
kalian dan lihatlah kami. Pilihlah kami sebagai pasanganmu.” Tak
jauh beda dengan Valentine, mereka pun saling memberi bunga, permen,
coklat, boneka, dan benda-benda lainnya dengan bentuk hati. Kapitalisme
pun mengintip dan dimanfaatkanlah momen ini untuk meraup untung
sebanyak mungkin dengan persewaan hotel, restoran dirancang dengan
romantis dan lain sebagainya. Bahkan tradisi berpakaian putih itu pun
ditinggalkan dan diganti dengan kaos nanggung yang (maaf) kelihatan
pusarnya. Jadilah ajang ini tempat untuk melampiaskan nafsu dengan
berzina atas nama hari kasih sayang. So,
bila Valentine yang notebene berasal dari budaya Romawi yang dipoles
oleh budaya Kristiani lalu nyambung dengan budaya Yahudi, kita nggak
perlu heran. Mereka tidak mengenal dosa, karena bagi mereka yang
penting hidup ini having fun. Surga neraka itu urusan
belakangan. Sangat khas sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan)
yang itu bertentangan dengan Islam. Yang pantas kita herankan adalah
apabila ada kaum muslimin yang masih mau turut serta berpartisipasi
dalam ajang yang jelas-jelas maksiat ini.  Tengoklah Palestina

Dari uraian di atas, marilah kita tengok Palestina yang baru saja
dihancur-leburkan oleh Israel laknatullah. Nyambung nggak sih kasih
sayang yang mereka gembar-gemborkan itu dengan kenyataan? Ada yang
nggak nyambung dengan teori mereka tentang cinta dan kasih sayang bila
dikaitkan dengan fakta pembunuhan keji anak-anak dan wanita atas nama
memerangi terorisme. Teori mereka basi. Masa iya sih yang kayak begini
masih aja kalian percaya untuk mengikuti yang namanya Valentine atau
apa pun dengan menyalahgunakan cinta dan kasih sayang? Di
saat anak-anak dan remaja Palestina hidup di pengungsian tanpa rumah,
tanpa makanan, tanpa selimut di musim dingin, masa iya kamu tega
menghamburkan uangmu untuk sekedar candle light dinner dengan
sang pacar? Ketika tiap saat hidup mereka terancam bom kimia Israel
yang membuat mereka cacat seumur hidup dan merasakan sakit tak
tertahankan, masih kamu tega befoya-foya dan berpesta atas nama hari
kasih sayang? Coklat, permen dan boneka yang
merupakan bagian dari dunia anak-anak adalah barang mahal untuk
dinikmati. Ketapel dan batu adalah mainan dan senjata bagi anak-anak
dan remaja Palestina untuk melawan Israel yang diperlengkapi dengan
senjata modern sokongan dari Amerika.  Bila
ingin belajar cinta dan kasih sayang, layangkan pandanganmu ke tempat
konflik ini. Seorang ibu yang rela melepas putra tersayangnya untuk
berjihad demi cinta kepada Allah dan rasulNya. Seorang pengantin baru
yang rela meninggalkan istri demi seruan jihad melawan Israel. Seorang
anak, baik laki-laki maupun perempuan usia 10 tahun menggendong adiknya
yang balita dengan sayang karena orang tuanya sudah syahid. Lalu,
bentuk cinta yang seperti apa lagi yang kita inginkan?

  Kita memang beda

Menjadi seorang muslim itu berbeda. Kita tidak butuh cinta semu
berbalut nafsu atas nama maksiat. Kita butuh bukti bukan janji. Kita
tidak butuh slogan-slogan cinta bila faktanya tak ada. Cinta dan kasih
sayang yang diobral dalam acara bertajuk Valentine, ibarat baju yang
diobral seribu tiga. Cinta dan kasih sayang itu jadi murahan dan
kehilangan nilai serta rasanya. Nggak asik, gitu lho. Cinta
dalam Islam diperlakukan dengan agung. Cara memperoleh pasangan juga
sudah diatur sedemikian rupa agar tidak melanggar harkat dan martabat
manusia sebagai manusia. Harga diri masing-masing individu juga dijaga,
bukan untuk diobral dengan genit sambil berdansa-dansi. Memberi coklat,
bunga, dan kado pun boleh untuk mempererat ukhuwah dan selama tidak
menimbulkan fitnah. Apalagi dalam kehidupan suami istri, wah…sangat
dianjurkan itu.   Tidak ikut-ikutan acara
Valentine bukan berarti kuno. Kuno atau tidaknya seseorang itu bukan
dilihat dari ikutan ajang maksiat tersebut atau tidak. Tapi kuno
tidaknya seseorang itu dilihat dari pola pikir dan perilakunya. Israel
itu kuno, karena beraninya cuma bila didukung Amerika di persenjataan
dalam melawan perlawanan Palestine. Israel itu kuno dan kejam karena
beraninya cuma membunuh anak-anak dan wanita. Israel itu kuno ketika ia
tidak berani face to face dalam bertempur dengan musuhnya.
Jadi semua tentang zionis Israel itu kuno, kejam dan tak
berperikemanusiaan. Masa iya, udah tahu begini kamu masih mau
ikut-ikutan? Tidak mem-beo acara Valentine bukan
berarti anti Barat. Hal-hal yang bersifat netral dan tidak merusak
akidah, bisa kita terima dengan tangan terbuka. Misalnya saja teknologi
seperti komputer, pesawat terbang bahkan belajar bahasa Inggris. Itu
sah-sah aja kok untuk dipelajari dan dimanfaatkan bagi kemaslahatan
manusia. Tapi bila sudah pada tataran pemikiran dan peradaban semisal
perayaan Valentine, natalan, demokrasi, hedonisme, permisifisme (paham
serba boleh), atau isme lainnya, wah…nanti dulu. Seorang
muslim itu punya prinsip. Dia tidak akan pernah terombang-ambing oleh
serbuan budaya yang nggak jelas asal-usulnya. Yang nggak jelas aja
nggak mau apalagi yang jelas-jelas bukan budaya Islam dan tujuannya
adalah merusak generasi muda muslim semisal Valentine’s Day ini. Jadi
mulai saat ini, detik ini, tanamkan dalam diri kamu bahwa Valentine’s
Day NO, tapi Islam YES, okay?

