Kumpulan Artikel

WACANA, inspirasi, BeritaNovember 25, 2009 11:29 pm

GAZA—Pusat Informasi dan Media Perempuan Palestina di Jalur Gaza menegaskan, perempuan Palestina mengalami kejahatan sangat brutal oleh Israel dalam agresi terakhir di Jalur Gaza yang menelan korban 1500 korban syahid, kebanyakan adalah perempuan dan anak-anak dan menghancurkan 22 rumah dan 95 ribu warga terlunta-lunta, kebanyakan perempuan dan anak-anak.

Pusat Studi menambahkan, dalam penyataan pers yang disampaikan kepada Infopalestina menegaskan, blockade Israel terhadap Jalur Gaza sejak 24 bulan lalu semakin menambah kondisi buruk perempuan Palestina.

“Terputusnya aliran listrik, kekurangan bahan bakar telah menyebabkan kehidupan perempuan kepada kehidupan masa lampau dalam menunaikan pekerjaan rumah tangga. Sehingga hal itu menyebabkan kebanyakan mereka mengalami penderitaan kesehatan,” tegas studi perempuan.

Pusat Studi menegaskan, Israel telah menjadikan warga Gaza secara umum dan perempuan secara khusus – sebagaimana laporan resmi internasional – sebagai manusia paling miskin di dunia karena mereka dilarang bepergian keluar dari Jalur Gaza, menutup perlintasan serta pengurangan bahan-bahan pokok, sehingga kondisi ekonomi di Jalur Gaza hancur.

Dalam konteks yang sama, PBB mengeluarkan laporan bahwa 8 dari 10 keluarga Palestina hidup di bawah garis kemiskinan di Jalur Gaza. Prosentase kemiskinan melebihi 30 % dari pada di Tepi Barat. Imbas kemiskinan itu terkena wanita Gaza berupa pengangguran, tidak adanya peluang pendidikan, layanan kesehatan yang memadai dan 80 % warga di Jalur Gaza bergantung kepada bantuan.

Sumber: http://m.republika.co.id/artikel.php?id=91862&menu=breaking_news

GNU/ LINUX, SELINGAN, WACANA, BeritaNovember 11, 2009 11:16 am

Koala Terancam Punah 30
Tahun Mendatang

SIDNEY - Kehidupan binatang
khas Australia, Koala
terancam punah dalam 30
tahun mendatang.
Berkurangnya habitat koala
akibat aktivitas perusakan
lingkungan oleh manusia
dituding sebagai ancaman
utama binatang tersebut.
Berdasarkan data Australia
Koala Foundation (AKF)
jumlah koala turun 50 persen
sejak enam tahun terakhir.
Pembangunan rumah dan
gedung perkantotan, serta
perubahan iklim di sejumlah
wilayah menyebabkan
banyak koala yang mati.
Selain itu, penyebaran
penyakit Chlamydia juga
diidentifikasi sebagai
penyebab berkurangnya
jumlah koala.
Jumlah koala di Australia,
berdasarkan survey hingga
saat ini, tinggal 43 ribu.
Padahal dalam survei
terakhir enam tahun lalu
jumlahnya mencapai 100 ribu.
“Jika anda tetap menebang
pohon terus menerus, maka
dalam 30 tahun ke depan
anda takkan dapat melihat
koala lagi,” kata CEO AKF
Deborah Tabar seperti
diberitakan BBC, Rabu
(11/11/2009).
Penebangan pohon akan
menyulitkan koala untuk
mencari sumber makanan
utama, daun eucalyptus.
Akibatnya banyak koala yang
kekurangan nutrisi akibat
minimnya sumber makanan.

Sumber: okezone.com

GNU/ LINUX, WACANA, inspirasiNovember 9, 2009 1:52 am

Komunitas Ubuntu Jogja memenangkan penghargaan dalam ajang Global Conference on Open Source (GCOS) yang digelar di Jakarta, 26-27 Oktober 2009. Menkominfo Tifatul Sembiring, saat menyerahkan penghargaan, menyarankan nama Jawa untuk mereka. Hal itu dikemukakan Dedy Haryadi, penggiat Komunitas Ubuntu Jogja, dalam keterangan tertulis yang diterima detikINET, Selasa (27/10/2009).

"Bapak Menkominfo menyarankan untuk membuat mengganti nama Komunitas Ubuntu Jogja menjadi bahasa jawa," ujarnya. Dedy menerima penghargaan atas nama Support and Promotion Geek (SPG) Ubuntu Jogja, sebuah komunitas yang giat menyebarkan pengetahuan soal Open Source di wilayah Yogyakarta. SPG Ubuntu Jogja menerima penghargaan sebagai komunitas Free and Open Source Software terbaik.

Lalu, apa ‘nama Jawa’ yang akan digunakan komunitas tersebut? Dedy mengatakan spontan saat itu ia menjawab ‘Paguyuban’ sebagai nama yang lebih Jawa daripada Komunitas. "Mungkin Komunitas Ubuntu Jogja bisa menjadi Paguyuban Ubuntu Ngayojokarto," katanya sambil bercanda.

 

Sumber: http://m.detik.com/read/2009/10/27/130247/1229334/398/menkominfo-sarankan-nama-jawa-untuk-komunitas-ubuntu

REFLEKSI, ISLAM, WACANANovember 7, 2009 3:57 am

Ada sebuah pertanyaan besar dari laporan online CIA: akankah Israel bisa bertahan dalam jangka dua dekade ke depan? Berlepas dari validitas laporan tersebut, dengan hubungan berat-sebelah Israel dan AS, pertanyaan itu semakin mengerucut: Israel jatuh dalam waktu lima tahun lagi?

Lebih dari enam dekade, dukungan AS terhadap Israel begitu mendominasi media, sehingga memudahkan Tel Aviv untuk meletakkan gambaran positif menutup kelakuan buruknya, termasuk juga pembantaian dalam tragedi Gaza, delapan bulan lalu. Dan sekarang, dengan terbukanya akses online yang mengglobal, Zionis yang sumir menunjukkan sisi-sisi sebenarnya.

Walaupun rakyat AS jarang sekali menunjukan minat pada urusan luar negeri, namun perubahan itu mulai terasa. Banyak dari mereka yang melihat secara langsung tanpa filter Yahudi, akan—misalnya—peristiwa Gaza silam. Rakyat AS mulai kembali menguak pertanyaan lama yang mengendap dalam kepala mereka: mengapa mereka harus mendukung pemerintah apartheid yang menjajah?

Dengan Partai Likud yang memimpin Israel, jelas sudah bawa Tel Aviv hanya berkehendak meluaskan daerah jajahannya, tak ada yang lain commonwealth dan sebagainya. Dengan fakta itu, Israel tidak hanya menyudutkan Barack Obama, tapi juga memaksa keamanan nasional AS untuk membuat sebuah keputusan strategis: Apakah Israel merupakan rekan yang kredibel dalam perdamaian? Jawabannya, “Tidak.”

Kesimpulan yang tak terelakkan itu memberikan rakyat AS sedikit pilihan. Bagaimanapun AS bertanggung jawab pada eskalasi Israel di bulan Mei 1948 ketika Harry Truman, seorang presiden Kristen-Zionis, menerima negara Israel. Truman mengabaikan keberatan Menteri Luar Negeri George Marshal, gabungan pejabat dan staf, CIA dan korporasi diplomatik AS.

Pada Desember 1948, sekelompok ilmuwan dan intelektual Yahudi berbicara di The New York Times akan bahaya Fasis dengan berdirinya negara Yahudi. Salah satu ilmuwan tersebut adalah Albert Einstein. Jauh hari sebelum semua kejadian yang terjadi di dekade ini, semua orang sudah memprediksikan kelakuan Israel yang selalu merupakan ancaman untuk perdamaian.

Sebenarnya, isu kunci semua itu tidak lagi perlu menjadi bahan perdebatan tanpa akhir. Harus ada satu solusi negara konsisten dengan prinsip-prinsip demokratis persamaan yang penuh. Rakyat AS yang melek media tidak lagi bersedia mendukung negara teokratis di mana kewarganegaraan penuh hanya terbatas pada mereka yang dianggap "Yahudi" (apa pun artinya itu).

Jika tingkat kelahiran lokal menunjukkan suatu akhir dari "negara Yahudi," maka jadilah. Mengapa menunggu dua dekade ketika mimpi buruk ini dapat ditarik dalam waktu kurang dari lima tahun?

Lupakan saja pra-1967. Orang Palestina harus mempunyai hak, (sa/alahram/eramuslim)termasuk juga hak memiliki barang kepunyaannya sendiri yang dirampas Yahudi. Jika penjajah Yahudi menginginkan kompensasi, seharusnya mereka mencarinya pada segenap umatnya yang saat ini tengah berdiaspora di seluruh belahan dunia.

Mereka yang masih menganggap dirinya Yahudi harus segera pergi. AS harus mulai mempertimbangkan 500.000 orang Yahudi yang memegang paspor AS, dengan jumlah 300.000 lebih mendiami California. AS sudah sedemikian terbuka, dan dunia internasional pun telah melihat AS yang rapuh dan hanya sekadar menjadi bemper Yahudi.

Sampai saat ini, bertahun-tahun Zionis telah diaktifkan oleh sekelompok presiden Amerika Serikat. Bagi AS, untuk memulihkan kredibilitasnya ada satu hal yang perlu dilakukan: tidak hanya berusaha menutup gambar besar Zionis, tetapi juga berbagi tanggung jawab atas semua kejadian yang menimpa dunia yang disebabkan oleh bangsa tersebut. (sa/alahram/eramuslim)



Sumber: http://swaramuslim.net/berita/more.php?id=5845_0_12_0_M

Umum, ISLAM, WACANAOctober 21, 2009 1:39 pm

Anak anak yahudi pun turut membakar bendera Israel. Yahudi sedang mengalami kepanikan luar biasa. Dunia menukik menuju sikap anti-Semit tanpa dikomando, dan orang percaya inilah periode terburuk sepanjang sejarah kehidupan entitas Yahudi, dan paling fenomenal dari kebangkitan anti-Semit sejak tahun 1930—pararel dengan yang pernah terjadi setelah Perang Dunia II.

Pekan lalu, Parlemen Israel, setelah selesai menggelar hajatan nasional yang besar dalam memilih pemimpin, segera berkumpul, duduk satu meja, mengurung diri membicarakan hal ini. Gerakan anti-Yahudi ini menghebat dan berlangsung terus dan terus, hingga baik Israel sendiri, dan AS selaku tukang pelindung negara Zionis itu, sampai harus mengeluarkan pernyataan gegabah yang lantas ditertawakan banyak orang, "Siapapun yang mempunyai sikap anti-Semit di dunia internasional, akan mendapatkan sanki berat dan legal!", demikian Senator AS, Daniel Moynihan.

Namun, pernyataan Moynihan itu segera disambut dengan adem-ayem secara dramatis. Kita sekarang telah mendengar di sana-sini begitu banyak tokoh agama, terutama dari kalangan Kristen, yang disebut murtad oleh gereja. Di Vatikan dan Argentina belum lama ini. Seperti Uskup Williamson, yang menolak holocaust, dan perisitwa itu hanyalah dilebih-lebihkan, sehingga uskup di usir dari Argentina.

Hasilnya? Parlemen Israel, sebuah mendorong lahirnya : "Deklarasi London" (bukti bahwa Inggris mempunyai andil dalam diaspora Yahudi, dan banyak disesali oleh rakyat Britania Raya sendiri) menyatakan bahwa "Kami merasa sangat terganggu dengan sikap anti-Semit ini."

Perbedaan anti-Semit lama dan baru sendiri tengah bergesekan demikian kuat. Per Ahlmark, mantan pemimpin Partai Liberal Swedia mengatakan:

"Dulu, anti-Semit hanya menyerang Yahudi per-indivu saja. Sekarang, anti-Semit berlaku secara kolektif, untuk semua orang Yahudi tanpa pandang bulu, dan lebih tegasnya lagi, ditujukan pada negara Israel. Dulu, kita mengenal istilah Judenrein, atau dunia tanpa orang Yahudi. Sekarang kita mengenal Judenstaatrein, dunia tanpa negara Yahudi."


Sedemikian mengerikannya gerakan anti-Semit di Barat, 125 anggota Parlemen dari berbagai negara yang menjadi sekutu Israel, sampai harus mengemis membuat proposal yang berisi tentang tuntutan mereka yang menolak anti Semit.

Namun toh, dunia terlanjur muak dan melihat Yahdui sebagai durjana sepanjang masa. Gerakan anti-Semit bahkan telah berubah menjadi lebih besar menjadi tiga manifestasi sikap.

Pertama, sanksi-negara. Beberapa negara sudah mulai menunjukan keberanian untuk menelikung Yahudi. Turki dan Iran adalah contoh yang begitu jelas. Kejadian beberapa waktu lalu, sepanjang jalan di Iran telah dipenuhi dengan coretan banner "Hapus Israel dari Peta!" dan mendengung-dengungkan Israel sebagai "Kanker ganas" serta melabeli orang Yahudi sebagai "Iblis Gentayangan."

Gerakan anti-Semit yang kedua tertuang dalam platform dan kebijakan yang berada dalam organisasi seperti Hamas, Jihad Islam, Hizbullah, dan Al-Qaida yang telah menetapkan kehancuran Israel.

Dan yang ketiga, merebaknya fatwa agama yang disampaikan di masjid dan media, bahwa Yahudi dan Yudaisme adalah musuh Islam, hingga patut dilawan dengan segala cara: ekonomi, media, dan juga senjata.

Dengan ketiga manifestasi itu, tak pelak dunia telah menyudutkan bangsa Yahudi pada posisi yang sesempit-sempitnya.



Para Yahudi di Amerika pun menolak Israel & Zionisme

Sekarang, semua bangsa Yahudi tengah tiarap, menghina-dinakan mereka sendiri untuk memalsukan diri mereka menjadi apa dan siapa saja, seperti yang juga dilakukan oleh nenek moyang dahulu ketika mereka sedang terjepit.

Yang membuat anti-Semit sekarang ini begitu deras bagai air bah adalah para pelakunya adalah generasi baru, atau orang-orang baru yang tadinya sama sekali tidak menyadari adanya Yahudi yang licik dan berekor banyak.

Anti-Semit sekarang justru banyak dimulai di kampus-kampus seperti Amerika Utara dan Eropa, terutama di Inggris. Dunia mulai mengendus bahwa Israel adalah sebuah negara yang sangat "apartheid" . Setelah gelombang Israel adalah negara apartheid, dunia bahkan sudah menyebut Israel sebagai negara Nazi yang baru.