 

Dikutip dari Milis daarut-tauhiid

 

 

Umum, SHARING, REFLEKSI 4:26 am

Adab adalah satu istilah bahasa Arab yang berarti adat kebiasaan. Kata ini menunjuk pada suatu kebiasaan, etiket, pola tingkah laku yang dianggap sebagai model.

Selama dua abad petama setelah kemunculan Islam, istilah adab membawa implikasi makna etika dan sosial. Kata dasar Ad mempunyai arti sesuatu yang mentakjubkan, atau persiapan atau pesta. Adab dalam pengertian ini sama dengan kata latin urbanitas, kesopanan, keramahan, kehalusan budi pekerti masyarakat kota sebagai kebalikan dari sikap kasar orang badui.

Dengan demikian adab sesuatu berarti sikap yang baik dari sesuatu tersebut. Bentuk jamaknya adalah Âdâb al-Islam, dengan begitu, berarti pola perilaku yang baik yang ditetapkan oleh Islam berdasarkan pada ajaran-ajarannya. Dalam pengertian seperti inilah kata adab.

Sumber Adab
Adat kebiasaan di dalam banyak kebudayaan selain kebudayaan Islam sangat ditentukan oleh kondisi-kondisi lokal dan oleh karena itu tunduk pada perubahan-perubahan yang terjadi di dalam kondisi-kondisi tersebut. Menurut W.G. Summer, dari berbagai kebutuhan yang timbul secara berulang-ulang pada satu waktu tertentu tumbuh kebiasaan-kebiasaan individual dan adat kebiasaan kelompok. Tetapi kebiasaan-kebiasaan yang muncul ini adalah konsekuensi-konsekuensi yang timbul secara tidak disadari, dan tidak diperkirakan lebih dulu atau tidak direncanakan.

Ahlak dan adab Islam tidaklah bersifat “tanpa sadar” seperti dalam pengertian di atas. Adab dan kebiasaan-kebiasaan Islam itu berasal dari dua sumber utama Islam, yaitu al-Qur’an dan Sunnah, perbuatan-perbuatan dan kata-kata Nabi serta perintah-perintahnya yang tidak langsung. Oleh karena itu akhlak Islam itu jelas berdasarkan pada wahyu Alloh SWT.

 

Dikutip dari Milis daarut-tauhiid

Umum, SHARING, REFLEKSI, ISLAM, WACANA 4:20 am

Ada beberapa persiapan harus dilakukan bagi para calon mempelai.
 Pertama,
soft ware-nya, yakni qolbu kita yang harus selalu yakin kepada Alloh.
Karena yang bisa menimbulkan orang stress, tidak menerima kenyataan,
sekali-kali bukan karena masalahnya. Melainkan karena keyakinan dia
yang lemah kepada Alloh. Kita harus sadar sesadar-sadarnya bahwa diri
kita ini milik alloh. Calon istri kita milik Alloh. Yang mengetahui
segala perasaan yang ada pada diri kita adalah Alloh. Yang
memerintahkan kita menikah adalah Alloh. Pernikahan terjadi juga dengan
ijin Alloh. Bahkan kebahagiaan yang kita raih pun adalah karena
pertolongan Alloh .