Tak ada perdebatan. Tak ada yang menyangkal. Alasan Yahudi untuk melindungi diri semakin membuat blunder langkah mereka, di antaranya menghancurkan Hamas dan membunuh semua orang Palestina dan merampas tanahnya. Dan percaya atau tidak, perlawanan terhadap Yahudi baru saja dimulai.


Dikutip dari http://swaramuslim.net/berita/more.php?id=5754_0_12_0_M

Umum, ISLAM, SELINGAN, WACANASeptember 30, 2009 7:39 am

Warga Israel menunjukkan reaksi beragam berkaitan dengan pidato Obama

TEPI BARAT – Penjajahan yang dilakukan Israel teradap wilayah Palestina yang terus berlanjut hingga 42 tahun menyusul perang 6 hari pada tahun 1967 merupakan hal yang memalukan. Juru runding Palestina, kata Saeb Erakat pada hari Jumat kemarin.

“Sangat disayangkan, masyarakat internasional masih terus mendiamkan penjajahan kolonial yang paling mengerikan selama 42 tahun. Penjajahan tersebut terus berlanjut dengan pembangunan tembok pembatas dan pemukiman (Yahudi),” kata Erakat kepada wartawan.

Dia berbicara pada peringatan perang Arab-Israel, yang pecah pada tanggal 5 Juni 1967. Selama peperangan 6 hari tersebut, Israel merampas Tepi Barat, termasuk Yerusalem timur, Jalur Gaza, semenanjung Sinai dari Mesir dan dataran tinggi Golan dari Syiria.

Hingga saat ini, empat puluh persen wilayah Tepi Barat ada dibawah kendali penjajah kolonial kekaisaran Israel, kata Erakat.  

Dia mengatakan bahwa sejak Israel menjajah tanah milik Palestina, sebanyak 23.000 unit rumah Palestina diratakan dengan tanah, dan lebih dari 8.000 orang Palestina diusir dari Yerusalem timur.

Sebagai tambahan, dia mengatakan bahwa Israel telah menangkap lebih dari 650.000 warga Palestina dan 4.000 orang lainnya dibantai sejak dimulainya intifada kedua pada tahun 2000.

Erakat menyanjung pidato Barack Obama yang ditujukan kepada dunia Muslim dari Kairo, dimana presiden AS tersebut mengekspresikan dukungannya terhadap berdirinya negara Palestina merdeka, dan dia dengan tajam mengkritik reaksi berlebihan pihak Israel atas pidato tersebut.

“Israel… tidak mengatakan sepatah katapun mengenai solusi dua negara atau pembekuan pembangunan pemukiman Yahudi ilegal,” kata Erakat, merujuk pada kebijakan AS yang diusung oleh Obama.

Para komentator di surat kabar Israel menginterpretasikan pidato presiden AS Barack Obama kepada dunia Muslim sebagai penanda yang jelas bahwa ada pergeseran hubungan antara AS-Israel, dan kemungkinan mengarah kepada akhir dari hubungan mesra antara kedua negara tersebut.

Seorang penulis menyerukan kepada pemerintah Israel untuk segera beradaptasi dengan angin baru yang dihembuskan dari Washington jika tidak ingin tersapu oleh badai, sementara sejumlah penulis lainnya mengatakan bahwa presiden AS tersebut telah memberikan sinyal bahwa Israel harus menghormati komitmen yang telah dibuat untuk mencapai perdamaian dengan bangsa Palestina.

Setidaknya satu orang penulis menginterpretasikan hal tersebut sebagai tanda dari AS bahwa perdana menteri Benjamin Netanyahu harus melakukan reshuffle kabinet. Mendepak sejumlah menteri yang menghalangi perdamaian seperti misalnya Lieberman, dan menunjuk menteri baru.

Sejumlah penulis memandang hal tersebut sebagai kata-kata yang positif dari pemimpin AS tersebut, sementara sebagian lainnya memilih untuk mengabaikan saja hal tersebut, dan satu orang menganggap Obama sebagai seorang penjilat.

Sementara itu, seorang warga Palestina ditembak mati oleh polisi Israel dalam sebuah aksi unjuk rasa di desa Niin, Tepi Barat, unjuk rasa tersebut digelar untuk memprotes tembok pemisah yang dibangun oleh Israel.

Aqel Srur, 35, menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah ditembak serdadu Israel. Butiran timah panas tersebut melesak masuk dan menembus jantungnya, demikian menurut pihak medis.

Namun juru bicara militer Israel menyangkal dan berkilah bahwa pasukan Israel hanya bermaksud membubarkan “kerusuhan massa” – walaupun semestinya jika hanya ingin membubarkan kerumunan massa, yang boleh dipergunakan hanyalah peluru karet, bukan peluru tajam.

Seorang pengunjuk rasa lainnya yang beru berusia 15 tahun mengalami luka-luka karena dianiaya oleh serdadu Israel, demikian menurut pihak medis.

Sekitar 200 oarng, termasuk warga Palestina, Israel dan aktivis perdamaian, mengambil bagian dalam unjuk rasa tersebut. Para aktivis memprotes pembangunan pembatas Israel di Tepi Barat. Nyaris setiap Jumat mereka harus berbentrokan dengan serdadu Israel, dan hal tersebut telah berlangsung selama lebih dari dua tahun.

Israel mengatakan bahwa tembok pemisah sepanjang 723 kilometer (454 mil) yang terbuat dari besi baja dan beton serta dilengkapi dengan pagar dan kawat berduri tersebut diperlukan untuk “keamanan”. Sementara rakyat Palestina memandang pendirian tembok tersebut sebagai upaya pencaplokan tanah oleh Israel untuk mengklaim tanah Palestina.


Dikutip dari http://swaramuslim.net/berita/more.php?id=5819_0_12_0_M

Umum, ISLAM, WACANA, inspirasiSeptember 23, 2009 2:26 am

Rabi Manis Friedman mengakui, membunuh orang tak berdosa dan tempat ibadah adalah cara perangnya orang Yahudi.

Sebagian orang mungkin bertanya-tanya, mengapa Yahudi Israel begitu membabi buta menyerang siapa saja dan apa saja yang menjadi lawannya. Pertanyaan itu terjawab oleh pernyataan seorang rabi di Amerika.

Rabi tersebut seorang Yahudi Ortodoks Amerika, yang mengatakan bahwa cara bertempur orang Yahudi dalam perang agama adalah dengan membunuh masyarakat sipil dan menghancurkan tempat-tempat ibadah. Pernyataan ini telah menyulut perselisihan besar.

Rabi bernama Manis Friedman dari Bais Chana Institute of Jewish Studies, Minnesota, tersebut berkata menjawab pertanyaan sebuah majalah Yahudi Amerika, yang dimuat dalam rubrik Ask the Rabbis.

Ia mengatakan, “Satu-satunya cara melawan (musuh) dalam perang agama adalah caranya orang Yahudi: Menghancurkan tempat-tempat suci mereka. Membunuh laki-laki, perempuan, dan anak-anak mereka (dan juga hewan ternak mereka).”

Ia juga menolak konsep moral “orang Barat”, dengan mengatakan, “ Saya tidak percaya dengan nilai moral Barat, seperti jangan bunuh masyarakat sipil, jangan menghancurkan tempat-tempat suci mereka, jangan bertempur selama waktu hari raya, jangan membom pemakaman, dan jangan menembak sampai mereka menembak lebih dulu karena hal itu tidak bermoral.”

Editor majalah Moment, Nadine Epstein, mengatakan, mereka menerima banyak surat dan e-mail menanggapi penyataan rabi Friedman, dan hampir tak ada satu pun tanggapan yang positif.

Belakangan Friedman mengakui bahwa kata-katanya “tidak bertanggung jawab” dan meminta maaf jika hal itu menimbulkan salah pengertian. Namun demikian sepertinya ia mencoba membela diri dengan mengatakan, dirinya hanya mencoba untuk “sedikit menyinggung masalah yang terkait moral dalam hal keadaan yang memaksa militer harus menahan tembakannya terhadap orang-orang dan tempat-tempat tertentu, di saat terjadi pertempuran berdarah yang meluas.”

Lucunya, Friedman yang berasal dari Chabad-Lubavitch, sebuah gerakan Hasidik – bagian dari Yahudi Ortodoks, juga berargumen dengan menyebut dirinya berbeda dengan orang Arab – yang ia sebut teroris – ketika bicara tentang membunuh orang sipil Yahudi.

“Mereka mengatakan itu (membunuh orang sipil) adalah genosida, bukan membela diri,” kata Friedman. “Bagi mereka, ada sebuah keyakinan dalam agamanya bahwa mereka harus menghancurkan wilayah kita. Sedangkan kita (Yahudi) tidak seperti itu.”

Ibrahim Hooper, juru bicara nasional dari Council on American-Islamic Relations (CAIR), mengatakan kepada Muslim News, “Genosida adalah genosida, baik itu dilakukan pada waktu perang atau saat damai. Saya hanya bisa membayangkan (apa yang akan terjadi) jika saja pernyataan itu dikeluarkan oleh seorang pemimpin Muslim Amerika, mendukung pemikiran ekstrim seperti itu.”

Hooper mengatakan, ia tidak hanya terkejut dengan pernyataan Friedman saja, “Pernyataan itu dimuat di majalah terkenal, Moment. Hal seperti itu, baru pertama kali saya dengar di negeri ini. Kalau di sana (Israel) banyak rabi yang mengeluarkan pemikiran yang sama dengan serdadu-serdadu Israel.”

Direktur komunikasi CAIR wilayah Minnesota, Jessica Zikri, berkata kepada Muslim News, “Sikap diam terhadap pernyataan ekstrim seperti itu, hanya akan disangka oleh orang tersebut bahwa ia mendapatkan persetujuan dan legitimasi.”

Wanita itu mengatakan, ia menghargai jawaban yang lebih moderat dari rabi lainnya yang dimintai pendapat oleh majalah Moment.

Sementara itu orang Yahudi yang tidak setuju dengan pandangan Friedman memberikan pernyataannya. Dalam sebuah pernyataan kepada Muslim News, Cecilie Surasky dari Jewish Voice for Peace mengatakan, “Pernyataan keterlaluan yang dikeluarkan oleh Friedman bahwa membunuh laki-laki Arab, para wanita dan anak-anak, dan menghancurkan tempat-tempat ibadah mereka adalah ‘sebuah cara orang Yahudi’, adalah pernyataan yang sangat menghina semua orang, khususnya orang Yahudi yang memegang nilai bahwa semuanya punya hak hidup yang sama. Pernyataannya tidak mewakili mayoritas umat Yahudi.”

“Kami tahu ada banyak peningkatan jumlah pemukim Yahudi ekstrimis di Israel dan para pendukung mereka dari Amerika, yang menolak untuk mengakui hak hidup bagi orang Palestina dan Arab. Jauh dari tujuan membawa kedamaian dan keamanan bagi Yahudi. Sikap mejijikkan yang tidak mengakui hak hidup orang-orang non-Yahudi, hanya akan membawa kepada pertumpahan darah yang lebih banyak.”

Direktur Eksekutif National Educational Foundation, HaMifgash, Rabbi Haim Beliak mengatakan, “Pernyataan pertama dan permintaan maaf yang dikeluarkan Manis Friedman menandakan tidak adanya moral dan tidak adanya etika dalam sikapnya. Friedman tidak bicara untuk Yahudi, tidak ada nilai-nilai Yahudi di sana, jika dalam lingkungan itu orang Yahudi dan non-Yahudi tidak diperlakukan sebagaimana seharusnya sebagai manusia. Etika Yahdi mengajarkan bahwa kita berhutang kewajiban terhadap ‘orang lain’ agar perhatian dan peduli. Bukan hanya dalam teori, tapi juga praktek. Dalam masa perang atau pun damai, status masyarakat sipil dan orang tak berdosa harus dihormati.

Dikutip dari http://swaramuslim.net/

Umum, SHARING, REFLEKSI, ISLAM, WACANAFebruary 18, 2009 4:20 am

Ada beberapa persiapan harus dilakukan bagi para calon mempelai.
 Pertama,
soft ware-nya, yakni qolbu kita yang harus selalu yakin kepada Alloh.
Karena yang bisa menimbulkan orang stress, tidak menerima kenyataan,
sekali-kali bukan karena masalahnya. Melainkan karena keyakinan dia
yang lemah kepada Alloh. Kita harus sadar sesadar-sadarnya bahwa diri
kita ini milik alloh. Calon istri kita milik Alloh. Yang mengetahui
segala perasaan yang ada pada diri kita adalah Alloh. Yang
memerintahkan kita menikah adalah Alloh. Pernikahan terjadi juga dengan
ijin Alloh. Bahkan kebahagiaan yang kita raih pun adalah karena
pertolongan Alloh .

Jadi,
kuncinya adalah Alloh. Kalau kita tidak yakin kepada Alloh, kita tidak
akan mendapatkan kuncinya. Alloh-lah yang menjanjikan kita
berpasang-pasangan. Alloh-lah yang menyuruh kita menikah. Dan nikah itu
ibadah, sedang Alloh menyuruh kita ibadah. Kita tidak usah merasa
ragu-ragu lagi. Maka kembalikan segalanya kepada Alloh. Kita tidak
boleh suudzan . Sedikit pun. Tidak boleh merasa rendah diri karena
penampilan kita yang kurang menarik orang tua miskin, pendidikan
rendah. Kalau kita merasa demikian, berarti kita telah menghina Alloh,
sebab wajah kita bukan milik kita, semuanya milik Alloh.

 Kedua,tingkatkan
kepribadian kita supaya disukai Alloh. Perbaikilah apapun yang dapat
kita lakukan ; akhlak kita, perbuatan kita , tingkah laku kita. Jagalah
pandangan, bergaulah dengan lawan jenis dengan cara yang disukai Alloh.
Tidak usah sibuk dengan penampilan yang dibuat-buat seperti, mejeng dan ngeceng. Sebab,
sesungguhnya tidak ada yang luput dari pandangan Alloh. Apa pun yang
kita perbuat pastilah disaksikan-Nya.

Maka,meningkatkan kualitas diri
supaya disukai Alloh adalah hal paling penting.     
Kemudian
yang tidak kalah pentingnya, kita harus latihan meningkatkan
kedewasaan. Karena untuk membangun rumah tangga tidak cukup hanya
dengan keemauan, keinginan dan uang. Rumah tangga adalah samudera
masalah. Kadang-kadang kita merasa bahwa dialah yang paling cantik di
dunia. Tapi setelah menikah, tidak jarang orang merasa betapa dunia
banyak yang cantik, kecuali istrinya. Hal ini harus dikendalikan dengan
kedewasaan. Jangan sampai kita tergelincir dan jatuh ke jurang maksiat
hanya karena masalah seperti ini. Belum lagi dengan masalah lain yang
sangat berpotensi untuk menimbulkan sengketa.
Mertua kita, adik ipar
kita yang tinggal serumah dengan kita, bahkan anak kita sendiri yang
masih bayi, misalnya semua bisa berpotensi untuk bermasalah kalau kita
tidak dewasa dan arif menghadapinya. Hanya dengan kedewasaan dan
kearifanlah semua masalah bisa diselesaikan. Seorang suami yang tidak
matang tidak dewasa, tidak arif, ia lebih banyak menambah masalah
daripada menyelesaikan masalah.     

Ketiga, persiapan
ilmu, terutama ilmu agama, kita akan bisa beribadah dan beramal dengan
benar. Dan Alloh pun siap menolong kita, kalau kita beribadah dan
beramal dengan benar Ilmu agama penting dikuasai supaya kit tahu
standar yang benar. Kita pelajari rumah tangga Rasulullah SAW. Karena
memang hanya rumah tangga beliaulah yang menjadi acuan yang tepat
dalammenegakan menegakan keluarga Islami. Kita dapat bercermin dari
sejarah rumah tangga beliau. Ketika ia pulang ke rumah malam hari, lalu
ketika pintunya diketuk tidak ada juga yang menyahut karena istrinya
tertidur. Rasulullah tidak berani membangunkan. Akhirnya ia berbaring
di depan pintu. Kita mungkin belum bisa seperti itu. Tetapi paling
tidak kita memiliki standar yang jelas        

Keempat, belajarlah
ilmu umum, seperti ilmu kesehatan, ilmu merawat tubuh, cara memahami
wanita (bagi suami). Bagaimana menghadapi istri saat menjalani ngidam,
saat kehamilan, saat melahirkan dan lain sebagainya. Begitu pun istri
harus memahami bagaimana prilaku suami, bagaimana emosinya, bagaimana
karakternya. Maka, belajar ilmu psikologi yang banyak berkaitan dengan
hal-hal seperti ini sangat diperlukan.       

Kelima, persiapkan
dan tingkatkanlah keterampilan. Seperti keterampilan menata rumah,
mencari tambahan penghasilan, memasak, keterampilan menekan biaya hidup
dan lain-lain. Hal ini perlu sdilakukan baik oleh calon suami , maupun
oleh calon istri. Sebab setelah menikah bagi keduanya masingmasing
berpeluang berpisah. Suami harus berpikir misalnya bahwa ajal siap
datang menjemput kapan saja. Maka ketika istrinya meninggal duluan
jangan sampai kelabakan karean tidak bisa menggantikan peran istrinya.
Begitu pun bagi istri ia harus ditinggal suaminya. Maka ia harus siap
memberi nafkah keluarga dengan meningkatkan keterampilan menambah
penghasilan  

Begitulah
persiapan-persiapan yang harus ditempuh bagi kaum laki-laki dan
perempuan yang sudah berniat berumah tangga. Bagi mereka yang telah
maksimal mempersiapkannya, insya Alloh masalh apa pun yang dihadapi
tidak akan membuat mereka goyah. Mereka akan tetap tegar dan yakin
bahwa Alloh akan menolongnya. Ingat firman Alloh berikut ini : “ Dan
nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang
yang layak (nikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika
mereka miskin, Alloh akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan
Alloh Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nuur
ayat 32). Nah, sudah seperti itulah persiapan anda. Wallahu a`lam.
sumber:cyberMQ.com
Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu [ Al Baqarah : 45 ]

Dikutip dari Milis daarut-tauhiid

Umum, SHARING, REFLEKSI, keseharian, ISLAM, WACANAJune 21, 2008 9:43 am


imageMenarik beberapa peristiwa yang terjadi pada minggu2 ini, dimana rakyat Indonesia akan menyelenggarakan pemilihan presiden secara langsung, ditetapkannya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir sebagai tersangka bom bali dan bom2 lainnya yang terjadi di Indonesia oleh POLRI setelah keputusan pengadilan membebaskannya dari segala tuduhan2 terorisme.

Ditolaknya mentah2 kemauan Amerika Serikat untuk menjerat Ustadz Abu Bakar Ba’asyir ke penjara selama-lamanya melalui ketua umum Muhamadiyah Syamsul Ma’arif, tuduhan Amerika dan PBB mengenai kasus Haramain yang melibatkan Ust. Hidayat Nur Wahid yang salah alamat, dan ketidak tundukan Ketua Umum NU Hasyim Muzadi terhadap dikte2 Amerika Serikat.

Saya agak tersenyum gembira melihat fenomena tersebut karena ternyata tidak semua ulama2 yang ada di Indonesia dapat dipengaruhi oleh kekayaan, kekuasaan dan jabatan dan saya berharap pula semoga di masa depan bangsa ini akan memunculkan ulama2 seperti beliau2 diatas lebih banyak lagi sehingga dapat mengantarkan bangsa ini menuju masa keemasannya dibawah naungan Al- Quran dan hadist.

Tulisan dibawah ini hanya merupakan gagasan dari pemikiran penulis belaka, bukan bermaksud mengurui, karena kebenaran itu hanya datang dari Allah SWT, maka apabila ada kebenaran dalam tulisan ini maka itu mutlak milik Allah SWT, dan jika ada kesalahan dan kebodohan maka itu 100% dari kebodohan penulis.

Kita sekarang ini banyak membicarakan mengenai pemilihan umum dengan fokus penekanannya terdapat pada tahap pemilihan Presiden dan wakil presiden, seharusnya umat Islam yang terdapat di berbagai partai (baik partai Islam mapun nasionalis) tidak hanya mencurahkan semua tenaganya pada penekanan siapa yang akan menjadi pemimpin nasional. Tetapi tenaga itu seharusnya juga difokuskan kepada pembinaan umat supaya mereka lebih mengetahui lebih banyak lagi mengenai agamanya sehingga tercipta seorang muslim yang mempunyai hati dan akhlak yang luhur, serta kepintaran dan wawasan yang luas mengenai keilmuan dan keteknologian. Sebagian energi tersebut seharusnyalah difokuskan pula secara proporsional untuk memunculkan ulama-ulama yang bersih sebagaimana dicontohkan para ulama-ulama bersih sebelumnya (baik yang ada sekarang maupun yang ada di masa lalu, baik yang ada di Indonesia maupun luar Indonesia) yang berjuang dengan gagah berani menjalankan amar ma’ruf dan nahi munkar, tanpa takut akan celaan dan cacian tanpa takut kehilangan jabatan dan kekayaan, tanpa takut penyiksaan dan penjara bahkan kematian karena hidup mereka hanya untuk mengapai ridho Allah SWT.

Belajar dari kejayaan dan keruntuhan Khalifah Ustmaniyah di Turki, maka kita dapat memperhatikan pelajaran, bahwa kejayaan Islam dan kejatuhannya ternyata ditentukan oleh tiga komponen penggeraknya yaitu,

1 para ulama bersih
2. para pemimpin yang tidak berbuat maksiat kepada Rabbnya dan
3. rakyat/umatnya yang mayoritasnya mempunyai kualitas keimanan yang tinggi.

Ketika Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel yang merupakan wilayah kekuasaan dari Romawi. Kita melihat bahwa kondisi umat Islam dewasa itu ditopang oleh tiga pilar kekuatan utama yaitu ulama bersih yang menegakkan amar maruf dan nahi mungkar sesuai sebagaimana ditentukan oleh syariat Islam, pemimpin yang adil dan bersendikan keikhlasan dan tidak berbuat maksiat dalam kehidupan sehari-harinya ditopang dengan rakyat yang sebagian besarnya merupakan kalangan muslim dengan kualitas keimanan yang tinggi. Mereka secara bersinergi menjalankan syariat Islam dengan benar dan hasilnya adalah kekuatan yang besar dan menentukan yang disegani oleh semua orang kala itu.

Selanjutnya setelah beberapa ratus tahun berlalu, kita melihat bahwa pada akhirnya ketiga pilar tersebut pelan-pelan mengalami penurunan dalam kualitasnya, para ulama mereka banyak yang melacurkan diri kepada kekuasaan yang ada, menjual ayat-ayat quran dengan imbalan materi dan tidak menjalankan mekanisme amar maruf dan nahi mungkar sebagaimana yang digariskan oleh Quran dan Sunnah. Para pemimpin hanya memikirkan mempertahankan kekuasaan dan banyak berbuat kemaksiatan dan kedzoliman dalam kesehariannya, sementara rakyat sebagian besarnya mulai meninggalkan keIslamannya karena dianggap kuno dan ketinggalan sehingga kekhalifahan Turki Ustmani dewasa itu berada dalam masa kemunduran dan ujung-ujungnya adalah kekalahan dan keruntuhannya pada tahun 1924.

Di abad ke-21 ini kita berada di masa kejahiliyyah mencapai tahtanya menggurita ke seluruh sendi kehidupan dan sendi ketata hubungan seluruh masyarakat.

Dunia diliputi oleh kegelapan dengan dicampakkanya sumber penerangan utama Islam Quran dan hadist. Umat kebanyakan terlena oleh kegemerlapannya kehidupan duniawi yang semu, yang dibawa oleh peradaban imperialisme materialis dan mengira mereka bahwa mereka dapat meneguk kebahagiaan dengan mengikuti peradaban batil tersebut.

Keruntuhan kekhalifahan Turki Ustmani merupakan bencana besar bagi umat Islam, karena umat pada waktu itu dan juga pada dewasa ini tidak mempunyai payung untuk melindunginya dari intaian dan serangan musuh-musuhnya. Umat Islam terpecah dan terkotak-kotak dalam beberapa negara di tengah-tengah pemimpin mereka yang hanya memikirkan kekuasaan dan bergelimpangan dengan kemaksiatan. Umat Islam dewasa ini laksana buih di pantai yang di bawa angin tak menentu arah dan tidak mempunyai peranan untuk memperbaiki dunia sebagaimana diisyaratkan oleh Nabi Muhamad Saw dalam hadistnya :

“ Suatu waktu kelak umat Islam akan diperebutkan oleh umat-umat lainnya sebagaimana orang-orang yang rakus sedang memperebutkan suatu hidangan. Apakah kita waktu itu sedikit jumlahnya wahai Rasulullah? (ujar seorang sahabat). Tidak, jawab beliau, Bahkan kamu waktu itu banyak sekali, tapi hanya ibarat buih di pantai saja”

Apa yang di prediksikan oleh Rasulullah tersebut sepertinya identik dengan kondisi umat Islam dewasa ini, dimana jumlah mereka banyak tetapi peranannya dalam politik internasional hanya menjadi buih yang selalu mengikuti kemana arah USA dan PBB menginginkannya. Mereka laksana santapan yang diperebutkan oleh negara-negara kapitalis untuk mengisi kantong ekonominya, sebagaimana kita lihat negara-negara Arab khususnya dan negara-negara berpenduduk Islam umumnya dewasa ini.

Memang menyedihkan bahwa umat Islam ini berjumlah 1 milyar lebih bertebaran di berbagai negara di dunia ini, tetapi keterwakilannya di dalam Dewan Keamanan PBB paling penting adalah hanya sebagai anggota tidak tetap yang tidak mempunyai hak veto. Sedangkan posisi Anggota Tetap PBB diharamkan negara Islam mendudukinya.

Belajar dari kemunduran-kemunduran tersebut diatas, seyogyanya umat Islam mengambil hikmah dari kemunduran-kemunduran tersebut diatas, dan mulai lagi menata kehidupan mereka hanya untuk satu ideologi yang jelas dan memulai lagi pembinaan sebagaimana nabi Muhammad SAW mempraktekkannya pada awal da’wah beliau di kota Mekkah :

1.dari pribadi jahiliyyah menjadi pribadi Islami dengan memahami Islam sebagai ajaran yang syamil (menyeluruh) yang meliputi semua lingkup kehidupan.

2.dari keluargan yang jahilliyyah menuju keluarga yang Islami dengan mendakwahkan suam/istri, anak, orang tua, adik, kakak, dan keluarga dekat tentang ketiinggian dan kemuliaan dinul Islam.

3.dari masyarakat jahiliyyah menuju masyarakat Islami

4.dari tatanan kenegaraan jahiliyyah menuju tatanan kenegaraan Islami

Selain itu umat Islam harus dapat memunculkan ulama-ulama yang bersih yang tidak mudah tergoda oleh godaan jabatan dan kekayaan yang bertujuan satu meluruskan hukum Islam sesuai rel syariah yang ada yang menjalankan amar maruf dan nahi munkar kepada siapa pun tanpa memandang apakah ia penguasa atau rakyat jelata tanpa harus takut akan intimidasi, hukuman penjara bahkan ancaman pembunuhan sekalipun sebagaimana dicontohkan Imam Ahmad di masa Kekhalifahan Sultan Mahmud dan Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol menentang penjajahan Belanda serta banyak ulama bersih lainnya di masa dahulu maupun masa sekarang.

Setelah umat sebagian besarnya sudah memahami dan tercerahkan oleh Islam serta melepaskan idelogi-idelogi lain selain Islam ditambah lagi dengan bermunculannya ulama-ulama yang bersih, maka tiba saatnya bagi umat Islam untuk memunculkan pemimpin yang bersih yang tidak berbuat maksiat kepada Allah sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah dan khalifah-khalifah generasi awal dan generasi selanjutnya yang memegang amanah kepemimpinan sesuai dengan apa yang digariskan oleh syariah Islam. Sehingga pada akhirnya ketiga pilar ideal tersebut akan bersinergi dan membentuk kekuatan yang besar yang mampu menerjang semua kebatilan yang ada didepannya dan menyebarkan sinar kebenaran dan kesejahteraan keseluruh penjuru bumi.

Itulah sekelumit gambaran dari penulis mengenai tiga pilar kebangkitan Islam. Akhirnya kesemuanya dikembalikan kepada Kekuasaan dan Iradah Allah SWT, Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdo’a dengan dibarengi dengan niat karena mengharapkan ridho Allah dalam bingkai keikhlasan kepada-NYA.
 
Sumber: http://swaramuslim.net/more.php?id=A1758_0_1_0_M 
 

Umum, ISLAM, SELINGAN, PENDAPAT, WACANA, inspirasi 9:34 am

Berbicara tentang kebangkitan, berarti berbicara tentang usaha masyarakat untuk keluar dari keterpurukan yang selama ini telah melanda. Berbagai upaya telah dilakukan, namun hasil yang diperoleh tidak mampu membangkitkan umat secara keseluruhan. Lantas apa yang mesti dilakukan untuk meraih kebangkitan? Kebangkita apa pula yang diinginkan untuk mengubah keadaan yang ada saat ini?