Jadi,
kuncinya adalah Alloh. Kalau kita tidak yakin kepada Alloh, kita tidak
akan mendapatkan kuncinya. Alloh-lah yang menjanjikan kita
berpasang-pasangan. Alloh-lah yang menyuruh kita menikah. Dan nikah itu
ibadah, sedang Alloh menyuruh kita ibadah. Kita tidak usah merasa
ragu-ragu lagi. Maka kembalikan segalanya kepada Alloh. Kita tidak
boleh suudzan . Sedikit pun. Tidak boleh merasa rendah diri karena
penampilan kita yang kurang menarik orang tua miskin, pendidikan
rendah. Kalau kita merasa demikian, berarti kita telah menghina Alloh,
sebab wajah kita bukan milik kita, semuanya milik Alloh.

 Kedua,tingkatkan
kepribadian kita supaya disukai Alloh. Perbaikilah apapun yang dapat
kita lakukan ; akhlak kita, perbuatan kita , tingkah laku kita. Jagalah
pandangan, bergaulah dengan lawan jenis dengan cara yang disukai Alloh.
Tidak usah sibuk dengan penampilan yang dibuat-buat seperti, mejeng dan ngeceng. Sebab,
sesungguhnya tidak ada yang luput dari pandangan Alloh. Apa pun yang
kita perbuat pastilah disaksikan-Nya.

Maka,meningkatkan kualitas diri
supaya disukai Alloh adalah hal paling penting.     
Kemudian
yang tidak kalah pentingnya, kita harus latihan meningkatkan
kedewasaan. Karena untuk membangun rumah tangga tidak cukup hanya
dengan keemauan, keinginan dan uang. Rumah tangga adalah samudera
masalah. Kadang-kadang kita merasa bahwa dialah yang paling cantik di
dunia. Tapi setelah menikah, tidak jarang orang merasa betapa dunia
banyak yang cantik, kecuali istrinya. Hal ini harus dikendalikan dengan
kedewasaan. Jangan sampai kita tergelincir dan jatuh ke jurang maksiat
hanya karena masalah seperti ini. Belum lagi dengan masalah lain yang
sangat berpotensi untuk menimbulkan sengketa.
Mertua kita, adik ipar
kita yang tinggal serumah dengan kita, bahkan anak kita sendiri yang
masih bayi, misalnya semua bisa berpotensi untuk bermasalah kalau kita
tidak dewasa dan arif menghadapinya. Hanya dengan kedewasaan dan
kearifanlah semua masalah bisa diselesaikan. Seorang suami yang tidak
matang tidak dewasa, tidak arif, ia lebih banyak menambah masalah
daripada menyelesaikan masalah.     

Ketiga, persiapan
ilmu, terutama ilmu agama, kita akan bisa beribadah dan beramal dengan
benar. Dan Alloh pun siap menolong kita, kalau kita beribadah dan
beramal dengan benar Ilmu agama penting dikuasai supaya kit tahu
standar yang benar. Kita pelajari rumah tangga Rasulullah SAW. Karena
memang hanya rumah tangga beliaulah yang menjadi acuan yang tepat
dalammenegakan menegakan keluarga Islami. Kita dapat bercermin dari
sejarah rumah tangga beliau. Ketika ia pulang ke rumah malam hari, lalu
ketika pintunya diketuk tidak ada juga yang menyahut karena istrinya
tertidur. Rasulullah tidak berani membangunkan. Akhirnya ia berbaring
di depan pintu. Kita mungkin belum bisa seperti itu. Tetapi paling
tidak kita memiliki standar yang jelas        

Keempat, belajarlah
ilmu umum, seperti ilmu kesehatan, ilmu merawat tubuh, cara memahami
wanita (bagi suami). Bagaimana menghadapi istri saat menjalani ngidam,
saat kehamilan, saat melahirkan dan lain sebagainya. Begitu pun istri
harus memahami bagaimana prilaku suami, bagaimana emosinya, bagaimana
karakternya. Maka, belajar ilmu psikologi yang banyak berkaitan dengan
hal-hal seperti ini sangat diperlukan.       

Kelima, persiapkan
dan tingkatkanlah keterampilan. Seperti keterampilan menata rumah,
mencari tambahan penghasilan, memasak, keterampilan menekan biaya hidup
dan lain-lain. Hal ini perlu sdilakukan baik oleh calon suami , maupun
oleh calon istri. Sebab setelah menikah bagi keduanya masingmasing
berpeluang berpisah. Suami harus berpikir misalnya bahwa ajal siap
datang menjemput kapan saja. Maka ketika istrinya meninggal duluan
jangan sampai kelabakan karean tidak bisa menggantikan peran istrinya.
Begitu pun bagi istri ia harus ditinggal suaminya. Maka ia harus siap
memberi nafkah keluarga dengan meningkatkan keterampilan menambah
penghasilan  

Begitulah
persiapan-persiapan yang harus ditempuh bagi kaum laki-laki dan
perempuan yang sudah berniat berumah tangga. Bagi mereka yang telah
maksimal mempersiapkannya, insya Alloh masalh apa pun yang dihadapi
tidak akan membuat mereka goyah. Mereka akan tetap tegar dan yakin
bahwa Alloh akan menolongnya. Ingat firman Alloh berikut ini : “ Dan
nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang
yang layak (nikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika
mereka miskin, Alloh akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan
Alloh Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nuur
ayat 32). Nah, sudah seperti itulah persiapan anda. Wallahu a`lam.
sumber:cyberMQ.com
Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu [ Al Baqarah : 45 ]