Kebangkitan yang paling mendasar adalah kebangkitan dari segi pemikiran. Ini berarti, harus ada upaya mengubah pemikiran/cara berpikir masyarakat yang ada saat ini tentang segala hal yang terkait dengan seluruh aspek yang menjadi pokok permasalahan. Dengan berubahnya pemikiran masyarakat, berubah pula pemahaman yang nantinya akan mengubah perilaku.

Saat ini pemikiran masyarakat dicekoki dengan ide-ide pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme). Masyarakat bahkan mendudukkan fungsi Tuhan (agama) pada wilayah pribadi saja (ibadah mahdhah), sedangkan untuk persoalan kemasyarakatan Tuhan (agama) dianggap tidak memiliki andil. Inilah kesalahan berpikir masyarakat kita saat ini yang pada akhirnya menjadikan mereka senantiasa terkungkung dengan permasalahan yang tiada berkesudahan.

Hal lain yang menjadi faktor kebangkitan adalah bersatunya umat Islam untuk meraih kebangkitan. Ketika umat Islam bersatu maka dijamin akan menghimpun kekuatan yang sangat besar untuk mengalahkan negara adikuasa (AS). Saat ini selayaknya umat Islam menyatukan barisan langkah untuk menghimpun kekuatan dengan menjadikan Islam sebagai kepemimpinan berpikir dan menjadikan institusi Islam (Khilafah) sebagai payung kekuasaan. Hanya negara adikuasa Islamlah, yakni Khilafah, yang akan mampu melawan negara adikuasa AS dan sekutu-sekutunya yang selama ini terbukti menjadi otak dari keterpurukan umat yang terjadi.

Lagipula Allah telah menerangkan dalam QS ar-Ra’d ayat 11: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka. Jadi, ketika masyarakat ingin mengubah kondisinya maka sepantasnyalah mereka berusaha untuk bangkit dengan Islam sebagai kepemimpinan berpikir dan Negara Islam sebagai kekuatan. Wallahu a’lam bi ash-shshawab.

 

Sumber: http://hizbut-tahrir.or.id/2008/05/06/bangkitkan-umat-dengan-islam/ 

Umum, SHARING, REFLEKSI, keseharian, ISLAM, PENDAPAT, WACANA, inspirasiMay 28, 2008 8:45 am

Jakarta (ANTARA News) – Hizbut Tahir Indonesia (HTI) menilai telah berhasil memperkenalkan konsep khilafah melalui Konferensi Khilafah Internasional yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (12/8) dan dihadiri oleh sekitar 100.000 peserta. “Umat menjadi tahu istilah khilafah, istilah yang untuk sebagian orang terasa asing,” kata juru bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto, saat diskusi mengenai khilafah di Jakarta, Senin malam.
Diskusi yang dibuka oleh Menneg Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault tersebut juga menghadirkan pembicara dari Hizbut Tahir Sudan Utsman Ibrahim Abu Khalil, Guru Besar Sekolah Teologi Universitas Doshisha Jepang Prof Dr Hassan Ko Nakata dan dari Hizbut Tahir Inggris Mehmed Salim, serta dihadiri sekitar 50 organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan. Nakata mengatakan, salah satu konsep khilafah Hizbut Tahir yaitu pemerintahan berdasarkan pada hukum syariah Islam dan dijalankan melalui kepemimpinan yang dipilih seluruh umat Islam.
Nakata juga mengatakan, khilafah adalah sistem pemerintahan keduniaan membumi yang menjamin perlindungan seluruh masyarakat berdasar hukum publik Islam dan memberikan kebebasan kepada komunitas berbasis agama di bidang keagamaan. Ismail mengatakan, lewat konferensi tersebut banyak orang tahu istilah khilafah termasuk polisi-polisi yang menjaga acara tersebut. Ia mengatakan, pemahaman terhadap arti khilafah tersebut penting untuk mengembangkan gagasan tersebut.
 “Ini sebuah kemajuan karena banyak umat Islam tidak tahu,” katanya. Ia mengatakan konferensi tersebut juga diliput oleh banyak media di Indonesia. Langkah selanjutnya yang dilakukan HTI adalah melakukan pembinaan sehingga ada kesadaran politik Islam yakni segala sesuatu tidak boleh tidak diatur oleh syariat Islam. Sementara itu Adhyaksa dalam sambutannya mengatakan, yang perlu diambil pelajaran dari khilafah adalah upaya mewujudkan persatuan umat Islam dan ukhuwah Islamiyah.
Adhyaksa juga mengatakan semangat persatuan umat Islam itu dilakukan tanpa mengambil atau mengganggu hak agama lain. “Sehingga tidak perlu dikuatirkan,” katanya. Sebelumnya Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyerukan agar umat Islam mengambil esensi dari konsep kekhilafan yaitu persatuan dan kebersamaan serta menerapkannya dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia mengatakan, khilafah adalah ajaran Islam yang jelas tercantum dalam Al Quran tetapi terdapat berbagai perbedaan pendapat antar ulama mengenai bagaimana cara terbaik untuk mengimplementasikannya.(*) Sumber : http://www.antara.co.id

Umum, SHARING, REFLEKSI, ISLAM, WACANA, inspirasi 8:42 am

Krisis kelangkaan pangan yang mengakibatkan gejolak kerusuhan di berbagai negara berkembang beberapa bulan terakhir ini adalah bukti rentannya globalisasi. Lebih jauh lagi, Bank Dunia dan IMF beserta agenda liberal pasar bebasnya pantas dituding sebagai sumber kekacauan. Beberapa faktor yang memicu melambungnya harga pangan adalah tingginya kebutuhan pangan di negeri industrialis baru seperti Cina dan India, kekeringan di Australia dan Eropa Tengah dan juga mungkin adanya permainan spekulasi di tingkat pedagang besar yang mulai beralih dari sektor keuangan (yang mengalami kerugian akibat masalah kredit macet di Barat) ke sektor komoditas pangan. Konversi lahan produksi pangan menjadi lahan pemasok bensin hayati (biofuel), sebagai sumber energi bagi mobil-mobil di Barat yang ramah lingkungan, juga berkontribusi terhadap kurangnya stok pangan. Pejabat Bank Dunia dan IMF cepat sekali menyalahkan faktor di atas sebagai penyebab utama adanya krisis pangan. Kenaikan harga dua kali lipat mengakibatkan miliaran penduduk di dunia berkembang yang hidup dibawah garis kemiskinan kehilangan haknya untuk mendapatkan akses makanan pokok. Lebih jauh lagi, miliaran penduduk lainnya semakin tenggelam di bawah garis kemiskinan, yaitu kurang dari 1 dolar sehari, sebagaimana didefinisikan oleh pakar ekonomi internasional. Dominique Strauss-Kahn, direktur manajemen IMF dan Robert Zoellick, Presdir World Bank, secara enteng tidak mau bertanggungjawab atas kebijakan yang gagal dan praktek korup yang dilakukan oleh institusi mereka masing-masing. Padahal dua institusi inilah yang mengawasi agenda pembangunan di negara berkembang se lama puluhan tahun, dimana tingkat kemiskinan justru semakin memburuk. Ini juga terbukti dari naiknya angka kemiskinan di Afrika, Asia Selatan, Timur Tengah dan Amerika Latin sebagaimana dicatat dari publikasi World Development Report (Laporan Pembangunan Dunia), tahun 2008. Dengan adanya krisis pangan, maka tidak heran apabila laporan tersebut menjadikan bidang pertanian sebagai fokus pengembangan ekonomi. Akan tetapi, laporan tersebut menyanyikan lagu lama yang sudah terdengar selama puluhan tahun dengan merekomendasikan sebagai berikut: Ekonomi negeri miskin harus mengurangi tariff bea cukai dari produk pertanian ekspor dan impor, dan meliberalisasi pasar domestik. Bank Dunia dan IMF tidak ambil pusing walaupun rekomendasi seperti itu sebenarnya toh sudah dijalankan berpuluh tahun oleh negara-negara berkembang. Dua institusi ini juga tidak begitu peduli bahwa krisis yang terjadi sebelumnya di negara berkembang sebenarnya terjadi karena imbas dari jatuhnya harga pasar komoditas dunia. Bahkan kebijakan negeri kaya dari benua Amerika Utara dan Eropa Barat yang menerapkan proteksi terhadap produk pertanian mereka sendiri, tidak dianggap bermasalah. Malahan subsidi pemerintahan Amerika dan juga Eropa (Common Agricultural Policy )dengan terhadap para petani mereka sendiri justru meningkat. Lebih jauh lagi, tidaklah penting bagi dua lembaga keuangan dunia tersebut, bahwa pihak yang paling diuntungkan dari program liberalisasi ekonomi, adalah produser gabah di Amerika (yang menguasai sekitar 30% dari nilai ekspor gabah dunia) dan juga perusahaan agrokimia multinasional seperti Monsanto dan Dupont.Mesir dimana rakyatnya telah terbunuh dalam beberapa peristiwa kekacuaan telah mengikuti secara detil rekomendasi dari Bank Dunia dan IMF, dan menggantungkan dirinya pada impor gandum sebesar 44% dari konsumsi total (di tahun 1960an) dan sebesar 50% atau lebih, menurut prediksi terakhir. Ketahanan pangan sering diejek karena tidak lagi menjadi tren, meskipun sebenarnya Mesir menghabiskan tingkat konsumsi per kapitanya sekitar 70-80% dari pendapatannya untuk membeli makanan. Ekonom mesir, yang mematuhi aturan diet dari IMF dan Bank Dunia, berdalih bahwa swasembada pangan tidak lah penting karena selalu bisa mengakses pangan impor. Namun akses saja tidak berarti banyak apabila harga pangan impor pun tidak bisa dijangkau rakyat biasa. Alangkah bertanggungjawabnya suatu negara yang mengalihkan usaha memberikan pangan kepada rakyat kepada usaha produksi bensin hayati, pemberian pakan ternak, atau kepada spekulan perdagangan yang menarik keuntungan dari membumbung tingginya harga komoditi pangan. Padahal, komoditas bahan pangan sangatlah penting untuk kelangsungan hidup, sebab kelangkaan komoditas seperti barang elektronik, perekam video, maupun mobil tidak akan dituding sebagai sebab darurat nasional.Akar dari kelangkaan pangan adalah gagalnya kebijakan dari Bank Dunia dan IMF. Padahal kebijakan yang dibuat di Washington dan London, tidak diterapkan di Amerika maupun Eropa sendiri, dan keduanya justru ingin berswasembada pangan dan menjual produksi pertaniannya ke luarnegeri dengan cara paksa (dengan dalih liberalisasi). Kebijakan jahat semacam ini hanya menghasilkan penderitaan di negeri-negeri yang lain. Namun, tanggungjawab terbesar jatuh di pundak para penguasa pengkhianat di dunia muslim, seperti Mubarak, yang menerapkan kebijakan jahat tersebut secara mentah-mentah dan tidak memperdulikan efek kesengsaraan yang menimpa kalangan masyarakat terlemah, yang justru seharusnya lebih diperhatikan oleh negara. Para penguasa tersebut adalah kaki tangan pemerintahan Barat untuk memastikan kelanggengan pengaruh mereka dengan meliberalisasi pasar dan meredam keinginan sebagian rakyatnya yang menghendaki berakhirnya dominasi Barat dan menginginkan kembalinya penerapan Islam. Gambaran bagaimana Sistem Ekonomi Islam yang diterapkan oleh Khalifah dalam menangani krisis seperti sekarang, dengan mengambil Mesir sebagai wilayah yang potensial, akan terlihat dengan penerapan beberapa instrumen Syariah sebagai berikut. Reformasi pengaturan penggunaan tanah akan dilakukan dengan mendistribusikan ulang tanah yang menganggur untuk menciptakan kompetisi di sektor pertanian yang didukung oleh dana investasi dari negara dalam pengembangan infrastruktur pertanian seperti penelitian dan perbaikan mutu benih-benih unggulan. Hal ini penting dilakukan karena konsumsi gandum di Mesir membutuhkan produksi dua kali lipat. Menarik untuk diingat bahwa di tahun 1950an, Korea dan Taiwan, sebagai macan ekonomi Asia, membangun roda perekonomiannya dengan diawali reformasi pengaturan penggunaan tanah dan investasi pertanian sehingga mampu memperbaiki tingkat pendapatan dari pertumbuhan sektor pertanian. 

 

Sumber:http://www.hizbut-tahrir.or.id/2008/04/18/kerusuhan-pangan-kegagalan-ekonomi-kapitalis-dan-institusi-global/

Umum, SHARING, keseharian, ISLAM, PENDAPAT, WACANA, inspirasiApril 25, 2008 9:23 am

Wanita di Masa Jahiliyah

Wanita di masa jahiliyah (sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) pada umumnya tertindas dan terkungkung khususnya di lingkungan bangsa Arab, tetapi tidak menutup kemungkinan fenomena ini menimpa di seluruh belahan dunia. Bentuk penindasan ini di mulia sejak kelahiran sang bayi, aib besar bagi sang ayah bila memiliki anak perempuan. Sebagian mereka tega menguburnya hidup-hidup dan ada yang membiarkan hidup tetapi dalam keadaan rendah dan hina bahkan dijadikan sebagai harta warisan dan bukan termasuk ahli waris. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Dan apabila seorang dari mereka diberi khabar dengan kelahiran anak perempuan, merah padamlah mukanya dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah. Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (An Nahl: 58-59)

Islam Menjunjung Martabat Wanita

Dienul Islam sebagai rahmatal lil’alamin, menghapus seluruh bentuk kezhaliman-kezhaliman yang menimpa kaum wanita dan mengangkat derajatnya sebagai martabat manusiawi. Timbangan kemulian dan ketinggian martabat di sisi Allah subhanahu wata’ala adalah takwa, sebagaiman yang terkandung dalam Q.S Al Hujurat: 33). Lebih dari itu Allah subhanahu wata’ala menegaskan dalam firman-Nya yang lain (artinya):

“Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan pula kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An Nahl: 97)

Ambisi Musuh-Musuh Islam untuk Merampas Kehormatan Wanita

Dalih emansipasi atau kesamarataan posisi dan tanggung jawab antara pria dan wanita telah semarak di panggung modernisasi dewasa ini. Sebagai peluang dan jembatan emas buat musuh-musuh Islam dari kaum feminis dan aktivis perempuan anti Islam untuk menyebarkan opini-opini sesat. “Pemberdayaan perempuan”, “kesetaraan gender”, “kungkungan budaya patriarkhi” adalah sebagai propaganda yang tiada henti dijejalkan di benak-benak wanita Islam. Dikesankan wanita-wanita muslimah yang menjaga kehormatannya dan kesuciannya dengan tinggal di rumah adalah wanita-wanita pengangguran dan terbelakang. Menutup aurat dengan jilbab atau kerudung atau menegakkan hijab (pembatas) kepada yang bukan mahramnya, direklamekan sebagai tindakan jumud (kaku) dan penghambat kemajuan budaya. Sehingga teropinikan wanita muslimah itu tak lebih dari sekedar calon ibu rumah tangga yang tahunya hanya dapur, sumur, dan kasur. Oleh karena itu agar wanita bisa maju, harus direposisi ke ruang rubrik yang seluas-luasnya untuk bebas berkarya, berkomunikasi dan berinteraksi dengan cara apapun seperti halnya kaum lelaki di masa moderen dewasa ini.

Ketahuilah wahai muslimah! Suara-suara sumbang yang penuh kamuflase dari musuh-musuh Allah subhanahu wata’ala itu merupakan kepanjangan lidah dari syaithan. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaithan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapak kalian dari jannah, ia menanggalkan dari kedua pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya.” (Al A’raf: 27)

Peran Wanita dalam Rumah Tangga

Telah termaktub dalam Al Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia yang datang dari Rabbull Alamin Allah Yang Maha Memilki Hikmah:

“Dan tetaplah kalian (kaum wanita) tinggal di rumah-rumah kalian.” (Al Ahzab: 33)

Maha benar Allah subhanahu wata’ala dalam segala firman-Nya, posisi wanita sebagai sang istri atau ibu rumah tangga memilki arti yang sangat urgen, bahkan dia merupakan salah satu tiang penegak kehidupan keluarga dan termasuk pemeran utama dalam mencetak “tokoh-tokoh besar”. Sehingga tepat sekali ungkapan: “Dibalik setipa orang besar ada seorang wanita yang mengasuh dan mendidiknya.”

Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah berkta: “Perbaikan masyarakat dapat dilakukan dengan dua cara:

Pertama: perbaikan secara dhahir, di pasar-pasar, di masjid-masjid dan selainnya dari perkara-perkara dhahir. Ini didominasi oleh lelaki karena merekalah yang bisa tampil di depan umum.

Kedua: perbaikan masyarakat dilakukan yang di rumah-rumah, secara umum hal ini merupakan tanggung jawab kaum wanita. Karena merekalah yang sangat berperan sebagai pengatur dalam rumahnya. Sebagaiman Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Tetaplah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj (berpenampilan) sebagaimana penampilannya orang-orang jahiliyah yang pertama. Tegakkanlah shalat, tunaikan zakat, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah hanyalah berkehendak untuk menghilangkan dosa-dosa kalian wahai Ahlul bait dan mensucikan kalian dengan sebersih-bersihnya.” (Al Ahzab: 33)

Kami yakin setelah ini, tidaklah salah bila kami katakan perbaikan setengah masyarakat itu atau bahkan mayoritas tergantung kepada wanita dikarenakan dua sebab:

1. Kaum wanita jumlahnya sama dengan kaum laki-laki bahkan lebih banyak, yakni keturunan Adam mayoritasnya wanita sebagamana hal ini ditunjukkan oleh As Sunnah An Nabawiyah. Akan tetapi hal itu tentunya berbeda antara satu negeri dengan negeri lain, satu jaman dengan jaman lain. Terkadang di suatu negeri jumlah kaum wanita lebih dominan dari pada jumlah lelaki atau sebaliknya… Apapun keadaannya wanita memiliki peran yang sangat besar dalam memperbaiki masyarakat.

2. Tumbuh dan berkembangnya satu generasi pada awalnya berada dibawah asuhan wanita. Atas dasar ini sangat jelaslah bahwa tentang kewajiban wanita dalam memperbaiki masyarakat. (Daurul Mar’ah Fi Ishlahil Mujtama’)

Pekerjaan Wanita di dalam Rumah

Beberapa pekerjaan wanita yang bisa dilakukan di dalam rumah:

1. Beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala. Tinggalnya ia di dalam rumah merupakan alternatif terbaik karena memang itu perintah dari Allah subhanahu wata’ala dan dapat beribadah dengan tenang. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Tetaplah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliyah yang pertama. Tegakkanlah shalat, tunaikan zakat, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Al Ahzab: 33)

2. Wanita berperan memberikan sakan (ketenangan/keharmonisan) bagi suami. Namun tidak akan terwujud kecuali ia melakukan beberapa hal berikut ini:

- Taat sempurna kepada suaminya dalam perkara yang bukan maksiat bahkan lebih utama daripada melakukan ibadah-ibdah sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُوْمَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Tidak boleh seorang wanita puasa (sunnah) sementara suaminya ada di tempat kecuali setelah mendapat izin suaminya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Al Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Hadits ini menunjukkan lebih ditekankan kepada istri untuk memenuhi hak suami daripada mengerjakan kebajikan yang hukumnya sunnah. Karena hak suami itu wajib sementara menunaikan kewajiban lebih didahulukan daripada menunaikan perkara yang sunnah.’ (Fathul Bari 9/356)

- Menjaga rahasia suami dan kehormatannya dan juga menjaga kehormatan ia sendiri disaat suaminya tidak ada di tempat. Sehingga menumbuhkan kepercayaan suami secara penuh terhadapnya.

- Menjaga harta suami. Rasulullah bersabda:

خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الإِبِلَ صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ : أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ، وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ

“Sebaik-baik wanita penunggang unta, adalah wanita yang baik dari kalangan quraisy yang penuh kasih sayang terhadap anaknya dan sangat menjaga apa yang dimiliki oleh suami.” (Muttafaqun ‘alaihi)

- Mengatur kondisi rumah tangga yang rapi, bersih dan sehat sehingga tampak menyejukkan pandangan dan membuat betah penghuni rumah.

3. Mendidik anak yang merupakan salah satu tugas yang termulia untuk mempersiapkan sebuah generasi yang handal dan diridhai oleh Allah subhanahu wata’ala.

Adab Keluar Rumah

Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Mengetahui tentang maslahat (kebaikan) hambanya di dunia maupun diakhirat yaitu kewajiban wanita untuk tetap tinggal di rumah. Namun bila ada kepentingan, diperbolehkan baginya keluar rumah untuk memenuhi kebutuhannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

قَدْ أَذِنَ لَكُنَّ أَنْ تَخْرُجْنَ لِحَوَائِجِكُنَّ

“Allah telah mengijinkan kalian untuk keluar rumah guna menunaikan hajat kalian.” (Muttafaqun ‘alahi)

Namun juga ingat petuah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang lainnya:

“Wanita itu adalah aurat maka bila ia keluar rumah syaithan menyambutnya.” (HR. At Tirmidzi, shahih lihat Al Irwa’ no. 273 dan Shahihul Musnad 2/36)

Sehingga wajib baginya ketika hendak keluar harus memperhatikan adab yang telah disyariatkan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu:

a. Memakai jilbab yang syar’i sebagaimana dalam surat Al Ahzab: 59.
b. Atas izin dari suaminya, bila ia sudah menikah.
c. Tidak boleh bersafar kecuali dengan mahramnya. (HR. Muslim no. 1341)
d. Menundukkan pandangan. (An Nur: 31)
e. Berbicara dengan wajar tanpa mendayu-dayu (melembut-lembutkan). (Al Ahzab: 32)
f. Tidak boleh melenggak lenggok ketika berjalan.
g. Hindari memakai wewangian. (Al Jami’ush Shahih: 4/311)
h. Tidak boleh menghentakkan kaki ketika berjalan agar diketahui perhiasannya. (An Nur: 31)
i. Tidak boleh ikhtilath (campur baur) antara lawan jenis. (Lihat Shahih Al Bukhari no. 870)
j. Tidak boleh khalwat (menyepi dengan pria lain yang bukan mahram) (Lihat Shahih Muslim 2/978).

Hukum Wanita Kerja di Luar Rumah

Allah menciptakan bentuk fisik dan tabiat wanita berbeda dengan pria. Kaum pria di berikan kelebihan oleh Allah subhanahu wata’ala baik fisik maupun mental atas kaum wanita sehingga pantas kaum pria sebagai pemimpin atas kaum wanita. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Kaum lelaki itu adalah sebagai pemimpin (pelindung) bagi kaum wanita.” (An Nisa’: 35)

Sehingga secara asal nafkah bagi keluarga itu tanggug jawab kaum lelaki. Asy syaikh Ibnu Baaz berkata: “Islam menetapkan masing-masing dari suami istri memiliki kewajiban yang khusus agar keduanya menjalankan perannya, hingga sempurnalah bangunan masyarakat di dalam dan di luar rumah. Suami berkewajiban mencari nafkah dan penghasilan sedangkan istri berkewajiban mendidik anak-anaknya, memberikan kasih sayang, menyusui dan mengasuh mereka serta tugas-tugas lain yang sesuai baginya, mengajar anak-anak perempuan, mengurusi sekolah mereka, dan mengobati mereka serta pekerjaan lain yang khusus bagi kaum wanita. Bila wanita sampai meninggalkan kewajiban dalam rumahnya berarti ia menyia-nyiakan rumah berikut penghuninya. Hal tersebut berdampak terpecahnya keluarga baik hakiki maupun maknawi. (Khatharu Musyarakatil Mar’ah lir Rijal fil Maidanil amal, hal. 5)

Bila kaum wanita tidak ada lagi yang mencukupi dan mencarikan nafkah, boleh baginya keluar rumah untuk bekerja, tentunya ia harus memperhatikan adab-adab keluar rumah sehingga tetap terjaga iffah (kemulian dan kesucian) harga dirinya.

Wanita adalah Sumber Segala Fitnah

Bila wanita sudah keluar batas dari kodratnya karena melanggar hukum-hukum Allah subhanahu wata’ala. Keluar dari rumah bertamengkan slogan bekerja, belajar, dan berkarya. Meski mengharuskan terjadinya khalwat (campur baur dengan laki-laki tanpa hijab), membuka auratnya (tanpa berjilbab), tabarruj (berpenampilan ala jahiliyah), dan mengharuskan komunikasi antar pria dan wanita dengan sebebas-bebasnya. Itulah pertanda api fitnah telah menyala.

Bila fitnah wanita telah menyala, ia merupakan inti dari tersebarnya segala fitnah-fitnah yang lainnya. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia untuk condong kepada syahwat, yaitu wanita-wanita, anak-anak dan harta yang banyak … .” (Ali Imran: 14).

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Sesunggunya fitnah wanita merupakan fitnah yang terbesar dari selainnya …, karena Allah menjadikan para wanita itu sebagai sumber segala syahwat. Dan Allah meletakkan para wanita (dalam bagian syahwat) pada point pertama (dalam ayat di atas) sebelum yang lainnya, mengisyaratkan bahwa asal dari segala syahwat adalah wanita.” (Nashihati Linnisaa’i: 114)

Bila fitnah wanita itu telah menjalar, maka tiada yang bisa membendung arus kebobrokan dan kerusakan moral manusia. Fenomena negara barat atau negara-negara lainnya yang menyuarakan emansipasi wanita, sebagai bukti kongkrit hasil dari perjuangan mereka yaitu pornoaksi dan pornografi bukan hal yang tabu bahkan malah membudaya, foto-foto telanjang dan menggoda lebih menarik daya beli dan mendongkrak pangsa pasar. Tak lebih harga diri wanita itu seperti budak pemuas syahwat lelaki. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضْرَةٌ وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَ اتَّقُوا النِّسَاءَ فَإنَّ أَوَّلِ فِتْنَةِ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau dan Allah subhanahu wata’ala menjadikan kalian berketurunan di atasnya. Allah melihat apa yang kalian perbuat. Takutlah kepada (fitnah) dunia dan takutlah kepada (fitnah) wanita, karena sesungguhnya awal fitnah yang menimpa Bani Isra’il dari wanitanya.” (HR. Muslim)

Setelah mengetahui hak dan tanggung jawab wanita sedemikian rupa, rapi dan serasi yang diatur oleh Islam, apakah bisa dikatakan sebagai wanita pengangguran atau kuno? sebaliknya, silahkan lihat kenyataan kini dari para wanita karier dibalik label emansipasi atau slogan “Mari maju menyambut modernisasi?” Renungkanlah wahai kaum wanita, bagaimana kedaan suami dan anak-anak kalian setelah kalian tinggalkan tanggung jawab sebagai istri penyejuk hati suami dan penyayang anak-anak?!

Hadits-Hadits Dho’if (Lemah) atau Palsu yang Tersebar di Kalangan Ummat

اُطْلُبُوْا العِلْمَ وَ لَوْ بِالصِّيْنِ

“Tuntutlah Ilmu walau sampai ke negeri Cina.”

Keterangan:

Hadits ini adalah bathil, diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy, Abu Nu’aim, Al Khotib, Al Baihaqi, dan selain mereka. Hadits ini dikritik oleh para ulama seperti Al Imam Al Bukhori, Ahmad, An Nasa’i, Abu Hatim, Ibnu Hibban, Al Khotib, dan selain dari mereka. Karena didalam perawi-perawi hadits ini lemah (dho’if). (Lihat Adh Dhoi’fah No.416)

(Sumber: http://www.assalafy.org/al-ilmu.php?tahun3=8)

Umum, SHARING, REFLEKSI, keseharian, ISLAM, SELINGAN, WACANA 9:21 am

Agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah disempurnakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai rahmat bagi seluruh hamba-Nya, sehingga agama ini tidak butuh tambahan, pengurangan dan otak-atik.

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (QS. Al-Ma`idah: 3)

Di antara rahmat Allah Ta’ala kepada hamba hamba-Nya, disyari’atkannya “poligami” (seorang laki laki memiliki lebih dari satu istri) berdasarkan dalil-dalil yang akan datang.

Namun berbicara masalah poligami akan mengundang berbagai tanggapan. Ada yang menanggapinya secara posotif dan ini datangnya dari ulama’ dan kaum beriman. Tetapi, ada pula yang menanggapinya secara negatif, bahkan menentangnya dengan keras di antara segelintir orang dari kalangan orang-orang munafiq, dan orang-orang yang jahil dari kaum wanita dan laki-laki. Berbagai alasan dilontarkan intuk menolak poligami, entah dengan alasan kecemburuan, emosi, atau tidak siap dimadu, bahkan dengan alasan ketidakadilan.