Dikutip dari Milis daarut-tauhiid

REFLEKSI, keseharian, ISLAM, inspirasiAugust 28, 2008 4:11 am

Diriwayatkan oleh Imam Ali kw., Rasulullah saw. berkhutbah menjelang bulan Ramadhan: "Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah yang membawa berkah, rahmat, dan ampunan. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari paling utama. Malam-malamnya adalah malam paling utama. Waktu demi waktunya adalah waktu paling utama. Inilah bulan di mana engkau diundang menjadi tamu Allah, dan dimulikan oleh-Nya. Nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu menjadi ibadah, amal-amalmu diterima, dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shaum dan membaca kitab-Nya. Sungguh celakalah orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah pada bulan yang agung ini. Kenanglah rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan pada hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fakir dan miskin. Muliakan orangtuamu. Sayangilah yang muda, sambungkan tali persaudaraan, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari hal yang tidak halal kamu pandang. Dan tahan pula pendengaranmu dari yang tidak halal kamu dengar. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya anak-anak yatimmu akan dikasihi manusia. Bertobatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa di waktu shalatmu, karena saat itulah saat yang paling utama, ketika Allah memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih. Dia menjawab ketika mereka menyerunya. Dia menyambut ketika mereka memanggilnya. Dan, Dia mengabulkan doa-doa ketika mereka bermunajat kepadanya. Wahai manusia, sesungguhnya diri-diri kalian tergadai karena amal-amal kalian. Maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena dosa-dosa, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu. Ketahuilah bahwa Allah bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa ia tidak akan mengadzab orang-orang yang shalat dan sujud. Tidak akan mengancam mereka dengan neraka, pada hari manusia berdiri di hadapan Rabbul ‘Alamin. Wahai manusia, barang siapa di antara kalian memberi makan orang yang berbuka, maka di sisi Allah ia bagaikan membebaskan seorang budak dan akan dibebaskan dari dosa-dosa yang telah lalu. Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah kami tidak akan mampu berbuat demikian.’ Lalu beliau melanjutkan khutbahnya, Jagalah diri kalian dari api neraka walau hanya dengan sebiji kurma. Jagalah diri kalian dari api neraka walau dengan seteguk air. Wahai manusia, barang siapa membaguskan akhlaknya, dia akan berhasil melewati shiratal mustaqiim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Barangsiapa meringankan pekerjaan orang-orang di yang dimiliki tangan kanan pembantunya, maka Allah akan meringankan hisabnya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya, Allah akan menahan murkanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memuliakan anak yatim, maka Allah akan memuliakannya di saat perjumpaan dengan-Nya. Barangsiapa yang menyambungkan tali silaturahmi, maka Allah akan menghubungkan dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Dan, barangsiapa memutuskan silaturahmi, maka Allah akan memutuskan ia dari rahmat-Nya. Barangsiapa yang melakukan shalat, maka Ia akan membebaskannya dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardhu, maka ganjarannya seperti melakukan 70 kali shalat fardhu. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku, maka Allah akan memberatkan timbangannya ketika banyak timbangan menjadi ringan. Barangsiapa yang membaca satu ayat Alquran, maka nilainya sama dengan mengkhatamkan Alquran. Wahai manusia, sesungguhnya pintu surga dibukakan untukmu, maka mintalah kepada Allah agar Ia tidak menutupnya lagi untukmu. Pintu-pintu neraka ditutup, maka mintalah agar ia tidak dibukakan lagi untukmu. Setan-setan dibelenggu, maka mintalah kepada Tuhanmu, agar ia tidak lagi menguasaimu. Lalu Ali kw. berdiri dan berkata, ‘Ya Rasulullah, amal apa yang paling utama di bulan ini?’ Rasulullah menjawab, ‘Ya Abul Hasan amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari yang diharamkan Allah Swt.’"

Umum, SHARING, REFLEKSI, ISLAM, SELINGAN, PENDAPATJune 21, 2008 9:45 am



 
Mengawali tulisan ini saya akan mengutipkan pandangan seorang filosof Muslim-India, M. Iqbal (1877-1938) yang tidak populer kita ketahui, yaitu bahwa kisah Adam dalam Al-Qur’an bukanlah kisah nyata dalam sejarah umat Islam, dan kisah Adam itu bukanlah suatu peristiwa sejarah, melainkan ia hanya sebuah “legenda” semata. Pendapat Iqbal ini nampaknya seakan kontradiksi dengan pendapat yang umumnya diyakini umat Islam. Akan tetapi, sebenarnya Iqbal ingin menegaskan kalau pengirim Adam ke dunia itu bukanlah suatu “kejatuhan” melainkan suatu “kebangkitan” baru umat manusia yang sering terabaikan sebab watak semangat Al-Qur’an itu harus dipahami sebagai semangat kebangkitan, bukan “kejatuhan” tepatnya lagi kebangkitan umat manusia sebagai pemimpin di muka bumi ini.

Sesungguhnya, dapat dipahami apabila manusia pertama saja sudah mengalami “kejatuhan” tentu penerusnya akan mengalami kondisi yang lebih mengkuatirkan lagi. Oleh karena itu, interpretasi tentang Adam ini tidak lah harus seradikal Iqbal menolak ketokohan Adam, melainkan harus dilihat dalam perspektif baru bahwa itu semua merupakan suatu proses kebangkitan awal manusia menuju kehidupan yang lebih esensial sebab sesuatu yang awal akan sangat menentukan perkembangan selanjutnya. Selain itu, penempatan Adam sebagai gerak pertama kebangkitan sekaligus juga sebagai penolakan terhadap sebahagian anggapan bahwa Adam itu telah “mewariskan dosa” kepada generasi selanjutnya sehingga ia terusir dari surga.

Untuk ini lah sangat relevan mengemukakan tulisan ini sebagai upaya untuk mendudukkan kembali semangat-semangat kebangkitan yang dinafasi oleh Al-Qur’an yang memang kita butuhkan dalam mengatur tatanan kehidupan global. Sebab tanpa itu kita akan terus termarginalkan oleh “kekejaman” globalisasi yang tidak dapat dihindari sebagaimana yang pernah diramalkan futurolog Barat, John Naisbitt dan Patricia Aburdence, bahwa globalisasi akan menciptakan “ledakan” dahsyat dalam semua bidang kehidupan. Oleh sebab itu, di sini lah letak pentingnya memproyeksikan Al-Qur’an itu sebagai “kitab kebangkitan” untuk kembali menatap masa depan yang lebih cemerlang dari sebelumnya akibat dari “keterperangkapan” manusia dari kehidupan yang diciptakannya sendiri.

Spirit Al-Qur’an Tentang Kebangkitan
Tidak terlalu berlebihan kalau seandainya dikatakan kenapa umat Islam selalu saja terbelakang dalam segala hal di dunia ini, atau setidaknya ini pernah menjadi renungan dan pertanyaan besar bagi seorang pemikir asal Libanon, Syakib Arsalan (1869-1946) mengapa umat Islam itu terbelakang? Di antara salah satu penyebab utama keterbelakangan umat Islam yang disimpulkan Arsalan, yaitu bahwa umat Islam telah lama “menelantarkan” Al-Qur’an dengan mengabaikan semangat kebangkitan yang terkandung dalam inti ajarannya.

Padahal, sesungguhnya semangat kebangkitan itu merupakan suatu bagian dari entitas Al-Qur’an yang tidak hanya dapat membangkitkan masyarakat Arabia semata, melainkan seluruh pelosok penjuru bumi yang pernah bersentuhan dengan ide-ide kebangkitan yang terkandung di dalamnya. Di antara bentuk kebangkitan yang disuarakan Al-Qur’an itu ialah kebangkitan atas perbudakan mempertuhankan benda-benda yang tidak lebih baik dari manusia itu sendiri yang kita kenal dalam sejarah umat Islam dengan istilah paganisme (penyembah arca-arca) sebagaimana yang pernah ada dalam tradisi masyarakat Arab pra Islam (Lihat Q.S. 7:71, 22:71, 26:71, dan lainnya).

Selain itu, semangat kebangkitan lain yang dipolopori Al-Qur’an itu kebangkitan untuk membebaskan manusia dari segala bentuk perbudakan sesama manusia karena memang Al-Qur’an secara tegas menolak perbudakan atas manusia dengan mengedepankan semangat bahwa manusia itu tidak ada yang lebih baik dari yang lainnya kecuali hanya berdasarkan kepatuhan dan penyembahan yang total kepada Tuhan (Q.S. 2:21; 63; 177, dan lainnya).

Kemudian, semangat kebangkitan lain yang disuarakan Al-Qur’an itu dapat dilihat dari substansi ajarannya yang selalu menginginkan perbaikan dari dalam sistem kehidupan umat manusia yang merupakan inti dari kebangkitan yang sesungguhnya sebab suatu kebangkitan yang tidak didasari oleh hati nurani yang ingin bangkit hanya akan menghasilkan “kebangkitan semu” (Q.S. 13:11). Sesungguhnya, penyebab utama kenapa kebangkitan yang digerakkan oleh anak-anak bangsa ini tidak dapat bertahan lama sangat mungkin sekali didasari oleh bukan oleh dorongan hati nurani secara total, sebut saja umpamanya gerakan reformasi tanpa bermaksud mengecilkannya tidak mampu membawa perubahan signifikan dalam kehidupan berbangsa kita.