Mungkin dengan dasar inilah, ada seorang penulis wanita (kami tidak sebutkan namanya) berusaha menentang, dan menzholimi “anugerah poligami” ini untuk membela kaum wanita menurut sangkaannya, padahal sebenarnya ia menzholimi kaum wanita. Maka dia pun menuangkan “pembelaannya” (baca: penzholimannya) tersebut dalam bentuk tulisan yang dimuat oleh koran “Kompas”, edisi 11 Desember 2006, dengan judul, “Wabah itu Bernama Poligami”. Sebuah judul yang memukau bagi orang-orang jahil, terlebih lagi orang-orang munafiq. Namun hal itu sangat berbahaya bagi keimanannya, dan mengerikan bagi kaum beriman. Betapa tidak, dia telah berani menyebut poligami sebagai “wabah”, dan telah lancang berani menyebut syari’at yang Allah Ta’ala sendiri yang menurunkan-Nya sebagai “wabah”. Dia telah menghina, menentang dan mengingkari anugerah yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Kalau wanita ini menganggap poligami adalah wabah, berarti dia telah menganggap bahwa Allah Ta’ala telah menurunkan wabah kepada para hamba-Nya,“Subhanallah wa Ta’ala ‘an qaulihim uluwwan kabiran Maha Suci, dan Maha Tinggi Allah atas apa yang mereka ucapkan.

Wanita untuk memuntahkan kebenciannya, dan penolakannya kepada syari’at poligami, maka ia pun tidak tanggung-tanggung membawakan hadits untuk menguatkan pendapatnya. Padahal hadits itu tidaklah menguatkan dirinya sedikitpun, bahkan menolak dengan kejahilannya: Wanita itu membawakan hadits, bahwa dilaporkan Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam marah ketika beliau mendengar putrinya Fatimah akan di poligami suaminya, Ali bin Abi Thalib. Beliau bergegas menuju mesjid, naik mimbar dan menyampaikan pidato, “Keluarga Bani Hasim bin Al-Mughiroh telah meminta izinku untuk menikahkan putri mereka dengan Ali Bin Abi Thalib saya tidak mengizinkan sama sekali kecuali Ali menceraikan putri Saya terlebih dahulu”. Kemudian Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan, “Fatimah adalah bagian dari-ku. Apa yang memggamggu dia adalah menggangguku dan apa yang menyakiti dia adalah menyakitiku juga”. Akhirnya, Ali bin Abi Thalib tetap monogami hingga Fatimah wafat.

Setelah membaca hadits diatas, mungkin kita akan menganggukkan kepala dan membenarkan wanita tersebut. Namun Saking “pandainya” wanita ini, ia lupa riwayat lain dalam Shohih Muslim (2449), “Sesungguhnya aku tidak mengharamkan yang halal dan tidak menghalalkan yang haram. Tapi, demi Allah, tidak akan berkumpul putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan putri musuh Allah selamanya”. Artinya, Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam tidak mengharamkan atas umatnya sesuatu yang halal, yaitu poligami. Selain itu, Syaikh Al-Adawiy dalam Fiqh Ta’addud Az-Zaujat (126) berkata, “Di antara kekhususan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, putrinya tidak boleh dimadu. Ini yang dikuatkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari (9/329)”.

Perlu diketahui bahwa para sahabat sepeninggal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan Ali sendiri berpoligami setelah Fathimah wafat. Ali bin Rabi’ah berkata, “Dulu Ali memiliki dua istri”. [HR. Ahmad dalam Fadho’il Ash-Shohabah (no.889)]. Ini menunjukkan bahwa poligami tetap diamalkan oleh para sahabat sepeninggal Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bukan bersifat kondisional !!

Lebih jauh lagi, Wanita itu mengomentari ayat berikut,

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. (QS. An-Nisa`: 3)

Wanita ini berkata, “Ayat tersebut turun setelah perang Uhud, dimana banyak sahabat wafat di medan perang. Ayat ini memungkinkan lelaki muslim mengawini janda, atau anak yatim, jika dia yakin inilah cara melindungi kepentingan mereka, dan hartanya dengan penuh keadilan. Jadi, ayat ini bersifat kondisional”.

Yang menjadi pembahasan kita dalam perkataannya adalah bahwa ayat ini bersifat kondisional, padahal seandainya ayat ini bersifat kondisional, justru ayat ini sangat memungkinkan untuk diamalkan pada zaman sekarang, karena melihat perbandingan jumlah wanita jauh lebih banyak dibandingkan jumlah laki-laki. Oleh karena itu, poligami di saat sekarang ini mestinya lebih disemarakkan! Selain itu, para ulama membuat kaedah, “Barometer dalam menafsirkan ayat dilihat pada keumuman lafazhnya, bukan pada kekhususan sebab turunnya ayat tertentu”. Jadi, dilihat cakupan dan keumuman ayat di atas dan lainnya, maka mencakup semua lelaki yang memiliki kemampuan lahiriah.

Kemudian, dia pun mengomentari firman Allah berikut layaknya sebagai ahli tafsir, padahal ia bukan termasuk darinya,

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri- isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An-Nisa`: 129)

Wanita ini berkata dengan congkak, “Ayat ini dapat disimpulkan, Islam pada dasarnya agama monogami”. Pembaca semoga dirahmati Allah beginilah apabila menafsirkan ayat dengan penafsiran sendiri, tanpa mau melihat bagaimana para ulama tafsir ketika menafsirkan ayat-ayat Allah. Ayat ini justru menunjukan disyari’atkannya poligami. Dengarkan para ahli tafsir ketika mereka menafsirkan ayat di atas (QS. An-Nisa`: 129)

Ath-Thabariy rahimahullah berkata, “Kalian, wahai kaum lelaki, tak akan mampu menyamakan istri-istrimu dalam hal cinta di dalam hatimu sampai kalian berbuat adil di antara mereka dalam hal itu. Maka tidak di hati kalian rasa cinta kepada sebagiannya, kecuali ada sesuatu yang sama dengan madunya, karena hal itu kalian tidak mampu melakukannya, dan urusannya bukan kepada kalian”. [Lihat Jami’ Al-Bayan (9/284)]

Syaikh Muhammad bin Nashir As-Sa’diyrahimahullah dalam menafsirkan ayat di atas (QS. An-Nisa`: 129), “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa suami tidak akan mampu. Bukanlah kesanggupan mereka berbuat adil secara sempurna di antara para istri, sebab keadilan mengharuskan adanya kecintaan, motivasi, dan kecenderungan yang sama dalam hati kepada para istri, kemudian demikian pula melakukan konsekuensi hal tersebut. Ini adalah perkara yang susah dan tidak mungkin. Oleh karena itu, Allah Ta’ala memaafkan perkara yang tidak sangup untuk dilakukan. Kemudian, Allah Ta’ala melarang sesuatu yang mungkin terjadi (yaitu, terlalu condong kepada istri yang lain, tanpa menunaikan hak-hak mereka yang wajib-pent),

فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ

Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung”. (QS. An-Nisa`: 129)

Maksudnya, janganlah engkau terlalu condong (kepada istri yang lain) sehingga engkau tidak menunaikan hak-haknya yang wajib, bahkan kerjakanlah sesuatu yang berada pada batas kemampauan kalian berupa keadilan. Maka memberi nafkah, pakaian, pembagian dan semisalnya, wajib bagi kalian untuk berbuat adil di antara istri-istri dalam hal tersebut, lain halnya dengan masalah kecintaan, jimak (bersetubuh), dan semisalnya, karena seorang istri, apabila suaminya meninggalkan sesuatu yang wajib (diberikan) kepada sang istri, maka jadilah sang istri dalam kondisi terkatung-katung bagaikan wanita yang tidak memiliki suami, lantaran itu sang istri bisa luwes dan bersiap untuk menikah lagi serta tidak lagi memiliki suami yang menunaikan hak-haknya”. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 207)]

Lebih gamblang, seorang mufassir ulung, Syaikh Asy-Syinqithiy rahimahullah berkata dalam Adhwa’ Al-Bayan (1/375) ketika menafsirkan ayat di atas, “Keadilan ini yang disebutkan oleh Allah disini bahwa ia tak mampu dilakukan adalah keadilan dalan cinta, dan kecenderungan secara tabi’at, karena hal itu bukan di bawah kemampaun manusia. Lain halnya dengan keadilan dalam hak-hak yang syar’iy, maka sesuangguhnya itu mampu dilakukan”.

Jadi, dari komentar para ahli tafsir tadi, tidak ada di antara mereka yang berdalil dengan ayat itu untuk menolak poligami. Lantas kenapa wanita ini tak mau menoleh ucapan para ulama’ tafsir? Jawabnya, karena tafsiran mereka tidak tunduk kepada hawa nafsu wanita ini.

Adapun dalil dalil yang menunjukan disyariatkannya poligami antara lain, maka telah berlalu dalam (QS. An-Nisa`: 3).

Di antara dalil poligami, Seorang tabi’in, Sa’id bin Jubair, “Ibnu Abbbas berkata kepadaku: “Apakah engkau telah menikah ?” Aku menjawab ” Belum”. Ibnu Abbas berkata, “Maka menikahlah, karena sebaik baik manusia pada umat ini adalah orang yang paling banyak istrinya”. [HR. Al-Bukhariydalam Shohihnya).

Satu lagi dalil poligami -namun sebenarnya masih banyak, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Termasuk sunnah jika seorang laki laki menikahi perawan setellah istri sebelumnya janda maka sang suami pun tinggal di rumah istri yang perawan ini selama tujuh hari maka sang suami tinggal dirumah istri yang janda selama tiga hari kemudian dia bagi”. [HR Bukhariy dalam Ash-Shohih]

Seorang ulama’ Syafi’iyyah, Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fatul Bari (9/10) berkata, “Dalam hadits ini, ada anjuran untuk menikah dan meninggalkan hidup membujang”.

Setelah kita mengetahui dalil-dalil yang menunjukan disyari’atkannya seorang muslim, laki-laki maupun wanita melakukan poligami. Jadi, kami nasihatkan kepada diri kami dan para suami dan calon suami untuk menikah hingga empat orang istri, jika dia sanggup untuk berbuat adil dalam perkara lahirah, seperti, pembagian malam, dan nafkah. Adapun adil dalam perkara batin (seperti, cinta, kesenangan jimak, perasaan bahagia bersama dengan salah satu diantara mereka), maka ini bukan merupakan syarat berdasarkan hadits-hadits dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana yang diterangkan oleh para ulama.

Terakhir, Kami nasihatkan kepada para wanita agar bersiap untuk dimadu dan berlapang dada untuk menerima anugerah poligami ini, serta tidak menentang syari’at poligami, karena ini adalah kekufuran. Samahatusy Syaikh Abdul Azizi bin Bazrahimahullah berkata, “Barangsiapa yang membenci sedikitpun dari sesuatu yang dibawa Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam, meskipun dia mengamalkannya, maka sungguh dia telah kafir. Allah Ta’ala berfirman,

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka”. (QS. Muhammad: 9) [Lihat Nawaqid Al-Islam]

Sumber: Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 07 Tahun I. Penerbit: Pustaka Ibnu Abbas. Alamat: Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP: 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab: Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi: Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh: Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout: Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan hubungi alamat di atas. (infaq Rp. 200,-/exp)

Sumber: http://almakassari.com/?p=44

Umum, REFLEKSI, keseharian, ISLAM, SELINGAN, WACANAApril 24, 2008 6:53 am

Assalamu’alaikum wr wb, Akhir-akhir ini marak fenomena kesurupan yang terjaid di beberapa daerah. Juga, tayangan mistis di berbagai teve swasta, yang menghadirkan sosok dukun yang kono mampu membawa pemirsa untuk mengetahui keberadaan jin/syetan penunggu rumah dan sebagainya. Tulisan berjudul "Sedikit Tentang JIN" semoga saja memberi sedikit pencerahan kepada ummat Islam berkenaan dengan fenomena yang akhir-akhir ini marak.

Menurut seorang ahli Ruqyah Syar’iyyah, seseorang yang meng-klaim dirinya mampu mengetahui keberadaan JIN, mampu merasakan kehadiran JIN, sesungguhnya orang tersebut adalah orang yang sedang bermasalah, terutama di dalam pelaksanaan ibadah pokok, seperti suka meninggalkan shalat, dan masih dekat dengan perbuatan-perbuatan yang disenangi syetan. Bahkan, boleh jadi, mereka yang meng-klaim bisa melihat JIN adalah tergolong orang yg musyrik dan memang tidak pernah shalat (seperti dukun, paranormal dsb.), begitulah menurut pendapat ahli Ruqyah Syar’iyyah yang pernah kami ketahui.

Wassalamu’alaikum wr

image
Sedikit Tentang JIN
Oleh Muhammad Hanafi Maksum, Jakarta
“Dan kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS Al-Hijr 15:27).

Apakah Jin Itu?


Dalam Islam, makhluk ciptaan Allah dapat dibedakan antara yang bernyawa dan tak bernyawa. Di antara yang bernyawa adalah jin. Kata jin menurut bahasa (Arab) berasal dari kata ijtinan, yang berarti istitar (tersembunyi).

Jadi :
  • jin menurut bahasa berarti sesuatu yang tersembunyi dan halus, sedangkan

  • syetan ialah setiap yang durhaka dari golongan jin, manusia atau hewan.

Dinamakan jin, karena ia tersembunyi wujudnya dari pandangan mata manusia. Itulah sebabnya jin dalam wujud aslinya tidak dapat dilihat mata manusia. Kalau ada manusia yang dapat melihat jin, maka jin yang dilihatnya itu adalah jin yang sedang menjelma dalam wujud makhluk yang dapat dilihat mata manusia biasa.

“Sesungguhnya ua (jin) dan pengikut-pengikutnya melihat kalian (hai manusia) dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (QS Al-A’raf 7:27).

Tentang asal kejadian jin, Allah menjelaskan, kalau manusia pertama diciptakan dari tanah, maka jin diciptakan dari api yang sangat panas sesuai dengan ayat tersebut di atas.

Dalam ayat lain Allah mempertegas: “Dan Kami telah menciptakan jin dari nyala api.” (QS Ar-Rahman 55:15). Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid dan Adhdhahak berkata, bahwa yang dimaksud dengan firman Allah: Dari nyala api, ialah dari api murni.

Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas: Dari bara api. (Ditemukan dalam Tafsir Ibnu Katsir). Dalilnya dari hadits riwayat Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan(diceritakan) kepada kalian.” [yaitu dari air spermatozoa] (HR Muslim di dalam kitab Az-Zuhd dan Ahmad di dalam Al-Musnad).

Bagaimana wujud api itu, Al-Qur’an tak menjelaskan secara rinci, dan Allah pun tidak mewajibkan kepada kita untuk menelitinya secara detail.

Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Syetan memperlihatkan wujud (diri)nya ketika aku shalat, namun atas pertolongan Allah, aku dapat mencekiknya hingga kurasakan dingin air liurnya di tanganku. Kalau bukan karena doa saudaraku Nabi Sulaiman, pasti kubunuh dia.” (HR Bukhari).

Mengubah Bentuk


Setiap makhluk diberi Allah kekhususan atau keistimewaan tersendiri, di mana salah satu kekhususan jin ialah dapat mengubah bentuk. Misalnya jin kafir (syetan) pernah menampakkan diri dalam wujud orang tua kepada kaum Quraisy sebanyak dua kali. Pertama, ketika suku Quraisy berkonspirasi untuk membunuh Nabi Muhammad SAW di Makkah.
Kedua, dalam perang Badr pada tahun kedua Hijriah. (QS Al-Anfaal 8:48).

Apakah Jin Juga Meninggal?


Jin beranak-pinak dan berkembang-biak (lihat surat Al-Kahfi, 18:50). Tentang apakah jin bisa meninggal atau tidak, ada pendapat bahwa jin hanya berkembang biak, tetapi tidak pernah meninggal. Benar atau tidak, wa Allahu a’lam. Namun menurut hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, di mana Nabi Muhammad SAW berdo’a: “Ya Allah, Engkau tidak mati, sedang jin dan manusia mati…” (HR Bukhari 7383 – Muslim 717).

Tempat-tempat Jin


Walaupun banyak perbedaan antara manusia dengan jin, namun persamannya juga ada. Di antaranya sama-sama mendiami bumi. Bahkan jin telah mendiami bumi sebelum adanya manusia dan kemudian tinggal bersama manusia itu di rumah manusia, tidur di ranjang dan amkan bersama manusia.

Tempat yang paling disenangi jin adalah WC. Oleh sebab itu hendaknya kita berdoa waktu masuk WC yang artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari (gangguan) setan (jin) laki-laki dan setan (jin) perempuan.” (HR At-Turmudzi).

Syetan suka berdiam di kubur dan di tempat sampah. Apa sebabnya, Al-Qur’an tidak menjelaskan secara rinci. Kuburan dijadikan sebagai tempat bermeditasi oleh tukang sihir (Paranormal).

Nabi Muhammad SAW melarang kita tidur menyerupai syetan. Syetan tidur di atas perutnya (tengkurap) dan bertelanjang. Manusia yang tidur dalam keadaan bertelanjang menarik perhatian syetan untuk mempermainkan auratnya dan menyebabkan timbulnya penyakit. Na’uzu billah min zaalik!

Qarin


Yang dimaksud dengan qarin dalam surat Qaaf 50:27 ialah yang menyertai. Setiap manusia disertai syetan yang selalu memperdayakannya. Allah berfirman, artinya: “Yang menyertai dia (qarin) berkata pula: ‘Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkan tetapi dialah (manusia) yang berada dalam kesesatan yang jauh’…” (QS Qaaf 50:27).

Manusia dan syetan qarinnya itu akan bersama-sama pada hari berhisab nanti. Dalam sebuah hadits (HR Ahmad) Aisyah ra mengatakan: Rasulullah SAW keluar dari rumah pada malam hari, aku cemburu karenanya. Tak lama ia kembali dan menyaksikan tingkahku, lalu ia berkata: “Apakah kamu telah didatangi syetanmu?”

“Apakah syetan bersamaku?” Jawabku.

“Ya, bahkan setiap manusia.” Kata Nabi Muhammad SAW.

“Termasuk engkau juga?” Tanyaku lagi.

“Betul, tetapi Allah menolongku hingga aku selamat dari godaannya.” Jawab Nabi (HR Ahmad).

Berdasarkan hadits ini, Nabi Muhammad juga ternyata didampingi syetan. Hanya syetan itu tidak berkutik terhadapnya. Lalu bagaimana mendeteksi keberadaan jin (misalnya di rumah kita), apa tanda-tanda seseorang kemasukan jin? Tidak ada cara atau alat yang bisa mendeteksi keberadaan jin. Sebab jin dalam wujud aslinya merupakan makhluk ghaib yang tidak mungkin dilihat manusia (QS Al-A’raf 7:27).

Tidak ada manusia yang bisa melihat jin, dan jika ada manusia yang mengklaim mampu melihat jin, maka orang tersebut sedang bermasalah. Bisa jadi dia mempunyai jin warisan atau pun jin hasil dia belajar. Kemampuan ini sebetulnya dalam Islam dilarang untuk dimiliki, dan termasuk dalam kategori bekerja sama dengan jin yang menyesatkan (QS Al-Jin 72:6).

Sesungguhnya, tidak ada cara yang bisa digunakan untuk mendeteksi keberadaan jin. Jangan meminta bantuan orang yang mempunyai ilmu terawang. Sebab kalau kita meminta bantuannya, kita berarti telah meminta bantuan dukun musyrik yang dalam Islam merupakan dosa besar, bahkan bisa mengeluarkan seseorang dari Islam.

Keberadaan Jin


Yang bisa diketahui dalam hal ini adalah tanda-tanda keberadaan jin. Umpamanya, jin yang menampakkan diri pada seseorang di rumah atau ditempat-tempat tertentu. Atau anggota rumah/kantor yang sering kehilangan uang sementara menurut perkiraan sangat tidak mungkin ada orang yang mencuri. Atau orang sering kesurupan kalau memasuki tempat tersebut. Itu adalah bagian dari indikasi gangguan jin di tempat tersebut.

Jika sudah ada gangguan, maka Ruqyah Syar’iyyah adalah solusi islaminya. Ada pun jika tidak ada gangguan di rumah atau di tempat kita, maka pendeteksian keberadaan jin-jin jahat tak perlu dilakukan.

Demikian juga masalah deteksi jin pada diri seseorang. Tidak ada orang yang dapat melihat keberadaan jin secara pasti dalam tubuh seseorang. Kalau ada yang mengaku mampu mendeteksinya secara pasti, maka orang tersebut juga mempunyai jin yang tidak boleh dimintai bantuan.

Untuk memastikan keberadaan jin yang memasuki tubuh seseorang adalah juga dengan Ruqyah Syar’iyyah. Yaitu, terapi nabawi berupa membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan do’a-do’a yang ma’surat. Itulah satu-satunya cara islami yang diajarkan Islam untuk menangani segala kasus yang berhubungan dengan jin.

Indikasi orang yang dimasuki jin sebagai berikut:


1. Gejala waktu terjaga, di antaranya:
  1. Badan terasa lemah, loyo, dan tidak ada gairah hidup.

  2. Berat dan malas untuk beraktifitas, terutama untuk beribadah kepada Allah.

  3. Banyak mengkhayal dan melamun, senyum dan bicara sendiri.

  4. Tiba-tiba menangis atau tertawa tanpa sebab.
  5. Sering merasa ada getaran, hawa dingin, atau panas, kesemutan, berdebar, dan sesak nafas saat membaca Al-Qur’an.

2. Gejala waktu tidur, di antaranya adalah:
  1. Banyak tidur dan mengantuk berat, atau sulit tidur tanpa sebab.

  2. Sering mengigau dengan kata-kata kotor.

  3. Melakukan gerakan-gerakan aneh, seperti mengunyah dengan keras sampai beradu gigi.

  4. Sering bermimpi buruk dan seram atau seakan-akan jatuh dari tempat yang tinggi.

  5. Bermimpi melihat binatang-binatang seperti ular, kucing, anjing, singa, serigala yang seakan-akan menyerangnya.

  6. Bermimpi ditemui jin yang mengaku arwah nenek moyang atau tokoh tertentu.

  7. Saat tidur merasa seperti ada yang mencekik lehernya atau menggelitikinya dan menendangnya.

Sumber: Lembaran Dakwah Uswatun Hasanah No. 915/Th. XIX, Jum’at ke-1, 7 Rabiul Akhir 1427 H / 5 Mei 2006 M.
Umum, SHARING, REFLEKSI, keseharian, SELINGAN, WACANANovember 2, 2007 3:31 am

Kalau boleh agak curhat, saya ini cinta sekali dengan lingkungan. Dari nyubitin teman-teman saya yang gemar membuang sampah sembarangan, sampai memilih untuk kuliah bertahun-tahun (sudah tahun keenam, tahun ini…sigh) untuk bisa mengerti dan kemudian menulis tentang masalah kehutanan di Indonesia. Pikir saya, saya ini cuma mahir dalam belajar, jadi mari menyelamatkan lingkungan dengan cara belajar selama bertahun-tahun.

Selama hidup di sini, kewaspadaan saya akan lingkungan malah semakin tajam. Hidup di tengah lingkungan yang sangat memperhatikan kualitas alam sekitar membuat saya mendapatkan banyak ilmu tentang bagaimana kita bisa menyelamatkan lingkungan. Tidak harus jadi aktivis lingkungan à la Greenpeace yang berperahu kencang menuju kapal pemburu ikan paus, berdemonstrasi di depan gedung pertemuan WTO setiap tahun, atau berdiri tegar memblokade traktor dan mesin berat lainnya milik perusahaan kayu di tengah-tengah hutan Kalimantan, untuk bisa menyelamatkan lingkungan. Dulu saya berpikir seperti itu, dan sempat frustasi karena tidak punya keberanian untuk menjadi aktivis. Tapi ternyata saya salah, banyak jalan menuju Roma, seperti juga banyak cara untuk melindungi lingkungan.

Jadi bagaimana caranya untuk hidup yang ramah lingkungan? Gampang.

1. Rubah pola belanja

Belilah produk dengan kemasan yang lebih ramah lingkungan. Bagi yang pernah sekolah marketing pasti tahu pentingnya kemasan untuk penjualan. Tak jarang kita lihat di pasaran, produk yang memiliki kemasan yang sangat canggih, apik, tapi sayangnya kurang ramah lingkungan Coba lihat produk biskuit, kadang bungkusnya berlapis-lapis. Lapisan luar, karton, kemudian diberi lapisan plastik dicampur alumunium, kemudian masih lagi dibungkus per-individual dengan plastik. Bayangkan berapa jumlah sampah yang dihasilkan hanya dengan mengkonsumsi satu biskuit!

Di sini, Nestle sempat kebakaran jenggot ketika kemasan baru coklat merek Cailler dikecam habis-habisan oleh para kelompok pencinta lingkungan. Kemasan yang sangat cantik, setiap keping coklat dibungkus rapi dan tersusun rapi di deretan rak plastik keras di dalam kotak transparan. Tapi berhubung bahan pembuat kemasan tersebut tidak dapat di daur ulang dengan gampang, jadilah para konsumen dihimbau untuk tidak membeli produk tersebut.

Membeli produk dengan jumlah besar juga bisa menghemat sampah kemasan. Dengan membeli satu kemasan tepung satu kilogram, misalnya, akan lebih baik daripada membeli dua kemasan tepung setengah kilogram.

Lihat asal usul produk. Proses globalisasi dan kemajuan teknologi transportasi membuat semakin menyatunya pasar dunia. Produk bisa diperjualbelikan tanpa memperdulikan batas negara atau jarak. Anggur dan tomat yang dulunya adalah barang langka selama musim dingin, sekarang bisa dengan gampang ditemukan selama bulan Desember sekalipun. Anggur dari Afrika Selatan, tomat dari Marocco, pisang dari Amerika Latin, bawang putih dari Cina, strawberri dari Israel, yang tersedia di supermarket dekat rumah menjadi bukti nyata proses globalisasi.

Tapi adakah yang sadar efek samping mengkonsumsi produk yang diimpor dari belahan dunia lain itu? Polusi udara yang dihasilkan oleh proses transportasi produk tersebut sangat mengguncangkan. Ingat, pesawat adalah media transportasi yang paling berpolusi! Dengan mengkonsumsi barang-barang impor seperti itu kita pun jadi ikut berperan dalam memperburuk perubahan iklim dan pemanasan dunia. Jadi di Swiss sedang diadakan kampanye untuk mengkonsumsi produk lokal dan produk musiman sesuai dengan musimnya. Saya pun jadi sangat hati-hati dalam membeli bahan makanan, dan harus menahan diri untuk tidak membeli buah anggur kesukaan saya yang berasal dari Afrika Selatan.

Kalau di Indonesia bagaimana dong? Saya tidak tahu seberapa maraknya buah dan sayuran impor dalam piring hidangan masyarakat Indonesia, tapi keperdulian lingkungan seperti ini bisa sangat membantu produksi lokal. Dengan membeli kentang produksi Jakarta ketika tinggal di Jakarta daripada keukeuh mencari kentang padang bisa membantu mengurangi polusi truk pengangkut kentang. Bagi yang nasionalis, keperdulian lingkungan bisa menambah retorika dukungan produksi dalam negeri. Pilih apel Malang yang lebih ramah lingkungan daripada apel Australia yang diimpor dengan polusi beribu kilogram karbon dioksida, contohnya.

Pilihlah produk daur ulang ketika tersedia. Kalau memungkinkan, pilihlah kertas, amplop, dan buku hasil daur ulang. Utamakan kompos hasil daur ulang sampah rumah tangga daripada pupuk kimiawi lainnya.

Pilihlah peralatan dan produk elektronik yang hemat energi. Contoh gampangnya saja, dengan memilih boklam lampu yang hemat energi. Saya rasa sudah banyak beredar di pasaran Indonesia. Memang harganya jauh lebih mahal, tapi jauh lebih hemat energi dan lebih tahan lama. Energi listrik yang disedot jauh lebih sedikit, rekening listrik jadi lebih murah, dan kalau semakin banyak pengguna listrik memilih produk elektronik yang hemat energi, energi listrik yang dibutuhkan dan digunakan pun jadi lebih berkurang dan mungkin…mungkin ya, tidak ada lagi jadwal mati lampu akibat minimnya tenaga listrik yang bisa disalurkan oleh PLN ke setiap rumah.

Mesin cuci, komputer, lemari pendingin, dsb, sekarang juga sudah banyak yang memiliki tipe hemat energi. Membeli mesin macam ini bisa menjadi cara investasi yang pintar dan ramah lingkungan. Saya sudah membuktikannya sendiri, dengan memilih berbagai alat rumah tangga yang hemat energi, rekening listrik di rumah jauh lebih murah daripada rumah mertua saya yang masih menggunakan alat elektronik jaman dahulu.

Belanja di dekat rumah. Dengan memilih untuk berbelanja di tempat yang lebih dekat, kita tidak perlu menggunakan mobil dan artinya mencegah polusi kendaraan.

2. Rubah pola konsumsi

Konsumsi produk bio dan kurangi mengkonsumsi daging merah. Produk bio maksudnya produk yang dihasilkan dengan tidak menggunakan bahan pestisida dan bahan kimiawi lainnya. Di sini, produk seperti ini lebih mahal karena biaya produksinya yang lebih tinggi (constant cost with constant yield of production), dibandingkan dengan hasil pertanian yang menggunakan pestisida dan pupuk kimiawi lainnya (constant cost with increasing yield of production). Mungkin banyak yang tidak tahu, tapi selain dianggap sebagai salah satu penyebab penyakit kanker, pestisida juga adalah salah satu penyebab polusi air tanah.