Untuk itu lah sangat tepat sekali mengaitkan semangat kebangkitan Al-Qur’an ini dengan konteks kekinian dan kedisinian bahwa sebenarnya disadari atau tidak bahwa inspirasi kebangkitan bermoral yang dulang Al-Qur’an tentang ilmu pengetahun telah mampu merubah jalan sejarah umat manusia yang seharusnya dapat ditangkap secara baik dalam mengisi kebangkitan bangsa. Oleh karena itu, tidak mengherankan kebangkitan yang diteriakkan para pembaharu selalu saja menempatkan pengembangan ilmu pengetahuan sebagai syarat utama dari proses kebangkitan yang tidak boleh diabaikan dalam mensiasati kebangkitan dan semangat cinta ilmu pengetahuan ini oleh Al-Qur’an sejak dini telah diingatkan peran dan pentingnya dalam menyusun kehidupan yang sesungguhnya.

Menurut saya menjadikan Al-Qur’an sebagai “kitab kebangkitan” sebenarnya tentunya harus dimulai dengan semangat kembali pada Al-Qur’an dalam artian yang sesungguhnya sebab menyuarakan kembali pada Al-Qur’an tanpa proyeksi praktis tetap saja menjadikannya tetap melangit dan belum membumi makanya tidak mengherankan tradisi yang kita lakukan dalam upaya mengapresiasi Al-Qur’an seperti melakukan kompetisi dalam segala aspeknya tidak mampu membawa perubahan berarti dalam tataran pengamalannya. Pada dasarnya, kembali pada Al-Qur’an tentulah mengembalikan semua persoalan hidup dalam suatu tuntunannya secara maksimal sebab harus diakui semangat yang terkandung dalam Al-Qur’an tidak akan pernah kering untuk terus ditimba sebab kandungan ayatnya itu semakin ditimba semakin banyak mengalir deras membajiri kehidupan.

Dimaksudkan kembali pada Al-Qur’an ialah upaya serius untuk terus belajar dan mengamalkan apa-apa saja yang dapat ditangkap dari pesan-pesannya terutama semangat kebangkitan yang kerap kita abaikan saat berinteraksi dengan Al-Qur’an yang sejati telah dibuktikan dalam oleh generasi awal bahwa ternyata Al-Qur’an mengajarkan kebangkitan yang spektakuler yang tidak dapat ditandingi oleh kebangkitan yang pernah dikenal dalam dunia ini. Karena itu, memang Al-Qur’an selain mengajarkan kebangkitan juga mengajarkan cara mengisi kebangkitan itu dengan langkah-langkah yang dapat menjadikan kebangkitan itu membawa perubahan yang berarti dalam menata kehidupan sebagaimana yang terlampir dalam pesan-pesan universalnya untuk menjaga dan mengatur alam semesta.

Dengan kata lain, sejatinyalah kebangkitan ini harus dimulai dari kebangkitan yang disemangati Al-Qur’an tanpa itu semua kebangkitan itu tidak akan pernah berdaya guna yang maksimal dalam mengisi kehidupan sebab selain posisi Al-Qur’an yang telah teruji oleh sejarah juga tuntunan ajaranya yang selalu sesuai dengan segala suasana termasuk dalam kehidupan yang kita dimonopoli oleh kekuasan sains dan teknologi karena tanpa adanya bimbingan Al-Qur’an dalam menghadapi kenyataan ini bukan lah mustahil itu semua dapat menjadi “mesin pemusnah” bagi kehidupan manusia itu seperti kata Alfin Toffler, di sinilah letak pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai “kitab kebangkitan” menuju kebangkitan yang sesungguhnya dalam menatap kehidupan kontemporer.
 
 
Sumber: http://www.waspada.co.id/Mimbar-Jumat/Artikel-Jumat/Menjadikan-Al-Qur-an-Sebagai-Kitab-Kebangkitan.html 
 

Umum, SHARING, REFLEKSI, keseharian, ISLAM, WACANA 9:43 am


imageMenarik beberapa peristiwa yang terjadi pada minggu2 ini, dimana rakyat Indonesia akan menyelenggarakan pemilihan presiden secara langsung, ditetapkannya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir sebagai tersangka bom bali dan bom2 lainnya yang terjadi di Indonesia oleh POLRI setelah keputusan pengadilan membebaskannya dari segala tuduhan2 terorisme.

Ditolaknya mentah2 kemauan Amerika Serikat untuk menjerat Ustadz Abu Bakar Ba’asyir ke penjara selama-lamanya melalui ketua umum Muhamadiyah Syamsul Ma’arif, tuduhan Amerika dan PBB mengenai kasus Haramain yang melibatkan Ust. Hidayat Nur Wahid yang salah alamat, dan ketidak tundukan Ketua Umum NU Hasyim Muzadi terhadap dikte2 Amerika Serikat.