Terus apa hubungannya dengan sapi? Ternyata peternakan sapi dan berbagai hewan ternak lainnya, menurut laporan Food and Agricultural Organisation (FAO), adalah salah satu penyebab utama berbagai masalah lingkungan seperti: pemanasan global, degradasi tanah, polusi air dan tanah, dan hilangnya keanekaragaman biomass. FAO menerangkan kalau polusi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh hewan ternak berjumlah 18% dari total polusi gas rumah kaca.

Kalau dipikir-pikir, peringatan ini lebih pantas untuk masyarakat Eropa dan Amerika Utara yang memiliki budaya karnivora. Menu makanan Indonesia yang tidak terlalu didominasi dengan daging merah (sapi, kuda, kambing, dsb) saya rasa sudah cukup ramah lingkungan dalam hal ini. Tapi, tidak ada salahnya toh untuk lebih tahu. Jadi, lebih baik pilih gado-gado daripada steak 250 gr di Steak House.

3. Hemat di rumah

Banyak cara untuk menghemat listrik: Mematikan lampu ketika keluar ruangan, mematikan TV atau radio ketika tidak ada yang menonton atau menyimak, dan mematikan komputer atau TV secara total dan tidak membiarkannya “stand-by” semalaman. Mematikan TV lewat alat pengontrol jarak jauh biasanya tidak akan mematikan TV secara total. Beberapa peralatan elektronik juga tetap menyedot listrik selama kabel sumber energinya tidak dicabut dari colokan di dinding. Kalau di sini, kami disarankan untuk memakai sambungan colokan listrik yang bisa dipadamkan secara total. Kalau di Indonesia belum ada, saran saya, bila memungkinkan, cabutlah kabel dari colokan di dinding.

Kita bisa juga berhemat dengan lebih bijaksana dalam menggunakan energi alami. Begini, bangunan apartemen di sini biasanya dirancang sedemikian rupa untuk bisa memanfaatkan energi alami. Jendela selalu dibuat besar dan lebar, yang kemudian memungkinkan pemilik apartemen untuk memanfaatkan sinar matahari untuk menerangi ruangan. Sewaktu musim panas, dimana matahari bersinar terang dari jam 6 pagi sampai 9 malam, saya kadang tidak perlu menghidupkan lampu ruangan sama sekali seharian. Kalau panas pun cukup membuka jendela dan memanfaatkan semilir angin.

Jadi bagi yang ingin membangun rumah masa depan atau akan merenovasi, kenapa tidak mencoba untuk merancang rumah yang hemat energi?

Air juga perlu dihemat. Dari yang tidak membiarkan keran air selalu mengucurkan air bila tidak perlu, sampai memanfaatkan air hujan untuk menyiram tanaman di pekarangan.

4. Hemat di kantor

Gunakan printer hanya kalau benar-benar perlu. Jangan mentang-mentang ada printer gratis main cetak berbagai artikel atau email yang tidak perlu.

Hemat kertas. Cetak dengan menggunakan kedua sisi kertas, dan gunakan kertas kembali bila memungkinkan. Sisi kosong kertas bisa digunakan untuk mencetak draft surat atau untuk menulis. Saya ingat, dulu sewaktu saya magang di salah satu kantor PBB, ada kebijakan untuk menggunakan kertas kembali untuk mencetak berbagai draft atau memo internal. Di samping printer kantor, ada tempat penampungan kertas hasil print-out dan poto kopi gagal atau dokumen yang sudah tidak berguna. Setiap kita mau mencetak email atau apapun yang tidak ditujukan untuk publik luar, selalu disarankan untuk menggunakan kertas “daur ulang” ini. Lumayan, bisa menghemat kertas dan menumbuhkan sadar lingkungan di diri para pegawai kantor. :)

Gunakan tinta printer secara efisien. Kadang ketika hasil print-out sudah samar-samar, tinta printer masih bisa digunakan dengan cara mengocok-ngocok cartuche. Jangan lupa untuk mendaur ulang cartuche kosong. Beberapa perusahaan memiliki kebijakan daur ulang (HP contohnya), kotak tinta kosong tinggal dimasukkan kembali ke kotaknya dan dikirim kembali ke pabrik.

Gunakan lampu hanya kalau benar-benar perlu. Terkadang kita punya kebiasaan otomatis, masuk kantor langsung menghidupkan lampu ruangan. Padahal terkadang kita tetap bisa bekerja dengan baik menggunakan penerangan alami.

Cintailah tangga. Bagi mereka yang berkantor di gedung bertingkat, kalau memungkinkan lebih baik gunakan tangga daripada lift. Lima tingkat masih bisa kan dicapai dengan naik tangga, beda kasusnya kalau harus merayap sampai lantai 10.

5. Hemat di perjalanan

Sarannya cukup klasik: Hemat penggunaan mobil pribadi, utamakan penggunakan transportasi publik. Hindari pemakaian mobil 4×4 yang boros energi, dan gunakan alat transportasi alternatif seperti sepeda, sepatu roda (iya, di sini ada orang yang ke kantor dengan sepatu roda), atau jalan kaki. Hindari penggunaan alat pendingin di dalam mobil (iya saya tahu, kebijakan yang cukup mustahil bagi mereka yang tinggal di Jakarta), dan kalau memungkinkan berbagi mobil dengan teman atau tetangga. Berbagi mobil, maksudnya dengan menggunakan mobil bersama-sama, dari rumah ke kantor misalnya, ongkos bensin dan servis bisa ditanggung ramai-ramai dan polusi kendaraan pun jadi berkurang.

Intinya, tidak mustahil untuk merubah pola hidup menjadi lebih ramah lingkungan. Kita bisa tetap hidup dengan nyaman sambil menyelamatkan lingkungan bagi anak-cucu. Sebagai konsumer kita bisa menekan pihak produser dengan merubah pola belanja dan konsumsi. Tidak perlu jadi CEO sebuah perusahaan untuk bisa menuntut perubahan pola produksi menjadi lebih ramah lingkungan, dan tidak perlu jadi Menteri Lingkungan untuk bisa berbuat sesuatu bagi polusi udara di kota besar. Setiap tindakan berarti.

Sumber: http://bla3x.wordpress.com/

Umum, REFLEKSI, keseharian, ISLAM, WACANAJune 2, 2007 3:09 am


imagePakar geologi Universitas Oslo, Norwegia, Adriano Mazzini, yang meneliti bencana lumpur di Sidoharjo, seperti dilansir koran Inggris The Guardian 28 September 2006, meramalkan semburan lumpur bisa berlangsung 10 hingga 100 tahun. Skala bencana lumpur panas itu disetarakan dengan tragedi tenggelamnya tanker minyak Exxon Valdez di Alaska, 1989, yang menumpahkan sekitar 11 juta galon minyak mentah ke laut.

Benarlah firman Allah: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang lurus).” (QS Ar-Rum, 41)

MUSIBAH lumpur panas yang menyembur sejak 29 Mei 2006 dari sumur Banjar Panji-1 milik PT Lapindo Brantas di desa Renokenongo, kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo provinsi Jawa Timur, hingga kini pemerintah tidak saja belum mampu mengatasinya tapi juga ancaman bahaya traumatis penduduk sangat mencekam.

Kecelakaan yang dialami Lapindo sangat jarang terjadi. Dalam kasus Lapindo, diduga mereka tidak memenuhi prosedur eksplorasi. Ternyata, Lapindo tidak memakai casing dalam pengeboran. Juga, merupakan kelalaian drilling yang dilakukan subkontraktor. Lapindo sendiri saat ini tengah mengupayakan langkah darurat (contingency plan) untuk mengantisipasi kegagalan relief well yang merupakan bagian dari skenario penanganan lumpur. Selain itu, akan ditempuh langkah kreatif berupa pemanfaatan lumpur untuk alternatif bahan bangunan. Konon, dengan menambahkan sedikit semen, ternyata lumpur Lapindo bisa untuk bahan bangunan.

Reaksi masyarakat sekitar lokasi di dalam menyikapi musibah ini, cukup beragam. Warga desa Kedungbendo kecamatan Tanggulangin Sidoarjo pada 17 Agustus 2006 memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-61 di atas tanggul depan balai desa. Hal ini dilakukan sebagai bentuk ekspresi warga yang merasa belum merdeka. Mereka merasa masih terjajah lumpur dan terjajah Lapindo. Upacara tujuhbelasan itu dilakukan oleh lebih dari 100 orang warga Kedungbendo yang menempati perumahan Perumnas Tanggulangin.

Selain upacara tujuhbelasan, ada juga sebagian masyarakat yang menggelar doa bersama. Sebagaimana diberitakan Surya online, sekitar seribu warga Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kota Probolinggo menggelar Istighotsah Akbar dan manaqib bersama di depan Masjid Agung Raudlatul Jannah, Minggu, 17 September 2006. Nyai Karimah yang memimpin doa dalam Istighotsah Akbar tersebut, meminta kepada Allah SWT, agar masyarakat Sidoarjo yang terkena luberan lumpur panas hasil pengeboran PT Lapindo Brantas Inc diberi ketabahan.

Dari kasus semburan lumpur panas yang tak kunjung henti ini, menurut catatan beberapa media hingga September 2006, setidaknya 13 pabrik harus tutup, sekitar 200 hektar sawah dan pemukiman penduduk tak bisa digunakan dan ditempati lagi. Sebanyak 5.800 penduduk mengungsi, beberapa wilayah berpotensi terkontaminasi, demikian juga dengan tambak-tambak bandeng milik warga serta lumpuhnya aktivitas sosial, pendidikan serta jalur transportasi tol Surabaya-Gempol.

image

Aksi Dukun


Pada umumnya, masyarakat Indonesia doyan klenik, perdukunan, syirik, bid’ah dan khurafat. Lia Aminuddin, memanfaatkan situasi yang tidak terkendali ini dengan menerbitkan ramalan. Pencetus sekte sesat Salamullah yang konon bisa “menerawang” ini, serta-merta meramalkan bahwa Jawa Timur bakal tenggelam oleh lumpur. Sejumlah dukun, orang pinter, ahli spiritual, tak mau ketinggalan turun ke lokasi untuk mencari solusi, termasuk mencari makna atau “hikmah” di balik terjadinya kasus ini. Pada 2004 lalu, sejumlah paranormal mengadakan upacara sesaji di Surabaya, Jawa Timur. Mereka menancapkan keris pusaka yang disebut pasak bumi, dengan maksud supaya Surabaya tidak dilanda gempa. Bagi mereka yang waras, kasus lumpur Lapindo ini sudah jelas, yaitu merupakan kesalahan manusia (human error) dan mismanagement. Naluri mencari untung besar dengan menekan operational cost serendah mungkin, menjadi salah satu penyebab utama lahirnya kasus ini. Sebagian masyarakat Jawa Timur, bahkan ada yang menyebut lumpur panas yang menyembur tanpa henti ini dengan sebutan Lumpur Marsinah. Pengkait-kaitan lumpur dengan Marsinah (korban kekejian aparat Kodim Sidoarjo), pertama kali dilansir oleh seorang dukun dari Jawa Timur.

Kebetulan, tempat kerja almarhumah Marsinah dulu, pabrik arloji PT Catur Putra Surya, hingga tanggal 25 September 2006 semakin tenggelam, dan tinggal tersisa atap sengnya saja. Kasus Marsinah terjadi Mei 1993, dalam hal ini baik Marsinah dan PT Catur Putra Surya (termasuk jajaran manajemen dan pemiliknya antara lain Yudi Susanto), berada dalam posisi yang sama, yaitu korban arogansi aparat kodim Sidoarjo, kala itu.

Marsinah adalah sosok buruh pemberani yang baik hati. Ia tampil sebagai pembela kawan-kawannya yang karena menggelar demo menuntut kenaikan upah, ditahan oleh oknum aparat Kodim. Padahal saat itu PT CPS sudah pula memenuhi tuntutan yang diajukan para buruh. Maka, Marsinah pun ikut turun tangan berusaha membebaskan kawan-kawannya. Namun, ia harus berhadapan dengan sekelompok orang yang tergolong pengecut, dan Marsinah gadis malang yang ketika itu berusia 24 tahun, tewas akibat penganiayaan berat. Parahnya, kematian Marsinah ini diskenariokan menjadi beban Yudi Susanto dan seluruh manajemen PT CPS. Alhamdulillah skenario busuk itu gagal.

[colo=blue]Kalau toh Marsinah bisa menjelma menjadi “hantu” tentu yang akan dilakukan sang “hantu” bukanlah menyemburkan lumpur panas, menenggelamkan rumah, sawah, pabrik (termasuk PT CPS), karena itu semua pasti merugikan rakyat[/color]. Kalau Marsinah bisa muncul sebagai “hantu” pastilah yang akan ia lakukan justru menghentikan semburan lumpur. Setelah itu barulah ia mencekik pengusaha dan keluarga Bakrie, mencekik aparat yang seharusnya bertanggung jawab atas kasus lumpur ini namun tidak becus.

Solusi


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyetujui pembuangan lumpur panas Sidoarjo ke laut melalui sungai Porong, sekalipun ada juga yang berkeberatan karena pembuangan Lumpur akan menjadikan laut tercemar, tentu akan mengancam mata-pencaharian nelayan. Padahal, membiarkan genangan lumpur terus bertambah akan mengancam keselamatan jiwa rakyat, sementara menghentikan sumber semburan belum bisa dilakukan. Bahkan sebagian pakar mengatakan ibarat menghentikan lava gunung berapi, tidak mungkin. Pemerintah harus bertindak bijaksana dan serius dalam mengatasi problem sosial masyarakat. Perlu dilakukan inventarisasi alternatif, pilihan langkah dan kemungkinan-kemungkinan dampak yang akan terjadi dari pengambilan keputusan. Dalam kasus adanya dua pilihan yang sama-sama merugikan, bukan karena dosa yang disengaja, maka dipilih resiko yang paling kecil, dengan melakukan tindakan yang melibatkan semua pihak terkait (pemerintah, rakyat korban, masyarakat yang mungkin terkena dampak pembuangan lumpur ke laut).

Sebagai pelajaran, perhatikanlah nasihat Al-Qur’an ini: “Apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri. Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-oloknya.” (QS Ar-Ruum, 9-10).

Majalah RISALAH Mujahidin Edisi 2 Th I Syawal 1427 H / November 2006, hal. 42-44.