Saya agak tersenyum gembira melihat fenomena tersebut karena ternyata tidak semua ulama2 yang ada di Indonesia dapat dipengaruhi oleh kekayaan, kekuasaan dan jabatan dan saya berharap pula semoga di masa depan bangsa ini akan memunculkan ulama2 seperti beliau2 diatas lebih banyak lagi sehingga dapat mengantarkan bangsa ini menuju masa keemasannya dibawah naungan Al- Quran dan hadist.

Tulisan dibawah ini hanya merupakan gagasan dari pemikiran penulis belaka, bukan bermaksud mengurui, karena kebenaran itu hanya datang dari Allah SWT, maka apabila ada kebenaran dalam tulisan ini maka itu mutlak milik Allah SWT, dan jika ada kesalahan dan kebodohan maka itu 100% dari kebodohan penulis.

Kita sekarang ini banyak membicarakan mengenai pemilihan umum dengan fokus penekanannya terdapat pada tahap pemilihan Presiden dan wakil presiden, seharusnya umat Islam yang terdapat di berbagai partai (baik partai Islam mapun nasionalis) tidak hanya mencurahkan semua tenaganya pada penekanan siapa yang akan menjadi pemimpin nasional. Tetapi tenaga itu seharusnya juga difokuskan kepada pembinaan umat supaya mereka lebih mengetahui lebih banyak lagi mengenai agamanya sehingga tercipta seorang muslim yang mempunyai hati dan akhlak yang luhur, serta kepintaran dan wawasan yang luas mengenai keilmuan dan keteknologian. Sebagian energi tersebut seharusnyalah difokuskan pula secara proporsional untuk memunculkan ulama-ulama yang bersih sebagaimana dicontohkan para ulama-ulama bersih sebelumnya (baik yang ada sekarang maupun yang ada di masa lalu, baik yang ada di Indonesia maupun luar Indonesia) yang berjuang dengan gagah berani menjalankan amar ma’ruf dan nahi munkar, tanpa takut akan celaan dan cacian tanpa takut kehilangan jabatan dan kekayaan, tanpa takut penyiksaan dan penjara bahkan kematian karena hidup mereka hanya untuk mengapai ridho Allah SWT.

Belajar dari kejayaan dan keruntuhan Khalifah Ustmaniyah di Turki, maka kita dapat memperhatikan pelajaran, bahwa kejayaan Islam dan kejatuhannya ternyata ditentukan oleh tiga komponen penggeraknya yaitu,

1 para ulama bersih
2. para pemimpin yang tidak berbuat maksiat kepada Rabbnya dan
3. rakyat/umatnya yang mayoritasnya mempunyai kualitas keimanan yang tinggi.

Ketika Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel yang merupakan wilayah kekuasaan dari Romawi. Kita melihat bahwa kondisi umat Islam dewasa itu ditopang oleh tiga pilar kekuatan utama yaitu ulama bersih yang menegakkan amar maruf dan nahi mungkar sesuai sebagaimana ditentukan oleh syariat Islam, pemimpin yang adil dan bersendikan keikhlasan dan tidak berbuat maksiat dalam kehidupan sehari-harinya ditopang dengan rakyat yang sebagian besarnya merupakan kalangan muslim dengan kualitas keimanan yang tinggi. Mereka secara bersinergi menjalankan syariat Islam dengan benar dan hasilnya adalah kekuatan yang besar dan menentukan yang disegani oleh semua orang kala itu.

Selanjutnya setelah beberapa ratus tahun berlalu, kita melihat bahwa pada akhirnya ketiga pilar tersebut pelan-pelan mengalami penurunan dalam kualitasnya, para ulama mereka banyak yang melacurkan diri kepada kekuasaan yang ada, menjual ayat-ayat quran dengan imbalan materi dan tidak menjalankan mekanisme amar maruf dan nahi mungkar sebagaimana yang digariskan oleh Quran dan Sunnah. Para pemimpin hanya memikirkan mempertahankan kekuasaan dan banyak berbuat kemaksiatan dan kedzoliman dalam kesehariannya, sementara rakyat sebagian besarnya mulai meninggalkan keIslamannya karena dianggap kuno dan ketinggalan sehingga kekhalifahan Turki Ustmani dewasa itu berada dalam masa kemunduran dan ujung-ujungnya adalah kekalahan dan keruntuhannya pada tahun 1924.

Di abad ke-21 ini kita berada di masa kejahiliyyah mencapai tahtanya menggurita ke seluruh sendi kehidupan dan sendi ketata hubungan seluruh masyarakat.

Dunia diliputi oleh kegelapan dengan dicampakkanya sumber penerangan utama Islam Quran dan hadist. Umat kebanyakan terlena oleh kegemerlapannya kehidupan duniawi yang semu, yang dibawa oleh peradaban imperialisme materialis dan mengira mereka bahwa mereka dapat meneguk kebahagiaan dengan mengikuti peradaban batil tersebut.

Keruntuhan kekhalifahan Turki Ustmani merupakan bencana besar bagi umat Islam, karena umat pada waktu itu dan juga pada dewasa ini tidak mempunyai payung untuk melindunginya dari intaian dan serangan musuh-musuhnya. Umat Islam terpecah dan terkotak-kotak dalam beberapa negara di tengah-tengah pemimpin mereka yang hanya memikirkan kekuasaan dan bergelimpangan dengan kemaksiatan. Umat Islam dewasa ini laksana buih di pantai yang di bawa angin tak menentu arah dan tidak mempunyai peranan untuk memperbaiki dunia sebagaimana diisyaratkan oleh Nabi Muhamad Saw dalam hadistnya :

“ Suatu waktu kelak umat Islam akan diperebutkan oleh umat-umat lainnya sebagaimana orang-orang yang rakus sedang memperebutkan suatu hidangan. Apakah kita waktu itu sedikit jumlahnya wahai Rasulullah? (ujar seorang sahabat). Tidak, jawab beliau, Bahkan kamu waktu itu banyak sekali, tapi hanya ibarat buih di pantai saja”

Apa yang di prediksikan oleh Rasulullah tersebut sepertinya identik dengan kondisi umat Islam dewasa ini, dimana jumlah mereka banyak tetapi peranannya dalam politik internasional hanya menjadi buih yang selalu mengikuti kemana arah USA dan PBB menginginkannya. Mereka laksana santapan yang diperebutkan oleh negara-negara kapitalis untuk mengisi kantong ekonominya, sebagaimana kita lihat negara-negara Arab khususnya dan negara-negara berpenduduk Islam umumnya dewasa ini.

Memang menyedihkan bahwa umat Islam ini berjumlah 1 milyar lebih bertebaran di berbagai negara di dunia ini, tetapi keterwakilannya di dalam Dewan Keamanan PBB paling penting adalah hanya sebagai anggota tidak tetap yang tidak mempunyai hak veto. Sedangkan posisi Anggota Tetap PBB diharamkan negara Islam mendudukinya.

Belajar dari kemunduran-kemunduran tersebut diatas, seyogyanya umat Islam mengambil hikmah dari kemunduran-kemunduran tersebut diatas, dan mulai lagi menata kehidupan mereka hanya untuk satu ideologi yang jelas dan memulai lagi pembinaan sebagaimana nabi Muhammad SAW mempraktekkannya pada awal da’wah beliau di kota Mekkah :

1.dari pribadi jahiliyyah menjadi pribadi Islami dengan memahami Islam sebagai ajaran yang syamil (menyeluruh) yang meliputi semua lingkup kehidupan.

2.dari keluargan yang jahilliyyah menuju keluarga yang Islami dengan mendakwahkan suam/istri, anak, orang tua, adik, kakak, dan keluarga dekat tentang ketiinggian dan kemuliaan dinul Islam.

3.dari masyarakat jahiliyyah menuju masyarakat Islami

4.dari tatanan kenegaraan jahiliyyah menuju tatanan kenegaraan Islami

Selain itu umat Islam harus dapat memunculkan ulama-ulama yang bersih yang tidak mudah tergoda oleh godaan jabatan dan kekayaan yang bertujuan satu meluruskan hukum Islam sesuai rel syariah yang ada yang menjalankan amar maruf dan nahi munkar kepada siapa pun tanpa memandang apakah ia penguasa atau rakyat jelata tanpa harus takut akan intimidasi, hukuman penjara bahkan ancaman pembunuhan sekalipun sebagaimana dicontohkan Imam Ahmad di masa Kekhalifahan Sultan Mahmud dan Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol menentang penjajahan Belanda serta banyak ulama bersih lainnya di masa dahulu maupun masa sekarang.

Setelah umat sebagian besarnya sudah memahami dan tercerahkan oleh Islam serta melepaskan idelogi-idelogi lain selain Islam ditambah lagi dengan bermunculannya ulama-ulama yang bersih, maka tiba saatnya bagi umat Islam untuk memunculkan pemimpin yang bersih yang tidak berbuat maksiat kepada Allah sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah dan khalifah-khalifah generasi awal dan generasi selanjutnya yang memegang amanah kepemimpinan sesuai dengan apa yang digariskan oleh syariah Islam. Sehingga pada akhirnya ketiga pilar ideal tersebut akan bersinergi dan membentuk kekuatan yang besar yang mampu menerjang semua kebatilan yang ada didepannya dan menyebarkan sinar kebenaran dan kesejahteraan keseluruh penjuru bumi.

Itulah sekelumit gambaran dari penulis mengenai tiga pilar kebangkitan Islam. Akhirnya kesemuanya dikembalikan kepada Kekuasaan dan Iradah Allah SWT, Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdo’a dengan dibarengi dengan niat karena mengharapkan ridho Allah dalam bingkai keikhlasan kepada-NYA.
 
Sumber: http://swaramuslim.net/more.php?id=A1758_0_1_0_M